Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2015

Rujak Honje Mulai Melanglang Buana

jual bantal foto
Siapa tidak mengenal rujak? Sajian sederhana yang terdiri dari potongan aneka buah dan sambal ulek ini bisa dibuat oleh siapa saja. Bahan-bahannya pun tidak perlu mahal dan sulit dicari. Berbekal satu atau dua jenis buah saja, sepiring rujak sudah bisa tersedia. Tentu harus dilengkapi dengan bumbunya juga. Tetapi, itu pun tidak sulit. Segenggam kacang tanah goreng/sangray, gula merah, garam, asam jawa, kencur, dan cabe rawit, diulek jadi satu. Bumbu rujak pun bisa tersedia dengan cepat. Nikmat, dan tentu saja bernutrisi. Siapa yang meragukan nutrisi yang terkandung dalam buah-buahan? Tidak ada, kan?

Foto by Lisan/kulinertasik.com
Rujak adalah sajian yang mudah sekali dijumpai. Tidak perlu merujuk ke suatu daerah tertentu, karena di daerah mana pun, rujak seringkali bisa ditemui, meski mungkin dengan sajian yang sedikit berbeda. Yang membedakan biasanya hanya dalam bentuk bumbu rujaknya. Ada yang biasa menggunakan kacang tanah, ada juga yang tidak. Ada yang memilih menggunakan kencur, ada juga yang tidak. Ada yang bumbunya diencerkan dan dituang ke irisan buah, ada juga yang bumbunya dijadikan cocolan. Pada intinya, bumbu rujak terdiri dari tiga bahan utama; gula merah, garam, dan cabe rawit. Dengan tiga bahan itu saja, rujak buah sudah bisa dinikmati. Bahan lain bisa ditambahkan kalau memang ada dan anda suka.

Rujak memang sajian yang sederhana dan bisa dibuat dengan mudah. Tapi karena peminatnya tinggi, peluang usaha berjualan rujak pun jadi sesuatu yang menjanjikan. Di kota saya, Tasikmalaya, penjual rujak (biasanya sekaligus berjualan lotek/pecel/karedok) banyak sekali dijumpai. Salah satu yang cukup terkenal dan selalu dijubeli pembeli berada di jalan kalektoran. Di sepanjang ruas jalan, beberapa tukang rujak berderet di kanan-kiri jalan, menawarkan sensasi kesegaran di kala terik matahari siang.

Ada yang berbeda dengan rujak Tasikmalaya, dan pada akhirnya menjadi ciri khas pembeda dibandingkan rujak dari daerah-daerah lainnya, yaitu penggunaan buah honje (kecombrang) dalam racikan bumbunya. Alih-alih menggunakan asam Jawa, penjual rujak di Tasikmalaya memilih menggunakan honje. Rasa asam dan aromanya yang khas dan tajam menjadi sensasi rasa tersendiri ketika dipadukan dengan kacang tanah (goreng), gula merah, garam, dan cabe rawit. Jauh berbeda dengan bumbu rujak pada umumnya. Penggunaan buah honje pun memberikan tekstur tersendiri pada sambalnya, terlihat sedikit ‘berantakan’ karena dipenuhi biji dan serat-serat buah honje yang diulek. Tapi di sanalah yang menjadi ciri khas tersendiri dari rujak Tasik.

Foto diambil dari kidnesia.com

Ciri unik lainnya yang ada pada bumbu rujak khas Tasikmalaya ini adalah penambahan pisang kulutuk (pisang batu – memiliki banyak biji di dalamnya) yang masih mengkal pada racikan bumbu. Rasa pisang mentah yang kesat ternyata memberikan sensasi rasa tersendiri pada sambalnya, melengkapi sensasi sebelumnya dari buah honje. Dan ternyata, untuk memberikan cita rasa yang pas, pengolahan bumbu pun memiliki tahapannya.  Karena teksturnya yang cukup keras, yang pertama adalah dengan mengulek buah honje sampai cukup hancur, lalu diteruskan dengan memasukkan potongan pisang batu dan diulek kembali hingga tercampur rata. Setelah itu, barulah memasukkan kacang tanah yang sudah digoreng/sangray, gula merah, garam, dan cabe rawit, untuk kemudian diulek lagi sampai tercampur rata. Pada saat disajikan, bumbu rujak ini akan ditaburi lagi dengan ulekan kacang tanah, sehingga ada sensasi ‘kriuk’ saat dicocol oleh potongan buah. Sudah terbayang nikmatnya, kan?

