Jumat, 20 April 2012

BZ Magazine edisi April 2012

jual bantal foto

Bangga rasanya saat dipercaya memimpin redaksi untuk penerbitan BZ Magazine edisi April 2012 ini. Meski sejak awal tahun ini saya didera begitu banyak kesibukan di kantor, tapi kepercayaan ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Karena itulah, di sela-sela kesibukan rutin yang saya kerjakan, saya berupaya bisa melaksanakan tugas ini sebaik-baiknya. Alhamdulillah, meski sempat keteteran, tapi dukungan seluruh jajaran redaksi, BZ edisi 27/April 2012 ini akhirnya bisa terbit juga. Alhamdulillah.

Oya, yang belum paham, BZ adalah majalah online yang dikelola oleh Blogfam (blogger family), sebuah komunitas blogger tertua di Indonesia. Sebelum hadir kembali pada tahun 2012 ini, BZ dulu sempat terbit teratur bulanan dan kemudian vakum selama 4 tahun. Mulai Pebruari 2012, Redaksi Blogfam kembali menyundul kegiatan penerbitan ini dan berusaha untuk eksis kembali setiap bulannya dengan beragam informasi seputar dunia blogging.

Untuk edisi April 2012 ini, laporan utama menyorot tentang fenomena BLOOK, blog yang dialihmediakan menjadi buku. Untuk itu redaksi BZ berhasil mewawancarai Ang Tek Khun selaku owner dari Penerbit Gradien Mediatama, yang selama ini sudah banyak menerbitkan Blook dan rata-rata sukses di pasaran. Selain itu, redaksi juga berhasil narablog yang kemudian lebih dikenal sebagai Penulis. Ada Cik Kerani, yang mendadak ngetop karena blook-nya yang berjudul 'My Stupid Boss' laris manis di pasaran buku tanah air. Ada pula wawancara dengan Lalu Abdul Fatah, blogger yang mulai memantapkan diri sebagai travel writer, dan sudah berhasil menerbitkan buku panduan wisata berjudul Travelicious Lombok.

Jangan lewatkan pula kilas kabar dari Dee Lestari yang baru saja menerbitkan novel Partikel dan novel Perahu Kertas-nya yang segera dilayarlebarkan. Tak hanya itu, dari dunia komik, simak cerita seru dari Hikmat Darmawan dan Pengajian Komiknya. Tak lupa laporan seputar komunitas blogger yang kali ini meliput Komunitas Blogger Papua. Dan juga artikel tentang Jurus Mencampur Bahasa di Blog.

BZ Edisi April bisa diunduh di sini :

Semoga berkenan. :)

Rabu, 11 April 2012

[Tips] Mengejar Endorsment

jual bantal foto
Seberapa penting kah sebuah endorsement pada saat memutuskan membeli sebuah buku?  Tergantung orangnya juga sih. Banyak yang lebih memilih mengabaikannya, tapi tak sedikit juga yang tergiur karena deretan endorsement plus nama endorsernya.  Meski begitu, toh tak sedikit penerbit yang masih menggunakan peran endorsment sebagai strategi marketing buku-buku mereka agar lebih menarik perhatian calon pembaca.

Buat penulis (tidak semua memang), ada kebanggaan juga kalau naskahnya mendapatkan endorsement dari orang-orang hebat. Seperti yang kita tahu, yang terpilih menjadi endorser setidaknya adalah orang-orang pilihan; selebritis, publik figur, orang-orang yang cukup terpandang di bidangnya, Penulis dengan jam terbang tinggi, atau bahkan sekadar penikmat buku terpilih. Senang rasanya mereka mau menorehkan sedikit komentarnya untuk buku yang kita tulis. 

Pencarian endorser tidak melulu dilakukan oleh penerbit. Terkadang Penulis pun harus terjun untuk pencarian endorser yang dikira tepat. Beberapa novel saya pernah mendapatkan endorsement dari selebritis yang sudah diusahakan sendiri oleh penerbit (asyiiik). Tapi di beberapa novel lain, saya pun terjun sendiri mengejar endorser. Seru juga sih, karena merasa semakin terlibat dalam proses penerbitan buku secara keseluruhan.

Lalu, nyari endorser itu seperti apa sih? Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya share bagi yang membutuhkan informasi seperti ini, khususnya yang ingin mencari endorser sendiri untuk calon bukunya :

  • Tentukan siapa yang akan dipilih jadi endorser
Memilih endorser memang tidak bisa sembarangan. Kehadiran endorser diharapkan dapat mencuri perhatian dan menjadi poin lebih bagi bukunya. Karena itu, pilihlah nama-nama yang bisa menjual. Seorang publik figur sering dijadikan pilihan. Kalau kamu memiliki link ke para selebritas, ayo manfaatkan! Saya ingat dulu sempat memanfaatkan seorang teman yang merupakan kakak ipar Indra Bruggman untuk mendapatkan endorsementnya. Berhasil!

Sasaran lain untuk ditembak menjadi endorser biasanya sesama penulis. Selain sudah saling mengenal dan bisa memanfaatkan hubungan pertemanan, seorang penulis pun biasanya memiliki fans tersendiri. Diharapkan kalau idolanya membubuhkan endorsement di suatu buku, fansnya pun akan tertarik untuk membaca/membeli buku tersebut. Benar kan kalau endorsment adalah bagian dari strategi marketing?

  • Diskusikan calon endorser dengan Penerbit
Jangan sampai setelah susah-susah cari endorsement, eh ternyata pihak penerbit menolak nama endorser tersebut dengan alasan kurang menjual. Pasti ada perasaan tidak nyaman kalau harus menyampaikan kepada endorser tersebut kalau endorsementnya tidak jadi dicantumkan. Karena itu, diskusikan dari awal siapa calon-calon endorser yang akan dipilih. Kalau ternyata penerbit oke, baru deh kamu kejar endorsernya.

  • Hubungi calon endorser jauh-jauh hari
Tidak setiap orang memiliki banyak waktu luang. Hindarkan menghubungi calon endorser dan memberikan deadline yang sangat mepet. Kita tidak bisa menduga kesibukan apa yang sedang mereka kerjakan. Bisa jadi kita sendiri yang akan kecewa karena mereka bahkan tidak sempat membaca naskahnya dan batal memberikan endorsementnya. Untuk mengatasi hal ini, diskusikan kebutuhan endorser ini dengan editor jauh-jauh hari, sehingga kita bisa memiliki cukup waktu untuk mengejar calon endorser.

  •  Naskah yang rapi
Alangkah menyenangkannya para endorser kalau membaca naskah yang sudah tersusun baik dan rapi. Hindarkan naskah yang masih terlihat ‘keriting’;  typo bertaburan, tanda baca yang berantakan, atau susunan halaman yang acak-acakan. Kita pun tentu tidak ingin calon endorser mengerutkan kening pas baca naskahnya, kan? Kalau bisa, mintalah naskah yang sudah diedit ke editornya, sehingga naskah yang disebar ke endorser pun sudah jauh lebih cantik.

Ada beberapa endorser yang kadang menyampaikan tidak memiliki banyak waktu untuk membaca keseluruhan naskah. Karena itu, siapkan naskah ‘khusus’ apabila menemui hal seperti ini. Sebuah sinopsis lengkap yang menggambarkan keseluruhan isi buku, atau beberapa bab awal dari naskah. Biasanya dari sana endorser dapat ‘membaca’ apa yang harus ditulisnya.

  • Honor/Imbal balik
Berapa sih honor untuk seorang endorser? Ada beberapa orang yang pernah menanyakan hal ini. Secara umum dan sudah menjadi lazim di kalangan dunia penulisan, tidak ada honor untuk endorser apabila diminta memberikan endorsement. Tapi, sebagai imbal balik atas jasa yang sudah diberikan, biasanya penerbit akan mengirimkan satu (ada juga yang dua) eks bukunya apabila sudah selesai cetak. Kalau penerbit ternyata tidak menyediakan, maka tanggungjawab penulis lah yang menyediakan buku tersebut untuk para endorser.

Keadaannya bisa lain apabila meminta endorsement kepada publik figur atau tenaga ahli. Terkadang ada juga yang memberikan tarif apabila bermaksud meminta endorsement dari yang bersangkutan. Kalau mau aman, pada saat melamarnya jadi endorser, sampaikan pula tentang imbal balik yang akan diberikan nanti. Kalau memiliki budget untuk membayar tentu tidak masalah kalau mereka meminta tarif tertentu. Tapi kalau tidak, lebih baik cari endorser lain saja.

Oya, meski saya baru menjumpai satu saja, ternyata ada juga penerbit yang memberikan honor untuk para endorser. Cihuy, kan?

Semoga membantu. :)

Minggu, 08 April 2012

[Laporan] Workshop di QSMART - SMA Al-Muttaqien

jual bantal foto
Ternyata satu setengah jam itu tidak pernah cukup. Tadinya saya mikir, dengan tempo waktu selama itu, saya harus ngomong apa aja ya. Makanya, saat nyusun presentasi, saya siapin dua materi buat ngisi slot waktu yang sudah disiapkan panitia. Ealah, rupanya saya lupa kalo udah ngomong, saya tuh susah banget brentinya. Terbukti waktu satu setengah jam berlalu begitu saja, sementara materi yang harus disampaikan masih banyak! Hiyaaa..... *ngebut presentasi*

Siang ini (Sabtu, 7 April 2012), saya berkunjung ke SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya untuk memenuhi undangan jadi pembicara dalam acara Workshop bertema Relevansi Sosial Media dan Pembentukan Remaja. Keren kan temanya? Berhubung saya merasa dilahirkan dari Media Sosial (khususnya blog), dan sekarang pun masih berkecimpung sebagai bagian dari sosial media yang ada, tawaran ini pun saya terima dengan senang hati. Apalagi dengan tema seperti itu, saya mau banget sharing tentang apa yang pernah saya lakukan seputar sosial media yang saya geluti, dan dampak positif yang pernah saya raih. Mudah-mudahan bisa sedikit menginspirasi puluhan adik-adik dari SMP dan SMA peserta gelaran Workshop ini yang datang tidak hanya dari area Tasik, tapi juga dari Ciawi, Ciamis, sampai Banjar! Wow.

Jam setengah sembilan saya sudah nongkrong di parkiran SMA Al-Muttaqin. Sebagai pembicara pertama, tentunya nggak lucu kalo saya datang telat. Makanya, meski acara baru dimulai pukul sembilat lewat (pada akhirnya, karena ada seremonial yang dilakukan), jauh sebelumnya saya sudah siap. Apalagi lokasi sekolah ini nggak begitu jauh dari rumah, lima-sepuluh menit berkendara saja sudah sampai di lokasi. Tak lama saya dijemput Afrilia, salah seorang panitia dari Qsmart, yang kemudian mengajak ke ruang acara.

Acara sudah dimulai. Lantunan ayat suci Al-quran menyambut kedatangan saya. Ternyata sudah ada Pak Jenal, Kepala Sekolah SMA Al-Muttaqien, yang akan membuka resmi workshop tersebut, dan juga Pak In In, Wakasek Kurikulum/Pembina Kirlistik, yang ternyata masih mengingat saya karena dulu pernah diundang ke sekolah ini pula saat diminta menjadi juri Lomba Blog. Seremonial pun berlanjut sampai akhirnya tiba giliran saya untuk berbicara. *eng-ing-eng*

Materi yang saya paparkan saat itu adalah seputar dunia tulis menulis dan kaitannya dengan sosial media. Dengan materi seperti ini, saya merasa tertarik kembali beberapa tahun ke belakang, saat saya baru memulai aktivitas ngeblog, gabung di komunitas blogger (blogfam), yang kemudian membuka jalan terhadap dunia penulisan. Tak heran saya begitu bersemangat menceritakan bagaimana lewat Sosial Media akhirnya saya menemukan bakat terpendam; menulis. Mengingat banyak peserta workshop yang ternyata memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, saya pun berusaha menekankan bahwa kesempatan itu selalu terbuka lebar, bahkan melalui media sosial yang tengah marak sekarang ini. Banyaknya ajang penimbaan ilmu lewat grup-grup penulisan di facebook dan event-event lomba penulisan, adalah peluang yang harus dimanfaatkan dengan maksimal. Sosial Media tidak lagi hanya ajang untuk berinteraksi dan menjalin pertemanan belaka, lebih dari itu menawarkan banyak sekali kesempatan untuk mengembangkan bakat yang dimiliki.

Banyak contoh sukses yang bisa kita lihat bagaimana sebuah sosial media bisa melambungkan bakat dan kemampuan seseorang. Siapa tidak kenal Raditya Dika? Tulisan iseng dan ngocol di blognya telah mengangkat dia sebagai seorang selebritas baru di dunia penulisan. Atau Arief Mohammad yang gara-gara akun Poconggg-nya di twitter berhasil mengangkat namanya ke jenjang yang lebih tinggi. Sebut juga Trinity yang karena blog 'The Naked Traveller'nya sudah mengukuhkan dia sebagai backpacker paling terkenal di Indonesia. Tidak lupa, tentu saja sosok humble rupawan bernama ... Iwok Abqary! *hiyaaaat.... geplak! pentung! Bantai!*

Tanpa jeda lama, saya kemudian lanjut ke materi berikutnya mengenai tips-tips penulisan. Dibanding materi pertama, sesi kedua lebih terlihat menarik perhatian peserta. Mungkin karena bahasannya lebih spesifik ke jalur penulisan. Dan saya pun nyerocos kembali sampe kemudian baru nyadar kalo ada seorang panitia yang ngasih kode ke moderator kalo waktunya sudah habis. Hah, habis? tapi materi saya kan belum habis? Hiyaaa... gimana nih? Pas saya tanya ke moderator, ternyata dikasih waktu lima menit lagi buat tanya jawab. Lah, tapi materi saya belum selesai! *keukeuh* hehehe. Akhirnya  saya ngebut menyampaikan materi, karena nggak lucu juga kalo bahasannya kok ngegantung. Penanya pun akhirnya cuma dibatasi dua orang saja, mengingat waktu yang sudah kebablasan. Dari rumah sebenarnya saya sudah bawa 4 buku buat doorprize. Mengingat hanya dua penanya saja, hanya dua buku pula yang akhirnya dibagikan. Penanya yang beruntung masing-masing memilih novel DOG'S LOVE dan Antologi FIGHT, LOVE,HOPE.

Seru! Senang sekali saya bisa terlibat dalam gelaran yang melibatkan banyak anak muda (remaja) di dalamnya. Panitia-panitianya yang gesit dan cerdas dalam menyusun sebuah workshop bergizi, plus pesertanya yang antusias mengikuti rangkaian acaranya. Selain saya, ada dua pembicara lain yang akan menyemarakan wawasan peserta workshop tentang arti dan manfaat sosial media dalam kaitannya dengan dunia jurnalistik. Mereka adalah Yudha P. Sunandar (Pimred SalmanITB.com) yang saya kenal sewaktu sama-sama diundang ke acara ASEAN Blogger Conference di Bali, dan Yogi Ahmad Fajar (pimred Bulaksumur.com - UGM) yang telah saya kenal sewaktu dia masih sekolah di SMA Al-Muttaqin ini dan mengundang saya sebagai juri lomba blog.

Dunia penulisan memang sudah menarik banyak remaja saat ini. Usai menyelesaikan tugas saya sebagai pembicara, perbincangan pun kembali berlanjut dalam suasana santai. Kebetulan usai materi saya dilanjutkan acara break salat zuhur dan makan siang. Beberapa peserta dan panitia merubung untuk menanyakan banyak hal yang belum tuntas terbahas dalam materi tadi. Asyik. Melihat semangat mereka, saya yakin mereka akan berkiprah banyak setelah ini dan beberapa tahun ke depan. Amin. Semoga apa yang saya sampaikan memang bisa menginspirasi mereka, kalau peluang mereka sangat terbuka lebar. Kuncinya cuma satu, ada kemauan, mau belajar, dan ada usaha. *eh, itu mah tiga ya, bukan satu* :D

Yang menyenangkan, dalam obrolan singkat dengan Pak Zainal, Kepsek SMA Al-Muttaqin ini, tercetus keinginan adanya program lanjutan pelatihan penulisan tidak saja untuk siswa, tapi juga untuk guru-guru dan kepala sekolahnya. Lebih jauh, diharapkan program itu dapat menghasilkan sebuah karya nyata dalam bentuk buku. Amiiin.... ayo Pak, kita laksanakan!

Ucapan terima kasih buat Fathia, Affrilia, dan seluruh panitia dari QSmart yang sudah mengundang saya untuk hadir dalam acara ini. Tetap pertahankan semangatnya ya.
*Foto diculik dari Affrilia Utami

Senin, 02 April 2012

Cherrybelle VS Iko Uwais

jual bantal foto
Gara-gara parkir depan 21 sebelum masuk Plaza Asia, Abith dan Rayya mergokin poster 'Love is U' di jadwal tayang 21 saat ini. Hasilnya bisa ditebak, mereka pengen nonton film Cherrybelle! Hiyaaaa.... asli ini mah nggak bakalan brenti  merengek sampe keinginan mereka terlaksana. Mayday!

"Iya, Ayah pada nonton aja. Ibu mau nyari celana jeans item."

Weks, enak aja! Ogah ah. Akhirnya dengan setengah paksa, digeretlah Abith dan Rayya menuju tujuan semula; belanja bulanan. Meski wajah Abith jadi mutung, gue tetep keukeuh; nggak nonton Cherrybelle. Besok lagi aja, biar gue bisa mikir dulu bagaimana menyelamatkan diri dari kondisi ini. Wkwkwk... pas beres belanja dan balik lagi ke parkiran, dua anak itu mulai meraung-raung lagi karena tuh poster kelihatan lagi. Rayya bahkan sampai ngamuk-ngamuk nggak  mau pulang. Darah Chibi mereka langsung menggelora dan demo seketika; "Kami ingin nonton! Berilah kami kesempatan!" *iya, lebay banget sih* Setelah dijanjikan besok siang aja nontonnya, akhirnya mereka mau juga digiring pulang. Fyuuuh.

Semalaman gue mikir, gimana ya dengan besok? Jujur aja gue nggak mau nonton film Chibi. Apalagi tadi lihat di sebelah poster Love is U ada posternya The Raid! Huwaaa.... gue mendingan nonton itu dah. Beneran. Gaung kehebatan Iko Uwais sudah menggema di mana-mana, dan gue udah nunggu-nunggu filmnya tayang di sini. Pas sekarang udah tayang, masa sekarang gue malah milih Cherrybelle? Yang kebayang gue cowok bangkotan sendiri nanti di dalam bioskop, rendengan sama bocah-bocah cilik yang sering rajin nangkupin tangan di dagu.

Gue SMS ponakan gue yang udah SMP dan SMA, maksudnya mau nggak besok nitip anak gue buat nonton bareng? Eh, ternyata mereka nggak bisa karena besok bapaknya mau ultah dan ada acara makan-makan di rumahnya. Iren juga kayaknya ogah banget nemenin anak-anak karena udah bulet pengen keliling mall nyari celana jeans. Halah. Begimana dooong?

Kayaknya gue harus pasrah. Yasutralah kalau ternyata gue harus jadi Twiboy siang itu. latihan dulu yel-yelnya ah; Chibi-chibi-chibi-hah-hah-haaahh!*tutup idung*

Tapi siang itu sebelum berangkat ternyata ada keajaiban datang. Iren mau nemenin Abith dan Rayya. Horeeee.... lagian kan emang sudah seharusnya emak-emak nemenin anaknya ya? Mungkin Iren malu juga kalau status fesbuk, twitter, dan BBM gue bakalan tertulis; "Lagi nonton film Cherrybelle dong. Hyuk mareee...." Hehehe

"Siiip... biar tiketnya Ayah yang bayar," kata gue.
"Loh, memang tadinya juga begitu kan?"

Hihihi. Dan gue pun bebas merdeka. Apalagi Abith dan Rayya asyik-asyik aja gue bakal menghilang sementara. Di pikiran mereka cuma satu; yang penting nonton Cherrybelle! Dan gue pun akhirnya ngacir ke Studio sebelah dengan gempita. Huhuuy. Gue pun akhirnya batal jadi Twiboy. Selameeet.

Dan bagaimana dengan film The Raid sendiri? Ini film action yang asyik! Wajar banget kalau banyak review positif buat film besutan Garreth Huw Evans ini. Koreografi pertarungannya bikin nggak bisa napas. Layaknya film-film laga yang dipenuhi adegan perkelahian, tokoh yang berantemnya susah banget buat mati. Padahal udah digebuk sana-sini, dibanting sini-situ, ditembak, ditusuk, eh masih aja ngelawan. Hehehe. Tapi justru itu lah keunggulan dari film ini. Kalau nggak begitu kayaknya memang nggak bakalan asyik. Di beberapa bagian tampak sekali kesadisan yang ditampilkan. Asli sadis dan keras, sampai beberapa kali pula gue harus merem atau ngangkat kaki (loh?). Jangan coba-coba deh bawa anak di bawah umur nonton film ini. Bahayaaa.

Dari segi cerita sih tidak terlalu banyak yang ditawarkan. Plotnya singkat banget, tentang penyerbuan tim SWAT ke sebuah apartemen kumuh untuk menciduk gembong narkoba. Akting pemainnya (kecuali Ray Sahetapi yang cool banget) masih terlihat kaku semua. Tapi abaikan cerita dan unsur akting para pemainnya, karena pada saat pertarungan berlangsung aksi mereka akan begitu mempesona. Ini memang film laga dimana peran aksinya lebih ditonjolkan daripada ceritanya. Asyiklah, bangga banget ada film Indonesia yang bisa membetot perhatian dan pujian dunia.[]

Selasa, 27 Maret 2012

[Jalan-jalan] Saung Danau Lemona

jual bantal foto
Long weekend kali ini bener-bener nggak ada acara. Biasanya juga nggak pernah planning bikin acara sih, tapi kali ini asli mati gaya. Bingung mau ke mana. Liburan ke luar kota, jelas tidak mungkin. Gue paling menghindari liburan ke luar kota di saat long weekend seperti ini. Macet di mana-mana! Bukan hanya di perjalanannya, tapi juga di lokasi tujuannya. Males banget kalau liburannya malah tidak bisa dinikmati. Kalau mau liburan gue justru lebih milih di low season, saat orang-orang nggak pada nyerbu ke tempat-tempat rekreasi. Enak, nggak usah desek-desekan.


Nah, libur tiga hari kemarin pun nggak sempet mikir mau pergi-pergi ke mana. Makanya santey aja, tidur larut malem, bangun bisa siang. Gulipak-gulipek di tempat tidur seharian. Nonton TV sampe bingung nyari posisi yang enak lagi, saking semua gaya udah dicoba. Tengkurep, telentang, nungging, atau sambil ucang-ucang angge (ini sih karena dipaksa Rayya).

Tapi kok bosen ya? Gelutukan seharian di rumah malah bikin galau. *halah* Kalau sudah begini, nggak ada cara lain selain harus jalan-jalan ke luar rumah. Mau jalan ke mal kok belum-belum udah males. Mal di Tasik kan cuma itu doang. Perasaan udah hapal deh setiap sudutnya,  mau ngapain lagi ke sana? Apalagi kalau nggak ada niat belanja (atau ga punya duit), jalan-jalan di mal malah suka nanggung. Dapet pegel dan mupeng doang.

So, jalan satu-satunya adalah wisata kuliner! Makan-makan di saung kalau istilah Abith, anak gue sih. Tapi di saung mana lagi? Belum ada kabar tempat makan baru lagi yang baru berdiri. Perasaan semua saung makan udah gue jajah semua. Eh ada sih, LELE LELA depan Asia Plaza. Tapi denger kata lelenya aja gue udah geli duluan. Geli ngebayangin kumisnya. Aiiiih. Coret!

"Ke Saung Lemona aja, Yah!" usul Iren. "Nyobain."

HAH? Gue langsung parno sendiri. Yayaya, boong besar kalau gue udah pernah nyobain semua tempat makan yang ada di Tasik. Saung Lemona adalah salah satu yang belum pernah gue jajagi keberadaannya. Alasannya? Jauuuuh. Gue sering males duluan kalau niat mau ke tempat yang satu ini. Pernah gue nanya temen yang pernah ke sana. Dia bilang juga begitu; jauuuuh. Bahkan dia bilang, daripada lo ke Lemona, mending ke Asep Stroberi aja di Nagreg. Bujubuneng, sejauh itu? Nagreg kan 1,5 jam dari Tasik, lewat Garut pula.  Gara-gara itu pula, beberapa kali niat menyatroni Saung Lemona dibatalkan karena gue males sama jauhnya. Nggak ah, mau nyari makan apa nyari susah?


Tapi hari Sabtu kemarin (24/03) kayaknya adrenalin gue terpancing *halah, nyari makan kok kayak mau bungee jumping*. Anggap aja lagi pergi liburan, pikir gue. lagian kalau masih Tasik-Tasik juga, sejauh apa sih? So, berangkatlah kita menuju Danau Lemona! Karena nunggu Abith pulang sekolah, kita baru berangkat jam 12 siang. Tetew! Risky banget, kan? Udah jelas jalannya jauh, eh berangkatnya siang pula. Tapi kadung udah niat, the show must go on lah. Kalo emang jauh, ya balik lagi aja. *glek*

Danau Lemona ada di daerah Salopa, Tasikmalaya Selatan, jadinya kita ambil arah lewat Kawalu. Yang gue tahu sih jalannya emang lewat sana. Apalagi ancer-ancer yang temen gue bilang, patokan untuk menuju ke Danau Lemona adalah lewat daerah Sukaraja, lalu ada belokan  ke kiri dengan papan petunjuk yang terpampang jelas di sana. Oke, mari kita jalan!

Dan meluncurlah kita berempat bersama Si Kutu Biru. Setengah jam berikutnya Sukaraja sudah terlewati, dan mata gue mulai waspada, jangan sampe belokannya kelewat dan kita malah kebablasan sampai ke Cibalong. Tapi akhirnya plang petunjuk itu kelihatan juga. Lumayan gede soalnya tepat di depan belokan jalan.

SAUNG DANAU LEMONA, 15 KM LAGI!

HAH? Gustiiii.... nggak kurang jauh?

Dan petualangan pun dimulai. Dari tempat belokan tadi jalanan mulai menyempit, tidak rata, dan mulai sepi. Hanya beberapa kali kita berpapasan dengan mobil lain dari arah depan. Di sepanjang jalan pun rumah-rumah mulai berkurang. Terkadang kita melewati sawah, ladang, atau hutan yang jaraknya cukup panjang.

"Ayah, ini mau ke mana?" Abith melirik gue bingung. Mungkin dia bingung kenapa kita malah main ke hutan? Tenang Nak, kamu tidak bingung sendiri. Ayahmu juga bingung kok. Ini mah berasa mau hiking atau naik gunung, bukan mau makan siang! Apalagi jalanan yang tidak mulus ditambah pula harus berkelok-kelok. Hiyaaaa.... life is an adventure! Untung sepanjang jalan Rayya bobo. Kalau dia sampe melek, yang ada pasti ngamuk-ngamuk; "Mau pulaaaaaaang...."

Gue sih cuma berharap, perjuangan berat ini akan setimpal dengan apa yang kita dapatkan nanti. So, petualangan pun dilanjutkan. Karena rute yang cukup berat (buat gue) ditambah gue emang driver yang alon-alon asal kelakon, baru tiga perempat jam berikutnya kita sampai. Hureeeeey.... akhirnya kita sampaaaai. *terharu*



Ternyata oh ternyata, ekspektasi gue ketinggian. Pemandangan alam sekitarnya okelah, cukup sejuk dengan kehijauan di sekeliling danau. Sayangnya danau yang gue bayangkan luas tapi ternyata tidak ini agak kotor dengan dedaunan. Airnya pun tidak bening, tapi malah hijau seperti tanda-tanda air tidak mengalir. Saung-saung yang ada pun tidak cukup terawat. Bahkan saat kita memasuki sebuah saung terapung di pinggiran danau, masih banyak remah-remah yang belum tuntas dibersihkan. Tunggu punya tunggu, tak ada satu pun petugas yang datang untuk membersihkan, padahal saat kita pesan makanan pun sudah mengeluhkan kebersihannya. Akhirnya, Iren menyingsingkan lengan tangan, membersihkan meja makan lesehan yang super gede itu dengan ... tisu!

Tempat seluas itu ternyata sangat sepi. Pada saat kita datang, hanya ada satu rombongan keluarga (sekitar 6 orang) yang makan di sana. Kita baru duduk, eh mereka malah pulang. Meski begitu, ada panggung hiburan *organ tunggal* yang menemani kesendirian kita. *cieeee* Tapi setelah itu, terlihat ada sepasang muda-mudi yang ikut bergabung makan di sana. Saat kita beranjak pulang, baru lah datang satu mobil lagi rombongan keluarga. Halah, kenapa nggak dari tadi?

Kita sudah sangat terbiasa menjelajah makanan dari saung ke saung yang ada di Tasik. Karena itu jangan heran kalau kita terbiasa membandingkan rasa, penyajian, dan juga harga. Maaf-maaf kalau gue bilang ketiga poin tersebut tidak mendapatkan nilai yang bagus. Nasi liwetnya keras, jauh banget kalau harus dibandingkan dengan liwetnya Saung Ranggon. Gurame goreng yang dari awal kita minta goreng kering pun ternyata masih benyek bagian dalamnya. Nggak ada crispy-crispynya. Mungkin karena ngegorengnya pake api terlalu gede? *sotoy* Kayaknya Bumbunya pun aneh, pake ketumbar. Iren bilang, kok kayak ngegoreng ikan mujair ya? Rasa daging guramenya jadi ilang.

Sebenarnya, patokan makan buat gue di setiap saung cuma dua; nasi liwet dan gurame gorengnya, karena dua itu yang jadi menu wajib ke manapun kita bergerak *halah*. Kalau yang dua itu maknyos, kita bisa datang berulang. Tapi kalau tidak, maaf-maaf ye. Menu yang lain sih buat gue nggak jadi patokan, karena perannya cuma sebagai pelengkap penderita doang.

Harga? Hard to say harganya kalah murah dibanding saung-saung lainnya, apalagi dengan rasa dan pelayanan yang kurang maksimal seperti itu. Apalagi dengan jauhnya!

Anyway, meski banyak kekurangan tapi tetap ada kelebihan juga dong. Meski gue bilang makanannya tidak memuaskan, toh anak gue bilang enak, dan makan banyak. Belum lagi rasa exciting mereka saat naik saung terapung dan goyang-goyang selama makan. Ini jadi sensasi dan pengalaman tersendiri buat mereka. Yang  seru, Saung Lemona menyediakan perahu bebek dan perahu dayung buat pengunjung. Pake sepuasnya dan gratis! Karena ngeri kebalik kalo make sampan, akhirnya kita milih berperahu pake bebek-bebekan saja. Asyik, bisa muter-muter keliling danau.


Satu lagi yang seru dan bisa menguji keberanian; melintasi jembatan gantung! Jembatan yang terbuat dari bambu ini melintas kurang lebih 60 meter dari pintu masuk sampai ke lokasi saung-saung. Cobain dan bergoyang-goyanglah selama beberapa menit perjalanan. Rasakan sensasinya dan berpeganganlah agar kamu tidak tercebur! Nggak punya keberanian? Nggak masalah, ada petugas khusus yang akan  menjemput menggunakan rakit!



Kamis, 22 Maret 2012

[Jalan-jalan] Ke Jogja Lagi - part 3 (Oleh-oleh)

jual bantal foto
Sudah jadi kebiasaan apabila pergi ke suatu tempat, entah untuk liburan dan bahkan untuk urusan kerjaan, selalu memikirkan; "oleh-oleh apa yang akan saya bawa pulang?" Entah sejak kapan kebiasaan ini mulai berlangsung, di mana seseorang yang pergi ke luar kota, pulangnya serasa diwajibkan membawa oleh-oleh. Selain sibuk menikmati liburan (atau melaksanakan urusan pekerjaan), pelancong pun masih harus disibukkan dengan urusan mencari sesuatu untuk dibawa pulang. Diakui atau tidak, tradisi ini sudah sangat kental dalam budaya kita. Bahkan seseorang yang tidak ada kaitan dan urusan pun terkadang tak kalah sibuk kalau tahu ada orang yang hendak pesiar; "Jangan lupa oleh-olehnya ya?" *Hadeuh*

Begitulah, oleh-oleh menjadi sesuatu yang harus dipikirkan. Setidaknya kali ini pun gue 'harus' bawa pulang sesuatu untuk anak, istri, mertua, dan teman-teman kantor. *halah, banyak pisan?* Untungnya nggak susah nyari oleh-oleh kalau kita ke Jogja. Banyak tempat yang menawarkan makanan atau cenderamata lokal. Bahkan untuk hal ini kita nggak perlu bingung, banyak tukang beca yang menawarkan diri untuk ongkos yang sangat tidak masuk di akal. Bayangkan, hanya dengan membayar lima ribu perak kita bisa dibawa ke berbagai tempat. Jauh-jauh pula. Bahkan disuruh nunggu lama pun ongkosnya tetep aja tidak berubah, lima rebu perak saja! 

Awalnya gue mikir, ongkos becak di Jogja kok murah banget ya? Tapi ternyata anggapan gue harus diralat lagi. Ongkos becak akan sangat murah kalau kita pergi ke tempat-tempat tertentu, yaitu tempat penjualan oleh-oleh. Karena eh karena, para Abang Becak itu dapat tip dari para pemilik outlet. Oalaaaaah. Coba kamu naik becak dengan tujuan bukan lokasi outlet oleh-oleh, ongkosnya bakalan bikin bete. Untuk jarak kurang dari 100 meter aja gue ditodong ongkos sepuluh rebu! Semprul!

Bakpia Patuk

Ini mungkin makanan wajib dan gampang dibawa kalau memang nyari oleh-oleh dari Jogja. Meski bakpia rasanya hampir ada di setiap daerah, isinya kacang ijo-kacang ijo juga, tapi tetap saja kerasa beda kalau bukan dari daerah asalnya. Ini bakpia patuk asli Jogja! Isi bakpianya pun udah bukan kacang ijo doang, tapi sudah ada variasi lainnya, kayak keju, cokelat, dan kacang merah. Selain bakpia biasa, ada pula yang versi crispynya. Enak!

Katanya, bakpia yang enak tuh yang merk 75 atau 25. Hampir semua rekomendasiin dua nama ini. Yaweslah, daripada salah beli, akhirnya kita minta abang becak ke toko Bakpia 25 aja. Apalagi rekomendasi dari si Abang Becak, kita bisa lihat langsung ke pabriknya. Wah, bakalan seru abis nih. Majuuuu!

Ternyata namanya usaha kalau digeluti serius bisa bikin tajir juga ya? Ah, yakin lah kalau pemiliknya pasti tajir, lah wong pegawainya aja ratusan gitu! Punya beberapa toko cabang pula. Tapi beneran, seru banget melihat kesibukan yang terjadi di belakang layar pembuatan Bakpia Patuk 25. Deretan pegawai sibuk membuat adonan, menguleni, membulat-bulat adonan, sampai memanggangnya. Bau harum tercium sampai ulu hati. *halah*. Selain sebagai pabrik pembuatan, di lokasi ini juga ada counter kecil untuk penjualan bakpia, yang masih panas! Fresh from the oven. Selain bakpia, di sini juga disediakan penganan lain untuk oleh-oleh, jadi bisa sekalian belanja kalau bakpia saja dirasa kurang. :D

Pasar Beringharjo

Ke Jogja juga nggak asyik kalau nggak belanja batik. Batik memang bukan hanya ada di Jogja. Beberapa daerah lain juga dikenal sebagai sentra batik. Tapi, tentunya setiap daerah punya kekhasan masing-masing dong? Nah, batik yang ada di Jogja tentu saja dengan motif-motif yang berbeda dengan batik dari daerah lain.

Di sepanjang Malioboro sebenarnya berderet toko-toko yang menjual batik. Dari yang murah sampai yang mahal. Dari yang merk nggak jelas sampai kelasnya Batik Keris, Danarhadi, dan lain-lain. Ada harga ada kualitas deh. Tinggal sesuaikan saja dengan budget yang ada. Tapi, kalau mau lebih seru belanja batik, Pasar Beringharjo mungkin lebih pas. Lokasinya luas, bersih, dan tentu saja dengan koleksi yang lebih lengkap. Gimana nggak lengkap kalau seisi pasar isinya batik semua?

Kalau di toko-toko sepanjang Malioboro nggak ada acara tawar menawar harga, di Beringharjo nggak bakalan asyik kalau beli batik nggak pake nawar. Coba saja tanya harga sebuah baju batik, pasti bakalan dikasih harga yang cukup tinggi. Tapi coba deh tawar sampai mampus, jatuhnya harga tuh baju bisa sampai setengahnya. Buat ibu-ibu, ini lokasi yang sangat cocok soalnya ibu-ibu kalau beli sesuatu nggak pake nawar kan nggak afdol? hehehe. Berhubung kita bertiga cowok-cowok yang nggak mahir nawar, akhirnya dapat potongan harga yang tidak terlalu besar. Turunnya cuma 25% saja dari harga penawaran. Bandingin sama seorang ibu yang ngeyel banget nawar sepotong batik, sampe pas gue bolak-balik ke lokasi itu si Ibu masih belum brenti nawar. *ayo Bu, cemunguth!*

Oya, buat yang belum tahu, Pasar Beringharjo ini terletak di Jalan Malioboro, sebelum Benteng Vraderburg. Jadi kalau lagi jalan-jalan di Malioboro, bisa tuh mampir dulu ke sana.

Mirota Batik

Mirota Batik lokasinya tepat di seberang Beringharjo. Meski namanya berbau batik, tapi koleksi batiknya malah dikit banget. Milihnya ribet pula karena space untuk pajangan batik sempit dan lumayan semrawut. Ada sih di lantai 2 koleksi batik yang lebih bagus dengan rak-rak yang tertata rapi, tapi gerai ini khusus untuk batik sutra. Kalau kayak gue yang mau nyari batik murmer jelas aja nggak cocok. 

Yang seru di sini justru berburu cenderamata dan hiasan/pajangan. Nah, barang-barang ini malah yang koleksinya lumayan lengkap. Banyak pilihan pula. Yang hobi menata rumah dengan pernak-pernik unik kayaknya wajib nyambangin tempat ini.