Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Maret 2012

[Jalan-jalan] Ke Jogja Lagi - part 3 (Oleh-oleh)

jual bantal foto
Sudah jadi kebiasaan apabila pergi ke suatu tempat, entah untuk liburan dan bahkan untuk urusan kerjaan, selalu memikirkan; "oleh-oleh apa yang akan saya bawa pulang?" Entah sejak kapan kebiasaan ini mulai berlangsung, di mana seseorang yang pergi ke luar kota, pulangnya serasa diwajibkan membawa oleh-oleh. Selain sibuk menikmati liburan (atau melaksanakan urusan pekerjaan), pelancong pun masih harus disibukkan dengan urusan mencari sesuatu untuk dibawa pulang. Diakui atau tidak, tradisi ini sudah sangat kental dalam budaya kita. Bahkan seseorang yang tidak ada kaitan dan urusan pun terkadang tak kalah sibuk kalau tahu ada orang yang hendak pesiar; "Jangan lupa oleh-olehnya ya?" *Hadeuh*

Begitulah, oleh-oleh menjadi sesuatu yang harus dipikirkan. Setidaknya kali ini pun gue 'harus' bawa pulang sesuatu untuk anak, istri, mertua, dan teman-teman kantor. *halah, banyak pisan?* Untungnya nggak susah nyari oleh-oleh kalau kita ke Jogja. Banyak tempat yang menawarkan makanan atau cenderamata lokal. Bahkan untuk hal ini kita nggak perlu bingung, banyak tukang beca yang menawarkan diri untuk ongkos yang sangat tidak masuk di akal. Bayangkan, hanya dengan membayar lima ribu perak kita bisa dibawa ke berbagai tempat. Jauh-jauh pula. Bahkan disuruh nunggu lama pun ongkosnya tetep aja tidak berubah, lima rebu perak saja! 

Awalnya gue mikir, ongkos becak di Jogja kok murah banget ya? Tapi ternyata anggapan gue harus diralat lagi. Ongkos becak akan sangat murah kalau kita pergi ke tempat-tempat tertentu, yaitu tempat penjualan oleh-oleh. Karena eh karena, para Abang Becak itu dapat tip dari para pemilik outlet. Oalaaaaah. Coba kamu naik becak dengan tujuan bukan lokasi outlet oleh-oleh, ongkosnya bakalan bikin bete. Untuk jarak kurang dari 100 meter aja gue ditodong ongkos sepuluh rebu! Semprul!

Bakpia Patuk

Ini mungkin makanan wajib dan gampang dibawa kalau memang nyari oleh-oleh dari Jogja. Meski bakpia rasanya hampir ada di setiap daerah, isinya kacang ijo-kacang ijo juga, tapi tetap saja kerasa beda kalau bukan dari daerah asalnya. Ini bakpia patuk asli Jogja! Isi bakpianya pun udah bukan kacang ijo doang, tapi sudah ada variasi lainnya, kayak keju, cokelat, dan kacang merah. Selain bakpia biasa, ada pula yang versi crispynya. Enak!

Katanya, bakpia yang enak tuh yang merk 75 atau 25. Hampir semua rekomendasiin dua nama ini. Yaweslah, daripada salah beli, akhirnya kita minta abang becak ke toko Bakpia 25 aja. Apalagi rekomendasi dari si Abang Becak, kita bisa lihat langsung ke pabriknya. Wah, bakalan seru abis nih. Majuuuu!

