Tampilkan postingan dengan label Asean Blogger. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asean Blogger. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2013

#10DaysforAsean - Diversity of Harmony

jual bantal foto

#Day3

Sebuah slogan bagaimanapun dapat memberikan arti tersendiri. Kita bisa melihat tayangan iklan di media cetak dan elektronik yang selalu hadir dengan slogan atau tagline masing-masing. Tagline itu singkat, tapi terlihat unik dan menarik perhatian. Terkadang tagline atau slogan itu terlihat begitu bombastis, tetapi seringkali justru semakin mengundang kepenasaran calon konsumen untuk mencoba produk yang ditawarkan. Untuk itulah tujuan tagline diciptakan, bagaimana sebuah tulisan singkat dapat mempresentasikan sebuah produk sehingga dapat dikenali dengan mudah dan memancing minat konsumen. Sebuah trik marketing yang menjadi ujung tombak penjualan.  

Coca-Cola adalah produk yang memiliki slogan-slogan keren menurut saya. Media promo iklannya selalu berubah di setiap momen tertentu, dan selalu hadir dengan tagline yang pas dan menarik. Singkat, tapi tepat pada sasaran.  

Tak ubahnya dalam memperkenalkan sebuah produk, dunia pariwisata pun mengikuti cara yang sama. Harus diakui kalau Malaysia berhasil menciptakan sebuah tagline yang pada akhirnya melekat dalam benak mereka yang sudah menyaksikan tayangan promo pariwisata mereka. Tagline TRULY ASIA beserta lagu pengiringnya menjadi sesuatu yang sangat mudah diingat dan dikenali saat iklannya muncul di televisi.  

Bagaimana dengan Indonesia? Tagline BEAUTIFUL INDONESIA yang disematkan pada promo dunia pariwisata Indonesia sebenarnya cukup cantik dan menarik. Tetapi entah kenapa gaungnya tidak terdengar membahana. Kurang gencar promosinya? Bisa jadi.   Tapi, kalau saya diminta untuk membuat tagline baru untuk kepariwisataan Indonesia, maka saya akan menyodorkan ; DIVERSITY OF HARMONY.  

Kenapa? Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman; suku bangsa, bahasa, dan adat budaya. Semuanya dipersatukan dalam rangkulan Bhineka Tunggal Ika. Dengan begitu banyak perbedaan, keharmonisan dan tenggang rasa akan perbedaan itu masih tetap terjaga sehingga bangsa Indonesia tetap berada dalam kerukunan dan persatuan.  

Diversity of Harmony adalah simbol keberadaan Indonesia, dan menunjukkan bahwa perbedaan itu justru semakin membuat kita kaya. Sekarang, kekayaan itulah yang ingin kita tunjukkan dan bagikan pada dunia, agar mereka tahu diversity of harmony itu ada di Indonesia.

Selasa, 27 Agustus 2013

#10DaysforAsean - Karena Kita adalah Saudara

jual bantal foto

#Day2

Fakta bahwa penduduk Asean adalah bangsa serumpun sebenarnya sudah mencuat sejak lama. Disadari atau tidak, kesamaan itu banyak terdapat dalam berbagai hal di sekeliling kita; perawakan fisik dan karakter penduduk, bahasa dan juga kultur budaya setiap negara Asean memiliki kemiripan satu sama lain. Wajar saja kalau kita merasa sebagai satu rumpun bangsa yang sama, bahkan memiliki nenek moyang yang sama.  

Sebuah kesamaan tentu tidak berdasarkan kebetulan belaka. Siapa yang akan menyangkal kalau bangsa Indonesia dan Malaysia memiliki aliran darah yang sama? Bahkan selintas pun kesamaan ini sangat jelas terlihat pada suku-suku melayu di daerah Sumatera dan semenangjung malaysia. Dari bahasa, pakaian, makanan, hingga unsur unsur budaya keduanya kental dengan nuansa yang sama. Bahkan agama dan kepercayaan penduduknya pun didominasi oleh agama yang sama. Ada yang tidak setuju?  

Dulu, saya mengira keramah-tamahan itu hanya milik bangsa Indonesia. Tetapi, saat saya berkesempatan melancong ke Bangkok, ternyata anggapan tersebut harus saya coret  lagi. Keramahan tidak dikuasai bangsa kita, tetapi ditebarkan oleh negara-negara tetangga juga. Kita sudah dibesarkan dan diwarisi oleh tatanan dan pola asuh yang sama, yang menjunjung tinggi sopan-santun dalam berinteraksi dengan orang lain; interaksi saling menghargai, menghormati, dan tak pernah melepaskan senyum di setiap kesempatan.  

Pada saat berada di Bangkok, saya berkunjung ke Kampung Jawa, sebuah daerah yang dihuni oleh ribuan masyarakat bangkok yang merupakan keturunan orang Jawa. Tahukah bagaimana Kampung Jawa ini bermula? Dari kisah yang pernah saya baca, saat zaman penjajahan Jepang, banyak orang Jawa dibawa ke Bangkok untuk bekerja rodi di sana. Mereka bermukim di tempat itu, berkeluarga dengan penduduk setempat, memiliki anak-cucu dan kemudian menjadi sebuah komunitas tersendiri di tengah-tengah penduduk asli Thailand. Anak-cucu mereka mungkin ada yang belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, tapi mereka memiliki darah keturunan Indonesia yang sangat kental.  

Pernahkah terpikir bahwa kemungkinan yang terjadi pada masyarakat Kampung Jawa di Bangkok ini kemungkinan besar terjadi pula pada ratusan tahun lalu di antara penduduk negara Asean? Sejarah mungkin tidak mencatat secara jelas mengenai kemungkinan ini, tetapi bagaimana kalau kita melihat pada bukti peninggalan-peninggalan yang ada?  

Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur dan Angkor Wat? Yang satu merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO kebanggaan Indonesia, dan yang satu lagi Situs Warisan Dunia UNESCO kebanggaan negara Kamboja. Keduanya memiliki nilai budaya dan keindahan yang sangat tinggi sehingga mampu menarik jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Fakta yang beredar belakangan ini, Borobudur dan Angkor Wat memiliki kesamaan! Meskipun kedua peninggalan bersejarah ini dibangun dalam rentang abad yang berbeda, tetapi banyak model relief yang sama di antara keduanya. Tidakkah terpikir bahwa keduanya dibangun oleh sebuah kelompok masyarakat dan kebudayaan yang SAMA?