Seterkenal apa sih rujak Tasikmalaya ini? Cobalah datang pada saat libur-libur panjang atau hari besar nasional. Antrian kendaraan akan berjejer panjang di setiap penjual rujak di ruas jalan Kalektoran Tasikmalaya. Biasanya, kendaraan dengan plat nomor luar kota. Mereka biasanya adalah warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota/negeri dan kangen bernostalgia dengan kuliner khas Tasik, atau sanak saudara dan wisatawan yang memang sedang berkunjung ke kota ini.

Mereka memesan rujak tidak hanya untuk dinikmati di tempat, tetapi juga sebagai oleh-oleh! Ya, rujak Tasik sudah bisa dijadikan buah tangan apabila sedang berkesempatan mengunjungi Tasikmalaya. Tidak perlu takut basi atau busuk, karena sambal rujak dan buah-buahannya tentu saja akan dipisah. Bahkan, untuk kemasan oleh-oleh ini, sambal rujaknya diberikan dalam porsi yang cukup banyak. Bisa untuk beberapa kali ngerujak, lho! Ketika irisan buahnya sudah habis, anda tinggal membeli buah-buahan sendiri dan acara ngerujak pun bisa dilanjutkan kembali.


Salah satu penjual rujak legendaris di Tasikmalaya adalah Ibu Icar. Beliau sudah berjualan sejak tahun 1969, dan sudah memiliki banyak pelanggan tersendiri. Tempat berjualannya sangat sederhana, berada di halaman depan tempat tinggalnya di Jalan Kalektoran. Tapi jangan salah, pembeli yang datang bermobil semua, lho. Kemacetan sering terjadi di ruas jalan ini karena banyak kendaraan yang datang dan pergi. Dan yang membuat rujak Bu Icar semakin dikenal, bumbu rujaknya sudah seringkali dipesan dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, setiap bulannya beliau rutin mengirimkan bumbu rujak racikannya ke Amerika dan Singapura! WOW!

Ya, rujak Tasik sudah mulai melanglang buana. Ternyata, tidak hanya orang Indonesia yang doyan rujak ini, tetapi juga orang asing. Kalau tidak ada yang istimewa, tidak mungkin kiprahnya bisa sejauh itu, bukan? Sajian yang mungkin kita anggap sepele karena kesederhanaannya, bisa menjadi sangat istimewa kalau diracik unik dengan penambahan unsur yang membuat cita rasanya lebih nikmat dan berbeda. Rujak khas Tasik ini salah satunya.

Untuk pengiriman ke luar daerah, bumbu rujak sengaja dibuat kering tanpa campuran air. Nah, saat dibutuhkan, konsumen tinggal menambahkan air saja agar bumbunya menjadi lumer dan kental. Cabe rawitnya pun disediakan terpisah, untuk menjaga pembeli yang memang tidak menyukai rasa pedas. Bumbu rujak ini bisa tahan satu bulan, dan bahkan dua bulan apabila disimpan di lemari es. Bebas pengawet!

Tidak ada yang menyangsikan kandungan gizi yang terdapat dalam sepiring rujak. Irisan buah pepaya, nanas, jambu air, belimbing, mangga, kedondong, bengkuang, mentimun, ubi jalar, kaya akan vitamin, serat, kalori, kalsium, air, dan nutrisi lain yang dibutuhkan oleh tubuh. Lalu, bagaimana dengan honje yang menjadi primadona dalam rujak khas Tasik ini?

Honje atau kecombrang adalah tanaman yang bermanfaat. Tidak saja digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga sebagai obat herbal. Mulai dari bunga, daun, batang, sampai buah/bijinya sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Nilai nutrisi yang terkadung dalam bunga, daun, batang, dan buah kecombrang (per 100 gram) adalah sebagai berikut :

•    Energi  - kJ (0 kcal)
•    Karbohidrat - 4.4 gram
•    Serat pangan - 1.2 gram
•    Lemak - 1.0 gram
•    Protein - 1.3 gram
•    Air - 91 gram
•    Kalsium - 32 mg (3%)
•    Zat Besi - 4 mg (32%)
•    Magnesium - 27 mg (7%)
•    Fosfor - 30 mg (4%)
•    Kalium - 541 mg (12%)
•    Seng - 0.1 mg (1%)

Dengan kandungan nutrisi seperti itu, kecombrang dapat membantu mengurangi bau badan, menyembuhkan penyakit kulit, antioksidan, membersihkan darah, meningkatkan produksi ASI untuk ibu yang sedang menyusui, menurunkan demam, penambah darah, dan lain-lain. Terbukti kan, penambahan honje ke dalam racikan bumbu rujak tidak semata-mata untuk meningkatkan cita rasanya saja, tetapi juga kaya akan nutrisi yang bermanfaat.