Ternyata namanya usaha kalau digeluti serius bisa bikin tajir juga ya? Ah, yakin lah kalau pemiliknya pasti tajir, lah wong pegawainya aja ratusan gitu! Punya beberapa toko cabang pula. Tapi beneran, seru banget melihat kesibukan yang terjadi di belakang layar pembuatan Bakpia Patuk 25. Deretan pegawai sibuk membuat adonan, menguleni, membulat-bulat adonan, sampai memanggangnya. Bau harum tercium sampai ulu hati. *halah*. Selain sebagai pabrik pembuatan, di lokasi ini juga ada counter kecil untuk penjualan bakpia, yang masih panas! Fresh from the oven. Selain bakpia, di sini juga disediakan penganan lain untuk oleh-oleh, jadi bisa sekalian belanja kalau bakpia saja dirasa kurang. :D

Pasar Beringharjo

Ke Jogja juga nggak asyik kalau nggak belanja batik. Batik memang bukan hanya ada di Jogja. Beberapa daerah lain juga dikenal sebagai sentra batik. Tapi, tentunya setiap daerah punya kekhasan masing-masing dong? Nah, batik yang ada di Jogja tentu saja dengan motif-motif yang berbeda dengan batik dari daerah lain.

Di sepanjang Malioboro sebenarnya berderet toko-toko yang menjual batik. Dari yang murah sampai yang mahal. Dari yang merk nggak jelas sampai kelasnya Batik Keris, Danarhadi, dan lain-lain. Ada harga ada kualitas deh. Tinggal sesuaikan saja dengan budget yang ada. Tapi, kalau mau lebih seru belanja batik, Pasar Beringharjo mungkin lebih pas. Lokasinya luas, bersih, dan tentu saja dengan koleksi yang lebih lengkap. Gimana nggak lengkap kalau seisi pasar isinya batik semua?

Kalau di toko-toko sepanjang Malioboro nggak ada acara tawar menawar harga, di Beringharjo nggak bakalan asyik kalau beli batik nggak pake nawar. Coba saja tanya harga sebuah baju batik, pasti bakalan dikasih harga yang cukup tinggi. Tapi coba deh tawar sampai mampus, jatuhnya harga tuh baju bisa sampai setengahnya. Buat ibu-ibu, ini lokasi yang sangat cocok soalnya ibu-ibu kalau beli sesuatu nggak pake nawar kan nggak afdol? hehehe. Berhubung kita bertiga cowok-cowok yang nggak mahir nawar, akhirnya dapat potongan harga yang tidak terlalu besar. Turunnya cuma 25% saja dari harga penawaran. Bandingin sama seorang ibu yang ngeyel banget nawar sepotong batik, sampe pas gue bolak-balik ke lokasi itu si Ibu masih belum brenti nawar. *ayo Bu, cemunguth!*

Oya, buat yang belum tahu, Pasar Beringharjo ini terletak di Jalan Malioboro, sebelum Benteng Vraderburg. Jadi kalau lagi jalan-jalan di Malioboro, bisa tuh mampir dulu ke sana.

Mirota Batik

Mirota Batik lokasinya tepat di seberang Beringharjo. Meski namanya berbau batik, tapi koleksi batiknya malah dikit banget. Milihnya ribet pula karena space untuk pajangan batik sempit dan lumayan semrawut. Ada sih di lantai 2 koleksi batik yang lebih bagus dengan rak-rak yang tertata rapi, tapi gerai ini khusus untuk batik sutra. Kalau kayak gue yang mau nyari batik murmer jelas aja nggak cocok. 

Yang seru di sini justru berburu cenderamata dan hiasan/pajangan. Nah, barang-barang ini malah yang koleksinya lumayan lengkap. Banyak pilihan pula. Yang hobi menata rumah dengan pernak-pernik unik kayaknya wajib nyambangin tempat ini.

Senin, 19 Maret 2012

[Jalan-Jalan] Ke Jogja Lagi! - Part 2 [kuliner]

jual bantal foto
Menikmati Jogja tak akan lengkap kalau tidak menyempatkan diri untuk makan lesehan di sepanjang Malioboro. Orang bilang, "Lo nggak ke Malioboro? Berarti lo nggak ke Jogja!" atau "Lo nggak makan gudeg? Coba cek lagi, siapa tahu yang lo datangi itu bukan Jogja!" Aih, segitunya ya.

Tapi mungkin ada benernya juga kalau kita melihat bahwa denyut kota Jogja ada di sepanjang Malioboro. Tempat ini tak pernah sepi bahkan saat di tempat lain sudah begitu sunyi. Jam berapa pun kamu ke sana, masih ada kerumunan dan sekelompok orang yang sekadar nongkrong untuk segelas kopi. Nah, karena makan lesehan dan nongkrong di Malioboro adalah sesuatu yang 'wajib' dilakukan oleh para pelancong, gue pun tentu tidak akan melewatkannya. Bahkan hanya beberapa saat setelah kita tiba di Jogja dan belum check-in di hotel! Niat amat ya?

Yah begitulah, tuntutan gejolak perut yang membabi buta karena baru diisi tengah hari di Rumah Makan Mergosari Majenang, membuat kita tidak menunda lagi untuk segera turun melantai di sepanjang malioboro. Menunya apalagi kalau bukan; GUDEG! Yayaya, kuliner ini langsung dihajar di kesempatan pertama. Sembari melepas penat, meluruskan pinggang yang seharian ini ditekuk, kita pun lesehan dengan nikmatnya di saung lesehan tepat di depan Hotel Inna Garuda. Sepiring nasi gudeg plus telor dan ayam goreng jadi sajian makan malam pertama di Jogja. Lengkap dengan segelas teh manis panas! Ah, nikmat banget. Apalagi di tengah dinginnya Jogja yang diguyur hujan sejak sore.

Sedikit mengganjal saat memerhatikan gudeg yang gue makan saat itu. Apakah gudeg ini original van Jogja? Yang gue tahu, gudeg Jogja itu warnanya pekat, tidak berkuah, plus telor dan ayamnya pun menjadi satu kesatuan bumbu dengan gudegnya. Kenapa ayam yang gue terima kok ayam goreng ya? Kering dan layaknya ayam goreng biasa. Gudegnya pun berkuah bikin nasi gue jadi becek. Tapi dalam kondisi kelaparan berat seperti itu, tak ada waktu buat protes. Sikat saja! Toh masih ada besok untuk menghajar gudeg versi sebenarnya.

Makan lesehan di Malioboro memang asyik, seru, dan nikmat. Sambil makan kita bisa sambil nontonin orang-orang yang lewat [sebaliknya, kita pun jadi tontonan orang-orang yang lewat. Yah, saling nonton deh] atau ngeliatin mobil dan motor yang berseliweran. Nggak ada kerjaan emang.

Malioboro tidak hanya dikenal dengan warung lesehannya, tapi juga dengan pengamennya! Duile, itu pengamen udah pada standby aja di setiap warung. Begitu kita duduk, belum juga pesen udah main genjreng aja. Beres yang satu, eh nongol lagi temen-temennya. Saat gue makan aja ada tiga rombongan pengamen yang ikut nemenin makan. Kadang cukup ngeganggu juga sih karena saat itu gue lagi ngobrol serius sama si Bos. Belum lagi, kok ribet banget nyari recehan di dompet atau saku celana saat tangan lagi belepotan. Duh, duuuuh.

Malioboro dan Pengamen sudah jadi satu paket, dan gue melihat inilah salah satu kekhasan yang ada di Malioboro. Apalagi pengamen di Jogja ini cukup kreatif dan nggak asal genjreng doang. Selain bawa peralatan musik cukup lengkap, suara vokalisnya juga nggak asal bunyi. Suaranya enak-enak, lagunya pun bervariasi. Ada yang memang spesialis lagu oldies, atau ada juga yang memang bawain lagu-lagu top40. Serunya, terkadang mereka nawarin kita request lagu. Sebutin aja dan berharaplah mereka tahu lagunya. Kayak yang dilakuin si Bos pas ditanya mau request lagu apa.

