Tampilkan postingan dengan label laporan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laporan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

Menyambangi Sorake dan Fahombo #HandinHand #Day3

jual bantal foto
Laporan Perjalanan sebelumnya bisa dibaca di sini

Kisah hari #2 yang tersisa

Setelah sempat kembali ke hotel untuk mandi dan berganti kostum, acara hari ke 2 ditutup dengan makan malam bersama di Kaliki Resto. Seperti halnya Kartika Grand Resto, tempat makan yang ini pun berada di tepi pantai. Jadi, sambil makan kita bisa mendengar deburan ombak dan menatap ... gelap! Udah malem sih, jadi pemandangan lautnya udah nggak kelihatan. Hehehe.

Makan malam berlangsung meriah. Seafood segar jadi menu andalan yang membuat mata saya langsung kriyep-kriyep kesenengan. Saya suka! Saya suka! Ini benar-benar perbaikan gizi, dan istri saya pasti senang karena pulang dari Nias berat saya bakalan naik lagi. #Eh. *celingukan*

Tidak hanya acara makan bersama malam itu, tetapi ada agenda berbagi cerita mengenai perjalanan kita selama dua hari itu, kesan-kesan mengikuti perjalanan Tim Tango dalam program Nias Hand in Hand. Karena saya paling tua (hiks), akhirnya saya ditodong untuk memberikan kesannya pertama kali. Daaaan ... saya pun bercerita panjang kali lebar. Saya memang gitu, nggak bisa aja kalo disuruh ngomong sebentar. Selalu akhirnya bercerita ke mana-mana, meleber. Hehehe ... maafkan mulut saya yang susah diremnya ya. Tapi intinya sih, saya senang banget bisa menjadi bagian dalam kegiatan ini. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya petik, tentang kebersamaan, tentang berbagi, dan tentang kemanusiaan. Semoga Tango mau ngajak saya lagi kalau ada program selanjutnya. #modus *blushing*

Satu per satu, seluruh rombongan menyampaikan kesan-kesannya, dan juga saran untuk program Tango selanjutnya. Tiba pada giliran mba Dwiyani, malah membuatnya kehilangan kata-kata. Pengalaman dua hari ini benar-benar sudah menguras emosinya, sehingga Mba Yani harus terisak-isak menceritakan kesan-kesannya. Saya bisa memahami hal itu, karena Nias memang sudah membuka mata kita lebar-lebar, kalau kesenjangan sosial di tanah air kita ini masih begitu tinggi. saya bahkan kembali mempertanyakan, apakah negara kita benar-benar kaya dan makmur kalau sebagian warganya masih hidup terbelakang seperti ini? Sudah saatnya Pemerintah memberikan perhatian lebih bagi saudara-saudara kita yang jauh dari jangkauan seperti ini.

Mba Adisty pun mengalami mati kata yang sama. Tidak berbeda dengan mba Yani, Adis pun terisak-isak saat berbicara. Saya bersyukur sudah menyampaikan kesan saya pertama kali, karena bisa jadi saya pun akan tertular mati kata seperti itu. Meski saya botak (eh?), saya juga paling gampang tersentuh dan terbawa suasana seperti itu. Ada kemungkinan saya akan ikut terisak-isak kalau harus ngomong setelah mereka.

Satu poin penting yang saya tangkap dari seluruh kesan yang terlontar malam itu, kita semua jadi lebih memahami tentang arti kata BERSYUKUR. Dibanding masyarakat Nias yang sudah kita kunjungi dua hari sebelumnya, nasib kita jauh lebih beruntung. Dan itu yang kadang luput kita syukuri. Sepulang dari Nias, insya Allah kita akan lebih mensyukuri terhadap setiap nikmat dan rezeki yang kita terima, sekecil apapun. Dan memang sudah seharusnya seperti itu, bukan?

Petualangan Hari ke-3

Alarm ponsel saya menjerit-jerit tepat pukul 4 pagi. Hiyaaa .... perasaan baru aja merem, kok sudah harus bangun lagi? Semalam kita tidur agak larut karena keasyikan ngetwit tentang kegiatan sesiangan itu. Jadi, saat alarm bunyi masih nggak iklas buat melek. Tapi, kalau saya tidak bangun saat itu, berarti saya akan segera ditinggalkan rombongan. Pukul 5 pagi kita akan check-out dari hotel. Sepagi itu? Ho-oh, soalnya hari ke 3 itu kita akan melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk .... berwisata! Horeeee.

Pantai-pantai cantik sepanjang jalan menuju Teluk Dalam
Jadwal hari terakhir ini adalah mengunjungi Pantai Sorake dan Atraksi Lompat Batu di Kabupaten Nias Selatan. Dan perjalanan menuju ke sana nggak deket sodara-sodara; 3 jam lebih! Yaaay. Makanya kita diwanti-wanti untuk bangun sepagi mungkin dan meninggalkan hotel pukul 5. Kita nggak bakalan mungkin balik lagi ke hotel, karena beres jalan-jalan kita harus segera mengejar penerbangan pulang. Wokeeeh.



Setelah early breakfast (hasil todongan mba Yuna sebelumnya yg minta breakfast disediakan pukul 5. hehehe), kita pun akhirnya berangkat menuju kecamatan Teluk Dalam, kabupaten Nias Selatan. Mengingat perjalanan jauh dan juga kurang tidur, saya sukses tidur sepanjang perjalanan sebelum kemudian mobil berhenti di sebuah tempat. Sudah sampe? Ternyata belum, kita berhenti di sebuah pasar! Ada apa ini? *kucek-kucek mata*

Ini bukan pantai wisata, hanya view di sepanjang jalan
Ternyata oh ternyata, Tim OBI yang sudah meluncur di depan melaporkan, kalau jalanan menuju Teluk Dalam longsor dan tidak bisa dilewati kendaraan! Waaks ... padahal itu masih setengah perjalanan lagi! masa harus jalan kaki? Masa kita nggak bisa lihat Pantai Sorake dan Lompat Batu? Masa saya harus nangis? Huhuhu. Asli, saya langsung ketar-ketir. Kesempatan untuk mengunjungi Pantai Sorake dan atraksi Fahombo yang terkenal itu hanya ada kali ini dan entah kapan bisa datang ke Nias lagi. Kalau sekarang acara ini gagal, berarti saya harus melupakan semuanya.

Eits, tunggu dulu. Warga setempat mengatakan ada sebuah jalan alternatif untuk melewati jalan longsor. Mata kita pun kembali berbinar. Lanjuuut .... kendaraan pun bergerak kembali dan berbelok ke dalam ... hutan! Woooow ... Hutannya sih nggak masalah, tapi jalanannya itu lho; sempit dan sangat berlumpur penuh dengan lekukan-lekukan dalam. Saya tidak pernah membayangkan kendaraan sekelas Innova harus offroad di jalanan separah itu. Beberapa kali roda kendaraan harus slip dan tonjolan batu membentur bagian bawah mobil. Ough!

Oke, itu bukan salah satu adegan terburuk dari jalan alternatif ini. Lepas dari jalanan berlumpur membelah hutan kita sampai di tepi pantai dengan jalanan mentok. Tidak ada kejelasan kemana kita harus meluncur setelah itu. Setelah bengong berjamaah, akhirnya kita bertanya pada tukang-tukang batu yang ada di sepanjang pantai. Dan jawaban mereka sangat mengejutkan; "Tidak ada jalan terusan. Untuk mencapai jalan kembali, kendaraan harus turun ke pasir pantai dan menyusuri pinggiran pantai sekitar 1 kilometer."

Offroad menyusuri pinggiran pantai
Hiyaaaa ... yang boneng, nih? Pantai di Nias rata-rata tidak memiliki pesisir yang luas. Turun ke pantai berarti sudah langsung bertemu dengan air laut dan ombak. Sekarang kita harus berkendara di mana ombak bisa dengan santainya ngelus-ngelus roda kendaraan? Gimana kalau roda mobil malah mblesek ke dalam pasir dan selip nggak mau maju? Gimana kalau ... *mpot-mpotan* Alhamdulillah ... kendaraan melaju terus sampai akhirnya menemukan jalan yang sebenarnya. fyuuuh .... *lap jidat* Ini benar-benar sebuah memorable trip yang tidak akan terlupakan! ^_^

Setelah itu, perjalanan berlangsung mulus. Karena waktu yang sudah terbuang cukup lama karena harus mengambil jalur alternatif yang tidak diduga, sopir menggeber kendaraan untuk mengejar waktu. Diperkirakan kita tidak bisa lama di masing-masing lokasi wisata. Buat saya tidak masalah. Asal saya bisa menginjakan kaki di lokasi tersebut, itu sudah sangat cukup.

Go surfing
Dan kita pun akhirnya sampai di Pantai Sorake! Ahaaaay ... ini pantai yang sangat terkenal di dunia sodara-sodara! Setelah Hawaii, Pantai Sorake adalah pantai kedua terbaik di dunia untuk olahraga surfing. Tidak heran kalau beberapa kali kompetisi surfing tingkat dunia pernah dilaksanakan di pantai ini. Ketinggian ombak sampai 10 meter bukan menjadi pemandangan aneh di Sorake, dan itulah yang menjadi incaran para surfer profesional. Tetapi, untuk mendapatkan ombak-ombak fantastis setinggi itu ada waktunya. Katanya, bulan Juni-Juli adalah bulan-bulan terbaik para surfer mendatangi Sorake. Karena kita datangnya pada bulan November, ombaknya pun lebih 'bersahabat' bagi surfer pemula. Tetapi, saat itu pun sudah banyak terlihat wisatawan-wisatawan asing yang tengah menikmati ombak Sorake.

