Minggu, 21 Oktober 2012

Tasik, Kota Tutug Oncom

jual bantal foto
Entah kapan tepatnya Nasi Tutug Oncom atau lebih dikenal Nasi TO ini mulai eksis jadi serbuan masyarakat Tasikmalaya. Yang jelas, peringkat nasi TO ini sekarang sudah terangkat menjadi sajian yang lebih baik. Yang saya ingat, nasi TO ini sudah ada sejak jaman dulu. Bahkan ketika saya kecil. Namun yang paling saya ingat,  makanan ini disajikan apabila kondisi keuangan dapur keluarga sedang krisis. Saat-saat tanggung bulan, sajian ini seringkali hadir. Kenapa seperti itu? Karena Nasi TO adalah makanan murah dan sangat sederhana. Hanya berbekal sepapan oncom, beberapa siung bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe, sebuah sajian nikmat bisa terhidang cepat di meja. Tentu saja plus nasi putih yang masih panas.

Arti kata Tutug Oncom sendiri adalah oncom yang ditutug (ditumbuk). Jadi, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, dan cabe ini diulek sampai halus, lalu campur dengan oncom. Tumbuk-tumbuk sampai bumbu bercampur rata. Setelah itu, campuran oncom dan bumbu disangrai hingga oncom matang dan kering. Campurkan sangrai oncom ini dengan nasi yang masih panas. Aduk-aduk hingga rata. Beres!

Kalau masih ada yang belum mengenal Nasi Tutug Oncom, mungkin bisa dilihat gambar di bawah ini. Looks so yummy, kan?

Kembali ke cerita tentang Nasi TO yang sekarang begitu menjamur di Tasikmalaya, saya jadi ingat sebuah warung TO di daerah Dadaha. Saat itu awal tahun 2000-an. Mungkin warung ini adalah cikal bakal betapa sebuah warung TO bisa menjadi trend tersendiri nantinya. Warung TO Dadaha ini tidak bagus, hanya kios yang sangat sederhana. Lokasinya bahkan di pinggir sebuah aliran sungai kecil yang tidak begitu bersih. Tapi jangan salah, pengunjungnya ternyata membludak! Untuk memesan sebungkus nasi TO bahkan harus rela antri sampai satu jam! Motor-motor berjajar panjang. Mobil juga sama. Sempat kaget pertama kali melihat suasana seperti itu; wow! Saking ngetopnya, TO Dadaha ini sempat diliput beberapa kali oleh media cetak, dan bahkan masuk dalam acara Santapan Nusantara MNCTV dan stasiun lainnya! Wah!

Warung TO Dadaha - Yang nggak kebagian duduk silakan menunggu di bangku cadangan. hehehe

Apa yang menarik dari sebungkus nasi TO? Karena sebuah sajian nikmat tidak perlu mahal. Tahukah berapa harga sepiring atau sebungkus nasi TO ini? Waktu itu hanya Rp. 2.500,- saja! Itu untuk nasi TO nya saja, karena makan TO tidak akan lengkap kalau tidak disantap dengan Cipe (Aci Tempe/Tempe goreng). Sebuah tempe harganya Rp. 500,-. Jadi, tidak perlu membawa dompet tebal untuk makanan nikmat dan mengenyangkan. Bahkan kalau satu piring dianggap kurang,  nambah satu atau dua porsi lagi  pun tidak akan membuat dompet jadi kurus. Tak heran kalau banyak mahasiswa atau muda-mudi yang terlihat nongkrong di warung ini. Ngobrol dapet, kencan lancar, perut pun kenyang. Hehehe. Dua orang teman dari Jakarta sempat terbengong-bengong saat membayar makanan mereka. "Nggak salah, nih?" katanya.

Tidak bisa dipungkiri kalau keberhasilan TO Dadaha akhirnya segera mendapat followernya. Berbagai warung TO serentak hadir di seluruh penjuru kota. Cita rasa mungkin sedikit berbeda-beda, tapi tetap menawarkan kenikmatan dan kemurahan yang sama. Nasi TO menjadi wabah dan mulai masuk daftar kuliner yang harus disantap kalau memasuki kota Tasikmalaya. Ibu-ibu pun mulai mendapatkan alternatif sajian murah meriah dan nikmat di tanggung bulan. Seringkali istri saya menawarkan; "malam ini beli nasi TO aja ya?"

