Tampilkan postingan dengan label KWKT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KWKT. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Mei 2014

[Kuliner] Es Sirop Bojong Tasikmalaya

jual bantal foto
Datanglah ke Tasikmalaya, dan coba tanya ke warga yang anda jumpai, Es sirop apa yang paling terkenal di Tasikmalaya? Jangan heran kalau mayoritas jawaban mungkin akan merujuk pada satu nama : Es Sirop Bojong. Mengapa begitu?


Bersama Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT), kali ini (Minggu, 18 Mei 2014) saya meluncur ke lokasi es sirop legendaris ini. Tidak ada yang protes saat sehari sebelumnya target hunting ini digulirkan dalam perbincangan grup. Sirop Bojong memang sangat layak dikunjungi. Tidak saja karena nama besarnya, tapi karena rasa memang tidak pernah bohong. Haiiss .. berasa jargon iklan kecap.


Es Sirop Bojong Tampak Depan
Untuk ukuran sebuah lokasi kuliner, Sirop Bojong berada di luar kebiasaan. Berada di lokasi yang jauh dari keramaian, dan bahkan tidak dilalui kendaraan umum. Meski tidak terlalu jauh dari pusat kota, mencapai tempat ini mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi, karena cukup jauh dari perlintasan kendaraan umum kalau harus berjalan kaki. Meskipun begitu, saya tidak perlu sangsi dengan pengunjungnya. Sirop Bojong sudah memiliki pelanggan tersendiri, sehingga deretan mobil dan motor sudah memenuhi area parkir ketika kami datang. Bahkan pengunjung seolah tidak pernah berhenti datang dan pergi saat kami berada di sana.

Ibu Momoh saat diwawancara tim KWKT
Adalah Ibu Momoh, perempuan yang berada di belakang kesuksesan nama Es Sirop Bojong. Tidak tanggung-tanggung, beliau merintis usahanya sejak tahun 1972! Bermodalkan keinginan untuk membuat es sirop yang berbeda dibandingkan yang dijual ayahnya yang hanya berupa sirop dicampur es saja, Ibu Momoh berinisiatif menambahkan potongan buah-buahan ke dalamnya. Tidak hanya itu, seiring waktu beliau menambahkan kreasi lain dengan menambahkan unsur cita rasa lainnya, seperti tape ketan, kelapa muda dan lain-lain.

“Saya selalu berusaha mengikuti keinginan dan kepuasan pembeli,” cerita Ibu Momoh saat ditanya rahasianya membuat segelas es sirop yang nikmat. Beliau tidak pernah bosan berkreasi, termasuk saat mengamati banyak pembeli yang tidak pernah menghabiskan kolang-kaling yang ada dalam sajian siropnya. Pengamatan sederhana itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi memasukan kolang-kaling ke dalam campuran siropnya sampai sekarang. Menambahkan sesuatu yang tidak disukai pembelinya tentu sesuatu yang mubazir, kan?

Lokasi di dalam Warung
Es Sirop Bojong pertama kali berlokasi di rumah Ibu Momoh di belakang Aspol (Asrama Polisi) Bojong. Ketika usahanya mulai banyak dikenal dan diburu masyarakat Tasikmalaya, Ibu Momoh mengontrak rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Bojong Tengah pada tahun 1984. Usahanya yang semakin pesat pada akhirnya memungkinkan beliau membeli lahan dan membangun rumah dan tempat usaha baru di Jalan Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya pada tahun 1991. Meskipun sudah bukan di wilayah Bojong lagi, trademark Es Sirop Bojong tetap dipertahankannya.

Es sirop dengan campuran potongan buah-buahan (es campur/es buah) mungkin sudah banyak ditemukan di seluruh penjuru kota. Tetapi, di Tasikmalaya mungkin Ibu Momoh yang pertama kali memulainya. Meski pesaing dan followernya sudah sedemikian banyak, Es Sirop Bojong tetap hadir dengan ciri khasnya tersendiri.  Ketika ditanyakan apa yang membedakan es siropnya dengan es sirop lainnya, Ibu Momoh malah kebingungan dan berulang kali mengatakan ‘tidak tahu’. Beliau tidak pernah ingin tahu apa yang disajikan oleh penjual sirop serupa. Hanya saja beliau akhirnya mengatakan, “mungkin karena saya menggunakan santan (ketimbang susu kental manis).”

4 variasi rasa sirop
Aha! Itu dia yang akhirnya menguak salah satu rahasia kelezatan Es Sirop Bojong. Di beberapa tempat, saya memang seringkali menemukan campuran susu kental manis alih-alih santan pada sajian sirop atau es campur. Tetapi, Ibu Momoh sudah menggunakan campuran santan sejak pertama kali mengelola usaha ini, dan itu terbukti menjadi salah satu rahasia kenikmatannya.

Dilihat dari sajian dan penampakannya, tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa dari Es Sirop Bojong ini. Selain air sirop dan santan, pelengkap lainnya adalah potongan nangka, nenas, kelapa muda, alpukat, tape ketan hitam, cincau hitam, dan sebiji durian. Disajikan dalam gelas bening tinggi dan bukan mangkuk. Tetapi, ketika sudah mencicipi rasanya, baru terasa ada sesuatu yang istimewa. Setidaknya itu penilaian saya, karena selera toh berbeda-beda.

