Tampilkan postingan dengan label Kuliner Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner Tasikmalaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2015

Rujak Honje Mulai Melanglang Buana

jual bantal foto
Siapa tidak mengenal rujak? Sajian sederhana yang terdiri dari potongan aneka buah dan sambal ulek ini bisa dibuat oleh siapa saja. Bahan-bahannya pun tidak perlu mahal dan sulit dicari. Berbekal satu atau dua jenis buah saja, sepiring rujak sudah bisa tersedia. Tentu harus dilengkapi dengan bumbunya juga. Tetapi, itu pun tidak sulit. Segenggam kacang tanah goreng/sangray, gula merah, garam, asam jawa, kencur, dan cabe rawit, diulek jadi satu. Bumbu rujak pun bisa tersedia dengan cepat. Nikmat, dan tentu saja bernutrisi. Siapa yang meragukan nutrisi yang terkandung dalam buah-buahan? Tidak ada, kan?

Foto by Lisan/kulinertasik.com
Rujak adalah sajian yang mudah sekali dijumpai. Tidak perlu merujuk ke suatu daerah tertentu, karena di daerah mana pun, rujak seringkali bisa ditemui, meski mungkin dengan sajian yang sedikit berbeda. Yang membedakan biasanya hanya dalam bentuk bumbu rujaknya. Ada yang biasa menggunakan kacang tanah, ada juga yang tidak. Ada yang memilih menggunakan kencur, ada juga yang tidak. Ada yang bumbunya diencerkan dan dituang ke irisan buah, ada juga yang bumbunya dijadikan cocolan. Pada intinya, bumbu rujak terdiri dari tiga bahan utama; gula merah, garam, dan cabe rawit. Dengan tiga bahan itu saja, rujak buah sudah bisa dinikmati. Bahan lain bisa ditambahkan kalau memang ada dan anda suka.

Rujak memang sajian yang sederhana dan bisa dibuat dengan mudah. Tapi karena peminatnya tinggi, peluang usaha berjualan rujak pun jadi sesuatu yang menjanjikan. Di kota saya, Tasikmalaya, penjual rujak (biasanya sekaligus berjualan lotek/pecel/karedok) banyak sekali dijumpai. Salah satu yang cukup terkenal dan selalu dijubeli pembeli berada di jalan kalektoran. Di sepanjang ruas jalan, beberapa tukang rujak berderet di kanan-kiri jalan, menawarkan sensasi kesegaran di kala terik matahari siang.

Ada yang berbeda dengan rujak Tasikmalaya, dan pada akhirnya menjadi ciri khas pembeda dibandingkan rujak dari daerah-daerah lainnya, yaitu penggunaan buah honje (kecombrang) dalam racikan bumbunya. Alih-alih menggunakan asam Jawa, penjual rujak di Tasikmalaya memilih menggunakan honje. Rasa asam dan aromanya yang khas dan tajam menjadi sensasi rasa tersendiri ketika dipadukan dengan kacang tanah (goreng), gula merah, garam, dan cabe rawit. Jauh berbeda dengan bumbu rujak pada umumnya. Penggunaan buah honje pun memberikan tekstur tersendiri pada sambalnya, terlihat sedikit ‘berantakan’ karena dipenuhi biji dan serat-serat buah honje yang diulek. Tapi di sanalah yang menjadi ciri khas tersendiri dari rujak Tasik.

Foto diambil dari kidnesia.com

Ciri unik lainnya yang ada pada bumbu rujak khas Tasikmalaya ini adalah penambahan pisang kulutuk (pisang batu – memiliki banyak biji di dalamnya) yang masih mengkal pada racikan bumbu. Rasa pisang mentah yang kesat ternyata memberikan sensasi rasa tersendiri pada sambalnya, melengkapi sensasi sebelumnya dari buah honje. Dan ternyata, untuk memberikan cita rasa yang pas, pengolahan bumbu pun memiliki tahapannya.  Karena teksturnya yang cukup keras, yang pertama adalah dengan mengulek buah honje sampai cukup hancur, lalu diteruskan dengan memasukkan potongan pisang batu dan diulek kembali hingga tercampur rata. Setelah itu, barulah memasukkan kacang tanah yang sudah digoreng/sangray, gula merah, garam, dan cabe rawit, untuk kemudian diulek lagi sampai tercampur rata. Pada saat disajikan, bumbu rujak ini akan ditaburi lagi dengan ulekan kacang tanah, sehingga ada sensasi ‘kriuk’ saat dicocol oleh potongan buah. Sudah terbayang nikmatnya, kan?

Seterkenal apa sih rujak Tasikmalaya ini? Cobalah datang pada saat libur-libur panjang atau hari besar nasional. Antrian kendaraan akan berjejer panjang di setiap penjual rujak di ruas jalan Kalektoran Tasikmalaya. Biasanya, kendaraan dengan plat nomor luar kota. Mereka biasanya adalah warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota/negeri dan kangen bernostalgia dengan kuliner khas Tasik, atau sanak saudara dan wisatawan yang memang sedang berkunjung ke kota ini.

Mereka memesan rujak tidak hanya untuk dinikmati di tempat, tetapi juga sebagai oleh-oleh! Ya, rujak Tasik sudah bisa dijadikan buah tangan apabila sedang berkesempatan mengunjungi Tasikmalaya. Tidak perlu takut basi atau busuk, karena sambal rujak dan buah-buahannya tentu saja akan dipisah. Bahkan, untuk kemasan oleh-oleh ini, sambal rujaknya diberikan dalam porsi yang cukup banyak. Bisa untuk beberapa kali ngerujak, lho! Ketika irisan buahnya sudah habis, anda tinggal membeli buah-buahan sendiri dan acara ngerujak pun bisa dilanjutkan kembali.