Ada rencana mampir ke Kota Tasikmalaya? Rujak yang satu ini tentu saja tidak boleh anda lewatkan begitu saja. Ayo, sebelum semakin mendunia, pastikan anda sudah pernah mencobanya.

Referensi :
1.    http://infoherbalis.com/2015/03/manfaat-kecombrang-atau-honje-pelancar-asi-sampai-penghilang-bau-badan.html
2.    http://kesehatandia.blogspot.co.id/2014/11/kandungan-dan-manfaat-kecombrang.html



Senin, 19 Mei 2014

[Kuliner] Es Sirop Bojong Tasikmalaya

jual bantal foto
Datanglah ke Tasikmalaya, dan coba tanya ke warga yang anda jumpai, Es sirop apa yang paling terkenal di Tasikmalaya? Jangan heran kalau mayoritas jawaban mungkin akan merujuk pada satu nama : Es Sirop Bojong. Mengapa begitu?


Bersama Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT), kali ini (Minggu, 18 Mei 2014) saya meluncur ke lokasi es sirop legendaris ini. Tidak ada yang protes saat sehari sebelumnya target hunting ini digulirkan dalam perbincangan grup. Sirop Bojong memang sangat layak dikunjungi. Tidak saja karena nama besarnya, tapi karena rasa memang tidak pernah bohong. Haiiss .. berasa jargon iklan kecap.


Es Sirop Bojong Tampak Depan
Untuk ukuran sebuah lokasi kuliner, Sirop Bojong berada di luar kebiasaan. Berada di lokasi yang jauh dari keramaian, dan bahkan tidak dilalui kendaraan umum. Meski tidak terlalu jauh dari pusat kota, mencapai tempat ini mau tidak mau harus menggunakan kendaraan pribadi, karena cukup jauh dari perlintasan kendaraan umum kalau harus berjalan kaki. Meskipun begitu, saya tidak perlu sangsi dengan pengunjungnya. Sirop Bojong sudah memiliki pelanggan tersendiri, sehingga deretan mobil dan motor sudah memenuhi area parkir ketika kami datang. Bahkan pengunjung seolah tidak pernah berhenti datang dan pergi saat kami berada di sana.

Ibu Momoh saat diwawancara tim KWKT
Adalah Ibu Momoh, perempuan yang berada di belakang kesuksesan nama Es Sirop Bojong. Tidak tanggung-tanggung, beliau merintis usahanya sejak tahun 1972! Bermodalkan keinginan untuk membuat es sirop yang berbeda dibandingkan yang dijual ayahnya yang hanya berupa sirop dicampur es saja, Ibu Momoh berinisiatif menambahkan potongan buah-buahan ke dalamnya. Tidak hanya itu, seiring waktu beliau menambahkan kreasi lain dengan menambahkan unsur cita rasa lainnya, seperti tape ketan, kelapa muda dan lain-lain.

“Saya selalu berusaha mengikuti keinginan dan kepuasan pembeli,” cerita Ibu Momoh saat ditanya rahasianya membuat segelas es sirop yang nikmat. Beliau tidak pernah bosan berkreasi, termasuk saat mengamati banyak pembeli yang tidak pernah menghabiskan kolang-kaling yang ada dalam sajian siropnya. Pengamatan sederhana itu membuatnya mengambil keputusan untuk tidak lagi memasukan kolang-kaling ke dalam campuran siropnya sampai sekarang. Menambahkan sesuatu yang tidak disukai pembelinya tentu sesuatu yang mubazir, kan?

Lokasi di dalam Warung
Es Sirop Bojong pertama kali berlokasi di rumah Ibu Momoh di belakang Aspol (Asrama Polisi) Bojong. Ketika usahanya mulai banyak dikenal dan diburu masyarakat Tasikmalaya, Ibu Momoh mengontrak rumah sekaligus tempat usahanya di Jalan Bojong Tengah pada tahun 1984. Usahanya yang semakin pesat pada akhirnya memungkinkan beliau membeli lahan dan membangun rumah dan tempat usaha baru di Jalan Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya pada tahun 1991. Meskipun sudah bukan di wilayah Bojong lagi, trademark Es Sirop Bojong tetap dipertahankannya.

