Kamis, 06 Juni 2013

Menjajal Kuliner Bakso di Tasikmalaya

jual bantal foto
Jangan tanyakan lagi ‘bakso’ itu makanan sejenis apa, karena setiap orang pasti pernah mencicipinya. Oke, setidaknya pernah melihatnya, meski agak diragukan kalau ada orang yang mengaku belum pernah mencobanya. Kuliner ini sudah tidak tertebak lagi berasal dari daerah mana asalnya, karena di setiap daerah pasti ada. Memang ada istilah ‘Bakso Solo’ yang beredar di tempat saya, tapi itu dikarenakan penjualnya berasal dari sana. Kalau melihat bakso buatannya, ya begitu-begitu saja, tidak ada bedanya dengan bakso lainnya.

Tasikmalaya dikenal dengan baksonya yang enak. KATANYA. Itu pun karena setiap ada teman yang datang ke Tasik selalu minta diantar makan bakso, dan menurut mereka rasanya memang enak! Syukurlah. Seperti halnya di daerah lain, toko/warung bakso di Tasikmalaya seolah ada di setiap ruas jalan. Kenyataannya memang begitu. Tidak sulit mendapatkan jajanan bakso di kota ini. Masalah enak atau tidak enak kembali pada selera, karena toh setiap warung bakso selalu memiliki pelanggan setianya.

Foto by. wisatakulinertasik.com

Anda akan mampir ke Tasik dan ingin mencicipi bakso ala Tasik? Mungkin saya bisa memberikan beberapa alternatif pilihan untuk dijajal kelezatannya.

Mie Bakso Laksana

Mie Bakso ini mengukuhkan dirinya sebagai bakso paling populer di Tasikmalaya. Tidak hanya dikenal di kota ini saja, karena namanya ternyata sudah dikenal oleh para tamu yang datang dari luar kota. Banyak teman dan kerabat yang ketika datang ke Tasikmalaya minta diantar ke tempat ini. Rasanya memang enak. Mie bakso kuah atau yamin pun sama-sama lezatnya. Tidak heran kalau di setiap weekend atau hari libur besar, tempat ini dipenuhi oleh pelanggannya. Untungnya Mie Bakso Laksana memiliki ruangan yang luas dan berlantai 2, sehingga daya tampungnya cukup banyak. Tapi jangan heran apabila antrian terjadi pada saat libur lebaran. Pengunjung harus dilayani menggunakan nomor antrian untuk sekadar mendapatkan meja atau layanan. Kondisi seperti ini seperti halnya yang terjadi di Bakso Akung Bandung, yang selalu dijubeli pembeli.

Dengan mengedepankan kualitas dan rasa, harga mie bakso Laksana terbilang paling mahal di Tasikmalaya, yaitu Rp. 20.000,- untuk satu porsi. Penambahan asesoris seperti babat atau pangsit tentu dikenakan harga tambahan. Ciri khas bakso Laksana ini adalah mie produksi sendiri dan bakso dagingnya yang kecil-kecil.

Berlokasi tepat di tengah kota, Jl. Pemuda no. 5 Tasikmalaya, Bakso Laksana hanya beberapa puluh meter saja dari Masjid Agung Tasikmalaya. Laksana membuka cabang di Jl. Mitra Batik dan di Foodcourt Plaza Asia.


Mie Bakso Firman

Ini adalah pendatang baru yang langsung meroket dan merebut perhatian penikmat bakso. Jubelan pengunjung selalu terjadi setiap harinya. Ciri khas dari bakso Firman ini adalah menggunakan mie gepeng dan lebar (semacam kwetiau) yang diproduksi sendiri. Penjualnya selalu meyakinkan kalau mie mereka bebas dari formalin dan boraks. Isu tentang mie berformalin memang sempat merebak di berbagai penjuru tanah air beberapa waktu yang lalu. Mereka memproduksi mienya secara bertahap, tergantung dari kebutuhan. Karena itu tidak ada mie yang akan tersisa dan basi. Mereka juga menyediakan bihun untuk yang tidak menyukai mie, atau bisa dicampur kalau suka. Jenis baksonya sendiri ada tiga macam; bakso urat (ukuran besar), bakso daging (kecil-kecil), dan bakso tahu.

Saus yang digunakan cukup pedas. Untuk yang tidak menyukai pedas, hati-hati dengan takaran saus anda. Yang maniak pedas, sambal cabenya pun sudah tersedia. Ah ya, jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis (ketimbang cuka) untuk membuat bakso anda menjadi lebih segar.  Jujur, ini lokasi mie bakso favorit saya!

Lokasinya tepat di persimpangan lima (Bunderan) yang merupakan pembagian arah menuju Bandung , Ciamis, dan kota Tasik, atau di ujung jalan Dr. Sukarjo Tasikmalaya.  Untuk satu porsi cukup merogoh uang Rp. 11.000,- saja.

Mie Bakso Ojo

Tidak jauh dari Mie Bakso Firman, tepat di depannya terdapat sebuah jalan kecil. Anda cukup berjalan sekitar 50 meter saja untuk mencapai Mie Bakso Ojo. Nah, yang ini pun tidak kalah istimewa dan sedapnya. Pengunjungnya pun seringkali membludak sehingga lepas magrib saja terkadang warung bakso ini sudah tutup karena habis! Waks.

Untuk penikmat bakso yang menyukai mangkuk baksonya dipenuhi oleh potongan kikil, tulang muda, atau sum-sum, ini adalah lokasi yang tepat. *krauk*

Harga satu porsi Rp. 12.000,- sudah termasuk kikil dan teman-temannya. Jangan lupa, ketersediaan kikik, sumsum, dan tulang muda hanya selama persediaan masih ada :D


Mie Bakso Tiara Mulya

Mie Bakso ini dulunya berada di Jalan Galunggung, tetapi sekarang sudah pindah ke Jl. HZ. Mustofa Tasikmalaya, tepat di depan Plaza Asia. Sekilas penampilan mie bakso ini mengingatkan saya pada Mie Bakso Laksana. Ukuran mie dan bulatan baksonya senada. Rasanya? Serupa tapi pasti tak sama. Yang terasa khas dari mie bakso ini adalah saosnya, terasa sedikit asam. Tentu bukan asam karena basi, tapi karena cita rasanya saja yang memang begitu.

Mie Bakso TM cukup dikenal sehubungan nama Tiara Mulya sendiri yang sudah mencuat duluan sebagai Perusahaan Catering ternama.

Harga satu porsi Rp. 13.000,- belum termasuk kalau ditambah babat atau pangsit.

Oya, lokasi semula Mie Bakso TM di Jl, Galungnggung sekarang ditempati oleh Mie Bakso Siliwangi. Dari sajian dan rasanya hampir sama. Mungkin karena resepnya yang serupa mengingat –kabarnya- pemilik kedua Mie Bakso ini masih saudara dekat.


Mie Bakso Widji

Mungkin Mas Widji inilah yang membawa pertama kali bendera ‘Bakso Solo’ di Tasikmalaya, karena setelah itu ternyata bermunculan nama ‘Bakso Solo’ lain yang ingin mengekor kesuksesannya.  Saya masih ingat, saat masih SMA dulu, mas Widji ini membuka kiosnya yang sederhana di perempatan jalan Tanuwiyaja – Sutisna Senjaya (mudah-mudahan saya tidak salah orang). Lambat laun baksonya laris dan diburu orang sehingga akhirnya mampu membeli sebuah bangunan di Jl. Rumah Sakit Tasikmalaya. Sekarang toko bakso sekaligus tempat tinggalnya terlihat megah dengan sebuah kendaraan roda empat keluaran baru di depannya. Hebat!

Lokasi Mie Bakso ini tepat berada di depan RSU Tasikmalaya dan bersebelahanan dengan SMAN 1 dan SMA Muhammadiyah, membuat warung bakso ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Ciri khas dari bakso ini adalah bakso dagingnya yang lebih padat dan kenyal dibanding bakso-bakso lain yang pernah saya cicipi.

Harga satu porsi Rp. 8.000,-


Mie Bakso Sari Rasa

Ada dua lokasi Mie Bakso yang mengusung nama Sari Rasa ini. Satu di jalan HZ. Mustofa (dekat Asia Toserba), dan satu lagi di Jl. Tentara Pelajar (depan Martabak Ramayana).  Kalau dilihat dari beberapa foto yang dipajang sebagai asesoris ruangan, terlihat banyak artis yang pernah berkunjung ke tempat ini. Salah satunya adalah Ariel NOAH (waktu masih culun tapi. Hehehe). Namanya artis saja sudah datang berkunjung, sudah dipastikan sajiannya pasti cukup istimewa. Oke, kembali ke selera sih memang, tapi kehadiran artis tentunya bisa menyedot lebih banyak perhatian.

Harga : Rp. 12.000,- satu porsi.


Mie Bakso Kurdi

Mie Bakso yang berlokasi lesehatan di Jalan Gunung Sabeulah ini cukup unik karena selain menggunakan mie, juga ditambahi dengan irisan kol. Aneh? Oh tidak, tapi enak! Bakso dagingnya imut-imut, tapi cukup banyak.