Salah satu penjual rujak legendaris di Tasikmalaya adalah Ibu Icar. Beliau sudah berjualan sejak tahun 1969, dan sudah memiliki banyak pelanggan tersendiri. Tempat berjualannya sangat sederhana, berada di halaman depan tempat tinggalnya di Jalan Kalektoran. Tapi jangan salah, pembeli yang datang bermobil semua, lho. Kemacetan sering terjadi di ruas jalan ini karena banyak kendaraan yang datang dan pergi. Dan yang membuat rujak Bu Icar semakin dikenal, bumbu rujaknya sudah seringkali dipesan dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, setiap bulannya beliau rutin mengirimkan bumbu rujak racikannya ke Amerika dan Singapura! WOW!

Ya, rujak Tasik sudah mulai melanglang buana. Ternyata, tidak hanya orang Indonesia yang doyan rujak ini, tetapi juga orang asing. Kalau tidak ada yang istimewa, tidak mungkin kiprahnya bisa sejauh itu, bukan? Sajian yang mungkin kita anggap sepele karena kesederhanaannya, bisa menjadi sangat istimewa kalau diracik unik dengan penambahan unsur yang membuat cita rasanya lebih nikmat dan berbeda. Rujak khas Tasik ini salah satunya.

Untuk pengiriman ke luar daerah, bumbu rujak sengaja dibuat kering tanpa campuran air. Nah, saat dibutuhkan, konsumen tinggal menambahkan air saja agar bumbunya menjadi lumer dan kental. Cabe rawitnya pun disediakan terpisah, untuk menjaga pembeli yang memang tidak menyukai rasa pedas. Bumbu rujak ini bisa tahan satu bulan, dan bahkan dua bulan apabila disimpan di lemari es. Bebas pengawet!

Tidak ada yang menyangsikan kandungan gizi yang terdapat dalam sepiring rujak. Irisan buah pepaya, nanas, jambu air, belimbing, mangga, kedondong, bengkuang, mentimun, ubi jalar, kaya akan vitamin, serat, kalori, kalsium, air, dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Lalu, bagaimana dengan honje yang menjadi primadona dalam rujak khas Tasik ini?

Honje atau kecombrang adalah tanaman yang bermanfaat. Tidak saja digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga sebagai obat herbal. Mulai dari bunga, daun, batang, sampai buah/bijinya sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Nilai nutrisi yang terkadung dalam bunga, daun, batang, dan buah kecombrang (per 100 gram) adalah sebagai berikut :

•    Energi  - kJ (0 kcal)
•    Karbohidrat - 4.4 gram
•    Serat pangan - 1.2 gram
•    Lemak - 1.0 gram
•    Protein - 1.3 gram
•    Air - 91 gram
•    Kalsium - 32 mg (3%)
•    Zat Besi - 4 mg (32%)
•    Magnesium - 27 mg (7%)
•    Fosfor - 30 mg (4%)
•    Kalium - 541 mg (12%)
•    Seng - 0.1 mg (1%)

Dengan kandungan nutrisi seperti itu, kecombrang dapat membantu mengurangi bau badan, menyembuhkan penyakit kulit, antioksidan, membersihkan darah, meningkatkan produksi ASI untuk ibu yang sedang menyusui, menurunkan demam, penambah darah, dan lain-lain. Terbukti kan, penambahan honje ke dalam racikan bumbu rujak tidak semata-mata untuk meningkatkan cita rasanya saja, tetapi juga kaya akan nutrisi yang bermanfaat.

Ada rencana mampir ke Kota Tasikmalaya? Rujak yang satu ini tentu saja tidak boleh anda lewatkan begitu saja. Ayo, sebelum semakin mendunia, pastikan anda sudah pernah mencobanya.

Referensi :
1.    http://infoherbalis.com/2015/03/manfaat-kecombrang-atau-honje-pelancar-asi-sampai-penghilang-bau-badan.html
2.    http://kesehatandia.blogspot.co.id/2014/11/kandungan-dan-manfaat-kecombrang.html



Senin, 19 Mei 2014

[Kuliner] Es Sirop Bojong Tasikmalaya

jual bantal foto
Datanglah ke Tasikmalaya, dan coba tanya ke warga yang anda jumpai, Es sirop apa yang paling terkenal di Tasikmalaya? Jangan heran kalau mayoritas jawaban mungkin akan merujuk pada satu nama : Es Sirop Bojong. Mengapa begitu?


Bersama Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT), kali ini (Minggu, 18 Mei 2014) saya meluncur ke lokasi es sirop legendaris ini. Tidak ada yang protes saat sehari sebelumnya target hunting ini digulirkan dalam perbincangan grup. Sirop Bojong memang sangat layak dikunjungi. Tidak saja karena nama besarnya, tapi karena rasa memang tidak pernah bohong. Haiiss .. berasa jargon iklan kecap.


Es Sirop Bojong Tampak Depan
Untuk ukuran sebuah lokasi kuliner, Sirop Bojong berada di luar kebiasaan. Berada di lokasi yang jauh dari keramaian, dan bahkan tidak dilalui kendaraan umum. Meski tidak terlalu jauh dari pusat kota, mencapai tempat ini mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi, karena cukup jauh dari perlintasan kendaraan umum kalau harus berjalan kaki. Meskipun begitu, saya tidak perlu sangsi dengan pengunjungnya. Sirop Bojong sudah memiliki pelanggan tersendiri, sehingga deretan mobil dan motor sudah memenuhi area parkir ketika kami datang. Bahkan pengunjung seolah tidak pernah berhenti datang dan pergi saat kami berada di sana.

