Tampilkan postingan dengan label jelajah gizi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jelajah gizi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2015

Rujak Honje Mulai Melanglang Buana

jual bantal foto
Siapa tidak mengenal rujak? Sajian sederhana yang terdiri dari potongan aneka buah dan sambal ulek ini bisa dibuat oleh siapa saja. Bahan-bahannya pun tidak perlu mahal dan sulit dicari. Berbekal satu atau dua jenis buah saja, sepiring rujak sudah bisa tersedia. Tentu harus dilengkapi dengan bumbunya juga. Tetapi, itu pun tidak sulit. Segenggam kacang tanah goreng/sangray, gula merah, garam, asam jawa, kencur, dan cabe rawit, diulek jadi satu. Bumbu rujak pun bisa tersedia dengan cepat. Nikmat, dan tentu saja bernutrisi. Siapa yang meragukan nutrisi yang terkandung dalam buah-buahan? Tidak ada, kan?

Foto by Lisan/kulinertasik.com
Rujak adalah sajian yang mudah sekali dijumpai. Tidak perlu merujuk ke suatu daerah tertentu, karena di daerah mana pun, rujak seringkali bisa ditemui, meski mungkin dengan sajian yang sedikit berbeda. Yang membedakan biasanya hanya dalam bentuk bumbu rujaknya. Ada yang biasa menggunakan kacang tanah, ada juga yang tidak. Ada yang memilih menggunakan kencur, ada juga yang tidak. Ada yang bumbunya diencerkan dan dituang ke irisan buah, ada juga yang bumbunya dijadikan cocolan. Pada intinya, bumbu rujak terdiri dari tiga bahan utama; gula merah, garam, dan cabe rawit. Dengan tiga bahan itu saja, rujak buah sudah bisa dinikmati. Bahan lain bisa ditambahkan kalau memang ada dan anda suka.

Rujak memang sajian yang sederhana dan bisa dibuat dengan mudah. Tapi karena peminatnya tinggi, peluang usaha berjualan rujak pun jadi sesuatu yang menjanjikan. Di kota saya, Tasikmalaya, penjual rujak (biasanya sekaligus berjualan lotek/pecel/karedok) banyak sekali dijumpai. Salah satu yang cukup terkenal dan selalu dijubeli pembeli berada di jalan kalektoran. Di sepanjang ruas jalan, beberapa tukang rujak berderet di kanan-kiri jalan, menawarkan sensasi kesegaran di kala terik matahari siang.

Ada yang berbeda dengan rujak Tasikmalaya, dan pada akhirnya menjadi ciri khas pembeda dibandingkan rujak dari daerah-daerah lainnya, yaitu penggunaan buah honje (kecombrang) dalam racikan bumbunya. Alih-alih menggunakan asam Jawa, penjual rujak di Tasikmalaya memilih menggunakan honje. Rasa asam dan aromanya yang khas dan tajam menjadi sensasi rasa tersendiri ketika dipadukan dengan kacang tanah (goreng), gula merah, garam, dan cabe rawit. Jauh berbeda dengan bumbu rujak pada umumnya. Penggunaan buah honje pun memberikan tekstur tersendiri pada sambalnya, terlihat sedikit ‘berantakan’ karena dipenuhi biji dan serat-serat buah honje yang diulek. Tapi di sanalah yang menjadi ciri khas tersendiri dari rujak Tasik.

Foto diambil dari kidnesia.com

Ciri unik lainnya yang ada pada bumbu rujak khas Tasikmalaya ini adalah penambahan pisang kulutuk (pisang batu – memiliki banyak biji di dalamnya) yang masih mengkal pada racikan bumbu. Rasa pisang mentah yang kesat ternyata memberikan sensasi rasa tersendiri pada sambalnya, melengkapi sensasi sebelumnya dari buah honje. Dan ternyata, untuk memberikan cita rasa yang pas, pengolahan bumbu pun memiliki tahapannya.  Karena teksturnya yang cukup keras, yang pertama adalah dengan mengulek buah honje sampai cukup hancur, lalu diteruskan dengan memasukkan potongan pisang batu dan diulek kembali hingga tercampur rata. Setelah itu, barulah memasukkan kacang tanah yang sudah digoreng/sangray, gula merah, garam, dan cabe rawit, untuk kemudian diulek lagi sampai tercampur rata. Pada saat disajikan, bumbu rujak ini akan ditaburi lagi dengan ulekan kacang tanah, sehingga ada sensasi ‘kriuk’ saat dicocol oleh potongan buah. Sudah terbayang nikmatnya, kan?