Sebuah seminar mengenai penelitian Candi Borobudur dan Angkor Wat pernah dilaksanakan antara Indonesia dan Kamboja di kota Siem Reap pada 5-6 Desember 2009. Salah satunya dibahas mengenai kemungkinan adanya hubungan yang telah terjalin antara kerajaan di Kamboja dengan kerajaan di Indonesia (Jawa) pada masa lampau. Unsur perdagangan dianggap sebagai jembatan penghubung interaksi ini, sehingga masyarakat Kamboja dan Indonesia sudah menjalin komunikasi dan ekonomi sejak zaman dulu.  

Melihat unsur sejarah ini, tidak bisa dipungkiri lagi kalau perpindahan penduduk antara kedua negara sangat mungkin terjadi. Tentu saja perpindahan tersebut akan membawa unsur-unsur budaya, adat-istiadat, kepercayaan, yang melekat pada masyarakat yang berpindah dan menyebar di lokasi yang baru. Pada akhirnya kedua belah pihak berada pada sebuah sosiokultural yang sama, sehingga unsur-unsur kehidupan berada pada lingkaran yang sama pula. Kalau kemudian Candi Borobudur dan Angkor Wat memiliki beberapa kesamaan, hal itu memang bisa saja terjadi karena unsur budaya itu sudah berada di garis yang sama.  

Perniagaan yang dilakukan bangsa Indonesia dulu tentu tidak sebatas negara Kamboja saja. Kerjasama mungkin terjalin pula dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan lain-lain,  sehingga pertukaran budaya pun akan terjadi lagi. Bukan tidak mungkin di lain waktu akan ditemukan pula beberapa bukti kesamaan sejarah di antara dua negara lainnya.  

Saya selalu meyakini bahwa penduduk di negara Asean adalah bangsa serumpun. Lambat laun sejarah bisa membuktikan itu bahwa kita berada dalam jalinan persaudaraan yang sangat dekat. Karena itu miris sekali kalau melihat adanya persinggungan, ketegangan, dan perseteruan di antara negara-negara Asean untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan jalan damai. Telinga ini panas seketika taktala perang di sosial media antar warga dua negara yang terjadi karena sebuah topik yang sebenarnya bisa disingkapi dengan lebih bijak dan kepala dingin. Tidak ada yang paling benar apabila perpecahan sudah terjadi.  

Asean Blogger Chapter Indonesia sudah membuka jalan untuk ASEAN lives peace in harmony. Melalui Asean Blogger Conference (ABC) 2011 dan Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013, sudah saatnya blogger Asean bersatu. Kita bisa menjadi contoh nyata bahwa negara hanyalah sebuah identitas, bukan pemisah untuk sebuah persatuan dan persahabatan. Melalui Asean Blogger, blogger diharapkan dapat membawa perubahan dan menebarkan semangat persatuan kepada masyarakat luas. Dan hey, kita memang bersaudara, kan? Terlepas dari silsilah keluarga yang panjang dan berliku, akar kita tetap sama dan berujung pada darah yang sama.  

Mari kita junjung rasa persaudaraan yang lebih erat dalam menyongsong Komunitas Asean 2015. Kesadaran bahwa kita adalah bangsa serumpun tentu akan menunjang keberhasilan target yang dicanangkan para pemimpin negara Asean. Kita bisa bahu membahu menjalani setiap tantangan yang ada, bersaing secara sehat, dan membuang jauh niat untuk saling menjatuhkan. Mari kita ciptakan kawasan Asean yang damai untuk tergapainya kemajuan bersama dalam Komunitas Asean 2015.

Senin, 26 Agustus 2013

#10DaysforASEAN - Nyalon, Yuk?

jual bantal foto
#Day1

Thailand tampaknya sudah mulai mengukuhkan diri menjadi salah satu barometer pusat kecantikan di kawasan Asia. Salon-salon kecantikan dengan ahli-ahli berbekal medis (maupun tidak) seolah menjamur di setiap sudut kota di negara itu. Tak heran kalau pemerintah Thailand seolah menjadikan bidang ini menjadi salah satu daya tarik tambahan untuk menarik semakin banyak pelancong dari luar negeri. Sekarang ini, tidak lagi wisata alam atau kuliner yang dijadikan objek wisata unggulan Thailand, melainkan juga wisata medis (kecantikan)! Hebat kalau saya bilang, karena mereka tahu bagaimana memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk dijadikan peluang devisa.

image dari lovelytoday.com
Kehebatan ahli kecantikan Thailand merebak ke tanah air. Dari beberapa tayangan infotainment di televisi, beberapa selebritis tanah air tidak sungkan untuk mengatakan bahwa mereka sudah melakukan perawatan kecantikan maupun bedah plastik di negara gajah putih tersebut. Saya yakin, kehebatan ahli kecantikan Thailand ini tidak hanya menarik kaum selebritas saja, melainkan juga para sosialita tanah air lainnya.

Mengapa Thailand? Saya bukan ahli kecantikan. Tapi harus saya akui Thailand tidak salah kalau disebut memiliki ahli-ahli kecantikan terbaik. Jangankan bisa membuat perempuan-perempuan menjadi cantik, mereka pun bisa menyulap lelaki berkumis dan berjakun pun menjadi bening dan tampak menawan. WAW! Saya berkesempatan berkunjung ke Bangkok beberapa bulan lalu dan harus mengakui bahwa itu memang benar. Lelaki-lelaki cantik lalu-lalang di mana-mana. Bukan hanya di pertunjukkan-pertunjukkan kabaret (seperti Calypso Ladyboy Cabaret) yang menjadi salah satu atraksi populer di sana, tetapi juga berbaur di masyarakat.

Ya, Thailand memang salah satu negara yang sudah menerima keberadaan ladyboy. Status transgender seseorang tidak lagi dipandang sebelah mata dan menjadi aneh di kalangan masyarakat di sana. Karena itu jumlah ladyboy di Thailand terbilang cukup banyak karena keberadaanya sudah diakui dengan status sosial yang tidak berbeda dengan warga negara lainnya. 

Nah, kalau lelaki saja bisa dibuat cantik bukan kepalang, apalagi perempuan yang sudah kodratnya memiliki garis-garis kecantikan dari lahirnya? Dari sini saja bisa kita lihat bahwa salon-salon dan ahli kecantikan di Thailand memang sudah memiliki jam terbang cukup tinggi untuk memoles dan menyulap penampilan fisik seseorang. Tidak tanggung-tanggung, keahlian mereka bahkan sudah dilengkapi sertifikat internasional! Ini menjadikan keahlian mereka bukan sekadar tenaga ahli abal-abal belaka.