Sorake Beach
Meski sarana dan prasarananya masih terlihat minim, tapi Sorake benar-benar tidak boleh dilewatkan apabila berkunjung ke Nias. Pantainya masih benar-benar alami. Dan indah tentu saja. Selain surfing, tepian pantainya juga kayak dengan bebatuan karang. Apabila laut sedang surut, bebatuan karang ini akan menjebak biota-biota laut untuk tidak kembali ke laut dan bisa menjadi pemandangan yang menarik. Keren!

Terbang bersama ombak. Yipiiie ....
Siang sudah sangat terik. Saat rombongan lain memilih berteduh di saung-saung tepi pantai, saya dan Adis lebih memilih untuk turun ke pantai, menjejak bebatuan karang untuk bergerak ke arah tengah laut. Dari sana saya bisa lebih dekat melihat para surfer beraksi (selain semakin banyak melihat biota laut yang berada di tengah kubangan bebatuan karang). Sayang kamera saya tidak cukup canggih untuk mengabadikan momen-momen asyik ini. Beberapa kali jepretan saya luput mengabadikan surfer yang tengah menaiki ombak. Kalaupun kena, hasilnya malah ngeblur. Hiks ... *banting kamera* #ngidamDSLR

Tidak lama di Sorake, kita melanjutkan perjalanan menuju Desa Bawomataluo. Di sanalah atraksi Lompat Batu (fahombo) ini dapat disaksikan. Dari pantai Sorake sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja karena jalanannya sempit dan menanjak, kendaraan harus sangat berhati-hati.

Jalanan menanjak akhirnya berujung di sebuah dataran tidak terlalu luas. Kita sudah sampai di desa Bawomataluo. Sebanyak 86 anak tangga yang mendaki curam sudah menanti sebelum kita benar-benar memasuki desa ini. Welcome to Bawomataluo.

Tangga menuju gerbang desa, rumah adat, dan istana raja

Oya, tulisan mengenai atraksi Lompat Batu (Fahombo) ini akan saya posting terpisah. Saat ini sudah menjadi sebuah artikel pariwisata dan dikirim ke sebuah media cetak. Lolos terbit atau tidak, insya Allah akan saya posting kemudian. Jadi, jangan lupa balik lagi ke sini kalau penasaran dengan atraksi unggulan masyarakat Nias ini ya. Hehehe

Fahombo di depan mata!
Yang jelas, perjalanan jauh kita menuju tempat ini tidak sia-sia. Saya bisa menyaksikan fahombo secara langsung! Setelah itu kita juga sempat menikmati kearifan desa budaya yang masih terus dilestarikan oleh penduduk setempat. Oya, Desa Bawomataluo ini sedang diajukan sebagai World Herritage UNESCO. Itulah mengapa wajib sekali mengunjungi desa ini apabila berkesempatan ke Nias, untuk semakin menyadarkan kita bahwa Nusantara ini benar-benar kaya akan ragam adat dan budayanya.

Salah satu bangunan adat dan batu-batu megalith di depan setiap bangungan
Mengingat hujan yang tiba-tiba turun (padahal sebelumnya panas terik), tidak banyak yang kita jelajahi di desa budaya ini, kecuali memasuki istana raja di samping monumen batu. Setelah itu kita harus segera kembali pulang, mengingat waktu yang terus berjalan.

Dan, perjalanan saya di Nias pun berakhir. Dari desa Bawomataluo ini rombongan langsung meluncur menuju Bandara Binaka, untuk kembali ke Medan dan terbang ke Jakarta. Selamat tinggal Nias, sawohagele!

--- End of the Trip ---

Terima kasih banyak buat Wafer Tango yang sudah mewujudkan jalan-jalan ini.

Minggu, 10 November 2013

Nias Trip, Tango #HandinHand [Masih] #Day2

jual bantal foto
Laporan perjalanan sebelumnya bisa dibaca di sini dan sini.

Perjalanan hari ke dua belum usai. Hari masih sangat siang. Matahari Nias masih bersinar terik saat kita meninggalkan rumah kepala desa dan seluruh masyarakat dusun 1-3 Banua Gea. Acara ‘Kamis Ceria bersama Tango dan OBI’ memang sudah usai, tapi perjalanan kita hari itu belum selesai. Masih ada lokasi yang akan kita tuju sesuai jadwal yang sudah di susun. Kita akan berkunjung ke rumah keluarga Oprianus Gea.

Oprianus Gea mungkin bukan termasuk salah satu anak bergizi buruk di Nias. Tetapi, kondisi keluarganya tidak kalah memprihatinkan. Dari awal, kisah tentang keluarga ini sudah terbayang-bayang dalam benak saya, dan membuat saya harus mengelus dada. Sulit membayangkan kehidupan sebuah keluarga dengan 5 orang anak di tengah himpitan kemiskinan. Di mana sulitnya? Kondisi rumah mereka!

Dipan ini digunakan seluruh anggota keluarga untuk tidur berdenpetan
Oprianus beserta 4 kakak dan kedua orangtuanya harus tinggal di sebuah rumah berdinding papan yang ukurannya hanya 1,5 x 2 meter saja! Tidak ada jendela, tidak ada perabotan. Yang ada hanyalah sebuah dipan tanpa alas yang harus digunakan untuk tidur mereka bertujuh! Di sanalah keluarga ini menghabiskan hari-harinya sepanjang hari, sepanjang minggu, bulan dan tahun! Ya Tuhan, bahkan kamar anak saya saja (dan dihuni seorang diri) bisa 2 kali lebih besar dari itu. Sementara mereka harus berhimpitan satu sama lain, tidur berjajar tanpa bisa membalikkan badannya sesuka hati. Belum lagi dinding papan yang dipasang tidak rapat memungkinkan angin dan bahkan hujan bertiup masuk sepanjang malam. Bagaimana keluarga ini bisa hidup sehat?

Saya mungkin tidak bisa mempercayainya, seandainya hari itu tidak datang sendiri melihatnya. Tidak mudah, karena perjalanannya harus melintasi pesawahan, kebun, dan juga hutan yang masih cukup lebat! Lebih dari setengah jam kami berjalan kaki dari ujung jalan untuk mencapai lokasi ini, menyusuri jalanan setapak yang hanya bisa dilalui kendaraan roda 2. Dulu, jalan setapak ini masih berupa jalanan tanah dan berbatu. Sejak keluarga Oprianus Gea ini ‘ditemukan’, jalanan setapak ini sudah lebih diperhatikan. Ada aspal yang sudah melapisi jalanan selebar satu meter ini. Ya, hanya satu meter saja! Tidak ada penerangan sepanjang jalan, karena rumah-rumah di sekitar hutan ini hanya ada beberapa buah saja, itupun dengan jarak yang sangat berjauhan. Terbayang kalau harus memasuki perkampungan ini malam hari, gelap gulita itu sudah pasti. Dan saya tidak yakin berani melewati jalanan ini pada malam hari seorang diri.

Jalanan menuju rumah Oprianus Gea. (foto punya @justsilly)
Terpencil, itu satu kata untuk melukiskan perkampungan ini. Sawah membentang dan hutan yang masih lebat membatasi setiap sisinya. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu, tetapi jujur saja saya tidak. Alangkah sulitnya untuk sekadar melihat dunia luar dari tempat seperti ini. Ya, miris sekali membayangkan mereka yang harus tinggal di wilayah terpencil seperti ini. Jangankan untuk melihat ingar bingar dunia, untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar pun mereka harus melangkah jauh. Sekolah? Kesehatan? Duh.

Langkah kami membelok dari jalan setapak, memasuki sebuah perkebunan karet. Di tengah-tengah perkebunan itu, terlihatlah rumah keluarga Oprianus. Setelah keringat kami berleleran (khususnya karena panas terik), akhirnya perjalanan jauh kami tiba di tujuan.

Dulu dan sekarang
Gubuk papan dan kusam ukuran 1,5 x 2 meter itu sudah hilang! Sebagai gantinya, saya melihat sebuah rumah berdinding papan yang jauh lebih luas dan bersih. Rumah bercat putih itu tidak indah dan megah, tetapi jauh lebih nyaman dibanding apa yang ada di benak saya sebelumnya. Tim Tango dan OBI sudah melakukan renovasi beberapa saat sebelumnya. Keluarga Oprianus (minus Ayahnya yang sedang sakit TB paru parah dan saat itu sedang dirawat di rumah adiknya), menyambut kami dengan senyum terkembang.

Rumah itu sudah berlantai semen sekarang, tidak beralaskan tanah lagi seperti sebelumnya. Di setiap dindingnya terdapat jendela sebagai ventilasi ruangan. Atapnya sudah menggunakan seng. Selain itu, ada pula dapur di ruangan terpisah (dulu, acara memasak dilakukan di ruangan sempit yang sama). Saya bisa merasakan kegembiraan di setiap senyum mereka. Di rumah ini mereka bisa lebih tenang merenda hari esok dan masa depan.