Harga : Rp. 9.000,- satu porsi.


Mie Bakso Loma
Saat bulan ramadhan tahun lalu, saya dibuat kesal saat malam-malam pergi ke sana. Saya pikir, saya bisa segera menikmati nikmatnya bakso pedas yang sudah terbayang-bayang sejak siang hari. Ups. Tapi saat tiba di sana, antriannya itu bow, puanjaaaang. Begitu tiba giliran saya, si Masnya bilang; “Maaf, pak, habis!” Hiyaaaaa …

Mie bakso ini berlokasi di jalan Tarumanagara, seberang SD Pangadilan.

Harga : Rp. 15.000,- (kalau nggak salah. Hehehe)



Selain itu ada beberapa lokasi Mie Bakso lainnya :
Mie Bakso Gesa – Jl. Ahmad Yani, sebelah Duren si Madu.
Mie Bakso Kiman – Jl. Ahmad Yani (Pasar Pancasila)
Mie Bakso Oding – Ruko Pasar Pancasila
Mie Bakso Borju – Jl. Terusan BCA – Paseh
Mie Bakso Ceria – Jl. Ahmad Yani (setelah Pasar Pancasila)
Dan Mie Bakso lainnya, plus Mie Bakso gerobak keliling

Ada yang mau menambahkan? :D

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Tasikmalaya Blogging Competition yang diadakan oleh Hotel Santika Tasikmalaya. Informasi tentang Hotel Santika Tasikmalaya bisa melalui Fan page Facebook Hotel Santika Tasikmalaya, atau melalui akun twitter Hotel Santika Tasikmalaya 

Selasa, 04 Juni 2013

Berkeliling Dunia Lewat Magnet Kulkas

jual bantal foto Rasa suka saya terhadap magnet kulkas terjadi begitu saja. Awalnya saat saya berkesempatan mengunjungi Ibu Kota Irlandia, Dublin, tahun 2004 lalu. Karena bingung membawakan buah tangan apa untuk keluarga dan teman, pilihan jatuh pada pernak-pernik mungil dan lucu; gantugan kunci, magnet kulkas, dan beberapa suvenir kecil lainnya. Selain lucu, tentu harga menjadi pertimbangan besar. Dengan beberapa lembar Euro, saya bisa meraup banyak suvenir-suvenir itu untuk oleh-oleh.

Sebagian koleksi magnet saya
Pada saat transit pulang di Bandara Schiphol Amsterdam dan Changi Singapura, niat membeli suvenir itu muncul lagi. Pertimbangan saya saat itu, kapan lagi saya bisa menginjakkan kaki di Amsterdam dan Singapura? Bisa sampai ke sana saat itu pun berupa keberuntungan luar biasa. Memiliki sesuatu sebagai kenang-kenangan pernah berada di sana tentu akan sangat menyenangkan. Akhirnya beberapa buah magnet kulkas dan gantungan kunci berbentuk kincir angin dan patung singa pun berhasil saya dapatkan saat itu.

Tidak ada niat untuk mengoleksi suvenir itu pada mulanya. Hanya saja, saat tiba di rumah dan mulai memilah barang apa yang akan dibagikan, saya mulai kebingungan. Magnet-magnet kulkas itu terlihat begitu lucu. Yang ini bagus, yang itu unik. Mulailah ada rasa berat untuk menyerahkan benda-benda itu. Pada akhirnya, saya hanya membagikan gantungan kunci dan suvenir lain. Magnet kulkas? Saya tempel langsung di kulkas milik saya.

Keren! Miniatur beberapa landmark terkenal di Dublin, kincir angin Belanda, dan Patung Merlion Singapura berderet cantik sebagai penghias pintu lemari es. Saat itu saya mulai membayangkan, alangkah hebatnya kalau tidak hanya ada perwakilan 3 negara saja yang berderet di sana, tetapi negara-negara di seluruh dunia! Lemari es saya bisa menjadi sebuah ‘peta’ dunia! Sejak saat itu, saya mulai bergerilya.

Saya traveling keliling dunia? Sayangnya tidak ada kesempatan untuk itu. Saya hanya berkesempatan jalan-jalan ke Dublin dan Bangkok saja sampai saat ini. Tetapi, saya mempunyai beberapa teman yang tinggal di luar negeri, atau sering traveling ke luar negeri. Ini dia kesempatan saya. Saya mencari tahu kapan mereka akan mudik? Kapan mereka terdengar akan liburan ke luar negeri? Pada saat berita itu terdengar, saya pun akan segera menghadang mereka; “Bisa nitip beliin magnet kulkas?”

Magnet kiriman Elsa dari Dublin
Satu per satu magnet terkumpul. Beberapa teman yang sudah mengetahui hobi saya, tak segan membawakan magnet kulkas unik dari setiap perjalanan mereka. Beberapa saya barter dengan buku-buku yang saya tulis, sebagian lagi diberikan secara cuma-cuma. Wow!

Sebuah magnet kulkas dari sebuah negeri di luar sana mungkin terdengar sepele dan tidak berharga, untuk yang tidak suka tentu saja. Tetapi, buat saya, melihat sebuah lagi magnet bertengger di pintu kulkas, dengan bertuliskan nama sebuah negara (atau kota), dan berhiaskan sebuah landmark tertentu, menjadi kegembiraan tersendiri. Satu negara (atau kota) lagi berhasil saya ‘kunjungi’.

Sampai saat ini, saya berkeliling dunia lewat puluhan magnet yang terpajang di dinding lemari es di dapur. Dari Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, China, sampai ke negeri Paman Sam. Dari New Zealand, Australia, sampai negara-negara di benua Eropa. Kaki saya belum sempat menginjak negeri aslinya, tetapi melalui magnet-magnet ini harapan dan doa saya terlambung, siapa tahu kelak saya bisa sampai ke sana?

Sebagian besar magnet yang saya miliki berasal dari luar negeri. Sedikit sekali magnet kulkas yang saya peroleh dari dalam negeri. Di beberapa kota yang saya kunjungi, seringkali pencarian saya berbuah nihil, berbeda dengan gantungan kunci yang sangat banyak ragamnya dan bisa diperoleh di setiap toko suvenir. Atau mungkin saya yang kurang gigih mencarinya? Yang sering ditemukan hanyalah magnet-magnet biasa (umumnya berbentuk buah-buahan, binatang, atau bentuk tertentu) yang tidak menggambarkan landmark sebuah kota. Mungkin karena saya lebih menyukai magnet yang melambangkan sebuah negara, kota, atau landmark tertentu, keunikan magnet tersebut tidak begitu terasa. Sejauh ini, koleksi magnet tanah air yang saya dapatkan berasal dari Bali, Yogyakarta, dan Jakarta (Dunia Fantasi). Sayang memang, saya ‘mengelilingi’ dunia lebih banyak ketimbang tanah air sendiri.

Mengoleksi magnet kulkas bukan hobi yang sulit. Kesulitan terbesar saya selama ini hanyalah memberikan penekanan pada anak bungsu saya (5 tahun) bahwa ini bukan mainan. Beberapa kali saya temukan beberapa magnet yang sudah hancur berkeping-keping karena si Bungsu iseng memindahletakkan magnet-magnet itu, lalu terjatuh. Apa boleh buat, saya toh tidak bisa melaminating magnet-magnet itu agar tetap aman dari jangkauannya.

Ada yang mau menambahkan koleksi magnet saya? *ngarep*

Minggu, 02 Juni 2013

[Wisata Kuliner Tasikmalaya] Tutug Oncom Naik Kelas

jual bantal foto Tidak bisa dipungkiri, sajian kuliner menjadi salah satu daya tarik wisata pada saat ini. Para pelaku wisata tidak bisa lagi mengabaikan kunjungan wisata dengan melewatkan jajaran kuliner khas yang ada di daerah yang dikunjungi. Bukan lagi sebagai kunjungan pelengkap sebuah perjalanan wisata, melainkan sudah menjadi agenda wajib yang harus dilakoni. Bagaimanapun, kuliner adalah sebuah bagian dari budaya daerah yang sudah sepantasnya untuk diketahui bahkan dilestarikan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kearifan budaya lokal, sudah sepantasnya kita ikut menjadi bagian dalam pelestarian tersebut, bukan?

Menggeliatnya wisata kuliner menjadi peluang usaha tersendiri bagi para pelaku bisnis. Tentunya ini menjadi efek positif dari sebuah perkembangan dunia pariwisata, bagaimana dunia pariwisata memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kalau mau dicermati, penggiat bisnis kuliner tradisional ini semakin menampakkan diri dalam geliat pariwisata. Coba tengok di daerah-daerah wisata, pebisnis kuliner mulai merebak dan menciptkan nuansa tersendiri.

Beragam kuliner tradisional (maupun modern) semakin marak. Setiap kota menunjukkan kekhasan masing-masing. Coba lihat kota Yogyakarta, penjual gudeg tersedia di mana-mana. Atau saat ke Solo, sajian Selat Solo maupun Nasi Liwetnya selalu menjadi buruan yang tak boleh dilewatkan. Begitu pula dengan Bandung, rasanya tidak lengkap kalau tidak memburu batagor maupun baso tahunya yang terkenal lezat. Jauh ke Makasar, Sop Konro dan Coto Makasar menjadi santapan wajib kalau berkunjung ke sana.