Es sirop dengan campuran potongan buah-buahan (es campur/es buah) mungkin sudah banyak ditemukan di seluruh penjuru kota. Tetapi, di Tasikmalaya mungkin Ibu Momoh yang pertama kali memulainya. Meski pesaing dan followernya sudah sedemikian banyak, Es Sirop Bojong tetap hadir dengan ciri khasnya tersendiri.  Ketika ditanyakan apa yang membedakan es siropnya dengan es sirop lainnya, Ibu Momoh malah kebingungan dan berulang kali mengatakan ‘tidak tahu’. Beliau tidak pernah ingin tahu apa yang disajikan oleh penjual sirop serupa. Hanya saja beliau akhirnya mengatakan, “mungkin karena saya menggunakan santan (ketimbang susu kental manis).”

4 variasi rasa sirop
Aha! Itu dia yang akhirnya menguak salah satu rahasia kelezatan Es Sirop Bojong. Di beberapa tempat, saya memang seringkali menemukan campuran susu kental manis alih-alih santan pada sajian sirop atau es campur. Tetapi, Ibu Momoh sudah menggunakan campuran santan sejak pertama kali mengelola usaha ini, dan itu terbukti menjadi salah satu rahasia kenikmatannya.

Dilihat dari sajian dan penampakannya, tidak terlihat ada sesuatu yang istimewa dari Es Sirop Bojong ini. Selain air sirop dan santan, pelengkap lainnya adalah potongan nangka, nenas, kelapa muda, alpukat, tape ketan hitam, cincau hitam, dan sebiji durian. Disajikan dalam gelas bening tinggi dan bukan mangkuk. Tetapi, ketika sudah mencicipi rasanya, baru terasa ada sesuatu yang istimewa. Setidaknya itu penilaian saya, karena selera toh berbeda-beda.

Ada yang tidak diketahui oleh sebagian besar pengunjung  Es Sirop Bojong, yaitu tentang adanya 4 cita rasa berbeda dari jenis sirop yang disajikan. Biasanya hanya pelanggan setia yang sudah mengetahui ini. Ibu Momoh menyediakan 4 variasi manis yang berbeda, yaitu sirop yang terbuat dari gula pasir (bening), gula pasir plus pewarna merah, gula kawung (aren), dan gula asam. Kalau pembeli tidak menyebutkan permintaan khusus, maka akan diberikan es sirop dengan pemanis gula pasir plus pewarna merah.

Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya bersama Ibu Momoh (foto @saidalzou)
Datanglah pada hari-hari libur besar dan kita bakalan tahu bagaimana tempat ini diserbu pelanggannya. Warga Tasikmalaya yang sudah merantau ke luar kota biasanya akan menyerbu pada saat liburan seperti itu.   Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ibu Momoh sudah menyiapkan nomor antrian dan mempekerjakan tidak kurang dari 10 orang karyawannya. Tentu tidak mudah untuk mendapatkan pelanggan loyal seperti ini. Kerja keras menjadi modal utama agar usaha yang dirintis terus berkembang dan kemudian bertahan.

Keterkenalan Es Sirop Bojong menciptakan banyak pengikut yang latah menggunakan nama ‘Es Sirop Bojong’ sebagai daya tariknya. Ibu Momoh hanya tersenyum saat disinggung hal tersebut. Sejauh ini beliau hanya membuka 2 cabang saja, yaitu di Foodcourt Yogya Toserba dan Foodcourt Samudera Toserba. Selain itu, beliau tidak ada kaitannya dengan Es Sirop Bojong lainnya. 

Makanan pendamping sirop
Datang ke sana hanya untuk minum sirop atau es campur saja? Jangan khawatir, karena kalau memang lapar, ada menu siomay sebagai pelengkap nongkrong kamu di sana. So, mau nyoba salah satu kuliner legendaris di Tasikmalaya? Silakan mampir.

Es Sirop Bojong Ibu Momoh
Pusat : Jl. Ampera Barat no. 207 Tasikmalaya
Cabang 1 : Foodcourt Yogya Toserba
Cabang 2 : Foodcourt Samudera Toserba

Harga
Es Campur Duren – Rp. 12.000,-
Es Campur tanpa Duren – Rp. 10.000,-
Siomay – Rp. 2.000,- per buah

Jadwal Buka
Setiap hari

Senin, 28 April 2014

[Review] Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe

jual bantal foto


Berliner Brotfabrik

Mendung sudah menggelayut saat saya dan rombongan KWKT (Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya) merapat ke Jalan Mayor Utarya. Hari masih cukup siang, baru pukul setengah 2, tetapi gelagat turun hujan sudah mulai terasa. Kami harus segera bergegas apabila tidak ingin agenda siang ini menjadi sia-sia. Ada sebuah target yang harus kami cicipi siang itu, dan sepertinya tidak bisa ditunda lagi. Tongkrongan ini sedang menghangat belakang ini, seiring baru diresmikan grand launching-nya. Sebagai ‘komplotan’ pemburu kuliner di Tasikmalaya, rasanya kami tidak boleh ketinggalan langkah dibanding penikmat kuliner lainnya. Karena itu, meski hanya dihadiri beberapa gelintir orang saja, kopdar KWKT Minggu ini harus tetap dilaksanakan. Let’s go!

Joghurtsahnetorte - Rp. 13ribu
Tepat di samping SD Citapen, anggota KWKT yang kali ini umpel-umpelan di dalam mobil Kang Guguh akhirnya sampai di sasaran. Nuansa serba hijau langsung terasa bahkan ketika kami baru menjejak di halaman berumput yang cukup lapang. Beberapa pasang kursi dan meja besi, serta payung-payung lebar tertata rapi di beberapa penjuru halaman, semua bernuansa serbahijau. Foto-foto ukuran raksasa terpajang manis menutupi sepanjang dinding tembok. Ada yang terasa asing dengan foto-foto tersebut, karena sama sekali tidak menampakkan suasana lokal tanah air. Foto-foto ini menyajikan pemandangan negeri yang cukup asing. Setidaknya, bukan pemandangan yang biasa kita lihat sehari-hari.

Ke manakah sebenarnya kita menuju?

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe. Tulisan itu terpajang jelas di depan bangunan berdinding putih dengan sentuhan –lagi-lagi—warna hijau. Wangi roti dari panggangan langsung menguar tajam saat langkah kami semakin mendekat. Hmmm ... cukup menggelitik penciuman dan membuat perut berkeriuk ribut. Nyam-nyam nih.

Strawberrysahnetorte - Rp. 13ribu
Buat sebagian orang, nama Berliner Brotfabrik mungkin masih terdengar asing. Bukan saja karena namanya yang tidak familier, tetapi juga karena memang tempat ini belum lama hadir. Ya, kali ini kita menyerbu tongkrongan baru, yang baru hadir sebulan terakhir, menyemarakan ragam kuliner di Tasikmalaya. Meski sudah mulai beroperasi sejak tanggal 13 Maret, Berliner Brotfabrik baru diresmikan pada tanggal 29 Maret.

Lalu, mengapa namanya harus serba asing seperti itu? Di tengah rintik hujan yang mulai turun, kami cukup beruntung. Kang Hena Muliana, pemilik cafe ini, mau bergabung bersama kami untuk sedikit bercerita mengenai latar belakang pendirian cafe ini, dan menjelaskan tentang serba-serbi roti andalannya.

Brotchen Mit Wurst - Rp. 9ribu
Berliner Brotfabrik berasal dari bahasa Jerman. Brot adalah roti, Fabrik adalah Pabrik. Sudah jelas kan maksudnya? Sementara Berliner sendiri diambil dari kata Berlin, Ibukota dari negara Jerman. Secara selintas saja bisa diartikan kalau Berliner Brotfabrik adalah Pabrik roti dari Berlin (Jerman)! Tidak semata-mata Kang Hena mengambil nama berbau Jerman seperti ini kalau tidak ada kaitannya dengan kuliner yang disajikannya. Ya, di tempat ini anda bisa menikmati beragam roti, kue, dan pizza khas asal Jerman. Unik? Tentu saja. Belum ada tempat lain (di Tasikmalaya) yang benar-benar menyajikan penganan-penganan khas dari negara Hitler ini. Apalagi, semua roti yang disajikan benar-benar fresh from the oven!

Kenapa Kang Hena tiba-tiba tercetus untuk membuka cafe dengan menyajikan roti-roti dari negeri yang jauh ini? Kenapa bukan berjualan cilok saja yang asli Tasik? Itu yang akhirnya kami tanyakan. Ternyata, semua berawal dari kiprahnya sebagai konsultan bahasa di sebuah perusahaan di Jerman. Seringnya wara-wiri ke Jerman membuatnya sering mengamati dan mencicipi beragam kuliner di negara tersebut. Keinginannya untuk membuka sebuah cafe ala Jerman pun tercetus saat kontrak kerjanya di sana sudah berakhir. Apalagi rekan kerjanya di Jerman menanyakan hal tersebut; “Setelah ini, apa yang ingin kamu lakukan di Indonesia?”