Boss gue : "Beneran nih bisa request lagu?"
Pengamen : "Silakan, Pak."
Boss gue : "Minta nyanyiin hymne TELKOM deh."
Pengamennya bengong. Gue juga ikutan bengong. *Jiyaaah Boss, ini bukan mau upacaraaaa! Gubrags juga nih*

Terlepas dari menghibur atau malah mengganggu atas kehadiran pengamen-pengamen ini, Malioboro tidak akan lagi sama kalau tidak ada mereka. Coba kalau para pengamennya ngilang semua, pasti akan terasa ada yang kurang di sana. So, siapkan aja beberapa recehan (duh, jangan receh banget deh. Lembaran seribu, dua ribu, atau lima ribu deh kalau iklas) sebelum kita memastikan untuk makan lesehan di sana. Sekalian sedekah, kan? Masa jalan-jalan ke Jogja bisa, tapi ngeluarin duit seribu-dua ribu perak nggak bisa? Bagi-bagi rejeki lah. *aiiisss ... sok wise gini ya?*

Setelah malam pertama menjajal gudeg, malam ke dua kita kelimpungan. Makan apa ya sekarang? Gudeg di Malioboro lagi? Duh, kok nggak kreatif banget ya? Jogja kan luas banget, dan makanannya nggak cuma itu-itu aja. Parahnya, kita semua nggak ada yang hapal lokasi tempat makan lainnya. Berbekal pikiran 'masa nggak ada tukang jualan pinggir jalan?' akhirnya kita muter-muter aja. Berhubung hujan (lagi) akhirnya kita muter-muternya pake kendaraan.

Di sebuah jalan gue brentiin temen gue yang lagi nyetir.
"Kita makan di sana aja!" tunjuk gue ke sebuah rumah makan soto. Kenapa gue milih di sana, lebih tepatnya karena penasaran. Di tempat itu berderet tiga rumah makan dengan nama yang [hampir] sama; Soto Kadipiro, Soto Kadipiro Dua, dan Soto Kadipiro Plus! Halah, kenapa ini yang jualan soto pada berderet ya? Nggak takut rebutan pelanggan apa? Ada apa dengan Soto Kadipiro ini? Kenapa sampai ada tiga soto yang jualannya berendengan? Kalau memang jualan Soto yang sama, kenapa mereka nggak merger aja? *halah*

Akhirnya, karena penasaran (dan kelaparan), kita pun mampir. Suer, sebenernya gue nggak begitu suka soto. Apalagi jauh-jauh ke Jogja kok makannya soto, bukannya di Tasik juga ada? Yayaya, harus gue akui kalau pemilihan soto ini [sekali lagi] karena penasaran! Kalau tiga Soto jualan berendengan dan dengan brand yang sama, pasti ada sesuatu yang istimewa di dalamnya. Dan pesanlah kita bertiga, soto ayam dan soto babat. Dan setelah diicip-icip, yah begitulah.... ternyata Soto Kadipiro ini rasanya seperti... SOTO! *kemplang!*

Keinginan gue untuk nyicip Gudeg Original Van Jogja akhirnya kesampaian di hari ketiga. Kebetulan si Bos pengen beli gudeg buat oleh-oleh. Setelah nanya ke tukang batik di Beringharjo, akhirnya kita ditunjukkan kalau penjual gudeg itu ada di Jalan Wijilan. Kalau dari Kraton tuh ke arah kiri terus masuk terowongan kecil. Nah, di situlah katanya ada yang jualan gudeg asli. Tadinya gue kira cuma ada satu penjual gudeg saja di sana, tapi pas kita masuk jalan itu, bujubuneng.... ternyata di sana tukang jualan gudeg semua! Banyak! wahahaha... mantap jaya!

Karena nggak tahu yang paling rekomended yang mana, kita asal masuk saja. Lagian gudeg sama aja kan, dari nangka-nangka juga? Yang kita pilih adalah Gudeg Bu Widodo. Selain beli gudeg buat dibawa pulang, kita pun sekalian makan siang di sana. Mantep bro!

image : javadiversity.info

Ada beberapa paket yang ditawarkan untuk oleh-oleh gudeg ini. Mulai dari harga Rp. 30.000,- sampai Rp. 65.000,- untuk kemasan besek. Dan harga Rp.45.000,- sampai Rp. 125.000,- untuk kemasan kendil. Nah, ini dia yang bikin unik. Kalau kemasan besek kan nggak aneh ya, di mana-mana juga ada. Yang unik justru gudeg kendil ini. Jadi tuh gudeg dimasukkan ke dalam kendil, dan bawa pulang deh sama kendilnya *yaiyalah, masa kendilnya dibalikin lagi?*. Suer, oleh-oleh yang cocok buat Mertua anda! :p

Bersambung .... (lagi?)