Lokasinya di tengah hutan
Rumah mereka yang lama ternyata tidak dihilangkan. Saat saya memasuki rumah itu, ternyata gubuk mereka masih ada di dalam rumah, sudah dibenahi dan dijadikan kamar. Sementara ruangan tambahan hasil renovasi dari Tango digunakan untuk ruangan lainnya.

Berbeda dengan anak-anak lainnya, Oprianus terus menerus menebarkan senyum. Dia tidak sulit didekati, diajak ngobrol (meski harus lewat penerjemah), atau diajak bermain. Matanya berbinar-binar. Dan saya sangat berharap, anak ini (dan anak-anak lainnya di Nias) dapat mengecap masa depan yang lebih baik setelah ini. Mereka tidak ingin dilahirkan dalam situasi sulit seperti itu. Semoga nasib akan mengubah mereka.

Kurang dari satu jam kami berada di sana. Seperti di tempat lainnya, kami membagikan mainan, pakaian, dan juga produk Tango. Saya yakin bantuan yang mungkin ‘tidak seberapa’ itu akan berarti banyak bagi mereka. Setidaknya mereka bisa mengetahui bahwa di luar sana, masih banyak orang yang peduli terhadap nasib mereka dan mendoakan masa depan mereka.

Saya meninggalkan kediaman keluarga Oprianus Gea dengan peringatan kuat untuk diri sendiri; BERSYUKURLAH! Terkadang saya mungkin lupa untuk mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan. Padahal, apa yang sudah saya terima dan nikmati sampai saat ini, mungkin belum pernah dikecap oleh banyak orang di luar sana. Oprianus Gea, Brian Harefa, Krisman Waruwu, dan ratusan anak Nias lainnya sudah menyadarkan saya; betapa jauh beruntungnya saya dibanding mereka.

Kaki saya kembali melangkah, meninggalkan lokasi yang entah kapan bisa saya jejak lagi. Satu yang pasti, saya tidak akan pernah melupakan hari ini. Insya Allah.

Foto bersama sebelum pulang
Tuntas sudah agenda sosial Tango #NiasHandinHand yang harus kami lakukan. Kami mungkin sudah berbagi terhadap masyarakat Banua Gea selama dua hari ini. Tetapi, tahukah kalau mereka juga sudah ikut berbagi terhadap kami? Banyak hikmah yang saya peroleh, banyak pelajaran yang saya dapat dari kegiatan ini. Dan itu priceless banget! Saya harus mengucapkan terima kasih juga pada mereka; Sawohagele Nias!

Fafalo Beach, Tuhemberua
Matahari mulai turun saat kita menepi ke Pantai Fafalo. Ini adalah salah satu pantai wisata di Nias Utara. Saatnya kita rehat sambil menikmati keindahan pantai Nias. Pantainya keren! Tanahnya landai dengan ombak yang beralun pelan. Sama sekali tidak terlihat ada ombak-ombak yang berdebur kencang. Kok bisa, ya? Pantai kayak gini cocok banget buat liburan sama anak-anak nih. Sayangnya jauh. Hiks.

Mas Anto bagian ngupas kelapa ^^
Saat itu, pantai Fafalo sepi sekali. Selain kita, tidak terlihat ada pengunjung lainnya di sekitar pantai. Fafalo benar-benar milik kita saat itu. Hehehe. Karena sepi, warung satu-satunya yang ada pun tutup, padahal banyak yang pengen banget menikmati suasana sore di pantai sambil menyeruput kopi. Pun, harapan kita untuk bisa menikmati kelapa muda pun hampir saja musnah. Belinya di manaaaa? Hehehe. Untungnya ada warga sekitar yang berbaik hati memanjat pohon kelapanya untuk kita. Tapi, harus ngupas sendiri! Hiyaaa .... Akhirnya kita gantian jungkir balik ngupas kelapa satu per satu.

Nongkrong bersama di Fafalo Beach
Dunia wisata pantai di Nias memang tidak begitu menggembirakan. Sarana dan prasarananya minim sekali. Selain wisatawan dari luar, jarang sekali masyarakat Nias yang menyengajakan diri bermain ke pantai. Iseng saya tanya kenapa? “Mas, orang Nias itu setiap hari lihat laut. Wilayah mereka dikelilingi laut. Mau ngapain liburan lihat laut lagi?” Hahaha ...  bener juga. Dan saya pun faham mengapa setiap pantai yang saya kunjungi di Nias selalu saja terlihat sepi. Lah, setiap hari juga mereka sudah ‘rekreasi’ lihat laut kok!

Bersambung lagi ke Laporan Perjalanan hari terakhir - #Day3.

Kamis, 07 November 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day2

jual bantal foto
Laporan Perjalanan #Day1 bisa dibaca di sini.

#Pesta Duren

Malam itu saya tidur dengan saangat nyenyak. Pules banget sampe nggak sempat mimpi jadi Power Rangers (lah?). Mungkin karena kecapean dan kurang tidur hari sebelumnya, atau bisa jadi karena ngidam makan duren di Nias terlaksana? Howaa ... jadi inget malam sebelumnya, pulang dinner di Grand Kartika Restaurant, Rombongan Tango #NiasHandinHand sempat pesta duren di alun-alun. Kita memang datang ke Nias dalam waktu yang sangat tepat. Musim duren telah tiba! Duren bergelimpangan di mana-mana ... well, okay, ini emang lebay. Tapi suwer, itu duren bertumpuk-tumpuk banget di sepanjang jalan. Karena mba Yuna (PR Manager Tango) lagi senang hatinya melihat anak-anak manis seperti kita (hoek!), akhirnya kita digiring untuk nongkrong-nongkrong di sekitar alun-alun. Dibeliin duren! Horeee .... tentu kesempatan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Seluruh rombongan tanpa malu-malu dan ragu langsung merubung si Abang duren.

5ribu rupiah saja sebiji!
Yang bikin kita syok, ternyata duren di Nias ini kurang ajar banget ... murahnya! Masa satu buah duren yang gedenya segede kepala saya cuma 5ribu perak? Nggak sopan banget, kan? Kenapa di tukang duren dekat rumah saya mahal-mahal? Duren cicitnya aja dihargai 25ribu perak. Harusnya tukang duren di Tasik studi banding semua ke Nias, biar tahu bagaimana membuat para pecinta duren senang dan riang! Oke, stop ngamuk-ngamuknya. Sekarang, mari kita pesta duren!

Aksi pembantaian duren. Hehehe
Satu demi satu duren dibelah, dan langsung ludes dalam sekejap. Gimana nggak cepet ludes kalau pas duren lagi dibelah aja tangan-tangan udah pada siap nyomot? Hihihi.  Seru! Ini benar-benar pesta duren yang menyenangkan. Apalagi Mba Yuna malah ngomporin buat ngebelah lagi dan lagi. Ternyata, beliau inilah yang justru makannya paling banyak. #Ups ... Ampun mbaaak. Hihihi. Dan ternyata sodara-sodara, sampai pesta berakhir, jumlah duren yang dibelah terhitung hanya sepuluh biji saja, padahal perasaan nyomot lagi dan lagi. Etapi, 10 biji itu banyak kan? Daan ... untuk duren sebanyak itu cuma perlu bayar 50ribu doang! Hiyaaaa .... murah amaaat? *ngamuk-ngamuk lagi sama tukang duren di Tasik*

jadi inget omongan mas Liem saat ditanya; “Buah apa yang akan dibawa kalau masuk surga?” Dia langsung jawab dengan semangat tinggi; “DUREN!” xixixi.

Lanjut ke petualangan kita di hari ke 2.

Setengah delapan pagi kita semua sudah terlihat kiyut dan cakep. Apalagi hari ini kita semua mengenakan seragam yang sama; kaos putih dari Tango. Yang spesial, kaos itu ternyata official tshirt-nya Indonesian Idol 2014 (Tango adalah salah satu sponsor utama event ini). Watchout girls, I’m the Next Indonesian Idol! Hiyaaa ... berasa jadi Delon deh make kaos itu. #Plaakk! *Nggak nyadar diri emang*

Tujuan pertama kita adalah Poskesdes Dusun VI, Banoa Gea, kecamatan Tuhemberua Nias Utara. Ini adalah Puskesmas Pembantu yang sudah direnovasi oleh Tango melalui OBI, dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana tambahan yang dibutuhkan. Lokasinya cukup jauh dan harus turun-naik gunung selama kurang lebih 2 jam berkendara (dari hotel). Dari awal tim Tango sudah menyampaikan bahwa kemungkinan kita harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai lokasi ini. Sarana jalan yang belum bagus dan berbatu-batu tidak memungkinkan kendaraan untuk masuk. Ternyata, pada saat kita ke sana, jalanan sudah cukup mulus dan beraspal sehingga memungkinkan kendaraan untuk terus melaju. Kabarnya baru selesai diaspal beberapa bulan terakhir. Jalanan mulus itu ternyata mentok di dekat lokasi Poskesdes dusun VI. Sebenarnya saya sedikit kecewa karena tidak jadi tracking sambil menikmati suasana dusun ini. Tapi, sarana jalan ini tentu sangat dibutuhkan masyarakat setempat, jadi harus disyukuri karena pembangunan sarana transportasi jalan sudah mencapai dusun terpencil ini. Mudah-mudahan akan semakin memudahkan mobilitas warga masyarakat ke depannya. Aamiin.