Ibu Momoh saat diwawancara tim KWKT
Adalah Ibu Momoh, perempuan yang berada di belakang kesuksesan nama Es Sirop Bojong. Tidak tanggung-tanggung, beliau merintis usahanya sejak tahun 1972! Bermodalkan keinginan untuk membuat es sirop yang berbeda dibandingkan yang dijual ayahnya yang hanya berupa sirop dicampur es saja, Ibu Momoh berinisiatif menambahkan potongan buah-buahan ke dalamnya. Tidak hanya itu, seiring waktu beliau menambahkan kreasi lain dengan menambahkan unsur cita rasa lainnya, seperti tape ketan, kelapa muda dan lain-lain.

“Saya selalu berusaha mengikuti keinginan dan kepuasan pembeli,” cerita Ibu Momoh saat ditanya rahasianya membuat segelas es sirop yang nikmat. Beliau tidak pernah bosan berkreasi, termasuk saat mengamati banyak pembeli yang tidak pernah menghabiskan kolang-kaling yang ada dalam sajian siropnya. Pengamatan sederhana itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi memasukan kolang-kaling ke dalam campuran siropnya sampai sekarang. Menambahkan sesuatu yang tidak disukai pembelinya tentu sesuatu yang mubazir, kan?

Lokasi di dalam Warung
Es Sirop Bojong pertama kali berlokasi di rumah Ibu Momoh di belakang Aspol (Asrama Polisi) Bojong. Ketika usahanya mulai banyak dikenal dan diburu masyarakat Tasikmalaya, Ibu Momoh mengontrak rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Bojong Tengah pada tahun 1984. Usahanya yang semakin pesat pada akhirnya memungkinkan beliau membeli lahan dan membangun rumah dan tempat usaha baru di Jalan Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya pada tahun 1991. Meskipun sudah bukan di wilayah Bojong lagi, trademark Es Sirop Bojong tetap dipertahankannya.

Es sirop dengan campuran potongan buah-buahan (es campur/es buah) mungkin sudah banyak ditemukan di seluruh penjuru kota. Tetapi, di Tasikmalaya mungkin Ibu Momoh yang pertama kali memulainya. Meski pesaing dan followernya sudah sedemikian banyak, Es Sirop Bojong tetap hadir dengan ciri khasnya tersendiri.  Ketika ditanyakan apa yang membedakan es siropnya dengan es sirop lainnya, Ibu Momoh malah kebingungan dan berulang kali mengatakan ‘tidak tahu’. Beliau tidak pernah ingin tahu apa yang disajikan oleh penjual sirop serupa. Hanya saja beliau akhirnya mengatakan, “mungkin karena saya menggunakan santan (ketimbang susu kental manis).”

4 variasi rasa sirop
Aha! Itu dia yang akhirnya menguak salah satu rahasia kelezatan Es Sirop Bojong. Di beberapa tempat, saya memang seringkali menemukan campuran susu kental manis alih-alih santan pada sajian sirop atau es campur. Tetapi, Ibu Momoh sudah menggunakan campuran santan sejak pertama kali mengelola usaha ini, dan itu terbukti menjadi salah satu rahasia kenikmatannya.

Dilihat dari sajian dan penampakannya, tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa dari Es Sirop Bojong ini. Selain air sirop dan santan, pelengkap lainnya adalah potongan nangka, nenas, kelapa muda, alpukat, tape ketan hitam, cincau hitam, dan sebiji durian. Disajikan dalam gelas bening tinggi dan bukan mangkuk. Tetapi, ketika sudah mencicipi rasanya, baru terasa ada sesuatu yang istimewa. Setidaknya itu penilaian saya, karena selera toh berbeda-beda.

Ada yang tidak diketahui oleh sebagian besar pengunjung  Es Sirop Bojong, yaitu tentang adanya 4 cita rasa berbeda dari jenis sirop yang disajikan. Biasanya hanya pelanggan setia yang sudah mengetahui ini. Ibu Momoh menyediakan 4 variasi manis yang berbeda, yaitu sirop yang terbuat dari gula pasir (bening), gula pasir plus pewarna merah, gula kawung (aren), dan gula asam. Kalau pembeli tidak menyebutkan permintaan khusus, maka akan diberikan es sirop dengan pemanis gula pasir plus pewarna merah.

Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Ibu Momoh (foto @saidalzou)
Datanglah pada hari-hari libur besar dan kita bakalan tahu bagaimana tempat ini diserbu pelanggannya. Warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota biasanya akan menyerbu pada saat liburan seperti itu.   Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ibu Momoh sudah menyiapkan nomor antrian dan mempekerjakan tidak kurang dari 10 orang karyawannya. Tentu tidak mudah untuk mendapatkan pelanggan loyal seperti ini. Kerja keras menjadi modal utama agar usaha yang dirintis terus berkembang dan kemudian bertahan.

Keterkenalan Es Sirop Bojong menciptakan banyak pengikut yang latah menggunakan nama ‘Es Sirop Bojong’ sebagai daya tariknya. Ibu Momoh hanya tersenyum saat disinggung hal tersebut. Sejauh ini beliau hanya membuka 2 cabang saja, yaitu di Foodcourt Yogya Toserba dan Foodcourt Samudera Toserba. Selain itu, beliau tidak ada kaitannya dengan Es Sirop Bojong lainnya. 

Makanan pendamping sirop
Datang ke sana hanya untuk minum sirop atau es campur saja? Jangan khawatir, karena kalau memang lapar, ada menu siomay sebagai pelengkap nongkrong kamu di sana. So, mau nyoba salah satu kuliner legendaris di Tasikmalaya? Silakan mampir.

Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Pusat : Jl. Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya
Cabang 1 : Foodcourt Yogya Toserba
Cabang 2 : Foodcourt Samudera Toserba

Harga
Es Campur Duren – Rp. 12.000,-
Es Campur tanpa Duren – Rp. 10.000,-
Siomay – Rp. 2.000,- per buah

Jadwal Buka
Setiap hari

Senin, 28 April 2014

[Review] Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe

jual bantal foto


Berliner Brotfabrik

Mendung sudah menggelayut saat saya dan rombongan KWKT (Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya) merapat ke Jalan Mayor Utarya. Hari masih cukup siang, baru pukul setengah 2, tetapi gelagat turun hujan sudah mulai terasa. Kami harus segera bergegas apabila tidak ingin agenda siang ini menjadi sia-sia. Ada sebuah target yang harus kami cicipi siang itu, dan sepertinya tidak bisa ditunda lagi. Tongkrongan ini sedang menghangat belakang ini, seiring baru diresmikan grand launching-nya. Sebagai ‘komplotan’ pemburu kuliner di Tasikmalaya, rasanya kami tidak boleh ketinggalan langkah dibanding penikmat kuliner lainnya. Karena itu, meski hanya dihadiri beberapa gelintir orang saja, kopdar KWKT Minggu ini harus tetap dilaksanakan. Let’s go!

Joghurtsahnetorte - Rp. 13ribu
Tepat di samping SD Citapen, anggota KWKT yang kali ini umpel-umpelan di dalam mobil Kang Guguh akhirnya sampai di sasaran. Nuansa serba hijau langsung terasa bahkan ketika kami baru menjejak di halaman berumput yang cukup lapang. Beberapa pasang kursi dan meja besi, serta payung-payung lebar tertata rapi di beberapa penjuru halaman, semua bernuansa serbahijau. Foto-foto ukuran raksasa terpajang manis menutupi sepanjang dinding tembok. Ada yang terasa asing dengan foto-foto tersebut, karena sama sekali tidak menampakkan suasana lokal tanah air. Foto-foto ini menyajikan pemandangan negeri yang cukup asing. Setidaknya, bukan pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari.

Ke manakah sebenarnya kita menuju?

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe. Tulisan itu terpajang jelas di depan bangunan berdinding putih dengan sentuhan –lagi-lagi—warna hijau. Wangi roti dari panggangan langsung menguar tajam saat langkah kami semakin mendekat. Hmmm ... cukup menggelitik penciuman dan membuat perut berkeriuk ribut. Nyam-nyam nih.

Strawberrysahnetorte - Rp. 13ribu
Buat sebagian orang, nama Berliner Brotfabrik mungkin masih terdengar asing. Bukan saja karena namanya yang tidak familier, tetapi juga karena memang tempat ini belum lama hadir. Ya, kali ini kita menyerbu tongkrongan baru, yang baru hadir sebulan terakhir, menyemarakan ragam kuliner di Tasikmalaya. Meski sudah mulai beroperasi sejak tanggal 13 Maret, Berliner Brotfabrik baru diresmikan pada tanggal 29 Maret.

Lalu, mengapa namanya harus serba asing seperti itu? Di tengah rintik hujan yang mulai turun, kami cukup beruntung. Kang Hena Muliana, pemilik cafe ini, mau bergabung bersama kami untuk sedikit bercerita mengenai latar belakang pendirian cafe ini, dan menjelaskan tentang serba-serbi roti andalannya.

Brotchen Mit Wurst - Rp. 9ribu
Berliner Brotfabrik berasal dari bahasa Jerman. Brot adalah roti, Fabrik adalah Pabrik. Sudah jelas kan maksudnya? Sementara Berliner sendiri diambil dari kata Berlin, Ibukota dari negara Jerman. Secara selintas saja bisa diartikan kalau Berliner Brotfabrik adalah Pabrik roti dari Berlin (Jerman)! Tidak semata-mata Kang Hena mengambil nama berbau Jerman seperti ini kalau tidak ada kaitannya dengan kuliner yang disajikannya. Ya, di tempat ini anda bisa menikmati beragam roti, kue, dan pizza khas asal Jerman. Unik? Tentu saja. Belum ada tempat lain (di Tasikmalaya) yang benar-benar menyajikan penganan-penganan khas dari negara Hitler ini. Apalagi, semua roti yang disajikan benar-benar fresh from the oven!

Kenapa Kang Hena tiba-tiba tercetus untuk membuka cafe dengan menyajikan roti-roti dari negeri yang jauh ini? Kenapa bukan berjualan cilok saja yang asli Tasik? Itu yang akhirnya kami tanyakan. Ternyata, semua berawal dari kiprahnya sebagai konsultan bahasa di sebuah perusahaan di Jerman. Seringnya wara-wiri ke Jerman membuatnya sering mengamati dan mencicipi beragam kuliner di negara tersebut. Keinginannya untuk membuka sebuah cafe ala Jerman pun tercetus saat kontrak kerjanya di sana sudah berakhir. Apalagi rekan kerjanya di Jerman menanyakan hal tersebut; “Setelah ini, apa yang ingin kamu lakukan di Indonesia?”

Cremebretzel - Rp. 8ribu
Dijembatani sebuah lembaga sosial yang berorientasi pada pengembangan potensi usaha pemuda di negara-negara berkembang, Kang Hena pun mendapatkan peluang tersebut. Selama dua minggu, beliau mendapatkan pelatihan usaha di bidang bakery di Jerman. Tidak hanya itu, selama 3 bulan, Kang Hena ditempatkan di sebuah pabrik roti ternama di Jerman untuk magang. Berbekal pelatihan dan pengalamannya selama magang, akhirnya Berliner Brotfabrik pun segera berdiri di Tasikmalaya.