Cremebretzel - Rp. 8ribu
Dijembatani sebuah lembaga sosial yang berorientasi pada pengembangan potensi usaha pemuda di negara-negara berkembang, Kang Hena pun mendapatkan peluang tersebut. Selama dua minggu, beliau mendapatkan pelatihan usaha di bidang bakery di Jerman. Tidak hanya itu, selama 3 bulan, Kang Hena ditempatkan di sebuah pabrik roti ternama di Jerman untuk magang. Berbekal pelatihan dan pengalamannya selama magang, akhirnya Berliner Brotfabrik pun segera berdiri di Tasikmalaya.

Nyam-nyam!
Menyajikan penganan yang berasal dari luar negeri tentu tidak bisa main-main. Banyak standar yang ditentukan dan harus diterapkan oleh Kang Hena. Salah satunya adalah penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa digonta-ganti seenaknya. Karena itu, untuk mempertahankan cita rasa agar sesuai dengan rasa aslinya di Jerman sana, Berliner Botfabrik tetap menggunakan bahan-bahan yang diimpor langsung dari negara asalnya. Kang Hena menjamin roti-roti buatannya dibuat sesuai resep yang pernah dipelajarinya selama di Jerman. Tidak hanya itu, supervising langsung dari guru-gurunya di Jerman tetap berlangsung sampai sekarang. Setelah hadir pada grand launchingnya, supervisor-nya dari Jerman akan datang kembali pada bulan Juni untuk mengontrol pengembangan usahanya. Mantap, kan?

Berliner Brotfabrik adalah tempat nongkrong yang asyik sambil cemal-cemil dan ngupi-ngupi. Berada di ruas jalan yang tidak dilalui jalur utama kendaraan membuat suasananya tidak terlalu bising. Meskipun begitu, lokasinya yang berada di tengah kota membuatnya mudah dijangkau dari mana-mana. Sayangnya, tongkrongan ala outdoor seperti ini menjadi tidak asyik lagi kalau turun hujan, karena payung-payung lebar tidak cukup menaungi air hujan yang terbawa angin. Bisa basah kuyup!

Member KWKT bareng Kang Hena Muliana (kiri)
Bagaimana dengan rasa kulinernya? Karena tidak mungkin memesan semua jenis penganan yang ada, kami mencicipi beberapa di antaranya. Meski namanya sering bikin kepleset lidah, atau malah nggak hapal saking belibetnya, tapi rasanya maknyus! Coba saja lihat foto-foto yang ada di sini, dan bayangkan kelezatannya seperti apa. Penasaran? Ayo, langsung serbu ke TKP!

Berliner Brotfabrik Konditorei & Cafe
Alamat : Jl. Mayor Utarya no. 46 Tasikmalaya
Buka : Pukul 10.00 – 19.00 Wib
Range harga : Rp. 7ribu – Rp. 13ribu


Selasa, 27 Maret 2012

[Jalan-jalan] Saung Danau Lemona

jual bantal foto
Long weekend kali ini bener-bener nggak ada acara. Biasanya juga nggak pernah planning bikin acara sih, tapi kali ini asli mati gaya. Bingung mau ke mana. Liburan ke luar kota, jelas tidak mungkin. Gue paling menghindari liburan ke luar kota di saat long weekend seperti ini. Macet di mana-mana! Bukan hanya di perjalanannya, tapi juga di lokasi tujuannya. Males banget kalau liburannya malah tidak bisa dinikmati. Kalau mau liburan gue justru lebih milih di low season, saat orang-orang nggak pada nyerbu ke tempat-tempat rekreasi. Enak, nggak usah desek-desekan.


Nah, libur tiga hari kemarin pun nggak sempet mikir mau pergi-pergi ke mana. Makanya santey aja, tidur larut malem, bangun bisa siang. Gulipak-gulipek di tempat tidur seharian. Nonton TV sampe bingung nyari posisi yang enak lagi, saking semua gaya udah dicoba. Tengkurep, telentang, nungging, atau sambil ucang-ucang angge (ini sih karena dipaksa Rayya).