Seterkenal apa sih rujak Tasikmalaya ini? Cobalah datang pada saat libur-libur panjang atau hari besar nasional. Antrian kendaraan akan berjejer panjang di setiap penjual rujak di ruas jalan Kalektoran Tasikmalaya. Biasanya, kendaraan dengan plat nomor luar kota. Mereka biasanya adalah warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota/negeri dan kangen bernostalgia dengan kuliner khas Tasik, atau sanak saudara dan wisatawan yang memang sedang berkunjung ke kota ini.

Mereka memesan rujak tidak hanya untuk dinikmati di tempat, tetapi juga sebagai oleh-oleh! Ya, rujak Tasik sudah bisa dijadikan buah tangan apabila sedang berkesempatan mengunjungi Tasikmalaya. Tidak perlu takut basi atau busuk, karena sambal rujak dan buah-buahannya tentu saja akan dipisah. Bahkan, untuk kemasan oleh-oleh ini, sambal rujaknya diberikan dalam porsi yang cukup banyak. Bisa untuk beberapa kali ngerujak, lho! Ketika irisan buahnya sudah habis, anda tinggal membeli buah-buahan sendiri dan acara ngerujak pun bisa dilanjutkan kembali.


Salah satu penjual rujak legendaris di Tasikmalaya adalah Ibu Icar. Beliau sudah berjualan sejak tahun 1969, dan sudah memiliki banyak pelanggan tersendiri. Tempat berjualannya sangat sederhana, berada di halaman depan tempat tinggalnya di Jalan Kalektoran. Tapi jangan salah, pembeli yang datang bermobil semua, lho. Kemacetan sering terjadi di ruas jalan ini karena banyak kendaraan yang datang dan pergi. Dan yang membuat rujak Bu Icar semakin dikenal, bumbu rujaknya sudah seringkali dipesan dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, setiap bulannya beliau rutin mengirimkan bumbu rujak racikannya ke Amerika dan Singapura! WOW!

Ya, rujak Tasik sudah mulai melanglang buana. Ternyata, tidak hanya orang Indonesia yang doyan rujak ini, tetapi juga orang asing. Kalau tidak ada yang istimewa, tidak mungkin kiprahnya bisa sejauh itu, bukan? Sajian yang mungkin kita anggap sepele karena kesederhanaannya, bisa menjadi sangat istimewa kalau diracik unik dengan penambahan unsur yang membuat cita rasanya lebih nikmat dan berbeda. Rujak khas Tasik ini salah satunya.

Untuk pengiriman ke luar daerah, bumbu rujak sengaja dibuat kering tanpa campuran air. Nah, saat dibutuhkan, konsumen tinggal menambahkan air saja agar bumbunya menjadi lumer dan kental. Cabe rawitnya pun disediakan terpisah, untuk menjaga pembeli yang memang tidak menyukai rasa pedas. Bumbu rujak ini bisa tahan satu bulan, dan bahkan dua bulan apabila disimpan di lemari es. Bebas pengawet!

Tidak ada yang menyangsikan kandungan gizi yang terdapat dalam sepiring rujak. Irisan buah pepaya, nanas, jambu air, belimbing, mangga, kedondong, bengkuang, mentimun, ubi jalar, kaya akan vitamin, serat, kalori, kalsium, air, dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Lalu, bagaimana dengan honje yang menjadi primadona dalam rujak khas Tasik ini?

Honje atau kecombrang adalah tanaman yang bermanfaat. Tidak saja digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga sebagai obat herbal. Mulai dari bunga, daun, batang, sampai buah/bijinya sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Nilai nutrisi yang terkadung dalam bunga, daun, batang, dan buah kecombrang (per 100 gram) adalah sebagai berikut :

•    Energi  - kJ (0 kcal)
•    Karbohidrat - 4.4 gram
•    Serat pangan - 1.2 gram
•    Lemak - 1.0 gram
•    Protein - 1.3 gram
•    Air - 91 gram
•    Kalsium - 32 mg (3%)
•    Zat Besi - 4 mg (32%)
•    Magnesium - 27 mg (7%)
•    Fosfor - 30 mg (4%)
•    Kalium - 541 mg (12%)
•    Seng - 0.1 mg (1%)

Dengan kandungan nutrisi seperti itu, kecombrang dapat membantu mengurangi bau badan, menyembuhkan penyakit kulit, antioksidan, membersihkan darah, meningkatkan produksi ASI untuk ibu yang sedang menyusui, menurunkan demam, penambah darah, dan lain-lain. Terbukti kan, penambahan honje ke dalam racikan bumbu rujak tidak semata-mata untuk meningkatkan cita rasanya saja, tetapi juga kaya akan nutrisi yang bermanfaat.