Nyam-nyam!
Menyajikan penganan yang berasal dari luar negeri tentu tidak bisa main-main. Banyak standar yang ditentukan dan harus diterapkan oleh Kang Hena. Salah satunya adalah penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa digonta-ganti seenaknya. Karena itu, untuk mempertahankan cita rasa agar sesuai dengan rasa aslinya di Jerman sana, Berliner Botfabrik tetap menggunakan bahan-bahan yang diimpor langsung dari negara asalnya. Kang Hena menjamin roti-roti buatannya dibuat sesuai resep yang pernah dipelajarinya selama di Jerman. Tidak hanya itu, supervising langsung dari guru-gurunya di Jerman tetap berlangsung sampai sekarang. Setelah hadir pada grand launchingnya, supervisor-nya dari Jerman akan datang kembali pada bulan Juni untuk mengontrol pengembangan usahanya. Mantap, kan?

Berliner Brotfabrik adalah tempat nongkrong yang asyik sambil cemal-cemil dan ngupi-ngupi. Berada di ruas jalan yang tidak dilalui jalur utama kendaraan membuat suasananya tidak terlalu bising. Meskipun begitu, lokasinya yang berada di tengah kota membuatnya mudah dijangkau dari mana-mana. Sayangnya, tongkrongan ala outdoor seperti ini menjadi tidak asyik lagi kalau turun hujan, karena payung-payung lebar tidak cukup menaungi air hujan yang terbawa angin. Bisa basah kuyup!

Member KWKT bareng Kang Hena Muliana (kiri)
Bagaimana dengan rasa kulinernya? Karena tidak mungkin memesan semua jenis penganan yang ada, kami mencicipi beberapa di antaranya. Meski namanya sering bikin kepleset lidah, atau malah nggak hapal saking belibetnya, tapi rasanya maknyus! Coba saja lihat foto-foto yang ada di sini, dan bayangkan kelezatannya seperti apa. Penasaran? Ayo, langsung serbu ke TKP!

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe
Alamat : Jl. Mayor Utarya no. 46 Tasikmalaya
Buka : Pukul 10.00 – 19.00 Wib
Range harga : Rp. 7ribu – Rp. 13ribu


Senin, 23 Desember 2013

[Kuliner] Pecel Oranye, Pecel Legenda

jual bantal foto
Jl. Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya
Buat orang Tasikmalaya, Pecel Oranye mungkin masih kalah pamor dengan deretan pecel di daerah kalektoran. Sebut saja pecel Bi Iyoy atau Bi Encar. Tapi, kalau menilik jauh ke belakang, Pecel Oranye tetaplah sebuah legenda yang belum tergantikan. Bagaimana tidak, Pecel Oranye sudah berdiri sejak tahun 1925! Sejak zaman Belanda masih berkuasa di bumi Indonesia, bro! Informasi inilah yang membuat saya dan beberapa teman dari Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT) ternganga ganteng. 1925, zaman bapak saya aja belum lahir! Hiyaaa ...

Tidak salah memang kalau jadwal KWKT minggu kemarin adalah menjajal lokasi pecel legendaris ini. Karena ternyata, sebagian besar anggota KWKT belum pernah nyicipin pecel yang satu ini. Termasuk saya!  Sebagai anggota komunitas yang ngakunya pencinta kuliner Tasik, kenyataan bahwa pecel ini sudah unjuk gigi sejak zaman penjajahan jelas sangat-sangat menohok. Hellow, where have we been?  Fyuh, maafkan kami (Eh, saya ding) yang nggak pernah aware tentang sebuah kuliner yang harus tetap dilestarikan.

Buat saya yang doyan sama pecel, karedok, lotek, dan semua jenis kuliner sejenis, pecel yang satu ini memang tidak boleh dilewatkan. Really worth trying, lah. Apalagi karena cita rasanya yang cukup menggoyang lidah dan unik. Berbeda dengan pecel khas Sunda biasanya yang semua bumbu kacangnya diulek, lalu bumbu dan sayurannya diaduk-aduk hingga jungkir balik, Pecel Oranye cukup berbeda. Semua sayuran rebus (kol, kacang panjang, toge, dll) ditata di atas piring. Setelah sayuran tersaji dengan cantik dan mempesona (halah), siram deh dengan bumbu kacangnya. Sajikan dengan kerupuk aci, maka pecel oranye pun siap untuk dihajar! Jebreeeet.

Gado-gado Pecel Oranye
Eh, sebenernya, saya kemarin pesan Gado-Gado sih, bukan pecelnya. Halah, ini kenapa ya kok saya plin-plan begini? Tenang, di Pecel Oranye ini, pecel dan gado-gado tidak jauh berbeda dalam rasa dan bentuknya. Beda isiannya doang. Jadi, review saya nggak bakalan jauh meleset (mungkin). Kalau pecel seperti yang saya jelaskan di atas, nah kalau gado-gado ada sedikit beda. Selain sayuran yang sama, untuk gado-gado ditambahkan potongan kentang, tahu, dan juga telur rebus. Biar rame dan meriah (halah lagi), setelah disiram bumbu saus kacang, dihias dengan kerupuk aci dan emping. Itulah bedanya. Jadi, kalau doyan emping, pesennya harus gago-gado, karena paket pecel nggak pake emping. Tapi kalau keukeuh pengen pecel plus emping, coba aja minta sama si Ibu. Mudah-mudahan aja dikasih empingnya. Hehehe.

Yang membedakan pecel/gado-gado di sini, selain bumbu kacangnya yang sudah dibikin terpisah (kayaknya sih diblender, soalnya haluuus banget bumbunya), juga adanya perasan jeruk sambal. Biasanya di tempat lain, jeruk sambel diberikan opsional dan disajikan terpisah. Nah, di Pecel Oranye ini, jeruknya sudah diperesin sama si Ibu. Jadi, rasa pecel dan gado-gadonya sudah ada aroma jeruk dan rasa asem-asem seger gitu. Kalau misalnya anda nggak suka jeruk makan jeruk, eh ... nggak suka ditambahin jeruk maksudnya, jangan lupa wanti-wanti ke si ibu sebelumnya ya.