Tapi kok bosen ya? Gelutukan seharian di rumah malah bikin galau. *halah* Kalau sudah begini, nggak ada cara lain selain harus jalan-jalan ke luar rumah. Mau jalan ke mal kok belum-belum udah males. Mal di Tasik kan cuma itu doang. Perasaan udah hapal deh setiap sudutnya,  mau ngapain lagi ke sana? Apalagi kalau nggak ada niat belanja (atau ga punya duit), jalan-jalan di mal malah suka nanggung. Dapet pegel dan mupeng doang.

So, jalan satu-satunya adalah wisata kuliner! Makan-makan di saung kalau istilah Abith, anak gue sih. Tapi di saung mana lagi? Belum ada kabar tempat makan baru lagi yang baru berdiri. Perasaan semua saung makan udah gue jajah semua. Eh ada sih, LELE LELA depan Asia Plaza. Tapi denger kata lelenya aja gue udah geli duluan. Geli ngebayangin kumisnya. Aiiiih. Coret!

"Ke Saung Lemona aja, Yah!" usul Iren. "Nyobain."

HAH? Gue langsung parno sendiri. Yayaya, boong besar kalau gue udah pernah nyobain semua tempat makan yang ada di Tasik. Saung Lemona adalah salah satu yang belum pernah gue jajagi keberadaannya. Alasannya? Jauuuuh. Gue sering males duluan kalau niat mau ke tempat yang satu ini. Pernah gue nanya temen yang pernah ke sana. Dia bilang juga begitu; jauuuuh. Bahkan dia bilang, daripada lo ke Lemona, mending ke Asep Stroberi aja di Nagreg. Bujubuneng, sejauh itu? Nagreg kan 1,5 jam dari Tasik, lewat Garut pula.  Gara-gara itu pula, beberapa kali niat menyatroni Saung Lemona dibatalkan karena gue males sama jauhnya. Nggak ah, mau nyari makan apa nyari susah?


Tapi hari Sabtu kemarin (24/03) kayaknya adrenalin gue terpancing *halah, nyari makan kok kayak mau bungee jumping*. Anggap aja lagi pergi liburan, pikir gue. lagian kalau masih Tasik-Tasik juga, sejauh apa sih? So, berangkatlah kita menuju Danau Lemona! Karena nunggu Abith pulang sekolah, kita baru berangkat jam 12 siang. Tetew! Risky banget, kan? Udah jelas jalannya jauh, eh berangkatnya siang pula. Tapi kadung udah niat, the show must go on lah. Kalo emang jauh, ya balik lagi aja. *glek*

Danau Lemona ada di daerah Salopa, Tasikmalaya Selatan, jadinya kita ambil arah lewat Kawalu. Yang gue tahu sih jalannya emang lewat sana. Apalagi ancer-ancer yang temen gue bilang, patokan untuk menuju ke Danau Lemona adalah lewat daerah Sukaraja, lalu ada belokan  ke kiri dengan papan petunjuk yang terpampang jelas di sana. Oke, mari kita jalan!

Dan meluncurlah kita berempat bersama Si Kutu Biru. Setengah jam berikutnya Sukaraja sudah terlewati, dan mata gue mulai waspada, jangan sampe belokannya kelewat dan kita malah kebablasan sampai ke Cibalong. Tapi akhirnya plang petunjuk itu kelihatan juga. Lumayan gede soalnya tepat di depan belokan jalan.

SAUNG DANAU LEMONA, 15 KM LAGI!

HAH? Gustiiii.... nggak kurang jauh?

Dan petualangan pun dimulai. Dari tempat belokan tadi jalanan mulai menyempit, tidak rata, dan mulai sepi. Hanya beberapa kali kita berpapasan dengan mobil lain dari arah depan. Di sepanjang jalan pun rumah-rumah mulai berkurang. Terkadang kita melewati sawah, ladang, atau hutan yang jaraknya cukup panjang.

"Ayah, ini mau ke mana?" Abith melirik gue bingung. Mungkin dia bingung kenapa kita malah main ke hutan? Tenang Nak, kamu tidak bingung sendiri. Ayahmu juga bingung kok. Ini mah berasa mau hiking atau naik gunung, bukan mau makan siang! Apalagi jalanan yang tidak mulus ditambah pula harus berkelok-kelok. Hiyaaaa.... life is an adventure! Untung sepanjang jalan Rayya bobo. Kalau dia sampe melek, yang ada pasti ngamuk-ngamuk; "Mau pulaaaaaaang...."