Ada yang tidak diketahui oleh sebagian besar pengunjung  Es Sirop Bojong, yaitu tentang adanya 4 cita rasa berbeda dari jenis sirop yang disajikan. Biasanya hanya pelanggan setia yang sudah mengetahui ini. Ibu Momoh menyediakan 4 variasi manis yang berbeda, yaitu sirop yang terbuat dari gula pasir (bening), gula pasir plus pewarna merah, gula kawung (aren), dan gula asam. Kalau pembeli tidak menyebutkan permintaan khusus, maka akan diberikan es sirop dengan pemanis gula pasir plus pewarna merah.

Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Ibu Momoh (foto @saidalzou)
Datanglah pada hari-hari libur besar dan kita bakalan tahu bagaimana tempat ini diserbu pelanggannya. Warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota biasanya akan menyerbu pada saat liburan seperti itu.   Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ibu Momoh sudah menyiapkan nomor antrian dan mempekerjakan tidak kurang dari 10 orang karyawannya. Tentu tidak mudah untuk mendapatkan pelanggan loyal seperti ini. Kerja keras menjadi modal utama agar usaha yang dirintis terus berkembang dan kemudian bertahan.

Keterkenalan Es Sirop Bojong menciptakan banyak pengikut yang latah menggunakan nama ‘Es Sirop Bojong’ sebagai daya tariknya. Ibu Momoh hanya tersenyum saat disinggung hal tersebut. Sejauh ini beliau hanya membuka 2 cabang saja, yaitu di Foodcourt Yogya Toserba dan Foodcourt Samudera Toserba. Selain itu, beliau tidak ada kaitannya dengan Es Sirop Bojong lainnya. 

Makanan pendamping sirop
Datang ke sana hanya untuk minum sirop atau es campur saja? Jangan khawatir, karena kalau memang lapar, ada menu siomay sebagai pelengkap nongkrong kamu di sana. So, mau nyoba salah satu kuliner legendaris di Tasikmalaya? Silakan mampir.

Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Pusat : Jl. Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya
Cabang 1 : Foodcourt Yogya Toserba
Cabang 2 : Foodcourt Samudera Toserba

Harga
Es Campur Duren – Rp. 12.000,-
Es Campur tanpa Duren – Rp. 10.000,-
Siomay – Rp. 2.000,- per buah

Jadwal Buka
Setiap hari

Senin, 28 April 2014

[Review] Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe

jual bantal foto


Berliner Brotfabrik

Mendung sudah menggelayut saat saya dan rombongan KWKT (Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya) merapat ke Jalan Mayor Utarya. Hari masih cukup siang, baru pukul setengah 2, tetapi gelagat turun hujan sudah mulai terasa. Kami harus segera bergegas apabila tidak ingin agenda siang ini menjadi sia-sia. Ada sebuah target yang harus kami cicipi siang itu, dan sepertinya tidak bisa ditunda lagi. Tongkrongan ini sedang menghangat belakang ini, seiring baru diresmikan grand launching-nya. Sebagai ‘komplotan’ pemburu kuliner di Tasikmalaya, rasanya kami tidak boleh ketinggalan langkah dibanding penikmat kuliner lainnya. Karena itu, meski hanya dihadiri beberapa gelintir orang saja, kopdar KWKT Minggu ini harus tetap dilaksanakan. Let’s go!

Joghurtsahnetorte - Rp. 13ribu
Tepat di samping SD Citapen, anggota KWKT yang kali ini umpel-umpelan di dalam mobil Kang Guguh akhirnya sampai di sasaran. Nuansa serba hijau langsung terasa bahkan ketika kami baru menjejak di halaman berumput yang cukup lapang. Beberapa pasang kursi dan meja besi, serta payung-payung lebar tertata rapi di beberapa penjuru halaman, semua bernuansa serbahijau. Foto-foto ukuran raksasa terpajang manis menutupi sepanjang dinding tembok. Ada yang terasa asing dengan foto-foto tersebut, karena sama sekali tidak menampakkan suasana lokal tanah air. Foto-foto ini menyajikan pemandangan negeri yang cukup asing. Setidaknya, bukan pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari.

Ke manakah sebenarnya kita menuju?

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe. Tulisan itu terpajang jelas di depan bangunan berdinding putih dengan sentuhan –lagi-lagi—warna hijau. Wangi roti dari panggangan langsung menguar tajam saat langkah kami semakin mendekat. Hmmm ... cukup menggelitik penciuman dan membuat perut berkeriuk ribut. Nyam-nyam nih.

Strawberrysahnetorte - Rp. 13ribu
Buat sebagian orang, nama Berliner Brotfabrik mungkin masih terdengar asing. Bukan saja karena namanya yang tidak familier, tetapi juga karena memang tempat ini belum lama hadir. Ya, kali ini kita menyerbu tongkrongan baru, yang baru hadir sebulan terakhir, menyemarakan ragam kuliner di Tasikmalaya. Meski sudah mulai beroperasi sejak tanggal 13 Maret, Berliner Brotfabrik baru diresmikan pada tanggal 29 Maret.