Pecel Oranye berada di Jalan Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya. Posisinya pas di belokan ke arah kiri dari Jalan Pemuda, tepat di seberang Hotel Selamat. Menurut cerita Bu Edi, Pecel Oranye ini sudah ada dan dikelola turun temurun selama 3 generasi. Siapakah Bu Edi ini? Perkenalkan, dialah penjual pecelnya saat ini! Jadi, yang pertama berjualan Pecel Oranye ini adalah Neneknya, lalu dilanjutkan sama Ibunya. Saat Ibunya Bu Edi ini wafat tahun 1990, Bu Edi-lah yang akhirnya meneruskan usahanya.  Sampai sekarang.

Meskipun tidak seterkenal Pecel Kalektoran saat ini, Pecel Oranye masih memiliki penggemar tersendiri. Terbukti dari banyaknya pelanggan yang berdatangan. Apalagi ternyata Pecel Oranye ini juga menerima penjualan bumbu pecel keringnya. jadi, kalau mau bikin pecel sendiri di rumah, tinggal seduh bumbunya, jadi deh Pecel Oranye buatan sendiri.

Doyan pecel (atau gado-gado)? Yang satu ini harus anda coba. Dengan  harga Rp. 15.000,- per porsi, anda bisa menikmati sepiring pecel legenda di Tasikmalaya.

Kamis, 06 Juni 2013

Menjajal Kuliner Bakso di Tasikmalaya

jual bantal foto
Jangan tanyakan lagi ‘bakso’ itu makanan sejenis apa, karena setiap orang pasti pernah mencicipinya. Oke, setidaknya pernah melihatnya, meski agak diragukan kalau ada orang yang mengaku belum pernah mencobanya. Kuliner ini sudah tidak tertebak lagi berasal dari daerah mana asalnya, karena di setiap daerah pasti ada. Memang ada istilah ‘Bakso Solo’ yang beredar di tempat saya, tapi itu dikarenakan penjualnya berasal dari sana. Kalau melihat bakso buatannya, ya begitu-begitu saja, tidak ada bedanya dengan bakso lainnya.

Tasikmalaya dikenal dengan baksonya yang enak. KATANYA. Itu pun karena setiap ada teman yang datang ke Tasik selalu minta diantar makan bakso, dan menurut mereka rasanya memang enak! Syukurlah. Seperti halnya di daerah lain, toko/warung bakso di Tasikmalaya seolah ada di setiap ruas jalan. Kenyataannya memang begitu. Tidak sulit mendapatkan jajanan bakso di kota ini. Masalah enak atau tidak enak kembali pada selera, karena toh setiap warung bakso selalu memiliki pelanggan setianya.

Foto by. wisatakulinertasik.com

Anda akan mampir ke Tasik dan ingin mencicipi bakso ala Tasik? Mungkin saya bisa memberikan beberapa alternatif pilihan untuk dijajal kelezatannya.

Mie Bakso Laksana

Mie Bakso ini mengukuhkan dirinya sebagai bakso paling populer di Tasikmalaya. Tidak hanya dikenal di kota ini saja, karena namanya ternyata sudah dikenal oleh para tamu yang datang dari luar kota. Banyak teman dan kerabat yang ketika datang ke Tasikmalaya minta diantar ke tempat ini. Rasanya memang enak. Mie bakso kuah atau yamin pun sama-sama lezatnya. Tidak heran kalau di setiap weekend atau hari libur besar, tempat ini dipenuhi oleh pelanggannya. Untungnya Mie Bakso Laksana memiliki ruangan yang luas dan berlantai 2, sehingga daya tampungnya cukup banyak. Tapi jangan heran apabila antrian terjadi pada saat libur lebaran. Pengunjung harus dilayani menggunakan nomor antrian untuk sekadar mendapatkan meja atau layanan. Kondisi seperti ini seperti halnya yang terjadi di Bakso Akung Bandung, yang selalu dijubeli pembeli.

Dengan mengedepankan kualitas dan rasa, harga mie bakso Laksana terbilang paling mahal di Tasikmalaya, yaitu Rp. 20.000,- untuk satu porsi. Penambahan asesoris seperti babat atau pangsit tentu dikenakan harga tambahan. Ciri khas bakso Laksana ini adalah mie produksi sendiri dan bakso dagingnya yang kecil-kecil.

Berlokasi tepat di tengah kota, Jl. Pemuda no. 5 Tasikmalaya, Bakso Laksana hanya beberapa puluh meter saja dari Masjid Agung Tasikmalaya. Laksana membuka cabang di Jl. Mitra Batik dan di Foodcourt Plaza Asia.


Mie Bakso Firman

Ini adalah pendatang baru yang langsung meroket dan merebut perhatian penikmat bakso. Jubelan pengunjung selalu terjadi setiap harinya. Ciri khas dari bakso Firman ini adalah menggunakan mie gepeng dan lebar (semacam kwetiau) yang diproduksi sendiri. Penjualnya selalu meyakinkan kalau mie mereka bebas dari formalin dan boraks. Isu tentang mie berformalin memang sempat merebak di berbagai penjuru tanah air beberapa waktu yang lalu. Mereka memproduksi mienya secara bertahap, tergantung dari kebutuhan. Karena itu tidak ada mie yang akan tersisa dan basi. Mereka juga menyediakan bihun untuk yang tidak menyukai mie, atau bisa dicampur kalau suka. Jenis baksonya sendiri ada tiga macam; bakso urat (ukuran besar), bakso daging (kecil-kecil), dan bakso tahu.