Hanya jadi makanan alternatif saja di tanggung bulan? Oh tentu saja tidak. Ada rasa kangen saat lama tak mencicip nasi TO. Kapanpun rasa kangen itu datang, tak sulit untuk mendapatkannya. Apalagi sekarang banyak warung TO yang menawarkan tempat yang sangat representative. Tidak lagi harus makan di pinggir jalan, tapi sudah meluas ke warung-warung lesehan yang luas dan nyaman. Salah satunya adalah Warung TO Mr. Rahmat, masih di sekitar komplek olahraga Dadaha. Warung yang baru dibuka tahun lalu ini langsung diserbu penikmat TO dan jadi tempat nongkrong yang asyik. Lokasinya di atas pesawahan, berbentuk saung, dan memiliki jumlah meja yang banyak dan ruangan yang lapang. Cobalah ke sana malam Sabtu atau Minggu, suasana akan terlihat ramai! Beruntunglah kalau anda masih mendapatkan tempat duduk. Apakah di sini mahal? Hohoho ... TO tetap murah meriah. Satu piring TO hanya perlu merogoh kocek Rp. 3.500,- saja. saya sekeluarga (berempat) sering makan di sini, lengkap dengan lauk pauknya; telur dadar, tumis asin jambal, cipe, ayam goreng, dan es jeruk. Ternyata saya hanya perlu membayar tidak lebih dari Rp. 30.000,- saja, itu sudah termasuk porsi TO nambah. Yippiiiee.... *elus-elus dompet*

TO Mr. Rahmat

Sepiring Nasi TO biasanya sudah dilengkapi dengan sambal hejo (sambal cabe rawit mentah) dan sambal merah (cabe merah) dan lalapan (mentimun dan leunca). Dengan porsi ini saja makan sudah nikmat. Tapi kalau ingin lebih lengkap, ada beberapa lauk tambahan yang bisa dipesan. Biasanya berupa gorengan tempe, bakwan, ikan asin goreng, tumis ikan jambal, telur dadar, ayam goreng, dll. 
Untuk kandungan nilai dan mutu gizi  dari tutug oncom ini, saya mencoba mengintip di wikipedia. Di sana dituliskan kalau Oncom ini ternyata memiliki sumber karbohidrat dan protein yang cukup tinggi. Lebih lengkapnya saya kutip berikut ini :

Oncom memiliki kandungan gizi yang relatif baik dan dapat menjadi sumber alternatif asupan gizi yang baik karena harganya murah. Kandungan karbohidrat dan protein tercerna cukup tinggi pada oncom dari bungkil kacang tanah. Selain itu, populasi kapang diketahui dapat menekan produksi aflatoksin dari Aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa, dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang (terutama N. sitophila).[4] Hal ini baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.
Hal yang perlu disempurnakan agar daya terima masyarakat meningkat terhadap oncom adalah yang menyangkut penampilan, bentuk, serta warnanya. Untuk lebih meningkatkan daya terima oncom di masyarakat luas, perlu diperhatikan masalah sanitasi bahan baku, peralatan pengolah, dan lingkungan, serta kebersihan pekerja yang menangani proses pengolahan.
Dalam kaitan dengan aflatoksin, penggunaan kapang N. sitophila dalam proses fermentasi bungkil kacang tanah dapat mengurangi kandungan aflatoksin sebesar 50 persen, sedangkan penggunaan kapang Rh. oligosporus dapat mengurangi aflatoksin bungkil sebesar 60 persen. Aflatoksin dihasilkan pada kacang-kacangan dan biji-bijian yang sudah jelek mutunya. Untuk mencegah terbentuknya aflatoksin, sangat dianjurkan menggunakan bahan baku yang bermutu baik.

Sekarang, warung TO serupa sudah mewabah. Di mana-mana ada. Bahkan di seruas jalan Dadaha (masih satu jalan dengan Mr. Rahmat) berderet warung-warung TO lainnya dengan jarak yang tidak berjauhan. Tak heran kalau secara berseloroh jalan ini sering dijuluki Jalan TO. karena menjamurnya warung TO ini, tak heran kalau kemudian banyak yang menyebut Tasikmalaya sebagai kota TO. Kalau anda ke Tasikmalaya, tak ada salahnya menjajal makanan yang satu ini.

Sabtu, 20 Oktober 2012

[Laporan Perjalanan] Workshop Menulis Cerita Konyol - Depok, 18 Oktober 2012

jual bantal foto
Yihaaa ... jalan-jalan ke Jakarta lagi. Kali ini dalam rangka Workshop Cerita Konyol yang digelar oleh Penerbit Noura Books yang mendaulat saya sebagai narasumbernya. Ecieee ... gaya banget, ya? Halah, ya iyalah Noura minta saya yang jadi narasumber, soalnya workshop ini kan dalam rangka promo novel saya terbaru juga; Cewek-Cewek Tulalit - Traveling Gokil. Udah pada beli, kan? Belum? Hiks... beli atuh, kan biar novel saya laku dan best seller. Hehehe ... melas banget ya?

Rabu malam saya berangkat, biar bisa ngejar pagi sampai Jakarta. Soalnya kalau berangkat pagi alamat nggak bakalan tiba tepat waktu. Apalagi acaranya di Mizan Book Store di Depok. Hiyaa ... masih jauh lagi dari Jakarta. belum lagi antisipasi macetnya, nyasarnya, dan lain-lain. Makanya, berangkat lebih cepat lebih baik. Yah, bengong-bengong bentar di terminal nunggu siang sih nggak masalah lah ya.

Yang bikin ribet kalau mau berangkat malam itu adalah; naik apaan ke terminal bus? Saya biasanya ngejar bus yang berangkat pukul 12, dan jam-jam segitu tuh susah banget nyari angkutan umum. Ojeker masih kepagian buat nongkrong di perempatan-perempatan, angkot udah jarang yang lewat, dan Iren males nganterin dengan alasan; "Nanti Ibu pulangnya sama siapa? Nggak mau kalau nyetir sendirian mah. Takut malem-malem di luar sendirian." Hiiiy ... nggak bisa aja lihat suaminya pergi dengan nyaman ke terminal.

Ya wes, akhirnya seperti biasa saya membulatkan tekad untuk menerjang setiap halangan *halah*. Saya harus berjalan menyusuri jalan sambil celingukan nyari tukang ojek yang sudah mangkal, atau angkot yang mungkin akan lewat. Kalau tidak beruntung? Jalan kaki dah sampe terminal. Tapi ternyata eh ternyata, hujan turun dengan indahnya sodara-sodara, bikin saya langsung layu sebelum berkembang. Gimana ceritanya saya bisa ke terminal kalau hujan begini. Lagian, rumah saya kan agak-agak nyempil gitu dari jalan raya. Harus jalan kaki lagi sekitar 500 meteran melewati gang dan belokan. Bawa payung? Aiiih ... cakep bener ya? Dan saya pun menunggu detik demi detik menunggu malam dengan gelisah, memandangi gerimis yang semakin deras. *hadeuh, bahasanya deh coba*

Gerimis mereda, tapi saya belum tenang. gerimis begini ojeker pun makin bakalan susah dicari. Naik beca? Hiyaaa ... jam segini bisa nemu beca di mana? Dan .... datanglah penyelamat itu. Mamah mertua datang dan kaget melihat menantu tersayangnya lagi dilanda bimbang. Setelah nanya ini-itu, akhirnya Mamah bilang kalau pacar adik iren yg bungsu ada di rumah, lagi jadwal ngapel hari Rabu (ada gitu?). "Suruh dia yang ngantar aja, biar nanti Mamah yang ngomong." Dan saya pun langsung bersorak gembira! Yipiiiiie ... Ibuku, Pahlawanku.

Setengah 11 malam, pacar adik saya datang ke rumah buat jemput. Kayaknya dia sudah mulai diusir Mamah karena ngapelnya kelamaan. Lagian, masih ada hari esok, kan? Sebenernya, setengah 11 itu masih kesorean, karena saya kan berniat naik bus yang jam 12. Tapi daripada nggak ada tumpangan ke terminal, nggak papalah cengo sejaman di terminal. So, melompatlah saya ke jok motornya; "Tarik Bang!" *lo kira ojek?*

Sebenarnya rumah si cowok ini berlawanan sama terminal. Tapi, berhubung dia takut calon kakak iparnya nggak merestui hubungan mereka, dan akhirnya malah menghambat kisah cinta mereka, akhirnya dia harus pasrah nganter saya ke terminal. Masih gerimis, dan sepanjang jalan saya ngumpet dibalik badannya yang tinggi. Lumayan anget. Tapi calon iparku ini kayaknya mulai menggigil. Eh, tengah jalan hujan malah ngegedein.
"Hujan A, gimana?" tanya dia.
"Gapapa, tanggung udah deket," jawab saya sambil makin meringkuk dibalik badannya.
Calon adik saya itu ngangguk, tapi saya yakin dia lagi ngedumel; "Lo yang gapapa, gue yang kedinginan tahu!" Hihihi ... maaf ya Dek, kalau mau mengambil hati calon kakak, mending nurut aja. Perjuangan itu diperlukan kok untuk mencapai kemenangan. *apa coba?*

Akhirnya, tibalah saya di terminal. Setelah dadah-dadah dengan si calon adik, saya pun duduk manis menunggu. Baru jam sebelas. Bus menuju Jakarta sudah siap sih, tapi masa iya harus naik yang jadwal sekarang. Bukan apa-apa, entar sampe Jakarta kepagian. Yasud, mending twitteran dulu dan apdet status BBM. Eh, baru aja ganti status, BBM bunyi. Ada pesan dari Candra, teman masa kuliah yang sekarang tinggal di Ciamis. "Wok, mau ke Jakarta? Candra juga. Ini lagi meluncur menuju pool bus." Ihiiir ... pucuk dicinta Candra pun tiba, akhirnya bisa punya teman di perjalanan menuju ibu kota. Teman bobo di bus maksudnya, lah baru ngobrol bentar aja kita udah pada teler. Hehehe.

Jam 5 pagi nyampe deh di Kampung Rambutan. Say bye to Candra, lalu ngacir ke masjid, Subuhan sekalian selonjoran dulu barang sekejap. Soalnya, Mba Dee dari NouraBooks berencana untuk menjemput. Asyik dah, enak nggak perlu pusing bakalan nyasar di rimba betawi seperti biasanya kalau saya pergi ke Jakarta. Jam 6 Mba Dee datang bersama seorang sopir taksi, eh maksudnya jemput pake taksi, lalu segera menculik saya ke kantor Noura Books di wilayah Jagakarsa. Horeeey ... senang banget akhirnya bisa menyatroni kantor penerbit yang sudah menerbit beberapa novel saya ini. Lebih senang lagi karena di sana saya bisa numpang mandi, ganti baju, terus dikasih sarapan. *Ups, kelihatan banget kelaparannya nih*

Mandi sudah, ganti baju sudah, sarapan sudah, eh di kamar ada kasur empuk pula. Tiduran deh sampe akhirnya kepulesan! Hiyaaaa ... tamu nggak sopan! Sudah dikasih numpang mandi, dikasih sarapan, eh malah sekarang ikut bobo. Sampe nggak sadar kalau Mba Dee nge-BBM ngajak kumpul bareng kru Noura Books untuk berdoa bersama memulai pagi. *ngumpet di lemari*

Jam setengah 9 bangun dong, karena nggak mungkin kan numpang bobo sampai siang? Woy, saya ke sini kan buat ngasih workshop, bukan numpang tidor! Mba Dee ngajak saya Noura Tour, keliling kantor Noura sambil dikenalin sama seluruh staf yang ada. Horeeeey ... akhirnya kenalan sama semua orang yang berada di belakang layar buku-buku saya selama ini. Ketemu mas Noor H. Dee yang sudah menjadi editor untuk 3 novel saya, ketemu Pak Deden Ridwan, Person in Charge-nya Noura Books, dan semuanya. Terima kasih banyak semua atas kerjasamanya selama ini.


Jam sembilan, saya bersama Mba Dee dan Mba Putri meluncur ke Depok Mall. Tujuannya adalah Mizan Book Store, dimana Workshop Menulis Cerita Konyol akan segera dilangsungkan. Hiyaaaa ... mulai deh gemeteran. Ini adalah kali pertama saya jadi pembicara dalam sebuah workshop yang membahas tentang proses menulis cerita konyol! Nah loh, bisa ngomongnya nggak saya nanti? Bismillah ....

Perlahan tapi pasti, peserta workshop berdatangan satu per satu. Ada beberapa yang sudah saya kenal, dan ada pula yang benar-benar baru bertemu saat itu. Senangnya kegiatan seperti ini memberi kesempatan saya bertemu teman-teman baru. Peserta yang terdaftar ada 45 orang, sesuai dengan kuota ruangan yang tidak terlalu luas. Langsung merinding melihat semua kursi mulai terisi penuh. Mudah-mudahan mereka tidak sia-sia sudah jauh-jauh datang ke sini, dan ada -minimal- sesuatu yang bisa mereka peroleh dari semua ulasan saya nanti.

Dan, seperti apakah cerita tentang workshopnya itu sendiri? Kayaknya mending baca sendiri ulasannya di Annida Online dan TNol.co.id - Portal Komunitas yang pada saat itu datang meliput.


Ow, perjalanan saya di Depok belum selesai. Tuntas dengan workshop ini, saya harus segera meluncur ke Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, karena ada talkshow 'Traveling Gokil' di event UI BookFest yang digelar sore hari. Hayuk, lanjuuuut.

Ini adalah kali pertama saya memasuki Universitas Indonesia, jadi cukup excited juga. Suasananya hijau royo-royo banget, asyik! Jadi ngebayangin kuliah di sana, terus setiap ada waktu kuliah kosong bisa nongkrong-nongkrong di bawah pohon sambil ngobrol, pacaran, atau nyontek tugas kuliah (Hus!). Yang jelas, berasa jadi mahasiswa lagi pas masuk area ini. *nggak sadar diri emang*


Ey, di auditorium IX tempat akan diselenggarakan talkshow ini ketemu Maknyak Labibah Zain, founder Blogfam.com yang ternyata lagi ikut konferensi internasional tentang perpustakaan di tempat ini. Horeee ... kopdar dadakan. Bahkan gara-gara tahu saya akan talkshow di sana, Maknyak rela bolos di kegiatan selanjutnya. hihihi ... *peluk Maknyak*

Ternyata talkshow di sini pun tidak kalah serunya, hanya saja atmosfernya memang terasa beda. Ruangannya lebih luaaas ... dan pesertanya mahasiswa semua! Wow, gemeteran lagi, takut mereka nanya-nanya yang saya nggak bisa jawab, soalnya mahasiswa kan suka kritis nanyanya. hehehe .... alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar. Setidaknya, semua pertanyaan yang masuk saya jawab dengan kapasitas yang saya ketahui. Kalau kurang puas, maaf yaaa. ^_^

Talkshow harus dihentikan karena sudah masuk adzan magrib. Satu setengah jam memang nggak kerasa ya. Sudah saatnya kegiatan saya di Depok disudahi. Setelah salat magrib, dinner di cafe Al4a (alay? hihihi) yang ada di fakultas komunikasi (bener ya?), saya pun diantar Mba Dee kembali ke habitatnya. Eh, ke terminal Kampung Rambutan! Sudah pukul delapan lewat saat saya tiba di terminal, dan saya pun bersay goodbye pada Mba Dee yang sudah menemani saya seharian itu. Tengkyu Mba Dee, sudah jemput dari pagi buta, nganter ke mana-mana, jadi moderator workshop dan talkshow, sampai kembali nganterin ke terminal. Nggak sekalian nganterin ke Tasik? *Jitak!* hehehe ... #Kidding

Sejam kemudian, saya sudah terombang-ambing lagi dalam bus malam yang membawa saya pulang. Nyampe pukul 3 pagi di kota Tasik disambut gerimis mengundang. Hiiiy ... kejadian lagi harus ujan-ujanan. Yawes, gapapalah, toh sekarang mah ujan-ujanannya pulang ke rumah.
"OJEEEEEEK!"

Jumat, 19 Oktober 2012

[Review] Tips Menulis Cerita Konyol Dari Raja Konyol - Annida Online

jual bantal foto Wiiih ... ternyata workshop kemarin di Depok Mall kemarin diliput juga oleh Annida Online. Ini liputannya :

Tips Menulis Cerita Konyol Dari Raja Konyol



 Annida-Online-- “There are no rules on how to make people laugh,” begitu kata Suzanna Holmes, Sob. Tapi... dalam hal menulis cerita konyol, menurut si Raja Konyol yang sudah terbukti kekonyolannya di berbagai buku yang telah diterbitkannya, ada satu rumus penting untuk membuat people laugh: Lebaynisasi!

Kamis (18/10), bertempat di toko buku Mizan, Depok Mall, digelar workshop menulis cerita konyol persembahan penerbit Noura Books. Mendatangkan Raja Konyol yang belum lama menerbitkan buku Traveling Gokil, Iwok Abqary, acara berlangsung rame dan seruuu! Terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan besarnya antusias mereka dalam menimba ilmu dari sang ahli.

“Yang paling enak dalam menulis cerita konyol itu lebaynya. Selain membuat para pembaca lebih sehat dengan tersenyum, bisa memakai kata 'manyun, cengo, melet, sih!, gubrags, dan kawan-kawannya' juga membuat target jumlah kata cepat terkejar. Saya sudah membuktikannya,” pesan Iwok.

Selain itu, beberapa hal yang nggak kalah penting dalam menulis sebuah cerita konyol diantaranya mampu menemukan sisi lain dari sebuah kejadian atau benda, menciptakan karakter 'abnormal' yang akan dianggap lucu oleh pembaca, menciptakan hal-hal absurd atau nggak masuk akal, memperhatikan pemilihan kata, tidak membanding-bandingkan diri kita dengan penulis lain yang sudah terjamin kualitas kekonyolannya, dan pastinya rajin membaca buku-buku konyol.

“Saya aslinya nggak lucu, kalau mau ngelucu malah jadinya garing. Tapi saya punya sisi humor yang tersalurkan dalam bentuk tulisan. Tiap orang pun punya sense of humor masing-masing. Nah, biar selera humor selalu hidup, saya rajin baca buku komedi. Kalau nggak ada buku baru, yang lama juga gapapa,” tambahnya.

Buku terbaru Iwok; Traveling Gokil adalah seri ke-dua dari buku sebelumnya; Cewek-cewek Tulalit. Di buku ini diceritakan pengalaman Meme--yang hobi beli barang berhadiah—menang hadiah jalan-jalan ke Malaysia berkat rajin mengumpulkan bungkus mie instan. Di Malaysia, dimulailah traveling gokil mereka. Mulai dari pihak penyelenggara lomba yang aneh hingga mereka tersasar di rimba Malaysia. Dan ternyata... baik tokoh maupun kejadian dalam buku ini semua diangkat dari true story, lhooo!

“Tokoh dalam buku ini semua real. Alhamdulillah mereka juga nggak protes, justru malah senang kisahnya ditulis. Bahkan mereka rela membantu proses marketing buku ini ke teman-teman mereka. Hehe. So... cari deh teman-teman yang narsis, lebay, cari yang unik, perbuas kelebayannya,” ujar Iwok.

Hmmm... kayaknya seru deh ceritanya, Sob. Soalnya sudah terbukti, buku-buku Iwok yang sebelum ini pun sukses bikin para pembacanya senyum-senyum sendiri di dalam bis hingga mules-mules saking seringnya ketawa ketika membaca buku Iwok. [nurjanah]

Dikutip dari : http://www.annida-online.com/artikel-6161--tips-menulis-cerita-konyol-dari-raja-konyol.html

Senin, 01 Oktober 2012

[Traveling] Kampung Naga, Nature & Simplicity

jual bantal foto


Artikel traveling saya di Majalah NooR edisi Oktober 2012

Untuk yang tertarik kirim naskah traveling ke Majalah NooR, berikut adalah persyaratannya :

  • Laporan perjalanan ditulis sebanyak 10.000 - 12.000 karakter.
  • Jenis font tulisan dan spasi tidak ditentukan, silakan disesuaikan dengan kenyamanan.
  • Sertakan minimal 7 buah foto lokasi wisata dengan variasi atraksi/objek wisata yang ada.
  • sertakan satu buah foto penulis sedang berada di lokasi wisata tersebut.
  • Resolusi foto harus cukup baik. Diusahakan tidak mengirimkan foto hasil jepretan ponsel karena kualitasnya tidak cukup baik saat dicetak.
  • Kirim naskah dan foto ke majalahnoor@gmail.com CP. Ade Nur Sa'adah
  • Tuliskan subjek email : Artikel Traveling

[Tips Menulis] Writer's Block

jual bantal foto
Siapa yang belum pernah mengalami Writer's Block? Sebagian penulis pasti pernah mengalami masalah kebuntuan ide. Jadi jangan khawatir dan panik kalau kamu mengalami hal ini. Mentok ide bukan akhir dari segalanya kok, jangan sampai kamu mikir karena sering mandeg akhirnya menjudge diri sendiri nggak bakat dalam menulis. Belum tentu begitu.

Banyak hal yang bisa mengakibatkan writer's block terjadi. Untuk yang setiap saat berhadapan dengan komputer untuk menulis dan menulis tanpa henti, bisa jadi kejenuhan akan mencegat sewaktu-waktu. Dan itu wajar karena otak kita juga akan kecapean dipaksa mikir terus. Lumrah manusia untuk mendapatkan jeda istirahat di sela-sela rutinitas, termasuk kegiatan menulis. Nulis memang tidak membuat capek secara fisik karena nggak usah lari-larian, tapi justru karena secara fisik nggak banyak gerak, pikiran lah yang lebih capek. Bayangkan bagaimana otak harus bekerja keras untuk merangkai begitu banyak cerita dan adegan yang akan tertuang lewat tulisan?

Pernahkah saya kena writer's block? Oh seriiiing ... hehehe. Lalu, kiat-kiat seperti apa sih yang biasa saya lakukan untuk mengusir si biang mandeg ini? Setiap penulis pasti punya kiat tersendiri mengatasinya, karena yang tahu gimana cara membuat senang dan nyaman kan hanya masing-masing. Tapi kalau dilihat-lihat, biasanya sih kiat-kiatnya nggak jauh beda.

  • Kerja Juga Butuh Istirahat
Kalau selesai nulis sebuah naskah yang cukup panjang (novel misalnya), biasanya saya akan ngasih waktu break dulu selama beberapa hari. Maksimal seminggu lah nggak nulis-nulis dulu biar otak juga fresh lagi buat diajak ngebut nantinya. Nah, mumpung lagi cuti nulis, puas-puasin deh baca buku, nonton film, jalan-jalan, fesbukan, twitteran, browsing sana-sini, wiskul atau ngelakuin apapun yang saya mau. Ini adalah bentuk reward juga, kan? Setelah kerja keras menuntaskan sebuah naskah, tak ada salahnya memberikan reward buat diri sendiri seperti itu. Biasanya sambil menikmati libur nulis, ide-ide baru akan berdatangan dan siap untuk dituangkan dalam tulisan selanjutnya.

Untuk naskah-naskah pendek (cerpen atau essay misalnya) boleh deh ambil break sejenak. Sehari cukuplah ya? Setelah itu, ayo geber lagi menulisnya. Jangan kebanyakan istirahatnya, ntar keenakan!
  • Selesaikan Masalah!
Pada saat banyak masalah yang harus dipikirkan, writer's block seringkali terjadi. Wajar, otak harus bergelut dengan berbagai pikiran dalam satu waktu. Tidak heran kalau pikiran kita sering ngerasa nggak connect dengan jari tangan pada saat menulis. Banyak hal yang berkelebatan di kepala, tapi selalu bingung bagaimana cara menuangkannya. Kalau memang seperti itu, menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi adalah cara yang paling tepat. Nggak nulis dong? Nggak masalah, ada skala prioritas yang harus diselesaikan terlebih dahulu, kan? Daripada nulis nggak konsen, masalah juga nggak selesai, hayo! Lebih baik selesaikan dulu satu per satu.
  • Lingkungan
Di mana saat itu kamu menulis? Di ruang tamu yang sedang banyak orang? Di depan tivi? Kalau memang situasinya seperti itu, coba deh kamu menyingkir ke tempat yang lebih sepi. Menulis itu butuh konsentrasi. Kalau kamu berada di situasi yang cukup ramai atau ribut, tidak heran kalau otakmu tidak bisa berpikir jernih.
  •  Hajar!
Merasa nggak punya masalah tapi nulis nggak maju-maju? Bisa menulis beberapa paragraf tapi merasa nggak puas dengan kalimat-kalimat yang sudah dituliskan? Atau bahkan ide berkelebatan tapi selalu sulit dituangkan? Ya, itu adalah salah satu gejala writer's block juga. Kalau memang kondisinya seperti itu, coba paksakan menulis. Duduk depan komputer atau laptopmu lalu menulislah, apa saja. Yang harus kamu lakukan adalah melawannya agar writer's block ini tersingkir secepatnya. Memang tidak mudah, tapi coba paksakan dulu. Abaikan hasil karena toh kamu bisa merevisinya kemudian. Kalau kamu berhasil memaksakan diri untuk menulis (apapun itu dan bahkan sejelek apapun itu), minimal kamu tidak membiarkan kebuntuan merajalela. Ini adalah bekal untuk menendang si 'Writer's Block' semakin jauh.