Setiap daerah hadir dengan ciri khas kuliner tersendiri. Bagaimana dengan Tasikmalaya? Rasanya tak berlebihan kalau saya menyebut Tasikmalaya sebagai kota Tutug Oncom.

Nasi Tutug Oncom
Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai membumi di kalangan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih terhormat. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres! Sajian nikmat dan menggoda pun bisa tersaji tanpa perlu waktu lama dan pengolahan yang ribet.

Mungkin aneh kalau ada masyarakat Tasikmalaya yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom. Bisa dimaklumi kalau mereka ada pendatang. Tapi untuk penduduk Tasikmalaya? Akan menjadi hal yang aneh dan langka kalau berlum pernah mencoba.

Nasi TO Benhil Dadaha. Yang nggak kebagian duduk mohon antri!
Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi kalau pembelinya sudah saling serobot dan minta didahulukan pesanannya. Menarik sekali melihat sebuah sajian yang semula dianggap sepele ternyata naik kelas dengan cepat. Bukan hanya masyarakat kalangan menengah ke bawah yang memburu nasi TO saat ini, tapi mereka yang terlihat datang dari kelas atas.

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Saya masih ingat, pertama kali membeli nasi TO ini cukup mengeluarkan uang Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus.

Saya pernah mengajak dua orang teman dari Jakarta untuk wisata kuliner di Tasikmalaya. Saya menatap geli saat mereka sempat terbengong-bengong sewaktu membayar makanan. "Nggak salah, nih?" katanya kaget.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat pengikutnya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya.

Warung Nasi TO Mr. Rahmat
Semakin hari, warung TO yang berdiri semakin banyak. Mulai dari warung pinggir jalan sampai yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan kalau memang enggan, anda bisa memilih warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka dua tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk.

Apakah makanan di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Jangan perlu takut dompet akan terkuras kalau makan sajian yang satu ini. Meskipun pesanan ditambah dengan lauk pauk lainnya, seperti : telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk, total yang harus dibayar tetap terasa hemat dibandingkan makan di restoran.

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah), sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll.

Murah tak perlu jadi murahan. Nasi TO memiliki kandungan nilai dan mutu gizi  yang cukup baik. Dari oncom yang menjadi bahan utama kuliner ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Tak perlu khawatir dengan gizinya lagi, dong?

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan Tutug Oncom. Karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini; murah, meriah, dan pasti nikmat! [iwok]

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Tasikmalaya Blogging Competition yang diadakan oleh Hotel Santika Tasikmalaya. Informasi tentang Hotel Santika Tasikmalaya bisa melalui Fan page Facebook Hotel Santika Tasikmalaya, atau melalui akun twitter Hotel Santika Tasikmalaya

Selasa, 28 Mei 2013

[Laporan Perjalanan] Mangkunegaran Performing Art Surakarta 2013

jual bantal foto
Menarik sekali menyaksikan suguhan Panitia Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 dalam menyusun rangkaian acara yang digelar. Sesuai dengan tema yang diusungnya, Reinventing the Spirit of Cultural Heritage in Southeast Asia, banyak unsur-unsur budaya yang kemudian dilesakkan ke dalam agenda kunjungan para peserta ABFI. Agenda ini bukanlah sekadar jadwal tempelan belaka, karena semuanya sudah terprogram dengan baik. Kalau melihat bahwa ABFI 2013 sudah masuk ke dalam kalender Event Kota Surakarta 2013, tentu persiapan dan pendekatan dengan unsur pemerintah (Pemkot Solo) sudah terjalin jauh sebelumnya.

Banner Event Surakarta  bulan Mei yang ada di setiap sudut kota

Tentu bukan sebuah kebetulan pula apabila ABFI dilaksanakan di Solo. Merujuk kembali pada tema gelaran ABFI untuk mengangkat kembali warisan budaya di negara-negara Asean, Solo menjadi lokasi yang tepat untuk memulai. Solo menjadi salah satu kota yang penuh dengan warisan budaya yang masih bertahan dan layak diteladani. Perhelatan ABFI pada bulan Mei 2013 pun seolah sengaja disandingkan dengan bukti-bukti nyata bagaimana budaya tetap dilestarikan di kota ini. Hal ini tentu menjadi harapan agar para peserta ABFI dapat mengambil segala manfaatnya untuk dapat diterapkan di daerah atau negara masing-masing.

Setelah disuguhi pertunjukan tarian tradisional pada saat gala dinner dan welcoming party di Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota Surakarta), malam kedua seluruh peserta ABFI diajak untuk menyaksikan pagelaran budaya yang sesungguhnya. Tidak tanggung-tanggung, pagelaran ini digelar langsung oleh keluarga kerajaan Mangkunegaran. Peserta ABFI harusnya bersyukur dapat menyaksikan secara langsung agenda tahunan dari Pura Mangkunegaran ini, karena pertunjukkan ini tidak dapat disaksikan setiap saat.


Mangkunegaran Performing Art jelas tercantum dalam Kalender Event Kota Surakarta 2013, dan sudah menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan Pura Mangkunegaran serta menjadi atraksi unggulan kota Solo. Yang menarik, seluruh pagelaran tari yang ditampilkan merupakan karya dari keluarga istana dan menjadi hak cipta Pura Mangkunegaran. Contohnya Tari Sobrak yang diciptakan oleh Gusti Heru (Gusti Pangeran Haryo Herwasto Kusumo) dan Tari Mandrarini yang diciptakan oleh Raja Mangkunegaran IV. Begitu jelas terlihat bagaimana budaya itu terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di dalam lingkungan istana sendiri, sehingga akan menjadi contoh baik bagi seluruh masyarakat Solo untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal.

Rasanya merinding melihat bagaimana antusiasme masyarakat kota Solo untuk menyaksikan Mangkunegaran Performing Art  ini. Entah kenapa saya ikut merasa haru dan bangga,  betapa budaya masih begitu dicintai di kota ini. Mereka datang berduyung-duyun, tua, muda, anak, sampai balita, laki-laki dan perempuan. Area pendopo (balairung pertunjukkan) yang sudah disesaki pengunjung yang sudah datang lebih awal tak menyurutkan mereka yang baru datang. Mereka bergerak menuju hamparan rumput lalu duduk berbaris dengan tertib. Mereka tidak peduli tidak bisa menyaksikan secara langsung setiap pertunjukkan karena pihak istana sudah menyiapkan layar-layar tancap untuk menyiarkan pertunjukkan yang sudah disorot kamera. Di layar-layar itulah mereka menonton, mengagumi dan menikmati setiap lekuk dan gerak para penarinya, tanpa harus kehilangan esensinya.


Dada saya berkecamuk melihat bagaimana ketertiban itu tercipta. Tidak ada teriakan marah karena pandangan yang terhalang, tidak ada pekik suara pedagang menjajakan dagangan, yang ada hanya wajah-wajah hening penuh antusias menyaksikan tayangan seiring suara gamelan yang terus berkumandang. Beberapa petugas polisi yang disiagakan berjalan santai mengelilingi area venue, seolah tak mengkhawatirkan ada sesuatu yang bakal terjadi. Salut buat warga Solo! Seandainya setiap tontonan selalu berjalan setertib ini.

Mangkunegaran Performing Art  berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 10 dan 11 Mei 2013, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Walikota Solo dengan kata sambutan dari perwakilan Pura Mangkunegaran. Acara ini menggelar sejumlah tarian yang dibawakan oleh puluhan (atau ratusan?) anak-anak dan remaja. Tidak kurang  dari Tari Golek Sukoreno, Tari Kupu Kupu, Tari Sobrak, dan Opera Timun Mas yang dipertunjukkan pada malam pertama bagi seluruh masyarakat Solo dan seluruh pengunjung yang terus berdatangan.


Saya mungkin pernah menyaksikan tarian-tarian tradisional seperti ini di televisi. Tetapi nuansanya begitu berbeda saat menyaksikannya secara langsung, seakan ada daya magis tersendiri yang membetot perhatian saya. Suara gamelan yang terdengar dan gerak luwes penarinya menjadi atraksi menarik yang tidak ingin terlewatkan. Saya yakin para peserta ABFI lainnya pun merasa demikian. Semuanya merangsek maju, berusaha mendapatkan tempat strategis paling depan, dengan kamera-kamera siap bidik di tangan. Beberapa wisatawan asing pun terlihat di beberapa sudut venue, menyaksikan jalannya pagelaran tanpa berkedip. Aura budaya magis itu begitu kental terasa.

Ratusan anak dan remaja menari silih berganti. Gemulai tangan dan luwesnya badan mereka menunjukkan kalau mereka sudah mengenal seni tari sejak lama. Bakat seni mereka sudah terasah sejak dini. Saya tahu itu,  karena beberapa jam sebelumnya saya sempat menyaksikan betapa budaya tradisional memang mengakar kuat pada masyarakat Solo.


Taman Sriwedari, ke tempat itulah saya sempat melangkah saat ada kesempatan luang siang sebelumnya. Niatnya ingin melihat dari dekat Gedung Wayang Orang Sriwedari, tetapi yang saya dapatkan lebih dari itu. Saya justru dihadapkan pada sebuah pemandangan yang membuat saya takjub, lantas memaklumi apabila julukan kota budaya layak disematkan pada Solo.

Sebuah joglo di dalam Taman Sriwedari tampak dipenuhi ratusan anak . Mulai dari usia balita sampai anak menjelang remaja, semua berkumpul untuk sebuah tujuan yang sama; latihan menari! Ya, keramaian yang semula saya kira hanyalah keramaian biasa mampu membuat saya terkesima; di tempat inilah ternyata anak-anak Kota Solo belajar menari. Di tempat inilah salah satu akar budaya tercipta dan tergali.


Anak-anak itu (beberapa masih terlihat begitu imut) dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda, sesuai dengan usia, dan mungkin juga sesuai dengan kemampuan dan kemahiran mereka. Cukup terlihat kelompok mana yang baru mempelajari gerakan dasar, kelompok mana yang sudah mulai menghapal gerakan, dan kelompok mana yang sudah cukup terlatih.

Bunyi gamelan pengiring tarian yang diputar dari tape recorder mengalun dari berbagai sisi, musik yang berbeda-beda sesuai dengan kelompok masing-masing. Suara para instruktur ikut ramai terdengar, memberikan instruksi dan arahan, membuat suasana siang itu terasa sangat hidup. Dan yang membuat semuanya tampak lengkap, anak-anak itu, tak peduli berapa pun usianya, tampak sangat menikmati setiap waktu mereka. Meski gerakan mereka tampak masih patah-patah dan belum luwes, tapi sudah terlihat semangat dan keinginan mereka untuk bisa.


Di sisi lain joglo, sekelompok anak lelaki melakukan hal yang sama. Bahkan anak laki-laki di Solo pun sudah belajar menari semenjak dini! Rasanya saya ingin bertepuk tangan sebagai tanda kagum. Di daerah lain, menari mungkin bukan sebuah pilihan menarik bagi anak laki-laki, tetapi di Solo anggapan itu langsung buyar. Bukan hanya ada satu dan dua anak laki-laki saja, tetapi ada puluhan anak yang sedang berlatih menari dengan gagahnya. Saya yakin, anak-anak ini tidak mengabaikan pengaruh modern yang ada sekarang ini, tetapi jelas mereka tidak melupakan dari mana budaya mereka berasal.

Rasanya semakin jelas kalau banyak pagelaran dan pertunjukan seni tari tradisional di kota Solo. Bukan saja karena masyarakatnya begitu mencintai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga karena mereka menyimpan banyak bibit-bibit seniman unggul, yang akan mewarisi dan mewariskan budaya daerah mereka sendiri.

Dengan tema yang diusungnya tahun ini, Asean Blogger Chapter Indonesia telah tepat merangkul Kota Solo untuk membuka gerbang dalam menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya di Asia Tenggara. Negara-negara Asean adalah negara yang sangat kaya dengan warisan budaya bangsanya. Alangkah indahnya kalau blogger ikut memegang peranan dalam menjaga, mengenalkan, atau bahkan mempromosikan keragaman budaya ini ke seluruh penjuru dunia, sehingga budaya itu akan terus lestari dan tidak luntur tergerus arus modernisasi global. Bukan tidak mungkin, blogger dan Asean Blogger dapat menjembatani event pertukaran pertunjukkan budaya antar negara Asean sehingga dapat mewujudkan target Komunitas Asean 2015 yang lebih solid.

Asean Blogger Festival Indonesia 2013 sudah usai. Melalui program budaya yang disajikan oleh tuan rumah  penyelenggara, semoga para peserta dapat mengambil pelajaran tentang cara menghargai sebuah warisan budaya. Solo sudah memberi contoh, tinggal memikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk warisan budaya di daerah masing-masing. Memang benar, kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Reportase by pegipegi.com dan AseanBlogger

Minggu, 26 Mei 2013

[Laporan Perjalanan] Asean Blogger Bergandengan Tangan dengan Telkom Indonesia

jual bantal foto
Saya di ABFI 2013 Solo
Saya beruntung. Setelah berkesempatan hadir pada Asean Blogger Conference (ABC) tahun 2011 di Bali, tahun ini saya kembali bisa hadir di perhelatan kedua Asean Blogger Chapter Indonesia di Solo (9-12 Mei 2013). Bertajuk ‘Asean Blogger Festival Indonesia 2013 – Reinventing The Spirit of Cultural Heritage in South East Asia’, acara ini kembali memberikan saya kesempatan untuk bertemu lagi dengan ratusan blogger yang mewakili berbagai komunitas di tanah air, dan perwakilan negara-negara Asean. Jelas ini sebuah kesempatan berharga, di mana saya bisa berbagi cerita dan meraup banyak kisah yang ditebar sepanjang acara ini berlangsung.

Tidak bisa dipungkiri, banyak hal yang akhirnya menjadi perhatian saya, khususnya saat saya harus membandingkan dengan gelaran sebelumnya. ABFI 2013 adalah acara bagi blogger, dan menjadi penting bagaimana panitia penyelenggara dapat mewadahi kebutuhan blogger selama acara.

Blogger adalah orang-orang yang asyik! Ketika berhadapan dengan kebutuhan akomodasi, transportasi, dan konsumsi, rasanya tak pernah dibikin repot. Tidur di mana, pergi naik apa, atau makan apa, tak pernah jadi masalah besar. Yang penting ada dan tersedia, itu sudah cukup. Tetapi, ketika seluruh peserta disodori akomodasi sekelas hotel bintang 5, transportasi yang memadai dan mudah, serta makanan yang lezat, blogger mana yang akan menolak? Tentu ada rasa bahagia karena panitia sudah memperlakukan kami, blogger, sedemikian hebat.

Manusia Kabel di ABC 2011 Bali
Salah satu kekhawatiran saya menjelang acara berlangsung adalah; akankah kejadian di ABC 2011 Bali terulang lagi? Blogger adalah manusia gadget. Tidak seorang pun peserta yang tidak memegang gadget, entah itu laptop, Ipad/Tablet, Smartphone, atau sekadar handphone biasa. Saya masih teringat, acara demi acara pada ABC 2011 akhirnya berlangsung tidak begitu tertib saat banyak peserta di beberapa kesempatan berhamburan mencari colokan! Duduk seharian dengan aktivitas online yang tidak pernah berhenti (twitting, blog posting, facebooking, dll), mengguras energi setiap gadget yang ada. Tak heran saat ‘low-bat’ melanda, peserta sibuk mencari sumber listrik! Dan itu tidak sedikit. Satu per satu peserta mulai meninggalkan kursinya demi kelangsungan aktivitas onlinenya. Setiap colokan listrik yang ada seolah menjelma menjadi sebutir gula yang dikerubuti semut. Itu pun harus antri karena keterbatasan colokan yang ada. Istilah ‘Manusia Kabel’ pun mencuat begitu saja untuk mereka yang terlihat berkerumun disekitar sumber listrik. Jujur, saya kasihan pada panitia, saat acaranya banyak ditinggal begitu saja.

Kekurangan ini rupanya ditutup dengan baik pada perhelatan di Solo. Bukan saja karena sekarang sudah musim PowerBank yang banyak ditenteng peserta, tetapi sekarang sumber listrik ada di mana-mana! Di setiap deretan meja dipastikan terdapat sedikitnya satu (atau bahkan dua?) sumber listik dengan beberapa colokan tersedia. Sudah semestinya seluruh blogger bernapas lega melihat ini. Listrik adalah nyawa kedua bagi blogger. Eksis di dunia maya tidak perlu terhenti hanya karena gadget harus sekarat seketika.

Meja! Senyum saya terbuka lebar saat pertama kali memasuki meeting room Kusumah Sahid Prince Hotel. Akhirnya peserta mendapatkan meja alih-alih kursi saja. Bayangkan, duduk seharian dari pagi sampai sore, dengan gadget di tangan, apa yang bisa kita lakukan tanpa meja untuk menyandarkan lengan? Saya kembali teringat momen saat ABC 2011 di Bali, ketika peserta hanya disediakan kursi saja untuk menyimak setiap pemaparan pembicara di depan. Yap, dari pagi sampai sore, kita harus duduk sambil kebingungan untuk mencari sandaran lengan yang kesemutan. Para peserta yang membawa laptop terpaksa harus memangku laptopnya agar terus dapat mempergunakannya. Bukan posisi yang nyaman tentu saja, tapi harus bagaimana lagi?

Bermeja! Yaay!
Kami mendapatkan meja di Solo! Terkesan sangat sepele ya kalau meributkan sebuah meja belaka. Tapi tahukah kalau peranan meja itu sangat berharga bagi saya? Ini bukan acara yang berlangsung satu atau dua jam saja, tetapi seharian, plus dengan gadget di tangan. Sebuah meja menjadi penyelamat saat kejenuhan atau kepegalan melanda. Laptop, Ipad/Tablet, Smartphone dapat diletakkan dengan manis di atas meja dan dapat difungsikan sebagaimana semestinya tanpa kerepotan harus di mana menaruhnya.

Tetapi, ada hal lain yang jauh lebih penting ketimbang colokan listrik dan meja. Selain sebagai manusia gadget, blogger adalah manusia online. Gadget hanyalah sebuah benda mati kalau tidak ada akses di dalamnya. Meski dipastikan seluruh peserta sudah melengkapi diri dengan aksesnya masing-masing di setiap gadget yang dibawa, tetapi kalau ada dukungan penuh dari panitia tentu akan disambut dengan suka cita.

Tanda-tanda akan melimpahnya akses internet di lokasi sudah tercium dari awal, saat melihat nama PT. TELKOM Indonesia sebagai salah satu pendukung utama acara ABFI ini. Rasanya tidak mungkin perusahaan sebesar PT. Telkom akan membiarkan acara blogger yang disupportnya menjadi fakir bandwidth. Harapan ini semakin terasa saat melihat banner-banner Telkom Speedy dan produk Telkom lainnya (Useetv) bertebaran di sekitar Kusumah Sahid Prince Hotel, yang menjadi lokasi acara ini berlangsung. Saya yakin, akses hotspot akan merajalela di tempat ini.

Useetv - salah satu produk unggulan Telkom Indonesia
Banner ‘Area Wifi.ID’ pun terpajang jelas di beberapa titik Kusumah Sahid Prince Hotel. Ow, saya langsung tersadar bahwa akses Wifi.ID adalah akses wifi berbayar. Tatkala saya mencoba mengaksesnya pertama kali pun (pada saat baru saja tiba di lokasi), permintaan login langsung terpajang jelas di layar Gtab saya. Waduh, kalau begini caranya sih, sama saja bohong. Apa boleh buat, saya terpaksa harus menggunakan akses bawaan yang sudah terpasang dalam Gtab saya.

Hohoho ... rupanya saya terlalu berburuk sangka. PT. TELKOM Indonesia jelas sangat mensupport kegiatan ini, dan mereka sangat peduli terhadap ratusan blogger yang tiba-tiba saja membanjiri kota Solo minggu itu. Pada saat registrasi peserta, saya pun menemukan jawabannya. Setiap peserta ABFI 2013 diberikan 3 (tiga) lembar Speedy Instan Card, yang masing-masing kartu berlaku untuk 24 jam. Huraaaaay .... berarti tak akan ada yang mengeluhkan tidak bisa eksis di dumay lagi selama acara berlangsung.

Saya tidak mau rugi dong. Paket akses bawaan Gtab saya langsung dimatikan untuk segera dialihkan pada akses hotspot Wifi.ID. Apalagi caranya sangat mudah. Cukup scanning jaringan hotspot Wifi.ID dari gadget, lalu sambungkan. Pada saat membuka browser pertama kali, masukkan username yang tersedia pada Speedy Instan Card, dan password yang sudah digosok terlebih dahulu pada kartu yang sama. Setelah itu, silakan berselancar di dunia maya sepuasnya.

Speedy Instan Card. 5ribu per hari internetan sepuasnya!
Menggunakan Speedy Instan Card ini memang tidak bisa di sembarang tempat. Hanya di tempat-tempat yang tercover area hotspot wifi.id saja kartu ini bisa digunakan. Tetapi jangan khawatir, PT. TELKOM rupanya sudah berupaya untuk meningkatkan jumlah titik pelayanan hotspot Wifi.ID ini di banyak tempat, di seluruh Indonesia! Utamanya di pusat-pusat keramaian, akses ini mulai banyak dijumpai.

Ah ya, ternyata Speedy Instan Card (Spin-Card) ini tidak hanya digunakan untuk Hotspot Wifi.ID, tetapi juga dapat digunakan untuk akses melalui Internet Broadband di Speedy Instan, dan Speedy Hotspot. Untuk lebih jelasnya, silakan simak penjelasan lengkapnya di http://speedyinstan.com/spin-card.

Keberadaan Indonesia wifi di area Asean Blogger Festival Indonesia 2013 jelas sangat mendukung menggaungnya gema ABFI 2013 Solo ini tidak saja ke penjuru nusantara dan negara-negara Asean, tetapi juga ke seantero dunia. Blogger peserta seolah mendapatkan amunisi mumpuni untuk meluncurkan setiap update terbaru sepanjang penyelenggaraan acara. Tidak terbilang ribuan twit meluncur di twitterland, ribuan status dan foto terpajang di laman-laman facebook, serta blog-blog posting yang menyerbu di setiap blog peserta. Apalagi panitia melalui akun @aseanblogger dan @telkomindonesia mengadakan lomba live twit sepanjang acara yang memungkinkan timeline disesaki oleh kicauan seluruh peserta. Seru! Semua balapan untuk menyajikan reportase langsung dari setiap venue yang ada.

Peserta ABFI 2013 begitu dimanjakan oleh kecepatan akses saat itu. Dengan ratusan pengguna yang mengakses bersamaan, semua aktivitas online berjalan sangat lancar. Tim dari Telkom Kantor Wilayah Solo rupanya tidak main-main dalam memberikan supportnya bagi Asean Blogger. Terlihat dari adanya homebase tersendiri bagi kru Telkom di area penyelenggaraan ABFI dalam mengantisipasi setiap kendala yang mungkin saja terjadi.

Spanduk Telkom Indonesia menyemarakan agenda Solo Urban Forest
Ternyata bukan hanya itu saja support yang disiapkan oleh Telkom Indonesia. Dalam agenda acara mengunjungi Solo Urban Forest di bantaran sungai Bengawan Solo, lagi-lagi seluruh blogger peserta ABFI dimanjakan oleh akses kecepatan tinggi di alam terbuka. Taman di tepi aliran sungai Bengawan Solo yang semula merupakan area perumahan kumuh warga, sudah disulap menjadi sebuah lahan bermain warga (seluruh warga sudah direlokasi ke daerah lain). Hebatnya, area ini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot Wifi.ID yang memungkinkan warga sekitar bisa menikmati taman seraya berselancar di dunia maya. Semoga fasilitas ini tidak hanya disediakan karena akan dijejali blogger dari seluruh penjuru negeri, tapi memang fasilitas yang sudah ditetapkan akan selalu berada di sana.

Yang lebih asyiknya lagi, di tempat ini Telkom Solo kembali membagi-bagikan Speedy Instan Card untuk seluruh blogger. Yippiiiieee .... lumayan buat oleh-oleh. #eh.

Tidak pernah ada acara yang digelar dengan sempurna dan memuaskan seluruh pihak yang terlibat. Tetapi, selalu ada sisi-sisi menonjol di balik setiap penyelenggaraan. Kali ini, Asean Blogger Chapter Indonesia sudah menggandeng sponsor yang tepat untuk memanjakan blogger, salah satunya dalam hal penyediaan akses internet yang sangat memudahkan. Semoga kerja sama yang baik seperti ini dapat berlanjut lagi dalam kegiatan-kegiatan blogger selanjutnya.

Bravo Asean Blogger! Bravo Telkom Indonesia!

Kamis, 25 April 2013

[Laporan Perjalanan] Chatuchak Weekend Market ~ Bangkok #Day3

jual bantal foto Laporan #Day1 baca di sini
Laporan #Day2 baca di sini
Laporan #Day3 ~ Ancient City baca di sini

Beres jungkir balik dan koprol dengan berbagai gaya berlatar belakang landmark di Ancient City, akhirnya kita harus menghabisi kebersamaan itu *Halah*. Sudah tengah hari bolong, dan keringet sudah banjir sodara-sodara. Sepedaan keliling-keliling di bawah terik matahari Bangkok dengan suhu 40 derajat cooooy ... berasa lagi sauna di alam terbuka. Sedaaaap .... gosong-gosong dah.

Untungnya (gosong begitu masih aja untung), banyak tempat jual minuman di area Ancient City. Warung resmi ya, bukan pedagang asongan. Jadi, entah sudah berapa botol air mineral yang kita telen ... *airnya, bukan botolnya!* Gileee ... baru kali itu saya merasa minum yang bener-bener enak. Mungkin sangking hausnya, terus dikasih air dingin. Nyeeesss ... banget. *enyak-enyak-enyak* Harga minumnya 10 baht (Rp. 3.400,-) untuk satu botol isi 500 ml. Botolnya pun unik, karena bermerk dan bergambar Ancient Siam. Jadi, selain jualan tiket masuk, pengelola pun jualan air! Hebaaat ... sebagai kenang-kenangan, botol itu akhirnya saya bawa pulang. *niat amat? Biarin!*

Pasukan Horey-Horey di Ancient City
Di toilet samping penjualan tiket setelah keluar arena, akhirnya kita ganti kostum. Tarrraaaa .... wajah-wajah kuyup penuh keringet pun berubah kembali menjadi wajah ganteng, cantik, dan rupawan *Praaangg! Kaca pecah!*. FYI, ransel kita masing-masing tuh ya berisi baju ganti, karena moto kita adalah; “Di setiap lokasi yang beda, kostum pun harus beda, biar fotonya asyik!” *tepok tangaaaan*

Lalu, ke manakah kita siang ini? Yang jelas perut sudah ajojing sedari tadi, tapi tidak terlihat tanda-tanda tempat makan yang aman di sekitar lokasi. Jadi, kita putuskan untuk puasa makan dulu sejenak dan tenggak air banyak-banyak *glek-glek-glek*. Entar aja nyari makannya di Chatuchak. Sekarang saatnya mencari supir taksi dan gebukin rame-rame! minta anterin ke stasiun BTS terdekat.