Saus yang digunakan cukup pedas. Untuk yang tidak menyukai pedas, hati-hati dengan takaran saus anda. Yang maniak pedas, sambal cabenya pun sudah tersedia. Ah ya, jangan lupa tambahkan perasan jeruk nipis (ketimbang cuka) untuk membuat bakso anda menjadi lebih segar.  Jujur, ini lokasi mie bakso favorit saya!

Lokasinya tepat di persimpangan lima (Bunderan) yang merupakan pembagian arah menuju Bandung , Ciamis, dan kota Tasik, atau di ujung jalan Dr. Sukarjo Tasikmalaya.  Untuk satu porsi cukup merogoh uang Rp. 11.000,- saja.

Mie Bakso Ojo

Tidak jauh dari Mie Bakso Firman, tepat di depannya terdapat sebuah jalan kecil. Anda cukup berjalan sekitar 50 meter saja untuk mencapai Mie Bakso Ojo. Nah, yang ini pun tidak kalah istimewa dan sedapnya. Pengunjungnya pun seringkali membludak sehingga lepas magrib saja terkadang warung bakso ini sudah tutup karena habis! Waks.

Untuk penikmat bakso yang menyukai mangkuk baksonya dipenuhi oleh potongan kikil, tulang muda, atau sum-sum, ini adalah lokasi yang tepat. *krauk*

Harga satu porsi Rp. 12.000,- sudah termasuk kikil dan teman-temannya. Jangan lupa, ketersediaan kikik, sumsum, dan tulang muda hanya selama persediaan masih ada :D


Mie Bakso Tiara Mulya

Mie Bakso ini dulunya berada di Jalan Galunggung, tetapi sekarang sudah pindah ke Jl. HZ. Mustofa Tasikmalaya, tepat di depan Plaza Asia. Sekilas penampilan mie bakso ini mengingatkan saya pada Mie Bakso Laksana. Ukuran mie dan bulatan baksonya senada. Rasanya? Serupa tapi pasti tak sama. Yang terasa khas dari mie bakso ini adalah saosnya, terasa sedikit asam. Tentu bukan asam karena basi, tapi karena cita rasanya saja yang memang begitu.

Mie Bakso TM cukup dikenal sehubungan nama Tiara Mulya sendiri yang sudah mencuat duluan sebagai Perusahaan Catering ternama.

Harga satu porsi Rp. 13.000,- belum termasuk kalau ditambah babat atau pangsit.

Oya, lokasi semula Mie Bakso TM di Jl, Galungnggung sekarang ditempati oleh Mie Bakso Siliwangi. Dari sajian dan rasanya hampir sama. Mungkin karena resepnya yang serupa mengingat –kabarnya- pemilik kedua Mie Bakso ini masih saudara dekat.


Mie Bakso Widji

Mungkin Mas Widji inilah yang membawa pertama kali bendera ‘Bakso Solo’ di Tasikmalaya, karena setelah itu ternyata bermunculan nama ‘Bakso Solo’ lain yang ingin mengekor kesuksesannya.  Saya masih ingat, saat masih SMA dulu, mas Widji ini membuka kiosnya yang sederhana di perempatan jalan Tanuwiyaja – Sutisna Senjaya (mudah-mudahan saya tidak salah orang). Lambat laun baksonya laris dan diburu orang sehingga akhirnya mampu membeli sebuah bangunan di Jl. Rumah Sakit Tasikmalaya. Sekarang toko bakso sekaligus tempat tinggalnya terlihat megah dengan sebuah kendaraan roda empat keluaran baru di depannya. Hebat!

Lokasi Mie Bakso ini tepat berada di depan RSU Tasikmalaya dan bersebelahanan dengan SMAN 1 dan SMA Muhammadiyah, membuat warung bakso ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Ciri khas dari bakso ini adalah bakso dagingnya yang lebih padat dan kenyal dibanding bakso-bakso lain yang pernah saya cicipi.

Harga satu porsi Rp. 8.000,-


Mie Bakso Sari Rasa

Ada dua lokasi Mie Bakso yang mengusung nama Sari Rasa ini. Satu di jalan HZ. Mustofa (dekat Asia Toserba), dan satu lagi di Jl. Tentara Pelajar (depan Martabak Ramayana).  Kalau dilihat dari beberapa foto yang dipajang sebagai asesoris ruangan, terlihat banyak artis yang pernah berkunjung ke tempat ini. Salah satunya adalah Ariel NOAH (waktu masih culun tapi. Hehehe). Namanya artis saja sudah datang berkunjung, sudah dipastikan sajiannya pasti cukup istimewa. Oke, kembali ke selera sih memang, tapi kehadiran artis tentunya bisa menyedot lebih banyak perhatian.

Harga : Rp. 12.000,- satu porsi.


Mie Bakso Kurdi

Mie Bakso yang berlokasi lesehatan di Jalan Gunung Sabeulah ini cukup unik karena selain menggunakan mie, juga ditambahi dengan irisan kol. Aneh? Oh tidak, tapi enak! Bakso dagingnya imut-imut, tapi cukup banyak.

Harga : Rp. 9.000,- satu porsi.


Mie Bakso Loma
Saat bulan ramadhan tahun lalu, saya dibuat kesal saat malam-malam pergi ke sana. Saya pikir, saya bisa segera menikmati nikmatnya bakso pedas yang sudah terbayang-bayang sejak siang hari. Ups. Tapi saat tiba di sana, antriannya itu bow, puanjaaaang. Begitu tiba giliran saya, si Masnya bilang; “Maaf, pak, habis!” Hiyaaaaa …

Mie bakso ini berlokasi di jalan Tarumanagara, seberang SD Pangadilan.