[Jalan-jalan] Ke Jogja Lagi - part 1

jual bantal foto
Untuk sebuah pekerjaan dinas, akhirnya tanggal 7 sampai 9 Maret lalu gue ke Jogja lagi. Yippiiie .... selalu ada antusiasme tersendiri setiap kali berkunjung ke kota yang satu ini. Meski kali ini tujuannya untuk urusan kerjaan, tapi gue yakin selalu ada waktu-waktu luang buat menikmati jalan-jalan. Jogja toh salah satu kota yang tak pernah tidur, keramaiannya selalu terasa hingga larut dan bahkan dini hari. So, kalaupun urusan meeting harus usai malam hari, gue masih bisa menghabiskan sisa malam untuk sekadar jalan dan nongkrong di sepanjang Malioboro. Apalagi urusan meeting kali ini diadakan di Inna Garuda, hotel yang plek banget di jalan Malioboro. Nggak susah buat ngacir sejenak dan menikmati suasana Jogja.

Berangkat dari Tasik siang hari, pukul 11. Setelah beberapa kali terakhir ke Jogja naik kereta, kali ini ada sensasi sendiri naik mobil. Lumayan nih sekalian observasi jalanan mengingat gue punya rencana untuk ngajak anak-anak liburan juga ke Jogja bulan depan. Kalau perjalanannya nyaman,  gue rencana bawa kendaraan sendiri. Tapi ternyataaa... oow banget. Jalur lintas selatan menuju Jogja ini parah banget. Bukan hanya jalanannya yang kecil dan sempit, tapi juga rusak parah! Lepas dari Banjar memasuki Majenang penderitaan dimulai. Jalanannya bolong-bolong euy. Gede-gede dan merata pula. Nggak heran kalau mobil yang gue naiki jadi sering ajrut-ajrutan. Mending kalau cuma di beberapa bagian, ini mah sepanjang jalan menuju Jogja! Wataaaaw. Nggak kebayang kalau hujan, bolong-bolong ini pasti bakalan ketutup air dan menjebak para pengendara untuk melibas tanpa ampun. Gubrak!

Berdasarkan hal tersebut, akhirnya gue putusin kalau liburan nanti naik kereta sajah! Nggak kebayang gue bawa kendaraan dengan kondisi jalan kayak gini. Temen gue yang nyetirnya udah mahir aja sampe nggak berani kenceng, apalagi gue! Alamat bakalan lama nyampe di Jogja kalau gue ngesot-ngesot bawa mobilnya. Apalagi Jogja itu ternyata jauh ya? *Plaak!!*  Kita berangkat jam 11 siang aja nyampe sono jam 7 malem! Wedew.

Hotel
Seperti udah gue bilang, kita nyampe Jogja jam 7an malem. Langsung meluncur ke Hotel Inna Garuda karena acara meeting esok hari ya memang di sana. Tapi berhubung Panitia cuma ngasih akomodasi untuk satu orang saja, dan itu jelas-jelas jatahnya si Bos, akhirnya kita rencana ngedrop si Bos doang. Abis itu kita ke luar lagi cari penginapan lain di seputar sana. Yang lebih murah lah, sayang duitnya soalnya. Lagian kan cuma numpang bobo doang ngapain di hotel yang mahal? Mending duitnya dipake makan atau beli oleh-oleh. Eh, tahunya si Bos malah nyuruh kita sekalian book di sana aja. Katanya biar nggak susah kalau butuh sesuatu. Siapa tahu malam itu ada hal yang perlu dibicarakan sehubungan dengan rencana meeting besok. Eh, nginep di Inna Garuda? Yay, jelas loncat-loncat dong. Kapan lagi nginep di hotel bagus. Wkwkwk ... kasihan banget deh yang jarang nginep di hotel berbintang-bintang.