Menjelang Komunitas Asean 2015 di mana pasar bebas akan masuk ke setiap negara Asean, tidak bisa dipungkiri kalau kehadiran salon dan ahli-ahli kecantikan Thailand bisa saja tiba-tiba hadir di sekeliling kita; di depan rumah, di ujung jalan, atau di pusat-pusat keramaian. Indonesia adalah salah satu pasar yang sangat potensial. Dengan jumlah penduduk (perempuan) yang sedemikian besar, siapa yang tidak tergiur untuk membuka peluang usaha itu di sini? Apalagi dengan reputasi ahli kecantikan Thailand yang sudah mendunia. Pun, masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif dan menganggap sesuatu yang berbau luar negeri itu pasti lebih hebat, menjadi sasaran empuk bagi investor luar negeri.

Tentu saja ini akan menjadi ancaman besar bagi salon dan ahli kecantikan dalam negeri. Bisakah mereka bersaing? Ini bukan masalah ringan karena kalau tidak disingkapi dengan baik, pengusaha salon-salon lokal bisa tergusur dan kalah bersaing. Tentu bukan itu yang kita inginkan. Kita tidak bisa menyalahkan konsumen apabila mereka berbondong-bondong beralih ke salon-salon Thailand yang nanti berdiri. Konsumen adalah raja. Mereka memiliki dana yang berhak dibelanjakan sesuka hati.

Berbenah, itu yang harus dilakukan sedini mungkin. Klise memang, tapi itu adalah langkah paling tepat yang harus dipersiapkan. 2015 tidak lama lagi, tapi bukan berarti kita harus duduk diam dalam ketakutan lalu pasrah. Semangat Komunitas Asean 2015 tidak seperti itu. Komunitas Asean 2015 justru mengobarkan semangat kompetisi tinggi. Bukan waktunya lagi seorang pengusaha (apa pun) untuk mempertahankan idealisme pribadi saat zaman tengah mengalami perubahan, dan berkutat dengan cara yang tak lagi sesuai. Yang sebaiknya dilakukan adalah bagaimana idealisme itu bisa bergerak dan menyesuaikan dengan arus yang ada.

image dari www.puspitaherbal.com
Kalau melihat modal-modal yang sudah ada, sebenarnya kita tidak perlu takut. Produk kosmetika dan kecantikan lokal cukup teruji dan berkualitas. Siapa tidak mengenal produk Mustika Ratu dan Sari Ayu? Dengan berbahan dasar ramuan tradisional, terbukti produk ini bisa menembus pasar dunia. Begitu pula dengan kekayaan herbal tradisional lainnya yang sudah terbukti dapat merawat kecantikan perempuan Indonesia. Ini tentu menjadi modal besar meningkatkan kepercayaan diri pengusaha salon kecantikan tanah air yang selama ini telah menggunakan kosmetika lokal. Produk kita bisa diadu, kok. Tapi tentunya itu tidak bisa dijadikan pegangan begitu saja, karena banyak faktor lain yang harus diperhatikan.

Setiap negara pasti memiliki keunggulan masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah, apa sih kelemahan kita? Kalau Thailand dikenal dengan ahli kecantikan yang sudah bersertifikat internasional, berarti itu yang harus kita kejar. Sertifikat memang hanya sebuah kertas, tapi itu adalah sebuah kepercayaan tinggi bagi konsumen. Sertifikat berarti ilmu pendidikan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara nyata ketimbang ilmu pengalaman. Apakah pengusaha salon kecantikan kita sudah memiliki itu? Kalau ingin bersaing secara internasional, tentu bukan pengalaman lagi yang bisa diandalkan, tetapi dibarengi  dengan sertifikat keahlian.

Apalagi yang kurang? Apakah pengelolaan salonnya sudah baik? Apakah sisi pelayanannya sudah maksimal? Bagaimana dengan tarif pelayanan? Semua menjadi titik pemikiran yang tidak boleh diabaikan.

Dibutuhkan peran serta pemerintah yang cukup intensif untuk mengurai pekerjaan rumah ini satu per satu. Kalau Indonesia memang menginginkan seluruh lini masyarakat berada pada posisi siap berkompetisi, tentu tidak bisa melepas begitu saja. Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Perdagangan, dan seluruh departemen terkait harus bergandengan tangan memberdayakan setiap potensi yang ada. Adanya pelatihan-pelatihan profesi dan keahlian sangat diperlukan, sehingga setiap tenaga kerja yang berada dibalik pengelolaan sebuah salon kecantikan memiliki keahlian yang tepat bersertifikat. Begitu pula dengan kebutuhan adanya pelatihan manajemen dan pengelolaan usaha. Kalau perlu, studi banding ke negara-negara lain pun bisa dilaksanakan, sehingga setiap pengelola salon tanah air dapat memiliki wawasan lebih terhadap era persaingan yang harus mereka hadapi nanti. Dibutuhkan dana yang tidak sedikit memang, tapi bukankah kita bisa memetik hasilnya kemudian?

Pemerintah harus bisa menetapkan titik tembak juga bagi setiap pembekalan dan pelatihan ini. Pengusaha kecil dan menengah harus menjadi titik sasaran. Merekalah yang akan sangat merasakan imbas dari pertarungan tingkat global. Pengusaha besar pasti sudah melakukan antisipasi lebih awal menjelang Komunitas Asean 2015 ini, sehingga dampak bagi kalangan ini tidak sebesar bagi pengusaha di bawahnya.

Kalau semuanya bisa dilaksanakan, tentu persiapan para pengusaha salon kecantikan di tanah air akan lebih baik dalam menyambut Komunitas Asean 2015. Mereka sudah siap bersaing bahkan apabila salon dan ahli kecantikan dari Thailand datang menyerbu. Kalau kualitas dan segala hal lainnya sudah setara (atau bahkan lebih), rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Paling hanya konsumen yang akan dipusingkan harus ke salon mana mereka memilih? :D


Rabu, 21 Agustus 2013

Komunitas Asean 2015 – Gerbang Perubahan

jual bantal foto
image from http://static.zerochan.net/ASEAN.full.830804.jpg
Komunitas Asean 2015 segera datang. Dalam tempo tidak kurang dari 2 tahun, mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita akan terjun dan terlibat langsung di dalamnya.  Kita akan berada pada sebuah kumparan yang memaksa kita bergerak bersama setiap putarannya. Mengerikan memang apabila kita berpikir jauh bagaimana sebuah pasar bebas, persaingan tingkat global, akan menyerang kita kembali tidak lama lagi. Pasar tanah air akan mendapatkan serbuan produk-produk asing dengan variasi harga dan kualitas. Sebuah ketidaksiapan menyongsong Komunitas Asean 2015 ini akan menjadi bumerang yang bisa menyulitkan.