Ternyata liburan ke Bangkok nggak perlu jago-jago amat bahasa Inggris. Buktinya, pas ngobrol sama supir taksi yang ada di parkiran (khusus taksi), tetep aja bahasa Tarzan yang dipake. Minta dianter ke stasiun Bearing aja harus jungkir balik dulu karena jawabannya ‘hah, heh, hoh’ doang. Kita sampe ngeluarin peta wisata Bangkok dan ngebentangin di depan para sopir yang berkerumun. Itu petanya juga dodol, masa Ancient City nggak ditongolin di situ?

“Where are we, now?” tanya Mba Erna sambil nepuk-nepuk peta. Puk! Puk! Puk! Maksudnya, biar tahu di peta tuh kita ada di sebelah mana, dan bisa nyari lokasi wilayah terdekat yang ada stasiun keretanya.
“^&*_(&^$%%$%*@#>“HAH?”
“@%$%^&&$)_)&>?>^&%#.”
Lo – gue – end! Bodo, ah!

Akhirnya kita kembali ke kata kunci awal. “BEARING. Take us to Be-ar-ing sta-ti-on! BE-AR-ING!”
Sopir-sopir taksi langsung pada bisik-bisik lagi, mungkin lagi pada muji kalau kita ini ganteng-ganteng dan cantik semua. *ciyaaaaaat*. Sampe akhirnya mereka ngangguk-ngangguk seolah sedang menyepakati sesuatu. Hmmm ... tercium gelagat yang tidak baik  nih. Saya pun segera meraba ujung pedang yang terselip di pinggang, bersiap untuk serangan tanpa bayangan yang mungkin akan dilancarkan. *kenapa jadi cerita silat gini?*

“Oke .. oke ... Bang Na.” Kata salah seorang sopir dengan intonasi tidak jelas. Saya aja baru tahu kalau dia ngomong Bang Na pas nanti tiba di tujuan.
“Bearing, oke?”
“Oke ... train ... Bang Na. Oke ... Bearing.”
Meski masih agak ragu, kita akhirnya naik taksi. Lihat aja kalau dia mau macem-macem, belum tahu siapa kita, ya? *Maju Kang Odoy!*

Sepanjang jalan saya bener-bener bersiaga penuh. Saya takut diculik, disekap, lalu dikirim ke Korea untuk dijadikan Boyband *tabok*. Mata saya melirik ke kiri, ke kanan, ke kiri lagi, bolak-balik kayak penari Bali. Turun dari taksi pasti saya bisa nari tari Pendet!

Seperti halnya berangkat ke Ancient City tadi pagi, pulangnya pun agak lama. Yaiyalah, kan jalannya itu-itu juga! Dan saya langsung tersenyum riang gembira saat melihat bangunan-bangunan beton di tengah jalan. Itu salah satu pertanda adanya jalan kereta di atas sana. Saya yakin, soalnya tidak mungkin pemerintah Thailand mendirikan apartemen di tengah jalan! Gelo! Taksi pun berhenti, dan saya melihat papan petunjuk di pinggir jalan “BTS Bang Na” plus tanda panah ke atas! Alhamdulillah .... saya nggak bakalan jadi anggota Boyband *sujud syukur*

Ternyata, alih-alih ke Bearing, sopir taksi itu mengantar kita ke stasiun Bang Na, perhentian BTS kedua setelah Bearing. Fyuuuuh .... makanya ngomong yang jelas dong, ah! Etapi, ongkos taksi dari Bearing ke Ancient City, dan Ancient City ke Bang Na itu sama aja; 160an Baht. *yaaah ... penumpang kecewa*

So, ke manakah kita sekarang, Dora? Chatuchak! Hyuuuuk .... lanjuuut.

Sisi lain Chatuchak yang ramai
Ancient City dan Chatuchak itu ibarat putri yang ditukar. Yang satu ada di mana, yang satu lagi ada di mana. Yang menghubungkan mereka hanya rel kereta yang terbentang panjang. Jadi, Bearing itu adalah ujung stasiun BTS di satu sisi, dan Chatuchak ada di stasiun BTS terakhir (Stasiun Mo Chit) di ujung satunya lagi. Asoy kan? Yuk, Bobo di dalam kereta! Perjalanan panjang, euy! Dari Bang Na ke stasiun Mo Chit bayar 55 baht.

Karena berdasarkan petunjuk hasil browsing, kalau mau ke Chatuchak itu jangan turun di Mo Chit (yang menjadi stasiun interchange dengan MRT Chatuchak), tapi lebih dekat kalau turun di stasiun MRT Kamphaeng Phaet, akhirnya di BTS Mo Chit kita pindah ke MRT Chatuchak Park. Dari sana naik MRT satu stasiun saja ke Kamphaeng Phet. Bayarnya 15 baht.

Keluar dari stasiun Kamphaeng Phet, kita sudah langsung masuk ke lokasi. Ini dia Chatuchak Weekend Market! Yihaaaa .... it’s shopping time! *siapin kresek*

Salah satu bagian dalam Chatuchak
Chatuchak Weekend Market adalah pasar tradisional yang menjadi lokasi wajib kunjung untuk wisatawan yang hobi ngupil berbelanja. Pasar yang hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu ini benar-benar dipersiapkan dengan matang. Tidak kurang dari 15.000 kios menjajakan segala jenis barang. Apapun yang anda cari, pasti ada di Chatuchak. Wisatawan cenderung memilih pasar ini untuk membeli cenderamata khas Thailand dengan harga yang cukup murah. Bahkan, kelihaian dalam tawar-menawar dapat diuji di sini untuk mendapatkan harga terbaik.

Chatuchak Weekend Market adalah pasar terbesar di seluruh Asia, dan jadi salah satu yang terbesar juga di dunia. Pasar seluas kurang lebih 9 hektar ini dikunjungi tidak kurang dari  200.000 gajah orang per hari di setiap akhir pekan. Saking luasnya, pengelola menyediakan peta tersendiri untuk memudahkan pengunjung menjelajahi setiap area yang terbagi dalam 27 bagian sesuai dengan klasifikasi barang yang dijual. Ini salah satu bukti keseriusan dalam pengelolaan sebuah pasar tradisional secara profesional.

Tapi tunggu, sebelum mikirin belanja, pikirin dulu perut oooy ... laper niiih. Karena pasar ini memang gede (baca; guede bangeeeet), kita bingung nyari tempat makan halal sebelah mana. Akhirnya, kita nanya pak Satpam yang lagi bertugas.
“Pak, yang jualan karedok sebelah mana ya?” *dipentung*
“Where could we find halal food stall?”
Pak Satpam geol-geol pasang muka lempeng. Dia Cuma nyodorin peta Chatuchak dengan tatapan; “lo cari aja sendiri. Gue sibuk!”

Oooh .. jadi gitu caranya niiih? Yaweeees ... kita pun mindik-mindik lagi sambil celingukan kiri kanan. Pasar udah rame euy, penuh banget sama yang jualan. Eh, sama pengunjung ding. Untunglah, baru berjalan bentar, ada sebuah kios makanan yang membuat kita tersentak.

Ramazan Doner Kebab

“Ada kebab!” jerit Bhai sambil berlinang air mata haru. *oke, ini memang fitnah*
“Bagaimana kalau kita numpang ngadem di sana?” kata Ichen.
“Iya, ada kipas anginnya lho. Bagus ya, bisa muter,” cetus Nunik.
“Iya, sambil duduk kita sambil pesen makanan,” timpal Fita sambil ngences lihat gulungan daging yang muter-muter.
“Eh, yang punyanya bule cakep, lho,” pekik Kang Odoy dengan mata berbinar.
Sementara Mba Erna buang muka sambil menahan malu.
*percakapan dan adegan ini disarikan dari sumber yang tidak dapat dipercaya*

Ramazan Doner Kebab, akhirnya di sanalah kita terdampar siang itu. Niatnya sih pengen makan nasi. Namanya aja orang Indonesia, nggak ketemu nasi sehari aja berasa kangeeen banget. Tapi berhubung dorongan arus tengah yang sudah tidak tertahankan lagi, akhirnya segulung Beef Kebab pun lumayan untuk mengganjal pintu perut. Di tambah es lemon tea, siang itu terasa begitu indah. *puk-puk perut* Beres makan dan pada bayar, kita menatap syok si Bule pemilik kebab yang lagi makan di dekat pintu. Yang bikin kita keki, dia makan pake NASI! Saya pun melirik ke daftar menu yang dijembrengin di depan kios. Salah duanya bertuliskan :  ‘Chicken Kebab on RICE’ dan ‘Beef Kebab on RICE’! Jiyaaaaah .... Yang dua itu kapan ditulisnyaaaa. *kejet-kejet*