Lalu, mengapa namanya harus serba asing seperti itu? Di tengah rintik hujan yang mulai turun, kami cukup beruntung. Kang Hena Muliana, pemilik cafe ini, mau bergabung bersama kami untuk sedikit bercerita mengenai latar belakang pendirian cafe ini, dan menjelaskan tentang serba-serbi roti andalannya.

Brotchen Mit Wurst - Rp. 9ribu
Berliner Brotfabrik berasal dari bahasa Jerman. Brot adalah roti, Fabrik adalah Pabrik. Sudah jelas kan maksudnya? Sementara Berliner sendiri diambil dari kata Berlin, Ibukota dari negara Jerman. Secara selintas saja bisa diartikan kalau Berliner Brotfabrik adalah Pabrik roti dari Berlin (Jerman)! Tidak semata-mata Kang Hena mengambil nama berbau Jerman seperti ini kalau tidak ada kaitannya dengan kuliner yang disajikannya. Ya, di tempat ini anda bisa menikmati beragam roti, kue, dan pizza khas asal Jerman. Unik? Tentu saja. Belum ada tempat lain (di Tasikmalaya) yang benar-benar menyajikan penganan-penganan khas dari negara Hitler ini. Apalagi, semua roti yang disajikan benar-benar fresh from the oven!

Kenapa Kang Hena tiba-tiba tercetus untuk membuka cafe dengan menyajikan roti-roti dari negeri yang jauh ini? Kenapa bukan berjualan cilok saja yang asli Tasik? Itu yang akhirnya kami tanyakan. Ternyata, semua berawal dari kiprahnya sebagai konsultan bahasa di sebuah perusahaan di Jerman. Seringnya wara-wiri ke Jerman membuatnya sering mengamati dan mencicipi beragam kuliner di negara tersebut. Keinginannya untuk membuka sebuah cafe ala Jerman pun tercetus saat kontrak kerjanya di sana sudah berakhir. Apalagi rekan kerjanya di Jerman menanyakan hal tersebut; “Setelah ini, apa yang ingin kamu lakukan di Indonesia?”

Cremebretzel - Rp. 8ribu
Dijembatani sebuah lembaga sosial yang berorientasi pada pengembangan potensi usaha pemuda di negara-negara berkembang, Kang Hena pun mendapatkan peluang tersebut. Selama dua minggu, beliau mendapatkan pelatihan usaha di bidang bakery di Jerman. Tidak hanya itu, selama 3 bulan, Kang Hena ditempatkan di sebuah pabrik roti ternama di Jerman untuk magang. Berbekal pelatihan dan pengalamannya selama magang, akhirnya Berliner Brotfabrik pun segera berdiri di Tasikmalaya.

Nyam-nyam!
Menyajikan penganan yang berasal dari luar negeri tentu tidak bisa main-main. Banyak standar yang ditentukan dan harus diterapkan oleh Kang Hena. Salah satunya adalah penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa digonta-ganti seenaknya. Karena itu, untuk mempertahankan cita rasa agar sesuai dengan rasa aslinya di Jerman sana, Berliner Botfabrik tetap menggunakan bahan-bahan yang diimpor langsung dari negara asalnya. Kang Hena menjamin roti-roti buatannya dibuat sesuai resep yang pernah dipelajarinya selama di Jerman. Tidak hanya itu, supervising langsung dari guru-gurunya di Jerman tetap berlangsung sampai sekarang. Setelah hadir pada grand launchingnya, supervisor-nya dari Jerman akan datang kembali pada bulan Juni untuk mengontrol pengembangan usahanya. Mantap, kan?

Berliner Brotfabrik adalah tempat nongkrong yang asyik sambil cemal-cemil dan ngupi-ngupi. Berada di ruas jalan yang tidak dilalui jalur utama kendaraan membuat suasananya tidak terlalu bising. Meskipun begitu, lokasinya yang berada di tengah kota membuatnya mudah dijangkau dari mana-mana. Sayangnya, tongkrongan ala outdoor seperti ini menjadi tidak asyik lagi kalau turun hujan, karena payung-payung lebar tidak cukup menaungi air hujan yang terbawa angin. Bisa basah kuyup!

Member KWKT bareng Kang Hena Muliana (kiri)
Bagaimana dengan rasa kulinernya? Karena tidak mungkin memesan semua jenis penganan yang ada, kami mencicipi beberapa di antaranya. Meski namanya sering bikin kepleset lidah, atau malah nggak hapal saking belibetnya, tapi rasanya maknyus! Coba saja lihat foto-foto yang ada di sini, dan bayangkan kelezatannya seperti apa. Penasaran? Ayo, langsung serbu ke TKP!

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe
Alamat : Jl. Mayor Utarya no. 46 Tasikmalaya
Buka : Pukul 10.00 – 19.00 Wib
Range harga : Rp. 7ribu – Rp. 13ribu