Karena si Bos udah dapet jatah kamar sendiri, akhirnya gue book satu kamar buat berdua. Eh, gue udah cerita kan kalau berangkat ke Jogja bertiga? Karena yang superior (paling murah) udah fully-booked sama peserta meeting, akhirnya cuma kebagian yang deluxe. Pas lihat harganya? Wedew, 950rebu buat bobo doang! Suer, kalau bayar sendiri sih gue ogah banget. Tapi karena dibayarin kantor dan jelas-jelas udah diapprove sama si Boss, ya apa boleh buat kan? *jingkrak-jingkrak lagi* Tapi dasar gue yang ogah rugi, nawar dulu lah si gue. Alasannya,

"Kita rombongan instansi yang besok meeting, Mas. Masa nggak bisa dapat harga coorporate? Tahun lalu bisa kok dapat potongan harga pas meeting juga di sini."
Si Mas senyum-senyum, mungkin masih sangsi apa iya dulu ngasih diskon kamar buat gue. Mungkin nginget-nginget  juga apa iya gue pernah nginep di situ. Dari tampang gue sih kayaknya nggak banget pernah nginep di situ. hehehe.
"lagian kan sekarang udah malem, Mas. Daripada kamarnya nggak laku, mending kasih harga diskon, kan? Nggak mubazir tuh kamarnya." Gue tetep usaha.
Si Mas receptionis senyum lagi, tapi kali ini kemudian bisik-bisik tetangga sama temennya. Dan kemudian, si temennya itu yang ambil alih. Entahlah, apa si Mas yang pertama keburu bete sama gue, ya? *Dezziigh!*
"Ambil berapa kamar, Mas?" tanya si Mas kedua. Mas yang Pertama udah langsung ngilang. Mungkin dia kebelet dan pengen buru-buru ke toilet. Mungkin.
"Ah, satu aja. besok juga langsung check-out, kok."
Entahlah, mungkin karena kasihan lihat muka melas gue yang udah lecek dan dekil karena perjalanan jauh, akhirnya gue dikasih harga bagus. 650ribu saja! Horeee... jago banget kan gue nawarnya? Lumayan diskon 300rebu perak. Cukup buat beli Bakpia Patok segerobak.

Eladalah, tiba-tiba si Bos nongol, terus ngomong. "Saya ikut di kamar kalian aja. Nggak enak sharing kamar sama orang yang belum kenal."
E ya ampun, Bos. Kalau belum kenal ya kenalan dulu dong. Gimana sih? Tapi ya gitu deh, susah kalau urusan sama si Bos. Daripada gue disuruh pulang saat itu juga, akhirnya gue arrange ulang kamar yang terlanjur gue booking. Maksudnya, tambah extra bed gitu, buat gue. Hiks...

Di Inna ini extra bed dihargai 250rebu. Jadi totalnya... 900rebu! Jiyaaah... sama aja dong sama harga semula? Percuma dong gue tadi nawar-nawar kalau akhirnya duit yang ke luar tetep 900rebu? Ya sudahlah, toh kantor yang bayar ini. Tapi sebelum akhirnya deal, si Mas Receptionis ngasih solusi; "Daripada pake extra bed, kamarnya saya upgrade saja ya ke Deluxe Family. Bed-nya ada 3. Harganya saya kasih sama, 900ribu."

Deal! Gue langsung approve. Daripada gue tidur di extra bed, coba?