Ada rencana mampir ke Kota Tasikmalaya? Rujak yang satu ini tentu saja tidak boleh anda lewatkan begitu saja. Ayo, sebelum semakin mendunia, pastikan anda sudah pernah mencobanya.

Referensi :
1.    http://infoherbalis.com/2015/03/manfaat-kecombrang-atau-honje-pelancar-asi-sampai-penghilang-bau-badan.html
2.    http://kesehatandia.blogspot.co.id/2014/11/kandungan-dan-manfaat-kecombrang.html



Minggu, 21 Oktober 2012

Tasik, Kota Tutug Oncom

jual bantal foto
Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai eksis jadi serbuan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih baik. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres!

Kalau masih ada yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom, mungkin bisa dilihat gambar di bawah ini. Looks so yummy, kan?

Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri sampai satu jam! Motor-motor berjajar panjang. Mobil juga sama. Sempat kaget pertama kali melihat suasana seperti itu; wow! Saking ngetopnya, TO Dadaha ini sempat diliput beberapa kali oleh media cetak, dan bahkan masuk dalam acara Santapan Nusantara MNCTV dan stasiun lainnya! Wah!

Warung TO Dadaha - Yang nggak kebagian duduk silakan menunggu di bangku cadangan. hehehe

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus. Tak heran kalau banyak mahasiswa atau muda-mudi yang terlihat nongkrong di warung ini. Ngobrol dapet, kencan lancar, perut pun kenyang. Hehehe. Dua orang teman dari Jakarta sempat terbengong-bengong saat membayar makanan mereka. "Nggak salah, nih?" katanya.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat followernya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya. Ibu-ibu pun mulai mendapatkan alternatif sajian murah meriah dan nikmat di tanggung bulan. Seringkali istri saya menawarkan; "malam ini beli nasi TO aja ya?"

Hanya jadi makanan alternatif saja di tanggung bulan? Oh tentu saja tidak. Ada rasa kangen saat lama tak mencicip nasi TO. Kapanpun rasa kangen itu datang, tak sulit untuk mendapatkannya. Apalagi sekarang banyak warung TO yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan, tapi sudah meluas ke warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk. Apakah di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Satu piring TO hanya perlu merogoh kocek Rp. 3.500,- saja. saya sekeluarga (berempat) sering makan di sini, lengkap dengan lauk pauknya; telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk. Ternyata saya hanya perlu membayar tidak lebih dari Rp. 30.000,- saja, itu sudah termasuk porsi TO nambah. Yippiiiee.... *elus-elus dompet*

TO Mr. Rahmat

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah) dan sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll. 
Untuk kandungan nilai dan mutu gizi  dari tutug oncom ini, saya mencoba mengintip di wikipedia. Di sana dituliskan kalau Oncom ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Lebih lengkapnya saya kutip berikut ini :

Oncom memiliki kandungan gizi yang relatif baik dan dapat menjadi sumber alternatif asupan gizi yang baik karena harganya murah. Kandungan karbohidrat dan protein tercerna cukup tinggi pada oncom dari bungkil kacang tanah. Selain itu, populasi kapang diketahui dapat menekan produksi aflatoksin dari Aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa, dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang (terutama N. sitophila).[4] Hal ini baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.
Hal yang perlu disempurnakan agar daya terima masyarakat meningkat terhadap oncom adalah yang menyangkut penampilan, bentuk, serta warnanya. Untuk lebih meningkatkan daya terima oncom di masyarakat luas, perlu diperhatikan masalah sanitasi bahan baku, peralatan pengolah, dan lingkungan, serta kebersihan pekerja yang menangani proses pengolahan.
Dalam kaitan dengan aflatoksin, penggunaan kapang N. sitophila dalam proses fermentasi bungkil kacang tanah dapat mengurangi kandungan aflatoksin sebesar 50 persen, sedangkan penggunaan kapang Rh. oligosporus dapat mengurangi aflatoksin bungkil sebesar 60 persen. Aflatoksin dihasilkan pada kacang-kacangan dan biji-bijian yang sudah jelek mutunya. Untuk mencegah terbentuknya aflatoksin, sangat dianjurkan menggunakan bahan baku yang bermutu baik.

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan TO. karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini.