Tampilkan postingan dengan label workshop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label workshop. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Oktober 2012

[Jalan-Jalan] Ke Surabaya!

jual bantal foto
Argo Wilis di Stasiun Tugu Yogya
Undangan itu datang mendadak. Senin siang datang kabar kalau kantor saya diundang untuk mengikuti Workshop Sertifikasi CIQS di Surabaya hari Rabu - Kamis! Hiyaaaa ... langsung belingsatan semua, apalagi si Bos ngasih intruksi kalau saya harus ikut nemenin dia. Dan huru-hara pun segera dimulai. Saya mulai browsing internet nyari tiket menuju Surabaya. Tiket kereta adalah prioritas utama karena meskipun perjalanan bakalan memakan waktu berjam-jam, tapi tinggal loncat ke stasiun.  Beda kalo naik pesawat, tetep aja harus ke Bandung atau Jakarta dulu, dan itu memakan waktu juga. Sama aja, kan? Sama-sama lamanya! Jadi cari yang paling simpel aja.

Karena acaranya Rabu, jelas hari Selasa kita harus segera berangkat. Tiket kereta menuju Surabaya hari Selasa langsung dapet, karena memang masih tersedia. Nah, saat mau booking tiket pulang, tot-tew ... semua tiket sudah ludes! Hiyaaaa .... momen Lebaran Haji hari Jumat (26/10) membuat semua tiket di tanggal H-1 sampai H+1 sudah sold out semua untuk seluruh kereta jurusan Surabaya - Tasik. Kyaaaa ... masa nggak bisa pulang? Siapa yang bakalan motong sapi kurban kalau saya nggak bisa pulang? #eaaaa *berubah jadi tukang jagal*

Akhirnya untuk pulang kita pilih pake pesawat  meski kita nggak bisa minta turun duluan pas lewat Tasik *emang angkot?* Setelah pilah-pilih jadwal penerbangan dan harga tiket, akhirnya pilihan jatuh pada Lionair. Dan si Bos minta kita pulang lewat Jakarta. Huwaaa ... kenapa jauh-jauh lewat Jakarta padahal bisa via Bandung yang lebih deket? Ternyata eh ternyata, si Bos pernah punya trauma kena turbulence pas mendarat di Bandara Husein Bandung, sampe akhirnya nggak pernah mau lagi landing di sana sampe sekarang. Yawes saya sih nurut aja, yang penting bisa pulang dan lebaran di rumah. Lagian, dari Jakarta nanti bisa ke kampung rambutan lalu naik bus langsung ke Tasik. Jakarta - Tasik 6 jaman lah, masih lebih cepat dikit ketimbang naik kereta yang makan waktu 9 jam kalau dari Surabaya.

Meski acara workshop berlangsung 2 hari (Rabu - Kamis), tapi si Bos minta booking tiket pulang hari kamis untuk penerbangan pukul 10.25.
"Bukannya Kamis masih workshop, Bos?" tanya saya.
"Kita ngabur aja. Memangnya kamu mau lebaran di Surabaya? Kalau pake pesawat sore, nyampe jam berapa di Tasik?"
Asyeeek ... keren dah punya Bos kayak begini. Siyaaaap. Tiket pun langsung dibook, bayar, lalu print. Tiket PP sudah di tangan, dan sudah ada jaminan kalau saya nggak bakalan lebaran di negeri orang. Horeeeee ....

Dan, selasa pagi, pukul 10.41 wib. kita sudah meluncur di dalam Argo Wilis meninggalkan Tasikmalaya menuju Surabaya! Beneran ya, duduk manis selama berjam-jam itu asli ngebetein banget. Udah mati gaya harus ngapain lagi. Nengok ke luar jendela, pemandangannya sama ; sawah dan gunung. Indah sih, tapi bosen aja kalau harus ngelihatin gambar begitu selama 9 jam! Berasa lihat layar monitor yang nggak ganti-ganti wallpapernya. hehehe.  Yang bikin kaget, pas kereta memasuki Jawa Timur, saya dapat BBM dari seorang teman tentang kereta yang anjlok di daerah Sleman. Wuaaaaah .... untungnya kita sudah lewat, sehingga terlepas dari putusnya arus transportasi dua arah selama 2 hari akibat kejadian itu. Dua orang teman dari Subang yang naik kereta Turangga (berangkat malam hari) dan bermaksud mengikuti Workshop di Surabaya juga akhirnya terjebak dalam kemacetan ini, dan baru sampai ke lokasi workshop pas workshop baru saja ditutup. Duuuh ... kasihan banget.

Nyampe Stasiun Gubeng pukul 18.35. Fyuuuuh ... pantat rasanya udah rata saking kelamaan duduk. hehehe. Alhamdulillah ... akhirnya saya berhasil menjejakkan kaki di kota ini. Jelas ada kegembiraan tersendiri bisa berkunjung ke wilayah baru. Minimal kalau ada yang nanya, "sudah pernah ke Surabaya?" dan saya akan dengan bangganya menjawab; "Oh, sudah doooong." Padahal selama di Surabaya nggak kemana-mana. hehehe.

Workshop berlangsung di Gedung TELKOM DCS Timur, Jalan Ketintang Surabaya. Kebetulan di belakang gedung Telkom ini ada asramanya juga. Jadilah seluruh peserta workshop yang berdatangan dari seluruh Indonesia diinapkan di sana. Satu kamar diisi tiga orang. Selain saya dan si Bos, teman sekamar saya lainnya datang dari Palembang. Asyik, nambah teman baru nih.

Kopdar Bareng Dian Kristiani
Yihaaaa.... baru saja datang di Surabaya saya langsung bisa kopdar dengan teman penulis yang selama ini hanya kenal di dunia maya saja. Setelah dari kemarin BBMan buat janjian ketemuan, akhirnya pukul delapan malam saya bisa ketemu sama Dian Kristiani, penulis cerita anak yang sangat produktif. DK yang tinggal di Sidoarjo ini sampai bela-belain datang ke asrama untuk ketemuan, lengkap dengan Mas Ray dan dua bocah gantengnya; Edgard dan Gerald. Meski baru pertama ketemu, ternyata udah kayak kenal lama banget. Nggak ada basa-basi, langsung ngobrol dan seru-seruan sambil cekakak-cekikik. Udah nggak perlu ada jaim-jaiman. Hahaha. Terus yang namanya sesama penulis pasti nggak bakalan jauh-jauh dari buku. Dari pas berangkat saya sudah bawa buku 'Cewek Tulalit Traveling Gokil' yang mau saya kasih buat bukti endorsemen DK di novel itu dan buku 'Muhammad Saw. Nabi Cinta' buat Gerald. Eh, ternyata DK juga sudah menyiapkan buku 'Lola yang Lola' buat Abith. jadi kayak barter gitu akhirnya. Hehehe. Yang lebih seru, DK ternyata bawain oleh-oleh! Huweeeey ...baru aja datang udah dikasih oleh-oleh nih. Tengkyuuu ... lumayan ngirit budget buat beli oleh-oleh nih karena udah dibeliin. hihihi.

Hari Rabu full day meeting. Nggak usah diceritainlah ya, karena yang namanya workshop kan gitu-gitu aja ya, tentang ini dan tentang itu. Yang jelas, workshop ini dihadiri oleh petinggi-petinggi TELKOM, jadi seneng aja bisa mendengarkan langsung pemaparan mereka secara langsung.

Ternyata tepat perkiraan si Bos memilih untuk pulang hari kamis pagi, karena ternyata workshop yang direncanakan dua hari dipadatkan menjadi satu hari. Panitia sepertinya maklum kalau Jumat adalah Idul Adha dan banyak peserta yang sudah kepengen buru-buru pulang. Makanya, sore itu juga workshop ditutup atas persetujuan seluruh peserta. Cihuy banget kan? Kalau sudah begini nggak bakalan ada perasaan bersalah lagi untuk ngabur duluan. Hehehe.

Pergi ke suatu daerah  memang nggak seru kalau nggak nyempetin jalan-jalan. Setidaknya nggak sekadar ngendon di kamar deh. Makanya, selepas magrib asrama langsung kosong. Semua penghuninya langsung ngacir semua keliling kota, yang sekadar jalan-jalan, nyari makan, atau bahkan nyari oleh-oleh. Kesempatan tinggal malam ini saja karena besok pagi sebagian besar sudah bubar jalan. Karena itu mari kita jalan-jalan.

Di toko Bhek - Pasar Genteng
Royal Plaza adalah Mal terdekat karena TELKOM berada tepat di belakangnya, jadi ke sanalah saya, si Bos dan Adi, roomate dari Palembang, bergerak. Tapi yang namanya mal di mana-mana sama saja, nggak ada bedanya. Tapi di mal ini kita nemu tour & travel di mana Adi kegirangan karena bisa booking tiket pulang besok ke Palembang. Setelah itu barulah meluncur ke Pasar Genteng buat nyari oleh-oleh. Lumayan jauh juga, tapi lumayan asyik karena bisa melihat kehidupan malam di Surabaya.

Pasar Genteng ini adalah salah satu pusat oleh-oleh yang ada di Surabaya. Setidaknya, tempat inilah yang disebutkan beberapa orang saat saya menanyakan dimana kalau mau beli oleh-oleh. Yang namanya pasar ya jelas ramelah, tapi bukan seperti pasar sayuran tradisional begitu. Pasar Genteng berada di Jalan Genteng Besar dan terdiri dari deretan toko yang menjual berbagai jenis oleh-oleh (makanan) khas Surabaya dan Jawa Timur. Pasar Genteng ini ada juga yang menyebutnya sebagai Pasar Krupuk, mengingat banyak penganan oleh-oleh yang berjenis krupuk/kripik. Katanya, oleh-oleh yang wajib dibawa pulang kalau ke Surabaya (Jawa Timur) itu adalah keripik nangka, kerupuk ikan, lapis Surabaya, bandeng asap, sambel udang, bakpia telo, bumbu pecel madiun, dan buanyak lagi. Sumpah, sampe pusing harus beli yang mana. Lah kalau beli semua alamat bobol dompet dan itu tidak boleh terjadi. Akhirnya setelah pilih sana - pilih sini, terbungkuslah sekotak oleh-oleh untuk dibawa pulang buat mertua dan anak-anak kantor. Oya, kalau mau ke Pasar Genteng ini jangan terlalu malam karena mereka biasa tutup pukul 21.00. Kata temen juga, toko yang selalu rame dan direkomendasikan untuk membeli oleh-oleh adalah toko BHEK. Dan di sanalah saya juga berbelanja. Lumayan lengkap variasi makanannya. Tapi kalau masalah harga, entahlah apa toko ini harga paling murah atau tidak karena saya tidak sempat survey ke toko lainnya. Udah kemaleman datangnya.

Rawon Setan
Lapaaar ... baru sadar kalau kita belum makan malam, padahal sudah mendekati jam 9 malam waktu itu. Nyesel juga tadi pergi ke luar asrama buru-buru karena pasti makan malam sudah disediakan. Haiyaaa ... ogah rugi banget. Nah, mumpung lagi di luar, boleh dong kita nyicip makanan khas yang ada di Surabaya ini? Akhirnya nanya ke Cici pemilik toko tempat makanan khas Surabaya yang enak di sekitar situ. Akhirnya si Cici nyaranin ke Rawon Setan meski lokasinya nggak begitu dekat dan harus naik taksi. Ahai, denger namanya sudah sangat menggiurkan dan sepertinya harus dicoba! Meluncuuuuur ....

Rawon Setan berlokasi di depan hotel JW Marriot, Jl. Embong Malang Surabaya. Kalo denger namanya, saya membayangkan makanan superpedas yang bisa bikin kepala ngebul. Tapi ternyata saya salah, rawon setan adalah rawon biasa, hanya saja diberi nama rawon setan karena (katanya) dulunya tempat makan ini baru buka pukul 10 malam, saat setan-setan baru bergentayangan. Hehehe. Rasanya? Muantap banget, rek. Saya pesan rawon buntut yang sedap abis. Dagingnya banyak dan empuk banget. Saking dagingnya banyak, nasi saya malah habis duluan ketimbang rawonnya. Ada yang bilang, kalau ke Surabaya tapi belum makan rawon setan sama aja boong. Walah, sampe segitunya ya?

Sinom
Di Rawon Setan pula saya baru mencicipi jenis minuman baru. Namanya Sinom. Pas baca namanya di daftar menu, saya langsung tertarik buat nyoba. Kapan lagi kan menjajal jenis-jenis kuliner yang belum pernah dicoba? Lagian masa kenalnya es jeruk doang? Kata si Mbaknya, Sinom adalah minuman yang terbuat dari daun asam dan kunyit. Nah tuh, makin ngiler aja pengen nyoba. Dan rasanya? Asem-asem manis segeeeer. Beda sama asem manisnya es jeruk, meski tampilannya sama-sama kuning. Mungkin karena kuning dari kunyitnya ya. Ah, makan malam yang memuaskan nih karena bisa nyoba makanan dan minuman baru di tempat yang tepat.

Beres makan sudah niat buat langsung balik ke asrama sebelum kemudian si Bos menawarkan sesuatu yang menggoda; "Mau jalan ke Suramadu dulu, nggak? Kalau malam pemandangannya lebih bagus."
Wow, langsung ngences. Tapi malam itu saya nggak bawa kamera, berasa bakalan rugi banget kalau nggak bisa foto-foto di sana. Entar malah dibilang hoax kalau nggak ada fotonya. Batere BB sudah kedap-kedip merah, menandakan sebentar lagi bakalan sekarat. Cilaka! Masa nggak bisa foto sama sekali bahkan pake kamera BB sekali pun?
"Terserah, saya sih sudah pernah. Tapi mumpung kamu lagi di Surabaya, kapan lagi kan bisa ke sini lagi?" si Bos manasin lagi. Jadi curiga, jangan-jangan memang dia yang ngebet yang pengen ke sana. Hehehe ... piss Bos!
Akhirnya, saya pun mengangguk mantap, mari kita ke sana. Bener, kapan lagi kan saya ke Surabaya dan bisa melihat Suramadu dari dekat? Banyak orang yang jauh-jauh menyengajakan diri untuk lihat Suramadu, seperti Nyokap yang malah akan ke sana minggu depan! Idih, pergi jauh-jauh buat nonton jembatan doang. Beda kalau seperti saya yang memang sedang ada acara di Surabaya kan? Sekali jalan itu sih, bukan memaksakan diri.

Akhirnya, kita minta sopir taksi yang udah nganter dari Pasar Genteng dan nungguin kita makan di Rawon Setan untuk jalan lagi ke Suramadu. Tanggung dah, ayo kita lanjuuuuut ..... buat ngirit batere BB, saya langsung mematikan seluruh aplikasi yang ada. Semuanya! Biar baterenya cukup buat motret-motret di sana.

Jembatan Suramadu
Suramadu adalah nama jembatan yang menghubungkan pulau jawa melalui kota SURAbaya dan pulau MADUra (kota Bangkalan) melintasi selat Madura. Jembatan ini menjadi jembatan terpanjang di Indonesia dengan jarak 5.438 meter. Jembatan ini dibangun tahun 2003 dan selesai serta diresmikan tahun 2009. Untuk melewati jembatan ini dikenakan tarif tol sebesar Rp. 30.000,- untuk kelas kendaraan kecil (entah kalau untuk kendaraan lain, saya nggak memperhatikan).

Ternyata, saya memang tidak bisa berfoto di jembatan ini. Polisi patroli berjaga sepanjang jembatan untuk mencegat siapa saja yang berani-beraninya menghentikan kendaraan di tengah jembatan. Tilang! Jadi, memang percuma pula kalau bawa kamera sekalipun, toh saya nggak bakalan bisa ambil foto. Motret dari dalam mobil? Gile, si abang sopir ngejalanin taksinya kenceng banget! Makanya, udah motretnya pake BB, eh fotonya ngeblur semua. Sudahlah, yang penting saya pernah ke Suramadu! Nyampe Pulau Madura langsung belok lagi, masuk tol lagi, ngelewatin jembatan lagi, terus melaju tanpa berhenti lagi menuju asrama.

Workshop sudah, jalan-jalan sudah, makan-makan sudah, beli oleh-oleh beres, tinggal pulang! Kamis pagi kita meluncur ke Bandara Juanda untuk pulaaang. Eh, bukan pulang ding sebenernya. Rabu sore kita dikejutkan oleh telepon dari kantor kalau hari kamis siang, si Bos ditunggu rapat di Bandung pukul 2! Ada pertemuan tentang proyek yang akan berjalan. Hiyaaaa .... ada kelegaan juga karena kita pulangnya pake pesawat, jadi masih berharap bisa mengejar waktu sampai Bandung. Untuk berjaga-jaga, si Bos nyuruh teman saya untuk pergi ke Bandung dan sekalian jemput kita di pool bis untuk bersama-sama menuju tempat rapat. Kalau melihat jadwal, kita akan mendarat di Soeta pukul 12. punya waktu 2 jam untuk mencapai Bandung. Kalaupun agak telat-telat dikit mah wajar kali ya.

Ealah, pas nyampe Soeta ternyata bus Primajasa jurusan Bandara-Bandung penuuuh, dan kita kebagian untuk pemberangkatan pukul 13.30. Yawes, si Bos ngasih instruksi teman saya aja yang wakilin dia rapat, tapi tetep harus jemput kita nanti di pool, karena kita terlanjur pake bus  ke Bandung dan nggak jadi langsung ke Tasik. Apa mau dikata, kita lupa kalau besok adalah Lebaran, dan banyak orang yang sedang berduyun-duyun untuk pulang atau mudik! Huwaaa .... Jakarta-Bandung yang biasanya ditempuh 2,5 jam kali ini harus molor panjang sekali. Kita baru nyampe Bandung pukul 7 malam, setelah dicegat macet di sana-sini. Bahkan di dalam tol sekalipun!

Nyampe pool Primajasa di Batununggal Bandung, berbarengan dengan teman saya yang datang menjemput. Ternyata dia pun terjebak kemacetan luar biasa di dalam kota. Tapi syukurlah akhirnya bisa ketemu karena saya nggak bisa ngebayangin kalau naik kendaraan umum dengan seabreg bawaan dan kemacetan gila seperti itu. Hanya saja, saya sudah parno duluan membayangkan macet mudik yang akan terjadi menuju Tasikmalaya. Hiks ... alamat penderitaan belum berakhir nih.

Tidak perlu saya ceritakan lagi macetnya seperti apa sepanjang jalan. Yang perlu diketahui adalah, saya baru sampai ke rumah pukul 3 pagi! Jadi silakan membayangkan sendiri kemacetannya seperti apa. Hiks ... *kelojotan*

Sabtu, 20 Oktober 2012

[Laporan Perjalanan] Workshop Menulis Cerita Konyol - Depok, 18 Oktober 2012

jual bantal foto
Yihaaa ... jalan-jalan ke Jakarta lagi. Kali ini dalam rangka Workshop Cerita Konyol yang digelar oleh Penerbit Noura Books yang mendaulat saya sebagai narasumbernya. Ecieee ... gaya banget, ya? Halah, ya iyalah Noura minta saya yang jadi narasumber, soalnya workshop ini kan dalam rangka promo novel saya terbaru juga; Cewek-Cewek Tulalit - Traveling Gokil. Udah pada beli, kan? Belum? Hiks... beli atuh, kan biar novel saya laku dan best seller. Hehehe ... melas banget ya?

Rabu malam saya berangkat, biar bisa ngejar pagi sampai Jakarta. Soalnya kalau berangkat pagi alamat nggak bakalan tiba tepat waktu. Apalagi acaranya di Mizan Book Store di Depok. Hiyaa ... masih jauh lagi dari Jakarta. belum lagi antisipasi macetnya, nyasarnya, dan lain-lain. Makanya, berangkat lebih cepat lebih baik. Yah, bengong-bengong bentar di terminal nunggu siang sih nggak masalah lah ya.

Yang bikin ribet kalau mau berangkat malam itu adalah; naik apaan ke terminal bus? Saya biasanya ngejar bus yang berangkat pukul 12, dan jam-jam segitu tuh susah banget nyari angkutan umum. Ojeker masih kepagian buat nongkrong di perempatan-perempatan, angkot udah jarang yang lewat, dan Iren males nganterin dengan alasan; "Nanti Ibu pulangnya sama siapa? Nggak mau kalau nyetir sendirian mah. Takut malem-malem di luar sendirian." Hiiiy ... nggak bisa aja lihat suaminya pergi dengan nyaman ke terminal.

Ya wes, akhirnya seperti biasa saya membulatkan tekad untuk menerjang setiap halangan *halah*. Saya harus berjalan menyusuri jalan sambil celingukan nyari tukang ojek yang sudah mangkal, atau angkot yang mungkin akan lewat. Kalau tidak beruntung? Jalan kaki dah sampe terminal. Tapi ternyata eh ternyata, hujan turun dengan indahnya sodara-sodara, bikin saya langsung layu sebelum berkembang. Gimana ceritanya saya bisa ke terminal kalau hujan begini. Lagian, rumah saya kan agak-agak nyempil gitu dari jalan raya. Harus jalan kaki lagi sekitar 500 meteran melewati gang dan belokan. Bawa payung? Aiiih ... cakep bener ya? Dan saya pun menunggu detik demi detik menunggu malam dengan gelisah, memandangi gerimis yang semakin deras. *hadeuh, bahasanya deh coba*

Gerimis mereda, tapi saya belum tenang. gerimis begini ojeker pun makin bakalan susah dicari. Naik beca? Hiyaaa ... jam segini bisa nemu beca di mana? Dan .... datanglah penyelamat itu. Mamah mertua datang dan kaget melihat menantu tersayangnya lagi dilanda bimbang. Setelah nanya ini-itu, akhirnya Mamah bilang kalau pacar adik iren yg bungsu ada di rumah, lagi jadwal ngapel hari Rabu (ada gitu?). "Suruh dia yang ngantar aja, biar nanti Mamah yang ngomong." Dan saya pun langsung bersorak gembira! Yipiiiiie ... Ibuku, Pahlawanku.

Setengah 11 malam, pacar adik saya datang ke rumah buat jemput. Kayaknya dia sudah mulai diusir Mamah karena ngapelnya kelamaan. Lagian, masih ada hari esok, kan? Sebenernya, setengah 11 itu masih kesorean, karena saya kan berniat naik bus yang jam 12. Tapi daripada nggak ada tumpangan ke terminal, nggak papalah cengo sejaman di terminal. So, melompatlah saya ke jok motornya; "Tarik Bang!" *lo kira ojek?*

Sebenarnya rumah si cowok ini berlawanan sama terminal. Tapi, berhubung dia takut calon kakak iparnya nggak merestui hubungan mereka, dan akhirnya malah menghambat kisah cinta mereka, akhirnya dia harus pasrah nganter saya ke terminal. Masih gerimis, dan sepanjang jalan saya ngumpet dibalik badannya yang tinggi. Lumayan anget. Tapi calon iparku ini kayaknya mulai menggigil. Eh, tengah jalan hujan malah ngegedein.
"Hujan A, gimana?" tanya dia.
"Gapapa, tanggung udah deket," jawab saya sambil makin meringkuk dibalik badannya.
Calon adik saya itu ngangguk, tapi saya yakin dia lagi ngedumel; "Lo yang gapapa, gue yang kedinginan tahu!" Hihihi ... maaf ya Dek, kalau mau mengambil hati calon kakak, mending nurut aja. Perjuangan itu diperlukan kok untuk mencapai kemenangan. *apa coba?*

Akhirnya, tibalah saya di terminal. Setelah dadah-dadah dengan si calon adik, saya pun duduk manis menunggu. Baru jam sebelas. Bus menuju Jakarta sudah siap sih, tapi masa iya harus naik yang jadwal sekarang. Bukan apa-apa, entar sampe Jakarta kepagian. Yasud, mending twitteran dulu dan apdet status BBM. Eh, baru aja ganti status, BBM bunyi. Ada pesan dari Candra, teman masa kuliah yang sekarang tinggal di Ciamis. "Wok, mau ke Jakarta? Candra juga. Ini lagi meluncur menuju pool bus." Ihiiir ... pucuk dicinta Candra pun tiba, akhirnya bisa punya teman di perjalanan menuju ibu kota. Teman bobo di bus maksudnya, lah baru ngobrol bentar aja kita udah pada teler. Hehehe.

Jam 5 pagi nyampe deh di Kampung Rambutan. Say bye to Candra, lalu ngacir ke masjid, Subuhan sekalian selonjoran dulu barang sekejap. Soalnya, Mba Dee dari NouraBooks berencana untuk menjemput. Asyik dah, enak nggak perlu pusing bakalan nyasar di rimba betawi seperti biasanya kalau saya pergi ke Jakarta. Jam 6 Mba Dee datang bersama seorang sopir taksi, eh maksudnya jemput pake taksi, lalu segera menculik saya ke kantor Noura Books di wilayah Jagakarsa. Horeeey ... senang banget akhirnya bisa menyatroni kantor penerbit yang sudah menerbit beberapa novel saya ini. Lebih senang lagi karena di sana saya bisa numpang mandi, ganti baju, terus dikasih sarapan. *Ups, kelihatan banget kelaparannya nih*

Mandi sudah, ganti baju sudah, sarapan sudah, eh di kamar ada kasur empuk pula. Tiduran deh sampe akhirnya kepulesan! Hiyaaaa ... tamu nggak sopan! Sudah dikasih numpang mandi, dikasih sarapan, eh malah sekarang ikut bobo. Sampe nggak sadar kalau Mba Dee nge-BBM ngajak kumpul bareng kru Noura Books untuk berdoa bersama memulai pagi. *ngumpet di lemari*

Jam setengah 9 bangun dong, karena nggak mungkin kan numpang bobo sampai siang? Woy, saya ke sini kan buat ngasih workshop, bukan numpang tidor! Mba Dee ngajak saya Noura Tour, keliling kantor Noura sambil dikenalin sama seluruh staf yang ada. Horeeeey ... akhirnya kenalan sama semua orang yang berada di belakang layar buku-buku saya selama ini. Ketemu mas Noor H. Dee yang sudah menjadi editor untuk 3 novel saya, ketemu Pak Deden Ridwan, Person in Charge-nya Noura Books, dan semuanya. Terima kasih banyak semua atas kerjasamanya selama ini.


Jam sembilan, saya bersama Mba Dee dan Mba Putri meluncur ke Depok Mall. Tujuannya adalah Mizan Book Store, dimana Workshop Menulis Cerita Konyol akan segera dilangsungkan. Hiyaaaa ... mulai deh gemeteran. Ini adalah kali pertama saya jadi pembicara dalam sebuah workshop yang membahas tentang proses menulis cerita konyol! Nah loh, bisa ngomongnya nggak saya nanti? Bismillah ....

Perlahan tapi pasti, peserta workshop berdatangan satu per satu. Ada beberapa yang sudah saya kenal, dan ada pula yang benar-benar baru bertemu saat itu. Senangnya kegiatan seperti ini memberi kesempatan saya bertemu teman-teman baru. Peserta yang terdaftar ada 45 orang, sesuai dengan kuota ruangan yang tidak terlalu luas. Langsung merinding melihat semua kursi mulai terisi penuh. Mudah-mudahan mereka tidak sia-sia sudah jauh-jauh datang ke sini, dan ada -minimal- sesuatu yang bisa mereka peroleh dari semua ulasan saya nanti.

Dan, seperti apakah cerita tentang workshopnya itu sendiri? Kayaknya mending baca sendiri ulasannya di Annida Online dan TNol.co.id - Portal Komunitas yang pada saat itu datang meliput.


Ow, perjalanan saya di Depok belum selesai. Tuntas dengan workshop ini, saya harus segera meluncur ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, karena ada talkshow 'Traveling Gokil' di event UI BookFest yang digelar sore hari. Hayuk, lanjuuuut.

Ini adalah kali pertama saya memasuki Universitas Indonesia, jadi cukup excited juga. Suasananya hijau royo-royo banget, asyik! Jadi ngebayangin kuliah di sana, terus setiap ada waktu kuliah kosong bisa nongkrong-nongkrong di bawah pohon sambil ngobrol, pacaran, atau nyontek tugas kuliah (Hus!). Yang jelas, berasa jadi mahasiswa lagi pas masuk area ini. *nggak sadar diri emang*


Ey, di auditorium IX tempat akan diselenggarakan talkshow ini ketemu Maknyak Labibah Zain, founder Blogfam.com yang ternyata lagi ikut konferensi internasional tentang perpustakaan di tempat ini. Horeee ... kopdar dadakan. Bahkan gara-gara tahu saya akan talkshow di sana, Maknyak rela bolos di kegiatan selanjutnya. hihihi ... *peluk Maknyak*

Ternyata talkshow di sini pun tidak kalah serunya, hanya saja atmosfernya memang terasa beda. Ruangannya lebih luaaas ... dan pesertanya mahasiswa semua! Wow, gemeteran lagi, takut mereka nanya-nanya yang saya nggak bisa jawab, soalnya mahasiswa kan suka kritis nanyanya. hehehe .... alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar. Setidaknya, semua pertanyaan yang masuk saya jawab dengan kapasitas yang saya ketahui. Kalau kurang puas, maaf yaaa. ^_^

Talkshow harus dihentikan karena sudah masuk adzan magrib. Satu setengah jam memang nggak kerasa ya. Sudah saatnya kegiatan saya di Depok disudahi. Setelah salat magrib, dinner di cafe Al4a (alay? hihihi) yang ada di fakultas komunikasi (bener ya?), saya pun diantar Mba Dee kembali ke habitatnya. Eh, ke terminal Kampung Rambutan! Sudah pukul delapan lewat saat saya tiba di terminal, dan saya pun bersay goodbye pada Mba Dee yang sudah menemani saya seharian itu. Tengkyu Mba Dee, sudah jemput dari pagi buta, nganter ke mana-mana, jadi moderator workshop dan talkshow, sampai kembali nganterin ke terminal. Nggak sekalian nganterin ke Tasik? *Jitak!* hehehe ... #Kidding

Sejam kemudian, saya sudah terombang-ambing lagi dalam bus malam yang membawa saya pulang. Nyampe pukul 3 pagi di kota Tasik disambut gerimis mengundang. Hiiiy ... kejadian lagi harus ujan-ujanan. Yawes, gapapalah, toh sekarang mah ujan-ujanannya pulang ke rumah.
"OJEEEEEEK!"

Jumat, 19 Oktober 2012

[Review] Tips Menulis Cerita Konyol Dari Raja Konyol - Annida Online

jual bantal foto Wiiih ... ternyata workshop kemarin di Depok Mall kemarin diliput juga oleh Annida Online. Ini liputannya :

Tips Menulis Cerita Konyol Dari Raja Konyol



 Annida-Online-- “There are no rules on how to make people laugh,” begitu kata Suzanna Holmes, Sob. Tapi... dalam hal menulis cerita konyol, menurut si Raja Konyol yang sudah terbukti kekonyolannya di berbagai buku yang telah diterbitkannya, ada satu rumus penting untuk membuat people laugh: Lebaynisasi!

Kamis (18/10), bertempat di toko buku Mizan, Depok Mall, digelar workshop menulis cerita konyol persembahan penerbit Noura Books. Mendatangkan Raja Konyol yang belum lama menerbitkan buku Traveling Gokil, Iwok Abqary, acara berlangsung rame dan seruuu! Terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan besarnya antusias mereka dalam menimba ilmu dari sang ahli.

“Yang paling enak dalam menulis cerita konyol itu lebaynya. Selain membuat para pembaca lebih sehat dengan tersenyum, bisa memakai kata 'manyun, cengo, melet, sih!, gubrags, dan kawan-kawannya' juga membuat target jumlah kata cepat terkejar. Saya sudah membuktikannya,” pesan Iwok.

Selain itu, beberapa hal yang nggak kalah penting dalam menulis sebuah cerita konyol diantaranya mampu menemukan sisi lain dari sebuah kejadian atau benda, menciptakan karakter 'abnormal' yang akan dianggap lucu oleh pembaca, menciptakan hal-hal absurd atau nggak masuk akal, memperhatikan pemilihan kata, tidak membanding-bandingkan diri kita dengan penulis lain yang sudah terjamin kualitas kekonyolannya, dan pastinya rajin membaca buku-buku konyol.

“Saya aslinya nggak lucu, kalau mau ngelucu malah jadinya garing. Tapi saya punya sisi humor yang tersalurkan dalam bentuk tulisan. Tiap orang pun punya sense of humor masing-masing. Nah, biar selera humor selalu hidup, saya rajin baca buku komedi. Kalau nggak ada buku baru, yang lama juga gapapa,” tambahnya.

Buku terbaru Iwok; Traveling Gokil adalah seri ke-dua dari buku sebelumnya; Cewek-cewek Tulalit. Di buku ini diceritakan pengalaman Meme--yang hobi beli barang berhadiah—menang hadiah jalan-jalan ke Malaysia berkat rajin mengumpulkan bungkus mie instan. Di Malaysia, dimulailah traveling gokil mereka. Mulai dari pihak penyelenggara lomba yang aneh hingga mereka tersasar di rimba Malaysia. Dan ternyata... baik tokoh maupun kejadian dalam buku ini semua diangkat dari true story, lhooo!

“Tokoh dalam buku ini semua real. Alhamdulillah mereka juga nggak protes, justru malah senang kisahnya ditulis. Bahkan mereka rela membantu proses marketing buku ini ke teman-teman mereka. Hehe. So... cari deh teman-teman yang narsis, lebay, cari yang unik, perbuas kelebayannya,” ujar Iwok.

Hmmm... kayaknya seru deh ceritanya, Sob. Soalnya sudah terbukti, buku-buku Iwok yang sebelum ini pun sukses bikin para pembacanya senyum-senyum sendiri di dalam bis hingga mules-mules saking seringnya ketawa ketika membaca buku Iwok. [nurjanah]

Dikutip dari : http://www.annida-online.com/artikel-6161--tips-menulis-cerita-konyol-dari-raja-konyol.html

Kamis, 16 Agustus 2012

Workshop WriteUp Comedy!

jual bantal foto
Jaman sekarang ngocol di social media bisa jadi harta karun lho.. Tapi ngocol yang gimana duluu sob?? Ada ilmu nya doong.. Kita intip yuk, langkah-langkah mereka yg udah terbukti sukses dengan celotehan komedinya. Semua diKupas habis dalam : “WriteUp Comedy” Workshop & Lomba Penulisan Komedi.

Selain dapet ilmu dari workshopnya, kamu juga bisa ikutan lombanya. Bagi 20 naskah terbaik, tergokil, bahkan terngenes sekali pun.. :p akan dijadikan anthology KomCin (Komedi Cinta) yang akan diterbitkan oleh Gradien Mediatama. So, buat yang suka ngeblog, ngocol di efbi, twiteran jangan sampe ketinggalan acara ini. Untuk informasi lomba bisa dipantau di sini atau di http://www.writeupcomedycrew.wordpress.com atau follow tweeternya @writeupcomedy biar ngga ketinggalan info.

Kapan sih acaranya, min? Catat jadwalnya yaa!
Minggu, 4 November 2012, jam 12.30 s.d 17.30 WIB
Gedung Wahana Bakti Pos, Jl. Banda 30 Bandung.

Pembicara :
 

Arief @poconggg Muhammad 
Blogger dan penulis Best Seller “Poconggg juga Pocong”.
Cita-citanya sih pengen jadi playboy dan pengacara sukses, tapii gara-gara rajin ngocol di tweeter, hokinya malah nulis buku tuh.. kasih tau dong cooong rahasianya..






Iwok “Gokil Dad” Abqari 
Blogger dan trainer online penulisan komedi

Penulis serba bisa ini sering banget dapet wangsit konyol setelah doi menjuarai lomba novel konyol Gramedia 2008. Udah banyak karya-karya komedinya yang terbit seperti Gokil Dad, Pulau Huntu, dll. Prestasi lain di luar komedi salah satunya, doi didaulat untuk jadi penulis novel “King”, yang diadaptasi dari film “King” produksi Alinea Pictures.




Mas Khun
Owner & Editor Gradien Mediatama

Naah ini dia yg empunya jurus-jurus sakti agar naskah komedi kamu nggak belepotan dan lebih tepat sasaran. Aturan mainnya gimana sih biar tulisan komedi kita cepat diterima oleh penerbit? Giliran Mas Khun deh yang jawab yaah :p






Host
Mongol Stress

 "Comic StandUp Comedy MetroTV”

Special acoustic Performance : Gail Satiawaki













HTM:

Pelajar / Mahasiswa 
Early Bird : Rp.75.000 (s.d 15 September)
Normal : Rp.100.000

Umum 
Early Bird : Rp.100.000 (s.d 15 September)
Normal : Rp.125.000

Fasilitas 
Sertifikat, snack, workshop kit
Special bonus : 1 bh buku komedi dari Iwok (hanya untuk 200 pendaftar pertama)

VIP : Rp.200.000
Fasilitas : Barisan depan,  sertifikat, snack+lunch, workshop kit (terbatas untuk 20 orang)
Special Bonus : 1 buah buku komedi masing-masing dari Iwok & Poconggg.

Jangan sampe ketinggalan yaah, ada DOORPRIZE menarik!! Full entertainment deh!!

Informasi & Pendaftaran
0857 9585 6560 (Arin)
0857 9486 1650 (Ikhsan)
Call Center : 022 – 70334493

Cara pendaftaran ONLINE
Biaya pendaftaran di transfer ke Rekening berikut :
Bank BNI 0265307746 a/n Siska Desi Permatasari
Bank Mandiri 9000004661436 a/n Siska Desi Permatasari

Setelah transfer harap mengirimkan SMS konfirmasi ke call center :  022 70334493 dengan format sebagai berikut: 
Ketik : 
Nama - Status Tiket - Jumlah Transfer +3 digit terakhir no HP anda - Nama bank tujuan
Contoh sms dengan no HP 0818615542: 
Siska Permata - Umum - 125.542 - Mandiri
Jangan lupa bawa bukti transfer sebagai tiket masuk saat datang ke acara. Khusus bagi pelajar/mahasiswa harus memperlihatkan ID pelajar / KTM yang masih berlaku.

Sumber : http://titianmc.co.id/index.php/86-featured-training/164-workshop-a-lomba-menulis-komedi

Kamis, 24 Mei 2012

#WritingCampBintan - Funtastrip!

jual bantal foto
 
Yuk, yuk, ikutan!
Writing Camp Bintan adalah program liburan sekaligus workshop menulis!
Selain menikmati dan menyusuri eksotisme Pulau Bintan, 
kita juga akan dibawa sekalian untuk exploring Singapura!
Wohooo ... jadikan liburan kamu kali ini lebih asyik dan penuh ilmu.

Untuk detil acara dan biaya, silakan drop email kamu ke veni@funtastrip.com
atau isi form di http://bit.ly/Ljg7RO

Minggu, 08 April 2012

[Laporan] Workshop di QSMART - SMA Al-Muttaqien

jual bantal foto
Ternyata satu setengah jam itu tidak pernah cukup. Tadinya saya mikir, dengan tempo waktu selama itu, saya harus ngomong apa aja ya. Makanya, saat nyusun presentasi, saya siapin dua materi buat ngisi slot waktu yang sudah disiapkan panitia. Ealah, rupanya saya lupa kalo udah ngomong, saya tuh susah banget brentinya. Terbukti waktu satu setengah jam berlalu begitu saja, sementara materi yang harus disampaikan masih banyak! Hiyaaa..... *ngebut presentasi*

Siang ini (Sabtu, 7 April 2012), saya berkunjung ke SMA Al-Muttaqin Tasikmalaya untuk memenuhi undangan jadi pembicara dalam acara Workshop bertema Relevansi Sosial Media dan Pembentukan Remaja. Keren kan temanya? Berhubung saya merasa dilahirkan dari Media Sosial (khususnya blog), dan sekarang pun masih berkecimpung sebagai bagian dari sosial media yang ada, tawaran ini pun saya terima dengan senang hati. Apalagi dengan tema seperti itu, saya mau banget sharing tentang apa yang pernah saya lakukan seputar sosial media yang saya geluti, dan dampak positif yang pernah saya raih. Mudah-mudahan bisa sedikit menginspirasi puluhan adik-adik dari SMP dan SMA peserta gelaran Workshop ini yang datang tidak hanya dari area Tasik, tapi juga dari Ciawi, Ciamis, sampai Banjar! Wow.

Jam setengah sembilan saya sudah nongkrong di parkiran SMA Al-Muttaqin. Sebagai pembicara pertama, tentunya nggak lucu kalo saya datang telat. Makanya, meski acara baru dimulai pukul sembilat lewat (pada akhirnya, karena ada seremonial yang dilakukan), jauh sebelumnya saya sudah siap. Apalagi lokasi sekolah ini nggak begitu jauh dari rumah, lima-sepuluh menit berkendara saja sudah sampai di lokasi. Tak lama saya dijemput Afrilia, salah seorang panitia dari Qsmart, yang kemudian mengajak ke ruang acara.

Acara sudah dimulai. Lantunan ayat suci Al-quran menyambut kedatangan saya. Ternyata sudah ada Pak Jenal, Kepala Sekolah SMA Al-Muttaqien, yang akan membuka resmi workshop tersebut, dan juga Pak In In, Wakasek Kurikulum/Pembina Kirlistik, yang ternyata masih mengingat saya karena dulu pernah diundang ke sekolah ini pula saat diminta menjadi juri Lomba Blog. Seremonial pun berlanjut sampai akhirnya tiba giliran saya untuk berbicara. *eng-ing-eng*

Materi yang saya paparkan saat itu adalah seputar dunia tulis menulis dan kaitannya dengan sosial media. Dengan materi seperti ini, saya merasa tertarik kembali beberapa tahun ke belakang, saat saya baru memulai aktivitas ngeblog, gabung di komunitas blogger (blogfam), yang kemudian membuka jalan terhadap dunia penulisan. Tak heran saya begitu bersemangat menceritakan bagaimana lewat Sosial Media akhirnya saya menemukan bakat terpendam; menulis. Mengingat banyak peserta workshop yang ternyata memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, saya pun berusaha menekankan bahwa kesempatan itu selalu terbuka lebar, bahkan melalui media sosial yang tengah marak sekarang ini. Banyaknya ajang penimbaan ilmu lewat grup-grup penulisan di facebook dan event-event lomba penulisan, adalah peluang yang harus dimanfaatkan dengan maksimal. Sosial Media tidak lagi hanya ajang untuk berinteraksi dan menjalin pertemanan belaka, lebih dari itu menawarkan banyak sekali kesempatan untuk mengembangkan bakat yang dimiliki.

Banyak contoh sukses yang bisa kita lihat bagaimana sebuah sosial media bisa melambungkan bakat dan kemampuan seseorang. Siapa tidak kenal Raditya Dika? Tulisan iseng dan ngocol di blognya telah mengangkat dia sebagai seorang selebritas baru di dunia penulisan. Atau Arief Mohammad yang gara-gara akun Poconggg-nya di twitter berhasil mengangkat namanya ke jenjang yang lebih tinggi. Sebut juga Trinity yang karena blog 'The Naked Traveller'nya sudah mengukuhkan dia sebagai backpacker paling terkenal di Indonesia. Tidak lupa, tentu saja sosok humble rupawan bernama ... Iwok Abqary! *hiyaaaat.... geplak! pentung! Bantai!*

Tanpa jeda lama, saya kemudian lanjut ke materi berikutnya mengenai tips-tips penulisan. Dibanding materi pertama, sesi kedua lebih terlihat menarik perhatian peserta. Mungkin karena bahasannya lebih spesifik ke jalur penulisan. Dan saya pun nyerocos kembali sampe kemudian baru nyadar kalo ada seorang panitia yang ngasih kode ke moderator kalo waktunya sudah habis. Hah, habis? tapi materi saya kan belum habis? Hiyaaa... gimana nih? Pas saya tanya ke moderator, ternyata dikasih waktu lima menit lagi buat tanya jawab. Lah, tapi materi saya belum selesai! *keukeuh* hehehe. Akhirnya  saya ngebut menyampaikan materi, karena nggak lucu juga kalo bahasannya kok ngegantung. Penanya pun akhirnya cuma dibatasi dua orang saja, mengingat waktu yang sudah kebablasan. Dari rumah sebenarnya saya sudah bawa 4 buku buat doorprize. Mengingat hanya dua penanya saja, hanya dua buku pula yang akhirnya dibagikan. Penanya yang beruntung masing-masing memilih novel DOG'S LOVE dan Antologi FIGHT, LOVE,HOPE.

Seru! Senang sekali saya bisa terlibat dalam gelaran yang melibatkan banyak anak muda (remaja) di dalamnya. Panitia-panitianya yang gesit dan cerdas dalam menyusun sebuah workshop bergizi, plus pesertanya yang antusias mengikuti rangkaian acaranya. Selain saya, ada dua pembicara lain yang akan menyemarakan wawasan peserta workshop tentang arti dan manfaat sosial media dalam kaitannya dengan dunia jurnalistik. Mereka adalah Yudha P. Sunandar (Pimred SalmanITB.com) yang saya kenal sewaktu sama-sama diundang ke acara ASEAN Blogger Conference di Bali, dan Yogi Ahmad Fajar (pimred Bulaksumur.com - UGM) yang telah saya kenal sewaktu dia masih sekolah di SMA Al-Muttaqin ini dan mengundang saya sebagai juri lomba blog.

Dunia penulisan memang sudah menarik banyak remaja saat ini. Usai menyelesaikan tugas saya sebagai pembicara, perbincangan pun kembali berlanjut dalam suasana santai. Kebetulan usai materi saya dilanjutkan acara break salat zuhur dan makan siang. Beberapa peserta dan panitia merubung untuk menanyakan banyak hal yang belum tuntas terbahas dalam materi tadi. Asyik. Melihat semangat mereka, saya yakin mereka akan berkiprah banyak setelah ini dan beberapa tahun ke depan. Amin. Semoga apa yang saya sampaikan memang bisa menginspirasi mereka, kalau peluang mereka sangat terbuka lebar. Kuncinya cuma satu, ada kemauan, mau belajar, dan ada usaha. *eh, itu mah tiga ya, bukan satu* :D

Yang menyenangkan, dalam obrolan singkat dengan Pak Zainal, Kepsek SMA Al-Muttaqin ini, tercetus keinginan adanya program lanjutan pelatihan penulisan tidak saja untuk siswa, tapi juga untuk guru-guru dan kepala sekolahnya. Lebih jauh, diharapkan program itu dapat menghasilkan sebuah karya nyata dalam bentuk buku. Amiiin.... ayo Pak, kita laksanakan!

Ucapan terima kasih buat Fathia, Affrilia, dan seluruh panitia dari QSmart yang sudah mengundang saya untuk hadir dalam acara ini. Tetap pertahankan semangatnya ya.
*Foto diculik dari Affrilia Utami