Inna Garuda adalah hotel dengan bangunan yang antik. Dibangun tahun 1908 dan mulanya diperuntukkan untuk kalangan Kolonial Belanda. Tidak heran kalau arsitektur eksteriornya masih terlihat sangat tempo doeloe. Kalau gue perhatiin sih, mungkin setipe dengan Hotel Homann Bandung yang tetap mempertahankan kelestarian bangunannya. Keren sih, meski sebagian orang ngomong kalau bangunan seperti itu malah membuatnya merinding. Hehehe... Meski begitu, interiornya sudah terlihat modern kok. Fasilitasnya pun bagus. *yeiyelah, bintang 4 kok*

Hari kedua kita sepakat untuk pindah hotel saja. Tidur di hotel bintang 4 dengan hotel melati toh kerasanya sama aja; merem-merem juga. *Geplak!* So, saat si Bos sibuk bermeeting ria, gue keluyuran nyari lokasi baru. Sebenernya, ini adalah target gue juga, nyari referensi hotel sebanyak-banyaknya buat rencana liburan gue bulan depan. Huhuuuy... Berhubung waktunya nggak nyaman, karena si Boss ternyata ngecek terus posisi gue, akhirnya kita nyari yang deket-deket aja.

"Lagi di mana?"
"Di bawah Bos, lagi ngerokok dulu."
"Oh, ok. Jangan kemana-mana, takut ada yang penting."
"Iya."
Padahal pas si Bos nelepon kita lagi ada di Mirota batik. *cekikikan*

Berhubung rencana gue liburan nanti naik kereta, akhirnya kita hunting hotel sekitar Jalan Pasar Kembang, deket dari stasion dan Malioboro. Tinggal engklek doang. Terus, tarif hotelnya juga bervariasi. Dari yang harga 150ribu sampai jutaan juga ada. Tinggal milih dan sesuaikan dengan kondisi dompet. Nah, sekalian kita hunting kamar buat malam ke dua, sekalian gue ngumpulin brosur-brosur hotel yang ada. Si Bos bilang kalau beres meeting dia mau ikutan cabut dan tidak akan menggunakan fasilitas akomodasinya di Inna. So, dicarilah hotel yang agak representative. Bos gue nggak rewel sebenernya. Dia tidur di manapun bebas-bebas aja, hotel mewah atau biasa pun nggak jadi masalah, sing penting ada koneksi wifi-nya -dia biasa kerja sampe pagi. Tentunya asal kamarnya bersih aja.

Setelah muter-muter, akhirnya gue milih Hotel Asia Afrika, pas banget depan pintu keluar sebelah kiri dari Stasiun Tugu. Hotelnya kecil tapi cukup bersih. Harganya pun sangat bersahabat. Untuk kamar Deluxe dihargai 400ribu saja. Itupun masih dipotong diskon 10%. Hihiiiiy. Karena kita bertiga, mau nggak mau ditambah ekstra bed seharga 100ribu saja. Uhuy, kan? Dengan harga seperti itu, fasilitasnya lumayan oke. kamar mandinya sudah dilengkapi bathtub, lemari es, AC, plus breakfast. Yah, breakfastnya standar banget sih, hanya nasi goreng plus telor ceplok. Ada juga roti bakar kalau rakus dan nggak mau rugi. Jauh lah kalau dibandingin sama breakfast di Inna Garuda yang paket breakfastnya lumayan komplit. *yaiyalah, ada harga ada rupa*

Yang gue suka dari Hotel Asia Afrika ini adalah suasananya yang ijo banget. Ijo dalam arti yang sebenar-benarnya. Begitu masuk lobi/resepsionis, pemandangan tanaman hijau langsung mendominasi. Tanaman di mana-mana. Meski di tanam dalam berbagai ukuran pot, tapi nuansa asri dan sejuknya langsung terasa. Adem banget. Oya, meski hotel ini kecil, ada kolam renangnya juga lho. Lumayan tuh buat nyemplung sesekali kalo Jogja lagi panas. Yang kurang paling halaman parkirnya yang sempit. Paling cuma muat 6 mobil saja maksimal. So, kalau telat parkir, siap-siap aja parkir pinggir jalan. Jangan lupa titipin sama Satpam Hotel. Kasih saja uang rokok. Bisa dipertimbangkan nih kalau jadi ke jogja nanti. ^^

Bersambung ...