Lihat menu dulu makanya sebelum pesan!
Sudahlah, lupakan nasi, dan mari kita belanja. *siapin dompet*

Ternyata bener, Chatuchak adalah surganya belanja. Ngg ... saya emang jarang belanja ke pasar, dan nggak begitu ngerti dengan seluk beluk pasar di tanah air. Tapi lihat begitu banyaknya barang yang bisa dijadiin oleh-oleh di sini, eh jadi ikutan napsu juga. Awalnya sih, suwer, nggak niat beli ini-itu, kecuali yang lucu-lucu aja buat anak-anak. Tapi, lihat Pasukan Horey-Horey yang kalap belanja, eh akhirnya kebawa juga. Lihat Ibu-Ibu beli dompet-dompet lucu, akhirnya ikutan beli. Lihat gantungan kunci murah, ikutan juga. Pas mereka beli pasmina sutera khas Thailand, eh inget mertua, dan akhirnya beli juga. Lihat sepatu handmade lucuuw, inget Abith yang sepatu mainnya sudah sempit, akhirnya nekad beli juga (meski pas nyampe rumah kegedean satu nomor. Gpp Nak, lumayan bisa kepake sampe dua tahun ke depan!). Selanjutnya, saya tak kalah sibuknya dengan Pasukan Horey-Horey; beli ini dan beli itu. Bahkan saat pasukan memborong kaos-kaos murah untuk sanak sodaranya, akhirnya saya ikut terjun ke dalam kancah peperangan; obrak-abrik toko kaos. Buat siapa kaos itu, urusan di rumah. Yang penting beli dulu! Hahaaay.

Mr. and Miss Kresek
Sebenarnya, ada dua target yang harus saya beli di Bangkok ini. Sebagai kolektor magnet kulkas, itu adalah benda wajib yang harus dibawa pulang. Akhirnya, saya berhasil membawa pulang 12 biji magnet buat diri sendiri. Horeeee .... penuh-penuh dah tuh pintu kulkas *siap-siap beli kulkas baru buat tempat mejeng magnet*

Benda kedua yang ingin saya beli adalah; Gajah! Thailand identik dengan gajah, makanya itu saya ingin membeli gajah. Keinginan itu pun sudah disampaikan pada anak-anak sebelum berangkat, bahwa ayahnya bakalan pulang membawa seekor gajah! Nah loh!

Obrolan sebelum berangkat :
Abith nganga : “Hah, gajah?”
Rayya : “Horeeeee .....”
Abith : “Nanti nyimpen gajahnya di mana, Yah?”
Rayya : “Di garasi aja.”
Abith : “Gajah kan gede, garasinya nggak bakalan muat.”
Rayya : “Beli gajah anaknya aja, yang masih kecil.”
Abith terbawa suasana : “Oh iya, beli gajahnya yang kecil aja, Yah.”
Saya mesem-mesem.

Akhirnya keinginan saya tercapai. Saya beli gajah putih yang imut dan lucu. Tapi gajahnya nggak bakalan ditaro di garasi, tapi cukup di atas meja pajangan saja. Dan anak saya keduanya melonjak girang pas gajah itu saya bawa pulang; “Horeee ... gajahnya nggak perlu dikasih makan!” Hihihi.

Yang haus ... yang hauuus ....
Semakin sore Chatuchak semakin rame. Banget. Berarti nggak salah kalau Bangkok menjual pasar ini menjadi salah satu destinasi wisata karena daya tariknya memang luar biasa. Jubelan pengunjung yang datang bukan hanya wisatawan saja, tapi juga penduduk lokal. Semuanya campur aduk menjadi satu dengan tujuan yang sama; mencari barang murah meriah!

Pasukan Horey-Horey sudah ribet dengan bawaan masing-masing. Satu per satu berubah menjadi kontestan Miss Kresek. Selama sisa baht masih ada di dompet, tetep aja masih pengen ngelirik jualan lain dan lalu terlibat dalam pertarungan tawar-menawar. Nggak heran kalau gembolan semakin membengkak dan beranak pinak. Gempor sudah tidak terasa lagi gara-gara terlalu asyik. Yang ada justru mulut yang semakin asem dan gigi semakin kering. Hal ini kayaknya sudah sangat diantisipasi oleh mereka yang mencari peluang. Tukang jualan minuman pun merebak di mana-mana. Bukan hanya penjual air mineral dan soft drink, tapi juga penjual kelapa muda dan es teh, es jeruk, es lilin, dan es-es lainnya.

Selain haus, ternyata muter-muter keliling pun bisa bikin lapar, sodara-sodara *Kriuk*. Yaiyelah, udah mau sore kok. Lagian tadi cuma makan kebab doang, yang sudah jelas tidak bisa bertahan lama daya ganjelnya. Tapi, makan apa kita sekarang? Lihat makanan-makanan yang dijual sih sangat-sangat menggiurkan, tapiii ... yagitudeh.

Non Halal Food ada boneka & gambar piggynya *bukan yang baju putih*

Oya, resiko berpisah di Chatuchak ini sangat-sangatlah besar. Dan, kalau sudah berpisah alamat bakalan susah bertemu lagi. 9 hektar booow. Akhirnya janjian, kalau ada yang nyasar, nggak usah panik. Pas udah gempor, balik lagi aja ke pintu masuk stasiun Khamphaeng Phet dan tunggu di situ karena kita pasti bakalan ke situ juga nantinya. Daaan ... yang terpisah dari rombongan siang itu adalah ... Kang Odoy! Tuh Bapak memang paling seneng ngilang-ngilang. Di book fair aja  dia tiba-tiba bisa menghilang dalam sekejap, apalagi di pasar! Sempet panik pas Kang Odoy nggak kelihatan wujudnya di mana-mana. Kita takut kang Odoy ada yang nyulik buat dipaksa jadi ladyboy di Bangkok. Kita harus ngomong apa coba sama istrinya. Untungnya pas beres belanja, kita menemukan Kang Odoy lagi andemprok sendirian di deket pintu stasiun. Huwaaa ... anak hilang sudah ketemuu!

Halal Food ada gambar Mmooo dan label Halalnya
Salah satu makanan yang menggoda selama di Bangkok adalah sosis dan daging-daging panggang. Hampir di setiap ruas jalan selalu ada tukang sosis atau daging panggang. Wanginya itu lhoo ... semriwing banget. Di Chatuchak pun banyak yang jual begituan (idih, begituan amat istilahnya). Saya cuma menatap ngiler aja. Hiks ... apalagi sosisnya jumbo banget, dicelup ke bumbu pedas, lalu dibakar. Nom ... nom ... nom ... *ambil ember buat nampung iler*

Dan ... sebelum keluar pasar, godaan itupun datang lagi. Sate-sate dan bola-bola daging bakar dipajang bikin ngences. Aroma bakaran muter-muter dan joget-joget sekeliling saya. Aduhaaai ... sedapnyeee (baca ala Upin-Ipin). Saya pun serta merta menelan ludah *cegluk*. Lalu saya pun menatap si Ibu penjual sosis dengan tatapan iba. Guk! Guk! Si Ibu pun melemparkan sisa-sisa sosis gosong ke arah saya.

Okay, itu halusinasi terburuk saya. Karena sedetik kemudian saya menganga lebar. Mata saya terbelalak seolah melihat si Ibu itu berubah menjadi Luna Maya sedang dadah-dadah ke arah saya dengan senyumnya yang menggoda. Oh tidaaaaak .... Ibu itu menggunakan jilbab!

Halal! Halal!
Saya pun segera melolong. “Is it halal?”
Ibu penjual sosis tersipu-sipu. *Idih, kok gitu?*
Dan saya pun nanya lagi, takut si Ibu tadi salah denger dan ngira saya lagi muji kecantikannya. “Sosis ... HALAL?” sambil nunjuk-nunjuk sosisnya, dan bukan nunjuk muka si Ibu. Eh, si Ibu tetep tersipu-sipu *entahlah kenapa*, tapi sekarang sambil ngangguk-ngangguk. Saya bersorak penuh semangat; “SAYA BELI DUA!”

Setelah saya ngidam sosis panggang tiga hari itu, akhirnya saya bisa mendapatkannya di Chatuchak. Sekalian akhirnya saya beli baso panggang juga dua tusuk! Yummy. Harganya? Lupa! Hehehe

Belanja sudah beres, tinggal menentukan siapakah Miss Kresek tahun ini. menurut kamu siapa, coba? *clue; lihat buntelannya*

And Miss Kresek goes tooo .... *liat buntelan*

Bersambung (lagi?)

Rabu, 24 April 2013

[Laporan Perjalanan] Ancient City - Bangkok #Day3

jual bantal foto Laporan #Day1 bisa dibaca di sini.
Laporan #Day2 bisa dibaca di situ.
Laporan #Day3 bisa dibaca di bawah ini (kan memang baru ditulis).