Tapi, benarkah kita tidak siap? Lalu, kapan kita akan siap untuk memasuki era kompetisi global? Bagaimanapun, yang harus disadari adalah sebuah kompetisi cenderung akan memacu setiap yang terlibat untuk memberikan usaha yang maksimal, menyuguhkan yang terbaik yang kita bisa. Kita tidak bisa terus berdiam diri dalam zona nyaman, yang memaksa kita terus menyembunyikan potensi sesungguhnya yang mungkin bisa lebih besar dari itu. Bukankah sebuah kompetisi adalah sebuah tantangan? Kita tidak bisa mengatakan tidak bisa sebelum berani maju untuk mencoba.

Era global adalah era kompetisi. Komunitas Asean 2015 mungkin akan membuka peluang asing untuk merangsek masuk ke tanah air, tidak saja dalam bentuk komoditi produk tapi juga sumber daya manusianya. Mereka akan memperoleh peluang yang sama untuk bersaing ketat dalam setiap bidang usaha. Yang terbaik yang akan unggul, dari mana pun mereka berasal!

Sebagai negara berkembang, segala bentuk perubahan selalu dimungkinkan setiap saat. Kita tidak bisa mengurung diri dalam pola pikir yang sama tanpa keinginan untuk bergerak maju. Komunitas Asean 2015 adalah salah satu gerbang perubahan tersebut, dan sangat disayangkan kalau masyarakat Indonesia tidak membuka tangan terhadap kesempatan itu. Kapan lagi? Kita tidak ingin menjadi negara yang akan tertinggal, bukan?

image from http://www.eslblogcafe.com/skr/baimon09380/files/2013/06/6571_1_1.jpg
Dua tahun menjelang 2015 memang bukan waktu yang lama, tapi bukan berarti waktu yang singkat pula untuk mempersiapkan diri. Kita masih memiliki cukup waktu untuk berbenah, mengolah segala sumber daya untuk dapat bersaing. Yang terutama, tentu saja memperbaiki pola pikir masyarakat agar perubahan ini dipandang sebagai bentuk perubahan positif bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Kita tidak akan kalah dari negara lain karena segala potensi besar berada di Indonesia. Apalagi yang kurang dari negara kita? Kekayaan alam dan budaya begitu melimpah ruah, begitu pula sumber daya manusianya. Yang harus menjadi fokus perhatian kita saat ini hanyalah bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi tersebut, sehingga saat 2015 tiba kita sudah siap dengan segala potensi yang bisa dijual.

Ya, Komunitas Asean 2015 bukan sebuah momok yang harus ditakuti. Tidak mungkin para pemimpin Asean berembuk lalu memutuskan sesuatu yang akan membawa dampak buruk bagi seluruh warganya, atau hanya memihak negara tertentu saja. Komunitas Asean 2015 diciptakan agar seluruh negara di kawasan Asia Tenggara ini dapat maju bersama-sama, bergandengan tangan menciptakan kehidupan ekonomis yang lebih baik. Bukankah untuk itu ASEAN dibentuk?

Komunitas Asean 2015 dicanangkan bukan hanya menyoroti masalah ekonomi saja, tetapi juga bidang keamanan dan sosiokultural setiap negara. Ketiganya ditetapkan sebagai tiga pilar utama agenda besar Komunitas Asean 2015; ASEAN Political-Security Community (APSC), ASEAN Economic Community (AEC), dan ASEAN Socio-Cultural Community (APSC). Ini membuktikan bahwa para pemimpin negara Asean sudah menggarisbawahi ketiga bidang ini yang harus menjadi titik sorot untuk dapat dikembangkan secara maksimal dan berjalan beriringan satu sama lain dalam waktu dekat. Satu bidang dengan bidang lain harus bisa menjadi ikatan yang kuat dalam terciptanya pertumbuhan negara yang sehat. Dunia ekonomi dan sosiokultural negara akan tercapai pada saat sisi keamanan juga lebih terjaga. Di sanalah harmoni itu akan tercipta.

Blogger Sebagai Ujung Tombak

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau blogger adalah salah satu ujung tombak yang dapat memberikan kontribusi terhadap Komunitas Asean 2015. Blogger bukan lagi anak bawang yang dipandang sebelah mata. Keberadaan blogger sudah membuka mata bahwa suara yang didengungkan para blogger dapat mencapai sasaran yang bahkan mungkin tidak bisa diduga sebelumnya.Itulah mengapa blogger belakangan ini menjadi incaran berbagai industri sebagai media yang tepat dalam penyebaran informasi.

Jutaan blogger tersebar di seluruh penjuru nusantara; dari pusat kota sampai pelosok-pelosok daerah, perempuan dan laki-laki, dari anak-anak sampai usia lanjut. Informasi yang dibawa seorang blogger melalui blognya dapat menusuk sampai titik-titik terjauh yang bahkan jarang tersentuh di dunia nyata. Beruntunglah akses internet tidak lagi menjadi barang mewah sehingga dapat diakses segala lapisan masyarakat. Hanya dengan sekali klik di mesin pencari, ribuan informasi yang dibutuhkan dapat ditemukan dengan mudahnya, termasuk informasi yang disebarkan oleh blogger melalui tulisannya.

Suara blogger adalah opini murni tanpa dibuat-buat penuh rekaan, karena itu banyak diburu sebagai media informasi pilihan. Unsur-unsur dan opini pribadi memang banyak dilibatkan dalam setiap tulisan blogger, tetapi justru itu yang menjadi daya tariknya. Tulisan blogger lebih ringan dan mudah dicerna tanpa kehilangan sisi informatifnya.

Menyongsong Komunitas Asean 2015, Komunitas Asean Blogger sudah mempersiapkan diri sejak tahun 2011 lalu. Melalui Asean Blogger Conference (ABC) pada bulan Desember 2011 di Denpasar, Bali, dan Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) pada bulan Mei 2013 di Solo, Asean Blogger sudah menjembatani terciptanya persahabatan, persaudaraan, dan kedamaian di kawasan Asia Tenggara melalui pertemuan akbar ratusan blogger dari seluruh perwakilan negara Asean. Targetnya satu; Kita adalah satu, bukan musuh yang harus saling sikut satu sama lain. Bukankah itu yang terpenting? Segala hal akan berjalan lebih mudah apabila kedamaian itu sudah tercipta. ABC 2011 dan ABFI 2013 mungkin hanya event yang melibatkan sebagian kecil blogger saja. Tapi persaudaraan yang terjalin diharapkan dapat menular dan berimbas pada blogger lainnya di seluruh Asean. Sesuatu yang besar akan berawal dari hal kecil terlebih dahulu, bukan? ABC 2011 dan ABFI 2013 tidak ubahnya sebuah modal awal bagi kiprah blogger menjelang Komunitas Asean 2015.