Tim Tango berada di Poskesdes dusun VI desa Banua Gea

Dulu, bangunan Poskesdes tidak seperti ini. Menurut penuturan mas Joni dari OBI, dulu Poskesdes ini kondisinya mengkhawatirkan. Bangunannya kecil, tidak terawat, dan bahkan hampir ambruk. Karena tidak memiliki pintu, orang bisa keluar masuk setiap saat. Bahkan setiap malam menjadi lokasi berteduh anjing yang berkeliaran. Karena itulah kebersihannya tidak terjaga, padahal semestinya pos kesehatan adalah tempat yang bersih dan sehat. Demikian pula dengan tidak adanya tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin menjadi salah satu kendala bagi kesehatan warga dusun ini. Poskesdes jadi sebuah simbol kesehatan belaka yang justru terabaikan dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin bisa dimengerti karena lokasi ini awalnya begitu jauh dan sulit terjangkau sehingga tenaga medis sulit untuk melakukan kunjungan secara rutin.

Tango dan OBI mendobrak paradigma ini (eciee bahasanya). Dengan program Tango Peduli Gizi (TPG) dan Balai Pemulihan Gizi (BPG), Poskesdes ini dikembalikan pada fungsi yang seharusnya. Renovasi dan perbaikan sarana-prasarana yang ada dilakukan sehingga peranan Poskesdes bagi masyarakat benar-benar dapat dijalankan. Bangunan Poskesdes sudah jauh lebih besar dengan beberapa ruangan pemeriksaan, perawatan, toilet, dan gudang. Mengingat tidak adanya sumber air, sebuah bak penampungan air hujan yang cukup besar pun dibangun di belakang Poskesdes. Sebuah pintu teralis besi dipasang sehingga tidak sembarang orang dapat memasuki ruangan pada saat Poskesdes tidak dibuka.

Program Imunisasi
Keberadaan Poskesdes dilengkapi dengan penyediaan tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin. Melalui pembekalan dan pembinaan, warga dusun tidak ragu lagi untuk mendatangi Poskesdes saat jadwal kunjungan medis dilaksanakan.  Saat kami berkunjung sedang dilaksanakan jadwal imunisasi. Beberapa ibu datang menggendong bayi-bayi mereka. Ruangan Poskesdes terlihat ramai. Ibu-ibu muda menunggu dengan tertib giliran bayi mereka untuk diperiksa dan imunisasi.

Rasa haru langsung terasa, mengingat dulu kesadaran atas kesehatan anak-anak mereka begitu kurang. Kesehatan seolah menjadi prioritas urutan kesekian untuk diperhatikan. Sekarang kami dapat melihat bayi-bayi yang cukup sehat karena edukasi tentang pentingnya ASI pun terus digencarkan oleh tim medis OBI. Meskipun demikian, hari itu kami masih melihat adanya bayi yang masih kekurangan gizi. Seorang bayi berusia 7 bulan hanya memiliki berat 3kg saja. Trenyuh dan bikin dada saya sesak. Untungnya, keadaan seperti itu menjadi perhatian penuh dari tim OBI untuk menjadikannya target pemulihan gizi.

Terima kasih buat Tenaga Medis yang rajin mengawal kesehatan warga
Sekitar satu jam kami berada di Poskesdes ini, ikut menyaksikan antusiasme warga dusun VI Banua Gea memeriksakan kesehatan putra-putrinya. Satu yang membuat saya miris adalah belum adanya kesadaran warga terhadap program Keluarga Berencana. Dengan usia yang masih begitu muda (usia 20-30an), rata-rata seorang ibu memiliki 4 sampai 6 orang anak. Dengan rentang usia anak yang tidak berjauhan. Tidak heran kalau Mba @JustSilly begitu gencarnya menasihati para ibu untuk peduli pada kesehatan mereka.

“Ibu-Ibu itu bukan pabrik anak. Lihat, Ibu-Ibu badannya kurus karena terlalu cape melahirkan anak dan mengurus mereka. Ibu-ibu harus terlihat cantik, sehat, dan kuat agar dapat merawat anaknya dengan baik,” celoteh Mba Silly tanpa henti. Dengan gayanya yang riang, Mba Silly bergerak dari satu ke ibu yang lain, memberikan penekanan bahwa ‘banyak anak banyak rezeki’ itu sudah tidak tepat lagi. Beliau mengingatkan bahwa program Keluarga Berencana atau penundaan kehamilan dan memberikan jarak kehamilan itu adalah sebuah program yang baik dan sudah seharusnya diikuti. Semoga saja nasihat itu melekat erat di benak mereka, termasuk para Bapak yang saat itu ikut berkumpul di depan Poskesdes.

Ayo Bapak-Bapak, jangan mau enaknya sendiri juga ya? Bikin anak itu gampang, tapi ngurusnya itu yang susah! Hehehe.

Rombongan Tango #NiasHandinHand melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kita bergerak ke dusun lain dari desa Banua Gea. Dan ini akan menjadi acara besar karena warga tiga dusun (dusun 1-3) dikumpulkan menjadi satu di rumah Kepala Desa Banua Gea, Bapak Sodania Gea. Tim Tango sudah menyusun acara ‘Kamis Ceria Bersama Tango dan OBI”. Kali ini perbekalan yang dibawa cukup lengkap, yaitu ratusan paket yang berisi mainan, buku bacaan, dan baju bekas layak pakai. Selain itu masih ada ratusan dus  Wafer Tango yang siap dibagikan.  Bakalan seru nih!

Oya, sebelumnya Tango lewat program #HandinHand sudah mengajak seluruh masyarakat di Indonesia untuk berbagi bagi anak-anak Nias lewat program pengumpulan buku bacaan, mainan, dan juga pakaian bekas layak pakai. Ternyata yang terkumpul sangat banyak. Dan salah satu tujuan kita ke Nias itu adalah untuk menyerahkan langsung kiriman buku, mainan, dan pakaian dari para donatur di seluruh tanah air. Terima kasih banyak buat semuanya yang sudah berpartisipasi dan seluruh barang yang terkumpul sudah diserahkan semuanya kepada anak-anak Nias.


Begitu sampai, ternyata sudah banyak anak-anak dan warga yang menanti. Waah ... terharu banget. Mereka pasti sudah menunggu sejak pagi. Tanpa kesulitan mereka diminta masuk dengan tertib, lalu duduk lesehan di lantai tembok. Sebagian ibu yang membawa bayi duduk di kursi-kursi platik sekeliling ruangan. Wajah mereka penuh harap, menunggu apa yang akan kita suguhkan bagi mereka. Saya pun celingukan, kita mau ngapain dulu nih sekarang? Di susunan acara ada acara nyanyi bersama dan juga bermain games, tapi siapa yang akan memandu?

Ternyata Mba Fatsy, istri mas Bigke dari OBI, langsung menghandle acara. Bersama OBI, beliau sudah mengabdi cukup lama bagi masyarakat Nias, sehingga tidak heran sudah cukup mengenal kaum ibu dan kondisi di sana. Daan ... keramaian pun segera dimulai.  Acara bernyanyi, bergoyang, sampai mengajari anak-anak berjoged pun silih berganti. Senang rasanya melihat senyum dan tawa mereka terdengar lepas memenuhi ruangan. Ada yang malu-malu, namun banyak pula yang tampak semangat penuh rona gembira. Justru itu yang kita inginkan, ini saatnya kita bergembira semua. Hilangkan rasa takut dan malu, mari kita bernyanyi dan berjoged bersama.

Siapa yang rajin sekolah? dan tangan-tangan mungil pun teracung.

Saat bernyanyi dan berjoged usai, Tim Tango meminta saya untuk bercerita. Saya langsung mengangguk. Dari awal saya sudah bersedia melakukan apa pun yang sekiranya saya bisa. Mendongeng bukan keahlian terbaik saya, dan saya belum pernah melakukannya di depan umum sebelumnya. Biasanya, saya hanya mendongeng untuk anak-anak saya sebelum tidur. Tetapi, mari kita lakukan sekarang! Selalu ada yang pertama kali, dan saya tidak ingin melepaskan kesempatan berbagi kali ini. Momen seperti ini mungkin akan sulit untuk terulang lagi. Bercerita di depan anak-anak Nias, kapan lagi kesempatan seperti itu akan terulang?

Saya pun bergegas mengeluarkan buku saya. Picture book serial Sepatu Dahlan saya pikir sangat cocok untuk diceritakan kembali pada anak-anak Nias. Kisah Dahlan Iskan sewaktu kecil adalah kisah yang sangat inspiratif. Kesulitan dan kemiskinan Dahlan Iskan tidak menghentikan mimpinya untuk menjadi orang besar, selama ada niat dan kemauan yang kuat. Berusaha, belajar, dan berdoa, adalah tiga faktor utama untuk menggapai cita-cita. Dan kepada anak-anak Nias saya menyampaikan tentang itu. Lewat buku ‘Sepatu Idaman’, saya menggiring anak-anak (dan seluruh ibu yang datang) untuk tidak selalu putus harapan. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan, tapi kita bisa mengubah sebuah keadaan.

Saya sedang bercerita
Saya tidak pernah seantusias itu saat berbicara di depan khalayak. Tetapi, melihat puluhan pasang mata menatap gerak dan gaya bercerita saya dengan serius, tekun mengikuti alur cerita yang dibacakan, bereaksi riuh saat saya melemparkan pertanyaan, tertawa lepas saat saya berusaha melepaskan candaan, membuat dada saya meletup-letup senang. Ada dorongan semangat yang membuat saya semakin berkobar. Saat itu saya merasa sangat dibutuhkan. Tidak pernah ada yang membacakan mereka sebuah cerita sebelumnya. Belum pernah ada yang mendongeng untuk mereka sebelumnya. Mereka benar-benar haus akan sebuah hiburan dan kegembiraan. Dan saya saangat bangga bisa berada di sana. Hiks ... asli, mata saya meleleh saat teringat momen-momen membagiakan itu. Mudah-mudahan saya diberikan kesempatan untuk kembali berbagi kebahagiaan di sana.

Ada yang asyik dengerin cerita, ada juga yang asyik makan Tango. hahaha
Yang membuat saya semakin bersemangat bukan karena melihat bagaimana anak-anak merasa terhibur, tetapi juga karena menyaksikan bagaimana Ibu-Ibu mereka tidak kalah semangatnya mengikuti cerita saya. Saat saya melontarkan pertanyaan pada anak-anak, yang paling cepat menjawab adalah ... emaknya! Hehehe

“Agar jadi anak pintar kita harus rajin belaaa ....” teriak saya.
“JAAARRR!” jawab ... EMAK-EMAKnya!

Hihihi. Sampai beberapa kali saya harus bilang; “Ibu-Ibunya diam dulu ya, biar anak-anaknya dulu yang menjawab.” Eh, tapi tetap saja, mereka lagi-lagi paling duluan menjawab. Kenapa begitu? Menurut Kakak-Kakak dari OBI, ketiadaan hiburan bagi mereka, membuat mereka tidak kalah antusiasnya dengan kedatangan kita, meskipun hiburan itu sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya.

Senangnya dapat buku. Dibaca yaaa ...
Melihat antusias para Ibu yang tidak kalah meriahnya dibanding anak-anak, akhirnya saya dan tim Tango menyiasati dengan mengadakan games-games hiburan khusus buat emak-emak. Setiap kali diberikan tantangan untuk menyanyi atau berjoged di depan, selalu saja ada peserta yang berebutan maju. Dan itu luar biasa menyenangkan. Setiap ide yang muncul selalu disambut dengan hingar bingar.

Di dalam ruangan semakin berjubel dengan masyarakat yang terus berdatangan. Di luar pun tidak kalah ramainya. Apalagi saat itu sudah bertepatan dengan bubaran anak-anak sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan. Tidak heran kalau suasana semakin ‘panas’ karena semuanya bergerak ke lokasi acara.

Di dalam dan di luar sama ramainya
Saya berangkat ke Nias dengan sebuah travel bag berisi puluhan buku dan beberapa boneka. Kesempatan itu saya pergunakan untuk membagi-bagikannya secara langsung, lewat kuis, games, tantangan maju ke depan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Tim Tango ternyata masih membawa buku dan mainan lebih, di luar dari paket-paket yang sudah disiapkan. Pada saat itulah semuanya ikut dibagikan. Ramai luar biasa! Semua rombongan turun tangan, membagikan ke seluruh area agar tidak ada yang tidak kebagian. Syukurlah buku-buku yang kita bawa sangat banyak, sehingga setiap anak (dan ibu) bahkan bisa mendapatkan lebih dari satu buku.

“Jangan lupa dibaca yaaa ....” saya berteriak sesekali. “Minta dibacakan sama Ibu, Bapak, atau sama Kakaknya. Kalian juga bisa saling meminjamkan dengan teman lain kalau sudah selesai membacanya.”

Ya, saling berbagi bacaan tentu akan lebih menyenangkan. Dengan begitu, mereka bisa membaca lebih banyak cerita, menemukan lebih banyak pengetahuan, dan tentu saja lebih banyak kegembiraan.

Siang itu acara ‘Kamis Ceria bersama Tango dan OBI’ ditutup dengan acara makan siang bersama. Oya, selama kita bermain bersama tadi, ada sebagian Ibu-Ibu warga yang sibuk di dapur. Mereka memasak untuk sajian santap siang kita kali ini. Ingin tahu menunya? Mereka menangkap ikan lele dari kolam mereka, memetik sayuran dari kebun mereka, dan memotong ayam peliharan mereka. Setelah dimasak, disajikan untuk dimakan ramai-ramai. Sedaaaap. Apalagi lelenya yang dibumbu acar kuning, duileee ... sedep beneeer. Tim Tango sampai nggak malu-malu buat ngambil lagi dan lagi. Hahaha. Makasih banyak ya Ibu-Ibu atas makan siangnya.

Penyerahan Produk Tango untuk keluarga PMT
Sebelum melanjutkan ke agenda lain, Tango membagikan produk Tango kepada keluarga PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Sementara untuk parsel/paket buku, mainan, dan pakaian, diserahkan secara simbolis kepada Kepala Desa. Jumlah anak yang datang banyak sekali, sementara paket itu hanya diperuntukan bagi anak-anak keluarga PMT saja. Agar tidak timbul kekecewaan pada anak-anak yang tidak kebagian (kebanyakan karena berasal dari keluarga cukup mampu, atau keluarga yang memang tidak ingin bergabung dengan program Tango meski sudah ditawarkan), paket-paket itu akan didistribusikan belakangan.

Terima kasih Tango! ^_^
Fyuuuh ... kegiatan yang sungguh luar biasa. Berbagi itu memang indah, kebersamaan itu memang menyenangkan. Mari bersama kita membentuk satu senyuman.

Biar postingannya tidak kepanjangan, bersambung lagi ke bagian 3 ^_^

Spesial terima kasih untuk Wylvera Windayana, Dyah Rini, Haya Aliza Zaki, Fitria Chakrawati, Nunik Utami, atas sumbangan buku-buku dan bonekanya. Sudah saya distribusikan langsung pada anak-anak Nias ya.  :)

Selasa, 05 November 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day1

jual bantal foto
Selasa (29/10) pukul 9 malam, saya bergegas ke terminal bus Tasikmalaya. Pundak saya menggendong ransel, sementara tangan saya menenteng sebuah travel bag besar yang dijejali tidak kurang dari enam puluhan judul buku dan beberapa buah boneka. Tidak biasanya saya pergi ke luar kota dengan tentengan ‘berat’ semacam itu. Kali ini lain, besoknya saya akan terbang ke Nias, bergabung dengan tim Tango #HandinHand untuk berbagi dengan anak-anak Nias. Buku dan boneka-boneka itu adalah ‘kado’ saya dan teman-teman untuk mereka. Karena itu, seberat apapun, saya tetap akan membawanya.


Ya, saya sangat beruntung berhasil menjadi salah seorang pemenang dalam lomba sharing competition yang diselenggarakan oleh WaferTango. Sebagai hadiahnya, saya bersama dua orang pemenang lainnya akan diterbangkan menuju Nias, sebuah pulau nan indah di ujung utara pulau Sumatera. Bukan untuk rekreasi biasa, tapi untuk melaksanakan sebuah misi berbagi untuk kemanusiaan. Dan target kita adalah Anak-anak Nias yang membutuhkan.

Tasikmalaya – Jakarta bukanlah sebuah perjalanan singkat. Meski flight keberangkatan saya pada pukul 8 pagi, tapi 11 jam sebelumnya saya sudah meluncur menuju Jakarta. Saya tidak mau ambil resiko ada kendala yang menghambat perjalanan saya menuju bandara. Agenda #NiasTrip ini benar-benar sudah bergelung di dalam kepala sejak pengumuman pemenang lomba. Rasanya tidak sabar untuk segera terbang menuju Nias, bertemu dengan anak-anak Nias, dan ikut serta dalam program Tango berbagi. Apalagi Nias akan menjadi bagian Indonesia paling jauh yang akan saya kunjungi. Karena itulah antusiasme saya begitu meluap-luap.

Pukul 3.30 dini hari, saya sudah tiba di Terminal Kampung Rambutan. Fyuuuh ... syukurlah. Jalanan malam itu sangat lancar. Tanpa menunda waktu, saya langsung melompat ke dalam bus bandara (DAMRI). Akan lebih nyaman kalau saya menunggu di bandara ketimbang nanti terbirit-birit mengejar waktu. Benar saja, pukul 4.30 saya sudah tiba di Soekarno Hatta. Masih cukup banyak waktu untuk istirahat dan meluruskan punggung setelah beberapa jam sebelumnya harus terpenjara dalam kursi bus. Sambil menunggu meeting time dengan rombongan lain pada pukul 6, saya menyempatkan diri untuk cuci muka, gosok gigi, ganti baju, lalu salat Subuh di mushola luar Terminal 1B. Segaaaar. Eh, nggak mandi? #pssssttt.

Mulai pukul 6, satu per satu rombongan bermunculan. Mba Fani (Brand Manager Tango), Mba Yuna Kristina (PR Manager Tango), Mas Liem (Sosmed Tango), Mas Anto (OBI), Mba @JustSilly, Adisty (@mommiesdaily), Dwiyani Arta dan Ruth Wijaya (dua pemenang lomba). Oya, ada dua lagi peserta rombongan dari media, yaitu mas Iwan (Suara Pembaharuan), dan mas Dede (Okezone). Lengkap. Let’s go!
Terbang bersama Lion Air sampai ke Kualanamu Airport

Lion Air (seperti biasa) delay sekitar 30 menitan. Karena itulah, setibanya di bandara Kualanamu Medan, kita malah ketinggalan connecting flight ke bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias! Hiyaaaa .... seharusnya kita terbang ke Nias pukul 11.30, akhirnya harus nunggu pesawatnya balik lagi dari sana. Tapi gara-gara delay, saya akhirnya bisa menikmati suasana bandara Kualanamu dulu. Kapan lagi kan bisa nginjek kaki di Medan? Berhubung bandara ini baru (sebelumnya di Polonia), tentu saja kondisinya masih serba fresh dan megah. Tapi karena masih baru itu pula, pembangunannya ternyata belum selesai semua. Bagian di depan gate 9-12 masih terlihat berantakan karena sedang dibenahi.