Gue sih cuma berharap, perjuangan berat ini akan setimpal dengan apa yang kita dapatkan nanti. So, petualangan pun dilanjutkan. Karena rute yang cukup berat (buat gue) ditambah gue emang driver yang alon-alon asal kelakon, baru tiga perempat jam berikutnya kita sampai. Hureeeeey.... akhirnya kita sampaaaai. *terharu*



Ternyata oh ternyata, ekspektasi gue ketinggian. Pemandangan alam sekitarnya okelah, cukup sejuk dengan kehijauan di sekeliling danau. Sayangnya danau yang gue bayangkan luas tapi ternyata tidak ini agak kotor dengan dedaunan. Airnya pun tidak bening, tapi malah hijau seperti tanda-tanda air tidak mengalir. Saung-saung yang ada pun tidak cukup terawat. Bahkan saat kita memasuki sebuah saung terapung di pinggiran danau, masih banyak remah-remah yang belum tuntas dibersihkan. Tunggu punya tunggu, tak ada satu pun petugas yang datang untuk membersihkan, padahal saat kita pesan makanan pun sudah mengeluhkan kebersihannya. Akhirnya, Iren menyingsingkan lengan tangan, membersihkan meja makan lesehan yang super gede itu dengan ... tisu!

Tempat seluas itu ternyata sangat sepi. Pada saat kita datang, hanya ada satu rombongan keluarga (sekitar 6 orang) yang makan di sana. Kita baru duduk, eh mereka malah pulang. Meski begitu, ada panggung hiburan *organ tunggal* yang menemani kesendirian kita. *cieeee* Tapi setelah itu, terlihat ada sepasang muda-mudi yang ikut bergabung makan di sana. Saat kita beranjak pulang, baru lah datang satu mobil lagi rombongan keluarga. Halah, kenapa nggak dari tadi?

Kita sudah sangat terbiasa menjelajah makanan dari saung ke saung yang ada di Tasik. Karena itu jangan heran kalau kita terbiasa membandingkan rasa, penyajian, dan juga harga. Maaf-maaf kalau gue bilang ketiga poin tersebut tidak mendapatkan nilai yang bagus. Nasi liwetnya keras, jauh banget kalau harus dibandingkan dengan liwetnya Saung Ranggon. Gurame goreng yang dari awal kita minta goreng kering pun ternyata masih benyek bagian dalamnya. Nggak ada crispy-crispynya. Mungkin karena ngegorengnya pake api terlalu gede? *sotoy* Kayaknya Bumbunya pun aneh, pake ketumbar. Iren bilang, kok kayak ngegoreng ikan mujair ya? Rasa daging guramenya jadi ilang.

Sebenarnya, patokan makan buat gue di setiap saung cuma dua; nasi liwet dan gurame gorengnya, karena dua itu yang jadi menu wajib ke manapun kita bergerak *halah*. Kalau yang dua itu maknyos, kita bisa datang berulang. Tapi kalau tidak, maaf-maaf ye. Menu yang lain sih buat gue nggak jadi patokan, karena perannya cuma sebagai pelengkap penderita doang.

Harga? Hard to say harganya kalah murah dibanding saung-saung lainnya, apalagi dengan rasa dan pelayanan yang kurang maksimal seperti itu. Apalagi dengan jauhnya!

Anyway, meski banyak kekurangan tapi tetap ada kelebihan juga dong. Meski gue bilang makanannya tidak memuaskan, toh anak gue bilang enak, dan makan banyak. Belum lagi rasa exciting mereka saat naik saung terapung dan goyang-goyang selama makan. Ini jadi sensasi dan pengalaman tersendiri buat mereka. Yang  seru, Saung Lemona menyediakan perahu bebek dan perahu dayung buat pengunjung. Pake sepuasnya dan gratis! Karena ngeri kebalik kalo make sampan, akhirnya kita milih berperahu pake bebek-bebekan saja. Asyik, bisa muter-muter keliling danau.


Satu lagi yang seru dan bisa menguji keberanian; melintasi jembatan gantung! Jembatan yang terbuat dari bambu ini melintas kurang lebih 60 meter dari pintu masuk sampai ke lokasi saung-saung. Cobain dan bergoyang-goyanglah selama beberapa menit perjalanan. Rasakan sensasinya dan berpeganganlah agar kamu tidak tercebur! Nggak punya keberanian? Nggak masalah, ada petugas khusus yang akan  menjemput menggunakan rakit!