Menarik melihat agenda yang disajikan Asean Blogger pada ABFI 2013 apabila dikaitkan dengan peranan blogger dalam menyongsong Komunitas Asean 2015. Dalam agenda tersebut terdapat sesi pembagian kelas diskusi sesuai dengan spesialisasi blog atau minat blogger masing-masing; Travel blogging, Photo Blogging, Culinary Blogging, Freedom of Expression, dan lain-lain.  Ini bisa jadi bekal blogger untuk memberikan kontribusi pada Komunitas Asean 2015. Setiap sesi tersebut menggambarkan langkah nyata apa yang bisa blogger lakukan.

Langkah apa yang bisa kita lakukan untuk Komunitas Asean 2015? Mari kita menulis. Bukankah itu keahlian yang kita bisa?

Mari kita menulis tentang indahnya alam Indonesia, agar wisatawan mancanegara tidak hanya mengenal Bali saja. Potensi wisata alam Indonesia tidak semestinya mematok nama Bali saja di mata dunia, karena setiap sudut wilayah Indonesia memiliki keindahan yang sama. Mari kita menulis tentang lezatnya varian kuliner penuh cita rasa, agar Indonesia tidak dikenal dengan rendangnya saja. Tulislah uniknya seni dan budaya di setiap suku yang ada, agar mereka tahu Indonesia memiliki keragaman suku bangsa yang beragam indahnya. Tulis juga tentang batik, songket, anyaman, ulos, tenunan, kelom geulis, agar semakin banyak wisatawan dari negara tetangga yang menyerbu Tanah Abang, Pasar Baru, atau pusat grosiran lainnya di penjuru daerah. Semakin banyak wisatawan yang membaca informasi ini, dan pada akhirnya memutuskan untuk datang, bukankah kita sudah ikut membantu meningkatkan perekonomian (pilar ekonomi) dan pariwisata (pilar sosiokultural)? Jangan lupa, tulis juga tentang keramahan dan bersahabatnya masyarakat Indonesia agar mereka akan merasa aman dan juga nyaman berada di negara ini (pilar keamanan). Biarkan gaung tentang Indonesia menyerbu di dunia maya agar semakin membuka mata dunia tentang keberadaan Indonesia.

image from www.dreamstime.com
Blogger bisa melakukan itu. PASTI BISA! Saya teringat program bulanan yang dilakukan di Komunitas Blogger Tasikmalaya (KBT). Setiap bulan kita mengagendakan untuk menulis tentang tema yang sama. Cukup satu bulan sekali agar setiap anggota tidak merasa terbebani. Misalnya, bulan ini setiap anggota KBT diwajibkan menulis tentang ‘Bakso Tasikmalaya’. Dapat dipastikan dalam bulan tersebut akan ada puluhan tulisan tentang ‘Bakso Tasikmalaya’ dengan berbagai sudut pandang yang wara-wiri di internet. Bulan berikutnya kita menulis tentang ‘Alun-alun Tasikmalaya’, sehingga tulisan tentang ‘Alun-Alun Tasikmalaya’ pun akan banyak dijumpai pada bulan tersebut. Bulan berikutnya kita menulis tentang objek wisata lokal. Bayangkan kalau setiap komunitas blogger di Indonesia yang sedemikian banyaknya melakukan hal yang sama? Akan ada berapa banyak yang menulis tentang lokasi wisata di suatu daerah? Tulisan tentang kulinernya? Tentang sejarahnya? Budayanya? Bahkan informasi kedaerahan bisa naik lewat aksi tulisan para blogger. Peranan komunitas-komunitas blogger dalam posisi ini tentu akan lebih memaksimalkan apa yang ingin kita capat bersama.

Sekecil apapun kontribusi kita menghadapi Komunitas Asean 2015, akan sangat berarti daripada tidak melakukan apapun, bukan? Mari kita mulai dengan apa yang kita bisa, mulai dari sekarang. Tidak perlu menunggu orang lain selama kita bisa memulainya lebih dulu. Apabila setiap blogger memiliki pikiran yang sama, kita pun sudah bergerak bersama-sama pada akhirnya.

Mari kita buktikan bahwa blogger memang bisa berperan penting bagi Komunitas Asean 2015!

Selasa, 28 Mei 2013

[Laporan Perjalanan] Mangkunegaran Performing Art Surakarta 2013

jual bantal foto
Menarik sekali menyaksikan suguhan Panitia Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013 dalam menyusun rangkaian acara yang digelar. Sesuai dengan tema yang diusungnya, Reinventing the Spirit of Cultural Heritage in Southeast Asia, banyak unsur-unsur budaya yang kemudian dilesakkan ke dalam agenda kunjungan para peserta ABFI. Agenda ini bukanlah sekadar jadwal tempelan belaka, karena semuanya sudah terprogram dengan baik. Kalau melihat bahwa ABFI 2013 sudah masuk ke dalam kalender Event Kota Surakarta 2013, tentu persiapan dan pendekatan dengan unsur pemerintah (Pemkot Solo) sudah terjalin jauh sebelumnya.

Banner Event Surakarta  bulan Mei yang ada di setiap sudut kota

Tentu bukan sebuah kebetulan pula apabila ABFI dilaksanakan di Solo. Merujuk kembali pada tema gelaran ABFI untuk mengangkat kembali warisan budaya di negara-negara Asean, Solo menjadi lokasi yang tepat untuk memulai. Solo menjadi salah satu kota yang penuh dengan warisan budaya yang masih bertahan dan layak diteladani. Perhelatan ABFI pada bulan Mei 2013 pun seolah sengaja disandingkan dengan bukti-bukti nyata bagaimana budaya tetap dilestarikan di kota ini. Hal ini tentu menjadi harapan agar para peserta ABFI dapat mengambil segala manfaatnya untuk dapat diterapkan di daerah atau negara masing-masing.

Setelah disuguhi pertunjukan tarian tradisional pada saat gala dinner dan welcoming party di Loji Gandrung (Rumah Dinas Walikota Surakarta), malam kedua seluruh peserta ABFI diajak untuk menyaksikan pagelaran budaya yang sesungguhnya. Tidak tanggung-tanggung, pagelaran ini digelar langsung oleh keluarga kerajaan Mangkunegaran. Peserta ABFI harusnya bersyukur dapat menyaksikan secara langsung agenda tahunan dari Pura Mangkunegaran ini, karena pertunjukkan ini tidak dapat disaksikan setiap saat.


Mangkunegaran Performing Art jelas tercantum dalam Kalender Event Kota Surakarta 2013, dan sudah menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan Pura Mangkunegaran serta menjadi atraksi unggulan kota Solo. Yang menarik, seluruh pagelaran tari yang ditampilkan merupakan karya dari keluarga istana dan menjadi hak cipta Pura Mangkunegaran. Contohnya Tari Sobrak yang diciptakan oleh Gusti Heru (Gusti Pangeran Haryo Herwasto Kusumo) dan Tari Mandrarini yang diciptakan oleh Raja Mangkunegaran IV. Begitu jelas terlihat bagaimana budaya itu terus dipelihara dan dilestarikan, bahkan di dalam lingkungan istana sendiri, sehingga akan menjadi contoh baik bagi seluruh masyarakat Solo untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan lokal.