Sekitar pukul 14 lewat sekian, Wings Air yang akan membawa kita ke Nias tiba. Yihaaa ... mari kita kemon! Jujur aja, ini adalah kali pertama saya naik pesawat yang berbaling-baling. Ada perasaan deg-degan juga (sekaligus excited), mengingat pesawat ini jauh lebih kecil dibanding pesawat yang pernah saya naiki sebelumnya. Kapasitas Wings Air ini adalah 72 penumpang. Karena kecil, pramugarinya pun cukup 2 orang saja. Yang unik, tempat bagasi ada di bagian depan (belakang kokpit), dan semua penumpang naik dari pintu ekor. Seru! Ini adalah sebuah pengalaman baru.

Pengalaman pertama naik pesawat berbaling-baling
Perjalanan dari Kualanamu menuju bandara Binaka hanya 50 menit saja. Jelas sangat menghemat waktu cukup banyak, karena ... kalau kita lewat darat dilanjutkan naik kapal laut, jarak tempuh menuju Nias dari Medan bisa memakan waktu 22 jam! *gubrags*

Cuaca cerah. Penerbangan tidak seperti yang saya takutkan sebelumnya. Naik pesawat berbaling-baling ternyata sama saja. Apalagi karena kecapean dan kurang tidur malam sebelumnya di bus, saya bisa pulas sepanjang penerbangan singkat ini. Hehehe. Dan 50 menit kemudian tibalah kita di bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias. Ya’ahowu!
Ya'ahowu! Welcome to Nias

Plong rasanya. Perjalanan panjang saya dari rumah akhirnya tiba dengan selamat sampai di Nias. Kita dijemput oleh tim OBI (Yayasan Obor Berkat Indonesia) yang dipimpin oleh mas Bigke dengan 3 kendaraan. Langsung meluncur menuju Posko OBI di Jl. Dipenogoro Km. 6 Fodo, Gunung Sitoli, Nias. Karena tahu semua rombongan kelaparan, akhirnya kita makan siang bareng dulu. Horeee .... #eh *jitak. Malu-maluin!*. Setelah itu, baru deh Mba Yuna memberikan briefing singkat mengenai program kegiatan #HandinHand ini dan itinerary kita selama 3 hari ke depan.

Wafer Tango dan Yayasan OBI sudah bekerja sama sejak tahun 2010 untuk program sosial di Nias melalui kegiatan Tango Peduli Gizi. Kegiatan pada tahun 2010 terdiri dari dua aktivitas besar yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan gizi seimbang kepada 526 anak umur 6 bulan hingga 12 tahun, serta Balai Pemulihan Gizi (BPG) berupa perawatan intensif terhadap 72 anak dengan gizi buruk.

Briefing singkat ttg Tango Peduli Gizi

Sementara untuk tahun 2011-2012, Tango Peduli Gizi dititikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan masyarakat Nias. Hal ini dilakukan agar keluarga Nias dapat mempertahankan kondisi kesehatan dan status gizi anak yang telah pulih setelah mengikuti program TPG 2010. Salah satu bentuk program pemberdayaan ekonomi ini adalah dengan memberikan bantuan dan bimbingan budi daya lele, ayam, babi serta penanaman sayuran di lahan sekitar rumah. Selain hasilnya dapat diperjualbelikan dan meningkatkan pendapatan keluarga, juga dapat dinikmati untuk perbaikan gizi keluarga.

Mayoritas keluarga peserta PMT ini tidak memiliki pekerjaan yang memadai untuk menyokong perekonomian keluarga. Mereka bekerja sebagai buruh penyadap karet atau dari hasil panen kakao yang tidak banyak (hanya mengandalkan satu-dua buah pohon kakao yang tumbuh begitu saja di lahan mereka). Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti budi daya lele, ayam, babi, dan sayuran ini diharapkan dapat berjalan dengan baik. Mereka tidak bisa menggantungkan hidup dari bantuan sosial terus menerus. Dan itulah yang diharapkan oleh Tango, masyarakat Nias bisa hidup lebih mandiri.

Bantuan-bantuan yang dikelola oleh OBI

Program ini dinilai cukup berhasil karena melalui program ini, setiap keluarga mendapatkan penghasilan tambahan rata-rata 1,2juta rupiah setiap bulannya. Tentu ini menjadi peningkatan penghasilan yang cukup signifikan bagi peserta PMT. Selain itu, dengan bimbingan edukasi rutin dan pengawasan ketat, pola hidup keluarga pun jauh lebih bersih dan sehat. Anak-anak pun mengalami kenaikan berat badan sekitar 3kg setiap bulannya.

Tahun 2013 program Tango bergerak ke arah yang lebih luas, yaitu mengadopsi sebuah desa di Nias, yaitu desa Banua Gea. Desa ini terdiri dari 6 dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.938 jiwa dari 647 kepala keluarga. Pemilihan Banua Gea sebagai desa adopsi tentu bukan karena alasan. Sodania Gea, kepala desa Banua  Gea menyampaikan, "Minimnya penghasilan rata- rata keluarga serta keterbatasan waktu dan pengetahuan ibu, kebutuhan gizi anak tentu tak tercukupi. Belum lagi kondisi sarana kesehatan yang jauh dan minim fasilitas menambah jumlah kasus malnutrisi di desa ini," paparnya.

Budi daya lele dan bertanam sayuran di lahan sekitar rumah

Menurut Yuna Kristina selaku PR Manager Tango, Program Adopsi Desa 2013 ini dirancang untuk menyentuh multidimensi agar hasilnya lebih maksimal. Diharapkan melalui program ini anak- anak desa Banua Gea dapat meningkat status gizinya dan selanjutnya masyarakat di sana memiliki kesadaran tinggi dan mandiri akan kecukupan gizi generasi mendatang.

Program adopsi desa ini terdiri dari beberapa sub program, yaitu :
  1. Home Visit, yaitu pemulihan anak gizi buruk dengan metode mendatangi rumah secara berkala untuk pemulihan gizi serta penyembuhan penyakit penyerta;
  2. Renovasi Rumah Sehat Tango, yaitu renovasi rumah dengan titik berat pengadaan sanitasi dan ventilasi untuk kesehatan yang lebih baik;
  3. Pemberian Makanan Tambahan untuk anak berstatus gizi kurang selama 3 bulan;
  4. Pendampingan, penyuluhan gizi serta pola hidup sehat untuk ibu dan anak.
  5. Pemberdayaan Masyarakat yaitu menyediakan lahan serta pendampingan penyuluhan teknologi tepat guna bahan makanan seperti ternak dan sayuran. Hasil pemberdayaan ini digunakan sebagai pendukung pemberian makanan bergizi untuk anak- anak desa Banua Gea;
  6. Renovasi serta pemberian alat kesehatan bagi Pusat Pembantu Kesehatan Masyarakat (Pustu), termasuk dalam program ini adalah pendampingan, penyuluhan serta pemberian motivasi bagi tenaga kesehatan di daerah tersebut.


Lalu, siapakah OBI ini? OBI adalah Yayasan Obor Berkat Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan. Selama ini Tim OBI lah yang melaksanakan langsung program Tango di lapangan, termasuk sebagai partner dalam pengevaluasian program yang berjalan dan penyusunan program selanjutnya. Melihat langsung apa yang sudah dihasilkan, Tango dan OBI adalah partner yang sangat hebat!

Waktu terus berjalan. Karena jadwal yang sudah mulur akibat keterlambatan penerbangan, kita segera bersiap untuk menuju destinasi yang pertama, yaitu kunjungan ke rumah Brian Harefa. Tidak ada waktu untuk leyeh-leyeh dulu karena kita ke Nias bukan untuk berlibur. Jadwal sudah disusun, dan kita ingin semuanya berjalan seperti apa yang direncanakan. Apalagi semangat seluruh rombongan tampak sangat menggebu.

Siapakah Brian Harefa ini? Dia adalah salah seorang anak yang terkena gizi buruk pada tahun 2010. Berkat penanganan intensif dari tim TPG, akhirnya Brian (dan juga puluhan anak bergizi buruk lainnya) dapat terselamatkan.  Perjalanan dari posko OBI menuju rumah Brian Harefa ditempuh selama 45 menit. Saya mengenal Brian dari foto-foto dan videonya yang menggenaskan di youtube. Ada haru yang seketika meleleh saat diberi kesempatan bertemu saat itu. lihatlah anak itu sekarang!



Bertemu Brian Harefa yang sudah sehat!