Harga : Rp. 15.000,- (kalau nggak salah. Hehehe)



Selain itu ada beberapa lokasi Mie Bakso lainnya :
Mie Bakso Gesa – Jl. Ahmad Yani, sebelah Duren si Madu.
Mie Bakso Kiman – Jl. Ahmad Yani (Pasar Pancasila)
Mie Bakso Oding – Ruko Pasar Pancasila
Mie Bakso Borju – Jl. Terusan BCA – Paseh
Mie Bakso Ceria – Jl. Ahmad Yani (setelah Pasar Pancasila)
Dan Mie Bakso lainnya, plus Mie Bakso gerobak keliling

Ada yang mau menambahkan? :D

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Tasikmalaya Blogging Competition yang diadakan oleh Hotel Santika Tasikmalaya. Informasi tentang Hotel Santika Tasikmalaya bisa melalui Fan page Facebook Hotel Santika Tasikmalaya, atau melalui akun twitter Hotel Santika Tasikmalaya 

Minggu, 02 Juni 2013

[Wisata Kuliner Tasikmalaya] Tutug Oncom Naik Kelas

jual bantal foto Tidak bisa dipungkiri, sajian kuliner menjadi salah satu daya tarik wisata pada saat ini. Para pelaku wisata tidak bisa lagi mengabaikan kunjungan wisata dengan melewatkan jajaran kuliner khas yang ada di daerah yang dikunjungi. Bukan lagi sebagai kunjungan pelengkap sebuah perjalanan wisata, melainkan sudah menjadi agenda wajib yang harus dilakoni. Bagaimanapun, kuliner adalah sebuah bagian dari budaya daerah yang sudah sepantasnya untuk diketahui bahkan dilestarikan. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kearifan budaya lokal, sudah sepantasnya kita ikut menjadi bagian dalam pelestarian tersebut, bukan?

Menggeliatnya wisata kuliner menjadi peluang usaha tersendiri bagi para pelaku bisnis. Tentunya ini menjadi efek positif dari sebuah perkembangan dunia pariwisata, bagaimana dunia pariwisata memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kalau mau dicermati, penggiat bisnis kuliner tradisional ini semakin menampakkan diri dalam geliat pariwisata. Coba tengok di daerah-daerah wisata, pebisnis kuliner mulai merebak dan menciptkan nuansa tersendiri.

Beragam kuliner tradisional (maupun modern) semakin marak. Setiap kota menunjukkan kekhasan masing-masing. Coba lihat kota Yogyakarta, penjual gudeg tersedia di mana-mana. Atau saat ke Solo, sajian Selat Solo maupun Nasi Liwetnya selalu menjadi buruan yang tak boleh dilewatkan. Begitu pula dengan Bandung, rasanya tidak lengkap kalau tidak memburu batagor maupun baso tahunya yang terkenal lezat. Jauh ke Makasar, Sop Konro dan Coto Makasar menjadi santapan wajib kalau berkunjung ke sana.

Setiap daerah hadir dengan ciri khas kuliner tersendiri. Bagaimana dengan Tasikmalaya? Rasanya tak berlebihan kalau saya menyebut Tasikmalaya sebagai kota Tutug Oncom.

Nasi Tutug Oncom
Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai membumi di kalangan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih terhormat. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres! Sajian nikmat dan menggoda pun bisa tersaji tanpa perlu waktu lama dan pengolahan yang ribet.

Mungkin aneh kalau ada masyarakat Tasikmalaya yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom. Bisa dimaklumi kalau mereka ada pendatang. Tapi untuk penduduk Tasikmalaya? Akan menjadi hal yang aneh dan langka kalau berlum pernah mencoba.

Nasi TO Benhil Dadaha. Yang nggak kebagian duduk mohon antri!
Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi kalau pembelinya sudah saling serobot dan minta didahulukan pesanannya. Menarik sekali melihat sebuah sajian yang semula dianggap sepele ternyata naik kelas dengan cepat. Bukan hanya masyarakat kalangan menengah ke bawah yang memburu nasi TO saat ini, tapi mereka yang terlihat datang dari kelas atas.

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Saya masih ingat, pertama kali membeli nasi TO ini cukup mengeluarkan uang Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus.

Saya pernah mengajak dua orang teman dari Jakarta untuk wisata kuliner di Tasikmalaya. Saya menatap geli saat mereka sempat terbengong-bengong sewaktu membayar makanan. "Nggak salah, nih?" katanya kaget.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat pengikutnya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya.

Warung Nasi TO Mr. Rahmat
Semakin hari, warung TO yang berdiri semakin banyak. Mulai dari warung pinggir jalan sampai yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan kalau memang enggan, anda bisa memilih warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka dua tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk.

Apakah makanan di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Jangan perlu takut dompet akan terkuras kalau makan sajian yang satu ini. Meskipun pesanan ditambah dengan lauk pauk lainnya, seperti : telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk, total yang harus dibayar tetap terasa hemat dibandingkan makan di restoran.

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah), sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll.

Murah tak perlu jadi murahan. Nasi TO memiliki kandungan nilai dan mutu gizi  yang cukup baik. Dari oncom yang menjadi bahan utama kuliner ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Tak perlu khawatir dengan gizinya lagi, dong?

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan Tutug Oncom. Karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini; murah, meriah, dan pasti nikmat! [iwok]

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Tasikmalaya Blogging Competition yang diadakan oleh Hotel Santika Tasikmalaya. Informasi tentang Hotel Santika Tasikmalaya bisa melalui Fan page Facebook Hotel Santika Tasikmalaya, atau melalui akun twitter Hotel Santika Tasikmalaya