Rasanya merinding melihat bagaimana antusiasme masyarakat kota Solo untuk menyaksikan Mangkunegaran Performing Art  ini. Entah kenapa saya ikut merasa haru dan bangga,  betapa budaya masih begitu dicintai di kota ini. Mereka datang berduyung-duyun, tua, muda, anak, sampai balita, laki-laki dan perempuan. Area pendopo (balairung pertunjukkan) yang sudah disesaki pengunjung yang sudah datang lebih awal tak menyurutkan mereka yang baru datang. Mereka bergerak menuju hamparan rumput lalu duduk berbaris dengan tertib. Mereka tidak peduli tidak bisa menyaksikan secara langsung setiap pertunjukkan karena pihak istana sudah menyiapkan layar-layar tancap untuk menyiarkan pertunjukkan yang sudah disorot kamera. Di layar-layar itulah mereka menonton, mengagumi dan menikmati setiap lekuk dan gerak para penarinya, tanpa harus kehilangan esensinya.


Dada saya berkecamuk melihat bagaimana ketertiban itu tercipta. Tidak ada teriakan marah karena pandangan yang terhalang, tidak ada pekik suara pedagang menjajakan dagangan, yang ada hanya wajah-wajah hening penuh antusias menyaksikan tayangan seiring suara gamelan yang terus berkumandang. Beberapa petugas polisi yang disiagakan berjalan santai mengelilingi area venue, seolah tak mengkhawatirkan ada sesuatu yang bakal terjadi. Salut buat warga Solo! Seandainya setiap tontonan selalu berjalan setertib ini.

Mangkunegaran Performing Art  berlangsung selama 2 hari, yaitu tanggal 10 dan 11 Mei 2013, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Walikota Solo dengan kata sambutan dari perwakilan Pura Mangkunegaran. Acara ini menggelar sejumlah tarian yang dibawakan oleh puluhan (atau ratusan?) anak-anak dan remaja. Tidak kurang  dari Tari Golek Sukoreno, Tari Kupu Kupu, Tari Sobrak, dan Opera Timun Mas yang dipertunjukkan pada malam pertama bagi seluruh masyarakat Solo dan seluruh pengunjung yang terus berdatangan.


Saya mungkin pernah menyaksikan tarian-tarian tradisional seperti ini di televisi. Tetapi nuansanya begitu berbeda saat menyaksikannya secara langsung, seakan ada daya magis tersendiri yang membetot perhatian saya. Suara gamelan yang terdengar dan gerak luwes penarinya menjadi atraksi menarik yang tidak ingin terlewatkan. Saya yakin para peserta ABFI lainnya pun merasa demikian. Semuanya merangsek maju, berusaha mendapatkan tempat strategis paling depan, dengan kamera-kamera siap bidik di tangan. Beberapa wisatawan asing pun terlihat di beberapa sudut venue, menyaksikan jalannya pagelaran tanpa berkedip. Aura budaya magis itu begitu kental terasa.

Ratusan anak dan remaja menari silih berganti. Gemulai tangan dan luwesnya badan mereka menunjukkan kalau mereka sudah mengenal seni tari sejak lama. Bakat seni mereka sudah terasah sejak dini. Saya tahu itu,  karena beberapa jam sebelumnya saya sempat menyaksikan betapa budaya tradisional memang mengakar kuat pada masyarakat Solo.


Taman Sriwedari, ke tempat itulah saya sempat melangkah saat ada kesempatan luang siang sebelumnya. Niatnya ingin melihat dari dekat Gedung Wayang Orang Sriwedari, tetapi yang saya dapatkan lebih dari itu. Saya justru dihadapkan pada sebuah pemandangan yang membuat saya takjub, lantas memaklumi apabila julukan kota budaya layak disematkan pada Solo.

Sebuah joglo di dalam Taman Sriwedari tampak dipenuhi ratusan anak . Mulai dari usia balita sampai anak menjelang remaja, semua berkumpul untuk sebuah tujuan yang sama; latihan menari! Ya, keramaian yang semula saya kira hanyalah keramaian biasa mampu membuat saya terkesima; di tempat inilah ternyata anak-anak Kota Solo belajar menari. Di tempat inilah salah satu akar budaya tercipta dan tergali.


Anak-anak itu (beberapa masih terlihat begitu imut) dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda, sesuai dengan usia, dan mungkin juga sesuai dengan kemampuan dan kemahiran mereka. Cukup terlihat kelompok mana yang baru mempelajari gerakan dasar, kelompok mana yang sudah mulai menghapal gerakan, dan kelompok mana yang sudah cukup terlatih.

Bunyi gamelan pengiring tarian yang diputar dari tape recorder mengalun dari berbagai sisi, musik yang berbeda-beda sesuai dengan kelompok masing-masing. Suara para instruktur ikut ramai terdengar, memberikan instruksi dan arahan, membuat suasana siang itu terasa sangat hidup. Dan yang membuat semuanya tampak lengkap, anak-anak itu, tak peduli berapa pun usianya, tampak sangat menikmati setiap waktu mereka. Meski gerakan mereka tampak masih patah-patah dan belum luwes, tapi sudah terlihat semangat dan keinginan mereka untuk bisa.


Di sisi lain joglo, sekelompok anak lelaki melakukan hal yang sama. Bahkan anak laki-laki di Solo pun sudah belajar menari semenjak dini! Rasanya saya ingin bertepuk tangan sebagai tanda kagum. Di daerah lain, menari mungkin bukan sebuah pilihan menarik bagi anak laki-laki, tetapi di Solo anggapan itu langsung buyar. Bukan hanya ada satu dan dua anak laki-laki saja, tetapi ada puluhan anak yang sedang berlatih menari dengan gagahnya. Saya yakin, anak-anak ini tidak mengabaikan pengaruh modern yang ada sekarang ini, tetapi jelas mereka tidak melupakan dari mana budaya mereka berasal.

Rasanya semakin jelas kalau banyak pagelaran dan pertunjukan seni tari tradisional di kota Solo. Bukan saja karena masyarakatnya begitu mencintai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga karena mereka menyimpan banyak bibit-bibit seniman unggul, yang akan mewarisi dan mewariskan budaya daerah mereka sendiri.