Rumah Brian Harefa tiba-tiba saja menjadi ramai. Bukan saja oleh rombongan Tango yang baru datang, tapi juga oleh kunjungan anak-anak di daerah tersebut. Mendapat kunjungan tamu dari luar (apalagi berkendaraan lengkap) adalah sesuatu yang langka, sehingga kehadiran kami pun menjadi pusat perhatian tersendiri. Apalagi kemudian Tim Tango membuat ‘keributan’ dadakan. Acara bernyanyi bersama, bagi-bagi hadiah, menyedot kedatangan masyarakat semakin banyak. Untungnya kami membawa cukup banyak mainan, sehingga setiap anak mendapatkan kebahagiaan yang sama. A simple way to make them smile.

Keramaian dadakan di rumah Brian Harefa

Sayangnya waktu harus terus berjalan. Sekitar 30 menit di rumah Brian, kami harus melanjutkan perjalanan menuju kediaman Krisman Waruwu, sekitar 45 menit dari rumah Brian. Krisman Waruwu adalah penderita gizi buruk lainnya, dan sempat terkena penyakit Tuberkulosis sehingga pertumbuhan tubuhnya agak terlambat. Berkat perawatan intensif dari TPG, Krisman sekarang sudah sembuh total dan sudah bersekolah di kelas 2 SD.

Yang membuat saya semakin haru, keluarga Krisman Wawuru sangat terbuka terhadap pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Dulu mereka tinggal di sebuah rumah kayu kecil. Sekarang mereka memiliki warung yang cukup lengkap dan rumah permanen (bertembok) yang lebih luas dan nyaman. Perubahan itu memang terbuka luas bagi mereka yang memiliki niat yang sangat kuat. Mereka salah satu buktinya.

Krisman Wawuru (baju kuning) bersama Bu Fani (Brand Manager Tango)

Saya memang tidak mengikuti kisah Brian, Krisman, dan anak-anak Nias yang tidak beruntung lainnya dari awal. Tetapi, hari itu saya melihat ada warna baru dalam rona wajah mereka, raut kebahagiaan dan optimisme menyongsong hari esok. Dan sudah seharusnyalah seperti itu. Anak-anak tidak semestinya mengisi hari dengan kesedihan dan tangisan, tapi dengan senyum dan keceriaan. Tidak berlebihan kalau saya mengucapkan terima kasih banyak untuk Tango (dan OBI) karena sudah mengembalikan senyum mereka, saudara-saudara kecil kita di Nias.

Seperti kata Tetsuya Kuronayagi; “Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.”

Matahari di Nias sudah semakin turun. Saatnya kami pulang dan beristirahat di hotel Soliga. Esok hari ada kegiatan lebih besar dan seru yang harus kami laksanakan. Tunggu ceritanya besok!

Bersambung ke hari #2

Minggu, 18 Agustus 2013

[Review] Sun In Pangandaran Hotel

jual bantal foto
Pantai Pangandaran (Foto by @iwokabqary)
Ini kali kedua saya menginap di Sun In Pangandaran (SIP) Hotel. Tentu ada alasan tersendiri mengapa saya harus kembali menginap di hotel ini. Untuk itulah saya menuliskan review ini, sekadar berbagi karena siapa tahu ada yang membutuhkan alternatif akomodasi hotel apabila ingin berlibur ke Pangandaran.

Berbeda dengan kunjungan pertama pada bulan Pebruari 2013 di mana saya langsung go show tanpa reservasi terlebih dahulu, kunjungan kedua kali ini saya tidak mau ambil resiko. Pertimbangan pertama, karena kemarin ini masih dalam suasana libur lebaran dan akhir dari liburan anak sekolah. Pangandaran pasti ramai, sehingga saya bisa saja kalah cepat kalau tidak reservasi duluan. Pertimbangan kedua, kali ini saya bawa rombongan lebih banyak. Repot kalau pas tiba di Pangandaran tiba-tiba hotel penuh di sana-sini. Karena itu, beberapa hari sebelumnya, saya sudah reservasi dan melakukan pembayaran di muka untuk 3 kamar deluxe sea view! Yippiiie ....


Lokasi
Jujur saja, saya suka dengan lokasi SIP Hotel ini. Lokasinya berada tepat di jantung area wisata Pangandaran. Mau ke mana saja dekat, tidak perlu pusing. Ke Cagar Alam tinggal berjalan sekitar 100 meter. Mau makan seafood? Tinggal jalan 50 meter ke Pasar Ikan, atau bahkan bisa menemukan rumah makan seafood di depan hotel! Mau belanja pakaian? Itu apalagi, tinggal  engklek ke kiri, kanan, dan depan hotel. Toko pakaian dan cenderamata berderet-deret untuk dipilih.

Foto milik www.hotelsip.com
Pangandaran adalah lokasi wisata pantai yang unik, karena memiliki pantai dua muka; Barat dan Timur. Pantai timur hanya digunakan untuk dermaga nelayan dan wisata air (Jet Ski, Banana Boat, Paralayang, dll) karena pantainya yang dalam dan tidak landai, sementara Pantai Barat digunakan untuk area berenang. Karena memiliki dua arah ini, wisatawan yang ingin mengejar sunrise, bisa nongkrong di Pantai Timur pagi-pagi. Sedangkan kalau ingin menangkap sunset, bisa siap-siap di Pantai Barat menjelang sore. Unik, bukan? Di satu lokasi kita bisa menyaksikan dua fenomena pergantian hari sekaligus. Tidak banyak area pantai yang bisa menyajikan seperti ini.

Meski SIP hotel berada tepat di bibir Pantai Timur, jangan pernah berpikir kita harus berjalan jauh kalau ingin berenang di Pantai (Barat). Keluar dari pintu lobby, kita hanya perlu berjalan sekitar 50 meter saja untuk mencapai Pantai Barat! Ini dikarenakan SIP Hotel berada di bottle neck area wisata Pangandaran (lihat peta). Tidak salah kalau saya bilang ini lokasi yang sangat strategis, kan?

Kamar
Saya beruntung karena pada saat reservasi masih mendapatkan kamar dengan pemandangan langsung ke laut (sea view)! Tiga kamar yang saya pesan sama-sama menghadap laut dan berdampingan satu sama lain, sehingga tidak sulit kalau anak-anak mau ngumpul dan main bareng di salah satu kamar. Pada kunjungan pertama sebelumnya, saya hanya kebagian kamar dengan pool view. Tidak masalah sebenarnya, karena pemandangan ke kolam renang pun sama asyiknya. Hanya saja, kalau bisa memandang ke laut lepas setiap saat dari balkon kamar, bukankah itu lebih asyik? Liburan ke pantai memang untuk melihat laut, kan? Hehehe.

Deluxe Sea View (foto milik www.hotelsip.com)
Salah satu keuntungan mendapatkan kamar sea view memang memiliki balkon sendiri. Tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk sebuah kursi kayu panjang buat duduk-duduk menikmati pemandangan. Saya mendapatkan kamar di lantai 3, sehingga pemandangannya jauh lebih lepas ke tengah laut. Dari balkon inilah saya bisa mengintip sunrise menjelang pagi, atau menyaksikan wisatawan yang tengah menjerit-jerit senang di atas permainan air Banana Boat, Butterfly, dan yang lainnya. Pastinya ini menjadi nilai lebih liburan saya kali ini.

Ada beberapa macam jenis kamar yang ditawarkan SIP Hotel. Selain dua kali menempati type deluxe (pool view dan sea view), saya belum mencoba type kamar lainnya. Tapi yang saya tahu, SIP Hotel menyediakan type kamar Standar, Deluxe, Superior, dan juga Family. Yang memiliki sea view hanya kamar deluxe dan dua buah kamar superior.

Dijepret dari balkon kamar lantai 3
Meskipun tidak terlalu luas, penataan kamarnya cukup apik. Lemari pakaian yang menyatu dengan meja TV, TV 21” Flat, AC yang berfungsi dengan baik, serta sebuah kasur Queen Size (atau dua buah kasur ukuran single) menjadi fasilitas yang ada di dalam kamar. Sebagai komplimentari harian terdapat juga dua botol air mineral, kopi, teh, gula, kreamer, lengkap dengan ketel pemanas airnya. Minum kopi malam-malam sambil menikmati pemandangan di luar pasti lebih mantap.

Kamar mandinya juga cukup terawat dan bersih. Kloset duduk, wastafel, handuk bersih, plus shower dengan air dingin dan panas. Toiletriesnya juga lengkap, mulai dari sabun, sampo, dental kit, beserta shower cap. SIP Hotel bukan hotel berbintang, tapi kelengkapan kamarnya harus diacungi jempol. Seluruh kebutuhan tamu sudah dipersiapkan dengan baik. Menginap di sini tidak perlu repot-repot bawa handuk atau perlengkapan mandi!

Kolam Renang
Ya, salah satu kelebihan lain yang dimiliki hotel ini adalah kolam renang cantik yang berada di bagian tengah. Meskipun bukan kolam yang luas dan lebar, tapi kolam renang ini cukup melengkapi kebutuhan wisatawan, apalagi mereka yang membawa anak kecil seperti saya. Kadang kala anak-anak tidak peduli cuaca di luar yang masih sangat panas untuk berenang di pantai. Begitu tiba di lokasi saja mereka sudah menagih untuk segera berenang di pantai. Sebagai pengalih perhatian, saya mengajak anak-anak saya berenang di dalam hotel, sambil menunggu cuaca lebih bersahabat. Dan itu cukup manjur, karena anak-anak akan selalu setuju. Yang penting berenang! Hehehe.