Akhirnya sudah hari ketiga saya berada di Bangkok. Diawali dengan pagi hari yang normal, bangun tidur sambil ngulet-ngulet ganteng lagi tanpa perlu bangun secara tidak iklas seperti kemarin.Tidak ada agenda harus blusukan pagi buta lagi soalnya. Tapi tetep, pukul 6 pagi kita sudah rapi jali. Udah mandi dan wangi dong, biar kelihatan aslinya kalau orang Indonesia itu ganteng dan lucu-lucu. #Plaakk.


Sesuai jadwal, hari ini kita akan bergerak menuju Ancient City, dilanjutkan belanja-belanji di Chatuchak. Nggak ada meeting-meeting lagi? Eits, semua sudah kelar kemarin. Sekarang saatnya gempor-gemporan lagi keliling Bangkok. Hyuk, mariiii .... karena Ancient City itu lumayan agak jauh, jadi kita harus berangkat agak pagian. Pukul 7 sudah kelar sarapan, dan langsung cabut karena masing-masing sudah jinjing ransel.


Ancient City atau dalam bahasa mereka dikenal dengan nama Muang Boran ini berada di area Samuth Prakan. Dari stasiun MRT Lumpini, kita menuju ke stasiun Sukhumvit untuk pindah ke stasiun BTS Asok. bayarnya 20 baht. Dari Asok, kita menggunakan BTS sampai ke stasiun terakhir, yaitu stasiun Bearing. Bayarnya 40 baht. Nah, perjalanan ini belum usai sodara-sodara, karena kita harus melanjutkan perjalanan dengan taksi. Iye, Ancient City berada di luar jalur kekuasaan railway, makanya harus nyambung lagi pake angkutan lain.

We're model, indeed! *hoeeks*
Turun di stasiun Bearing langsung nyari taksi. Eh, pas taksi nyamperin malah supirnya bingung. Pertama, dia bengong aja pas ditanya tentang Ancient City. Ditanya-tanya lagi, eh malah teriak-teriak; "No English! No English!" terus nyerocos dalam bahasa tarzan, eh Thailand. Dan seperti biasa, akhirnya saya mengeluarkan jurus pamungkas; Gtab! lalu ditunjukkanlah website Ancient City dalam versi tulisan keriting.

"Aaah ... Muang Boran! Oke, oke!"

Fyuuuh ... bener kata orang, di Bangkok ini lebih aman menggunakan istilah dalam bahasa mereka ketimbang yang sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris, soalnya tidak semua ngeh dengan istilah-istilah ini. Makanya, selalu siapkan kartu nama hotel banyak-banyak (bisa diambil di resepsionis), jadi kalau mau pulang ke hotel dan supir taksinya kebanyakan bengong pas kita ngomong, tinggal tunjukin saja kartunya, dia pasti ngerti.

Perjalanan dari Bearing ke Ancient City lumayan jauh. Sekitar setengah jam sih ada. Yang jelas, jangan kaget kalo supir taksi di sini gila jalanan semua. Ngebut cooooy ... udah kayak lagi main film Fast and Furious aja. Suweeer ...  Makanya Ichen yang satu taksi sama saya jerit-jerit sepanjang perjalanan. hehehe. Ongkos taksinya kalau tidak salah 160 baht, langsung brenti di pintu masuk Ancient City. *yaiyalaah, masa di pintu stasiun? balik lagi dong?*


Ancient City atau Muang Boran ini adalah salah satu museum outdoor terbesar di dunia. Luasnya sekitar 320 are atau 130 hektar, dan menyajikan kota Bangkok di masa silam, pada masa kejayaan Ayutthaya. Ini benar-benar keren karena kita seolah dibawa kembali ke zaman dulu dengan suasana dan kehidupan Bangkok di zaman kerajaan kuno. Sejumlah bangunan dibuat sama persis dengan aslinya, hanya saja dengan ukuran yang lebih kecil (bukan miniatur). Replika-replika bangunan, kuil, candi, taman kerajaan, pasar terapung, sampai ke bangunan rumah penduduk asli Bangkok pun dihadirkan secara lengkap di sini. Silakan terkagum-kagum di setiap spot yang ada. Jangan heran kalau kamu pun pengen difoto dengan setiap bangunan yang ada.

Buat yang doyan motret, ini adalah lokasi yang tepat. Tidak perlu jauh-jauh keliling kota Bangkok karena Ancient City sudah menyiapkan semua landmark terbaiknya, meski hanya replikanya. Pengalaman aja, di satu spot landmark saja, nggak kurang dari 50 gaya yang sudah kita lakukan untuk foto session. #kurangkerjaan.

Trem buat keliling-keliling. Ada Tour Guidenya, lho. Cakep! #eh
Masuk Ancient City kita harus merogoh kocek 500 baht (dewasa) dan 250 baht (anak). Tiket ini sudah termasuk tour keliling Ancient City naik trem. Jadi nggak perlu jalan kaki 130 hektar? Hohoho ... kalo mau sih, silakan saja gempor sepuasnya. Tapi, yang paling asyik dan seru buat keliling-keliling adalah naik sepeda! Tenang, Pengelola sudah menyiapkan ratusan sepeda yang bisa kamu pilih secara gratis! Gratis? Hooh, karena penggunaan sepeda sudah termasuk dalam biaya tiketnya. Nah, dengan sepeda ini kamu bisa keliling sepuasnya, menuju lokasi-lokasi yang kamu mau. Biar nggak bingung, pas beli tiket, kamu bakalan dikasih peta Ancient City juga, jadi nggak perlu takut nyasar atau harus kemanakah kita sekarang?

Pasukan Horey-Horey bersepada
Karena kita adalah pasukan horey-horey, jadi sepeda adalah pilihan utama. Naik trem nggak asyik, karena hanya berhenti di beberapa spot utama saja. Dengan sepeda kita bisa berhenti di mana saja, termasuk di bawah pohon rindang saat napas sudah ngos-ngosan. Atau brenti sejenak untuk menawarkan bantuan saat ada anggota pasukan yang sepedanya nyusruk ke kebon bambu! *lirik Nunik. hihihi* Kekurangannya, kita nggak bakalan dapet penjelasan dari tour guidenya (tenang, ada google dong!).

Ogah panas-panasan naik sepeda? Punya banyak duit? Hohoho ... kamu bisa nyewa golf cart buat keliling-keliling. Tarifnya 150 baht untuk golf cart 2 seats, atau 300 baht untuk 4 seats, dan 450 baht untuk yang 6 seats. Tarif dihitung per jam lho, ya. Nah lho!

Golf Cart for rent

Hasil browsing youtube, Bollywood pernah syuting di sini untuk filmnya Salman Khan. So, tempat-tempat yang pernah dijadikan setting film itulah yang akhirnya
kita kejar, soalnya memang viewnya asyik! Bahkan, biar ada kenang-kenangannya secara live, Bhai Benny menawarkan diri untuk melakukan rekonstruksi ulang pengambilan sepenggal lagu yang ada di film itu. Asyiiiik.

So, dua buah BB dijadikan alat untuk merekam video syuting ini. Satu buat muterin lagunya, satu lagi buat ngerekam videonya. Saya ditunjuk sebagai kameramennya. Okesip, mari kita laksanakan.

Camera rolling ... action!

Dan lagu pun mulai mengalun. Dari balik sebuah pilar besar, Bhai melangkah keluar saat Salman Khan mulai bersenandung. Dalam penghayatan yang dalam, Bhai langsung menjelma menjadi aktor kenamaan Bollywood saat ini. Huhuuuy ... dengan BB di tangan, saya sibuk mencari angle yang pas untuk mengabadikan video klip ini. Muter ke kiri, belok ke kanan, terus maju mengikuti setiap langkah Bhai yang bergerak mendekati patung Budha raksasa. Aiiis ... bakalan jadi keren banget nih videonya. Kalau entar diaplod di Youtube, pasti viewernya bakalan banyak, dan Bhai tiba-tiba melejit menjadi seseorang yang bakalan dielu-elukan banyak orang. Eluuuu .... eluuuu ..... #eh.

Di sini syuting video klip yang gagal itu *pake helm*
Setelah beberapa saat kamera rolling, akhirnya ... "cut! Kita pindah ke lokasi lain," kata Bhai yang memang sudah hatam beberapa kali film dan video klip  ini.

"Coba lihat, Wok, hasilnya?" tanya Bhai.

Saya langsung buka folder video. Eh, tapi mana ya? Satu-satu saya buka, tapi lagi-lagi video anak saya lagi yang nongol. BB saya memang jadi media anak saya untuk merekam aksi narsis mereka. Jadi, banyak banget video mereka yang tersimpan. Saya pun tidak mau menyerah, satu per satu saya puter, berharap hasil syuting barusan bakalan nongol. Tapi ... sampai file terakhir, video itu tidak pernah nongol. Huwaaaa ....

"Nggg ... kayaknya ... tadi saya lupa mijit tombol recordnya." *nelen ludah dengan wajah panik*

Bhai melirik bete. Udah aca-aca penuh semangat, eeh ... ternyata nggak kerekam? Hiyaaaaa ..... *cekik iwok*

Bersambung ke episode Chatuchak Weekend Market