Dengan tema yang diusungnya tahun ini, Asean Blogger Chapter Indonesia telah tepat merangkul Kota Solo untuk membuka gerbang dalam menanamkan rasa cinta terhadap warisan budaya di Asia Tenggara. Negara-negara Asean adalah negara yang sangat kaya dengan warisan budaya bangsanya. Alangkah indahnya kalau blogger ikut memegang peranan dalam menjaga, mengenalkan, atau bahkan mempromosikan keragaman budaya ini ke seluruh penjuru dunia, sehingga budaya itu akan terus lestari dan tidak luntur tergerus arus modernisasi global. Bukan tidak mungkin, blogger dan Asean Blogger dapat menjembatani event pertukaran pertunjukkan budaya antar negara Asean sehingga dapat mewujudkan target Komunitas Asean 2015 yang lebih solid.

Asean Blogger Festival Indonesia 2013 sudah usai. Melalui program budaya yang disajikan oleh tuan rumah  penyelenggara, semoga para peserta dapat mengambil pelajaran tentang cara menghargai sebuah warisan budaya. Solo sudah memberi contoh, tinggal memikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk warisan budaya di daerah masing-masing. Memang benar, kalau bukan kita, lalu siapa lagi?

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Reportase by pegipegi.com dan AseanBlogger

Minggu, 26 Mei 2013

[Laporan Perjalanan] Asean Blogger Bergandengan Tangan dengan Telkom Indonesia

jual bantal foto
Saya di ABFI 2013 Solo
Saya beruntung. Setelah berkesempatan hadir pada Asean Blogger Conference (ABC) tahun 2011 di Bali, tahun ini saya kembali bisa hadir di perhelatan kedua Asean Blogger Chapter Indonesia di Solo (9-12 Mei 2013). Bertajuk ‘Asean Blogger Festival Indonesia 2013 – Reinventing The Spirit of Cultural Heritage in South East Asia’, acara ini kembali memberikan saya kesempatan untuk bertemu lagi dengan ratusan blogger yang mewakili berbagai komunitas di tanah air, dan perwakilan negara-negara Asean. Jelas ini sebuah kesempatan berharga, di mana saya bisa berbagi cerita dan meraup banyak kisah yang ditebar sepanjang acara ini berlangsung.

Tidak bisa dipungkiri, banyak hal yang akhirnya menjadi perhatian saya, khususnya saat saya harus membandingkan dengan gelaran sebelumnya. ABFI 2013 adalah acara bagi blogger, dan menjadi penting bagaimana panitia penyelenggara dapat mewadahi kebutuhan blogger selama acara.

Blogger adalah orang-orang yang asyik! Ketika berhadapan dengan kebutuhan akomodasi, transportasi, dan konsumsi, rasanya tak pernah dibikin repot. Tidur di mana, pergi naik apa, atau makan apa, tak pernah jadi masalah besar. Yang penting ada dan tersedia, itu sudah cukup. Tetapi, ketika seluruh peserta disodori akomodasi sekelas hotel bintang 5, transportasi yang memadai dan mudah, serta makanan yang lezat, blogger mana yang akan menolak? Tentu ada rasa bahagia karena panitia sudah memperlakukan kami, blogger, sedemikian hebat.

Manusia Kabel di ABC 2011 Bali
Salah satu kekhawatiran saya menjelang acara berlangsung adalah; akankah kejadian di ABC 2011 Bali terulang lagi? Blogger adalah manusia gadget. Tidak seorang pun peserta yang tidak memegang gadget, entah itu laptop, Ipad/Tablet, Smartphone, atau sekadar handphone biasa. Saya masih teringat, acara demi acara pada ABC 2011 akhirnya berlangsung tidak begitu tertib saat banyak peserta di beberapa kesempatan berhamburan mencari colokan! Duduk seharian dengan aktivitas online yang tidak pernah berhenti (twitting, blog posting, facebooking, dll), mengguras energi setiap gadget yang ada. Tak heran saat ‘low-bat’ melanda, peserta sibuk mencari sumber listrik! Dan itu tidak sedikit. Satu per satu peserta mulai meninggalkan kursinya demi kelangsungan aktivitas onlinenya. Setiap colokan listrik yang ada seolah menjelma menjadi sebutir gula yang dikerubuti semut. Itu pun harus antri karena keterbatasan colokan yang ada. Istilah ‘Manusia Kabel’ pun mencuat begitu saja untuk mereka yang terlihat berkerumun disekitar sumber listrik. Jujur, saya kasihan pada panitia, saat acaranya banyak ditinggal begitu saja.

Kekurangan ini rupanya ditutup dengan baik pada perhelatan di Solo. Bukan saja karena sekarang sudah musim PowerBank yang banyak ditenteng peserta, tetapi sekarang sumber listrik ada di mana-mana! Di setiap deretan meja dipastikan terdapat sedikitnya satu (atau bahkan dua?) sumber listik dengan beberapa colokan tersedia. Sudah semestinya seluruh blogger bernapas lega melihat ini. Listrik adalah nyawa kedua bagi blogger. Eksis di dunia maya tidak perlu terhenti hanya karena gadget harus sekarat seketika.

Meja! Senyum saya terbuka lebar saat pertama kali memasuki meeting room Kusumah Sahid Prince Hotel. Akhirnya peserta mendapatkan meja alih-alih kursi saja. Bayangkan, duduk seharian dari pagi sampai sore, dengan gadget di tangan, apa yang bisa kita lakukan tanpa meja untuk menyandarkan lengan? Saya kembali teringat momen saat ABC 2011 di Bali, ketika peserta hanya disediakan kursi saja untuk menyimak setiap pemaparan pembicara di depan. Yap, dari pagi sampai sore, kita harus duduk sambil kebingungan untuk mencari sandaran lengan yang kesemutan. Para peserta yang membawa laptop terpaksa harus memangku laptopnya agar terus dapat mempergunakannya. Bukan posisi yang nyaman tentu saja, tapi harus bagaimana lagi?

Bermeja! Yaay!
Kami mendapatkan meja di Solo! Terkesan sangat sepele ya kalau meributkan sebuah meja belaka. Tapi tahukah kalau peranan meja itu sangat berharga bagi saya? Ini bukan acara yang berlangsung satu atau dua jam saja, tetapi seharian, plus dengan gadget di tangan. Sebuah meja menjadi penyelamat saat kejenuhan atau kepegalan melanda. Laptop, Ipad/Tablet, Smartphone dapat diletakkan dengan manis di atas meja dan dapat difungsikan sebagaimana semestinya tanpa kerepotan harus di mana menaruhnya.

Tetapi, ada hal lain yang jauh lebih penting ketimbang colokan listrik dan meja. Selain sebagai manusia gadget, blogger adalah manusia online. Gadget hanyalah sebuah benda mati kalau tidak ada akses di dalamnya. Meski dipastikan seluruh peserta sudah melengkapi diri dengan aksesnya masing-masing di setiap gadget yang dibawa, tetapi kalau ada dukungan penuh dari panitia tentu akan disambut dengan suka cita.