Foto by @iwokabqary
Meskipun kecil, tapi kolam renang ini dilengkapi juga kursi-kursi santai di setiap pinggirannya. Disediakan untuk orang dewasa yang menunggui anak-anaknya yang tengah berenang. Kolam ini cukup ramah untuk anak-anak dan orang dewasa yang tidak mahir berenang, karena bagian terdalam hanya 1,5 meter saja. Tetapi untuk anak kecil tentu saja harus tetap dalam pengawasan, karena siapa tahu mereka terpeleset ke kolam yang dalam.

Ngumpul-ngumpul di pinggir kolam (foto by @iwokabqary)
Menariknya, di bagian lain kolam renang terdapat meja-meja yang bisa digunakan untuk nongkrong dan ngobrol-ngobrol. Suasana pada malam hari jauh lebih asyik. Sehabis penat jalan-jalan tetapi belum ingin masuk kamar untuk beristirahat, tempat ini bisa jadi lokasi yang asyik buat kumpul bareng keluarga. Bisa sambil ngopi-ngopi dan makan camilan juga. Kopi dan camilannya bisa dipesan di SIP Canteen, atau bisa juga bawa sendiri. Ngobrol deh sampai malam. Daripada nongkrong di luar yang berangin kencang atau berdebu, lebih nyaman ngobrol di tempat ini.

Sarapan!
Liburan di pantai sama dengan aktivitas sepanjang hari, bahkan sejak matahari terbit aktivitas itu sudah mulai berjalan. Tidak ada waktu untuk mengurung diri terus di kamar. Butuh energi dan asupan gizi yang cukup agar aktivitas seharian menjadi lebih nyaman. Masuk angin karena perut kosong adalah hal yang sering kali terjadi. Terkadang, saking semangatnya untuk mulai aktivitas liburan di pagi hari, kita sering melupakan sarapan yang sering dianggap sepele ini. Apalagi tidak banyak hotel non bintang yang menyediakan sarapan penuh gizi dan mengenyangkan. Yang sering tercetus adalah; “ah, paling dikasih sarapan nasi goreng doang!” Karena itu, alih-alih memanfaatkan voucher sarapan dari hotel, banyak wisatawan yang memilih untuk langsung kabur dari hotel pada pagi hari untuk langsung bermain air di tepi pantai.

Sarapan dengan pemandangan laut di belakang (@iwokabqary)
SIP Hotel menyediakan sarapan bagi seluruh tamunya. Dan yang menyenangkan, tidak hanya nasi goreng yang disajikan, tapi full set menu! Yay, saya seolah bukan sedang menginap di hotel non bintang saja! Banyak menu sarapan yang bisa dipilih sesuai selera. Mulai dari nasi goreng, bihun goreng, kentang goreng, sosis panggang, orak-arik telur, dan roti bakar dengan variasi selai (setidaknya itu yang saya temui saat menginap di sana). Untuk minumnya pun tidak hanya air mineral dan kopi atau teh saja, tapi juga dilengkapi dengan berbagai pilihan jus buah, seperti orange juice dan Pineapple juice. Nyam-nyam.

Nongkrong dulu setelah sarapan (@iwokabqary)
Yang tidak kalah asyiknya, lokasi sarapan terletak di roof top lantai 4. Dari sana, viewnya keren banget, karena bisa sambil menikmati pemandangan Pantai Timur, dan juga Pantai Barat di kejauhan. Benar-benar sangat membangkitkan semangat untuk memulai hari.

Service
Bagaimanapun, pelayanan akan selalu menjadi tolok ukur sebuah penilaian. Tidak peduli sebagus dan selengkap apa pun fasilitas sebuah hotel, kalau tidak dibarengi dengan pelayanan yang baik, akan meruntuhkan semua image baik yang ditawarkan. Untungnya saya menemukan keramahan dan pelayanan yang baik di SIP hotel. Karyawannya murah senyum, tak segan menyapa apabila tamu hotel terlihat butuh bantuan.

Hari Jumat (16/8/13), saya dan rombongan tiba kepagian. Pukul setengah sebelas sudah sampai di Pangandaran, padahal jawal check-in seharusnya pukul 15.00. Tetapi, kami ternyata diperbolehkan untuk early check-in karena dua buah kamar sudah siap (1kamar berikutnya bisa check-in setengah jam berikutnya), tanpa dikenakan biaya tambahan. Seringkali saya temukan petugas hotel yang ngotot dengan aturan dan hanya memperbolehkan tamu untuk check-in sesuai dengan aturan yang berlaku. Untungnya SIP Hotel memberikan toleransi yang sangat menyenangkan bagi tamu-tamunya.

Ngasuh anak-anak!
Ada hal-hal kecil yang kadang bisa memberikan poin penilaian berbalik menjadi apresiasi tinggi. Suatu sore kami baru pulang bermain di pantai. Tiba di lobby hotel, ternyata sudah disambut oleh sejumlah penganan ringan berupa goreng-gorengan dan ice lemon tea! Yaay ... SIP Hotel sepertinya sangat paham kalau selepas aktivitas berenang, perut akan terasa lapar dan kehausan. Menyantap gorengan dan segelas es lemon segar sambil meneruskan aktivitas berenang di kolam renang tentu sebuah kenikmatan yang luar biasa. Hal kecil yang memberikan efek cukup besar! Sungguh, hal-hal kecil diluar dugaan seperti itu menjadi apreasiasi yang menyenangkan. Salut lah buat manajemen SIP.

Mungkin ada yang bertanya, mahalkah nginap di SIP Hotel? Hmm .. kalau harga sebenarnya relatif ya. Yang satu bilang mahal, belum tentu mahal buat orang lain. Begitu pula dalam definisi murah. Hanya saja, terakhir kali saya menginap di sini, bertepatan dengan suasana libur lebaran dan libur akhir sekolah, untuk type deluxe sea view harus merogoh kocek Rp. 459.323,-. Untuk deluxe pool view lebih murah sekitar lima puluh ribuan. Yang jelas, kunjungan saya kemarin sepertinya itu bukan terakhir kalinya saya menginap di SIP hotel kalau saya ke Pangandaran lagi.

Pentingnya Reservasi
Sekarang saya semakin paham pentingnya reservasi apabila ingin menginap di sebuah hotel. Saya tidak perlu takut lagi kehabisan kamar di hotel idaman pada saat liburan. Bayangkan kalau sudah jauh-jauh berkendara, begitu sampai di lokasi ternyata hotel yang kita incar sudah penuh! Huhuhu ... bikin suasana liburan jadi bete kan? Belum lagi kita harus muter-muter lagi mencari hotel pengganti. Mending kalau cocok, gimana kalau enggak?

Sebenarnya, banyak sekali media reservasi online yang menawarkan jasa reservasi hotel. Pasti sudah pada tahulah. Beberapa nama besar sering wara-wiri iklannya di media internet. Tapi tahukah kalau saya paling takut memesan kamar hotel via situs-situs itu? Beberapa teman sempat mangkel karena reservasi mereka ditolak oleh hotel saat hendak check-in! Gubrak, kan? Bayangkan, sudah siap-siap menikmati liburan, eh ternyata mereka ditolak masuk hotel! Katanya, reservasi mereka belum tercatat di reservasi hotel. Teman saya diminta untuk menelepon agen reservasi mereka terlebih dahulu untuk mengklarifikasi pemesanannya. Tidak tanggung-tanggung, agen online mereka ada di AMERIKA! Yaaay ... harus melakukan panggilan telepon internasional? Plis deh. Sudah jadi ribet, keluar banyak duit lagi buat telepon internasional.

Karena itu, saya lebih percaya dengan agen lokal saja. Kalau memang ada kendala yang terjadi, menghubunginya lebih gampang. Plus, nggak perlu ribet dengan bahasa Inggris saya yang berantakan. Hehehe. Dan, apakah teman-teman tahu? Sekarang ada cara lebih mudah, aman dan terpercaya kalau ingin reservasi Hotel. Tidak perlu pake ribet dan takut, karena pelayanan mereka sangat mudah dihubungi. Selain via websitenya, bisa juga dihubungi langsung via Blackberry Messenger, Whatsapp, dan juga Yahoo Messenger. Woaaa ... keren, kan?


www.voucherhotel.com menawarkan pelayanan asyik ini.Mereka menawarkan layanan jasa reservasi bukan hanya untuk hotel-hotel di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri! Dan yang menurut saya paling asyik, Voucherhotel.com menerima pembayaran tanpa kartu kredit! Wohoho ... ini dia! saya paling takut menggunakan kartu kredit untuk transaksi online. Entah kenapa, selalu ada ketakutan CC saya dihack orang. Karena itu, sampai sekarang saya selalu memilih pembayaran via transfer untuk transaksi-transaksi online. Dan ini bisa dilakukan di voucherhotel.com juga. Nggak perlu pake takut lagi, kan? Mantap jaya dah!


Nongkrong di voucherhotel.com ternyata asyik juga. Selain bisa nyari harga-harga kamar hotel yang murah, kita juga bisa membaca artikel-artikel travel guide-nya yang bermanfaat banget. Ada info tentang hotel, objek wisata, dan bahkan tips-tips traveling yang sangat kita butuhkan. All in one banget. So, kenapa harus reservasi di tempat lain kalau voucherhotel.com sudah menawarkan semuanya?

Mari kita liburan lagiiiii ... ^_^