Tanda-tanda akan melimpahnya akses internet di lokasi sudah tercium dari awal, saat melihat nama PT. TELKOM Indonesia sebagai salah satu pendukung utama acara ABFI ini. Rasanya tidak mungkin perusahaan sebesar PT. Telkom akan membiarkan acara blogger yang disupportnya menjadi fakir bandwidth. Harapan ini semakin terasa saat melihat banner-banner Telkom Speedy dan produk Telkom lainnya (Useetv) bertebaran di sekitar Kusumah Sahid Prince Hotel, yang menjadi lokasi acara ini berlangsung. Saya yakin, akses hotspot akan merajalela di tempat ini.

Useetv - salah satu produk unggulan Telkom Indonesia
Banner ‘Area Wifi.ID’ pun terpajang jelas di beberapa titik Kusumah Sahid Prince Hotel. Ow, saya langsung tersadar bahwa akses Wifi.ID adalah akses wifi berbayar. Tatkala saya mencoba mengaksesnya pertama kali pun (pada saat baru saja tiba di lokasi), permintaan login langsung terpajang jelas di layar Gtab saya. Waduh, kalau begini caranya sih, sama saja bohong. Apa boleh buat, saya terpaksa harus menggunakan akses bawaan yang sudah terpasang dalam Gtab saya.

Hohoho ... rupanya saya terlalu berburuk sangka. PT. TELKOM Indonesia jelas sangat mensupport kegiatan ini, dan mereka sangat peduli terhadap ratusan blogger yang tiba-tiba saja membanjiri kota Solo minggu itu. Pada saat registrasi peserta, saya pun menemukan jawabannya. Setiap peserta ABFI 2013 diberikan 3 (tiga) lembar Speedy Instan Card, yang masing-masing kartu berlaku untuk 24 jam. Huraaaaay .... berarti tak akan ada yang mengeluhkan tidak bisa eksis di dumay lagi selama acara berlangsung.

Saya tidak mau rugi dong. Paket akses bawaan Gtab saya langsung dimatikan untuk segera dialihkan pada akses hotspot Wifi.ID. Apalagi caranya sangat mudah. Cukup scanning jaringan hotspot Wifi.ID dari gadget, lalu sambungkan. Pada saat membuka browser pertama kali, masukkan username yang tersedia pada Speedy Instan Card, dan password yang sudah digosok terlebih dahulu pada kartu yang sama. Setelah itu, silakan berselancar di dunia maya sepuasnya.

Speedy Instan Card. 5ribu per hari internetan sepuasnya!
Menggunakan Speedy Instan Card ini memang tidak bisa di sembarang tempat. Hanya di tempat-tempat yang tercover area hotspot wifi.id saja kartu ini bisa digunakan. Tetapi jangan khawatir, PT. TELKOM rupanya sudah berupaya untuk meningkatkan jumlah titik pelayanan hotspot Wifi.ID ini di banyak tempat, di seluruh Indonesia! Utamanya di pusat-pusat keramaian, akses ini mulai banyak dijumpai.

Ah ya, ternyata Speedy Instan Card (Spin-Card) ini tidak hanya digunakan untuk Hotspot Wifi.ID, tetapi juga dapat digunakan untuk akses melalui Internet Broadband di Speedy Instan, dan Speedy Hotspot. Untuk lebih jelasnya, silakan simak penjelasan lengkapnya di http://speedyinstan.com/spin-card.

Keberadaan Indonesia wifi di area Asean Blogger Festival Indonesia 2013 jelas sangat mendukung menggaungnya gema ABFI 2013 Solo ini tidak saja ke penjuru nusantara dan negara-negara Asean, tetapi juga ke seantero dunia. Blogger peserta seolah mendapatkan amunisi mumpuni untuk meluncurkan setiap update terbaru sepanjang penyelenggaraan acara. Tidak terbilang ribuan twit meluncur di twitterland, ribuan status dan foto terpajang di laman-laman facebook, serta blog-blog posting yang menyerbu di setiap blog peserta. Apalagi panitia melalui akun @aseanblogger dan @telkomindonesia mengadakan lomba live twit sepanjang acara yang memungkinkan timeline disesaki oleh kicauan seluruh peserta. Seru! Semua balapan untuk menyajikan reportase langsung dari setiap venue yang ada.

Peserta ABFI 2013 begitu dimanjakan oleh kecepatan akses saat itu. Dengan ratusan pengguna yang mengakses bersamaan, semua aktivitas online berjalan sangat lancar. Tim dari Telkom Kantor Wilayah Solo rupanya tidak main-main dalam memberikan supportnya bagi Asean Blogger. Terlihat dari adanya homebase tersendiri bagi kru Telkom di area penyelenggaraan ABFI dalam mengantisipasi setiap kendala yang mungkin saja terjadi.

Spanduk Telkom Indonesia menyemarakan agenda Solo Urban Forest
Ternyata bukan hanya itu saja support yang disiapkan oleh Telkom Indonesia. Dalam agenda acara mengunjungi Solo Urban Forest di bantaran sungai Bengawan Solo, lagi-lagi seluruh blogger peserta ABFI dimanjakan oleh akses kecepatan tinggi di alam terbuka. Taman di tepi aliran sungai Bengawan Solo yang semula merupakan area perumahan kumuh warga, sudah disulap menjadi sebuah lahan bermain warga (seluruh warga sudah direlokasi ke daerah lain). Hebatnya, area ini sudah dilengkapi dengan fasilitas hotspot Wifi.ID yang memungkinkan warga sekitar bisa menikmati taman seraya berselancar di dunia maya. Semoga fasilitas ini tidak hanya disediakan karena akan dijejali blogger dari seluruh penjuru negeri, tapi memang fasilitas yang sudah ditetapkan akan selalu berada di sana.

Yang lebih asyiknya lagi, di tempat ini Telkom Solo kembali membagi-bagikan Speedy Instan Card untuk seluruh blogger. Yippiiiieee .... lumayan buat oleh-oleh. #eh.

Tidak pernah ada acara yang digelar dengan sempurna dan memuaskan seluruh pihak yang terlibat. Tetapi, selalu ada sisi-sisi menonjol di balik setiap penyelenggaraan. Kali ini, Asean Blogger Chapter Indonesia sudah menggandeng sponsor yang tepat untuk memanjakan blogger, salah satunya dalam hal penyediaan akses internet yang sangat memudahkan. Semoga kerja sama yang baik seperti ini dapat berlanjut lagi dalam kegiatan-kegiatan blogger selanjutnya.

Bravo Asean Blogger! Bravo Telkom Indonesia!