  • Membelokkan Alur Cerita
Ada kalanya mentok diakibatkan oleh salah mengambil alur cerita. Berdasarkan pengalaman,  saya pernah mengalami kebuntuan beberapa kali. Entah kenapa cerita yang saya tulis tidak mau maju padahal semangat menulis saya masih cukup besar. Akhirnya saya mengambil keputusan nekad, saya memangkas beberapa halaman terakhir, lalu membelokkan alur cerita dari yang semula pernah saya pikirkan. Saya mencoba membuat sempilan alur baru yang tiba-tiba terbetik begitu saja dengan tetap mengarah ke ending yang sama (karena ending biasanya sudah terbayang sejak semula). Ternyata, itu adalah keputusan yang cukup bagus karena saya seolah diberikan napas baru untuk membuat lanjutan kisah yang lebih fresh dari yang selama ini sudah terbayang tapi sulit diungkapkan. Proses menulis saya pun biasanya akan lebih lancar setelah itu.

Ibaratnya gini, dari kota A untuk menuju kota B terdapat dua jalur; Jalur C dan Jalur D. Ketika kita memilih jalur C, lalu di tengah perjalanan ternyata terjadi kemacetan total (akibat tebing longsor yang menghalangi jalan misalnya), sementara kita harus segera sampai di kota B, mau tidak mau kita harus berbalik arah lalu mengambil jalur yang berbeda, yaitu jalur D.  Tujuan akhirnya tetap sama kan, di kota D, tapi mau tidak mau kita harus berbalik dulu untuk mencari jalur alternatif lain agar bisa segera sampai di tujuan. Menunggu kemacetan terurai mungkin bisa, tapi sampai berapa lama? Sayang waktu yang sudah terbuang untuk menunggu, kan?

Perumpamaannya aneh, nggak? Hehehe

So, kalau kalian terkena writer's block, cara mengatasinya gimana? Sharing, yuk?

Image taken from www.charlesheflin.com

Kamis, 27 September 2012

[Tips Nulis] Rubrik 'Buah Hati' Koran Republika

jual bantal foto Terkadang kita sering dibuat bingung oleh tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari, entah sikap dan kelakuannya yang ajaib, sosialisasi dengan lingkungan dan teman-temannya yang terjadi masalah, atau hal lainnya yang berkaitan dengan proses tumbuh kembangnya si anak.

Punya pengalaman unik dan solusinya menghadapi masalah itu Mom, Dad? Ayo, tuliskan kisah itu untuk berbagi dengan pembaca Koran Republika di rubrik 'Buah Hati'.

Ini panduan untuk menulis 'Buah Hati' yang saya kutip dari note FB Leisure Republika :

Assalamu alaikum wr wb

Pengasuhan merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas. Apalagi, tiap keluarga menjalankan pola pengasuhan tersendiri yang sesuai dengan tantanan nilai yang diyakininya. Saban hari, ada saja kejadian unik, lucu, menggemaskan, menggelitik, atau malah membuat orang tua kelabakan memikirkan solusi dari pertanyaan-pertanyaan cerdik si kecil.

Rubrik Buah Hati ada sebagai sarana bagi para orang tua untuk berbagi pengalaman pengasuhannya. Naskah ditulis dengan sudut pandang 'saya', menceritakan cara ayah dan bunda mengatasi suatu tantangan pengasuhan. Temanya beragam, mulai dari cara menjelaskan makna demonstrasi seperti yang ditulis Ali Muakhir, mengenalkan anak guna menabung seperti yang dibahas Haya Aliya Zaki, atau pengalaman puasa di luar negeri seperti yang diulas Sri Widyastuti beberapa edisi lalu.

Bagaimana teknis penulisannya?
  • Pilih satu tema utama, usahakan temanya spesifik dan berisi diaog antara orang tua dengan anandanya
  • Sertakan informasi nama dan usia anak yang diceritakan, jumlah anak dalam keluarga
  • Sertakan foto penulis dengan anak yang diceritakan dalam naskah. Foto dengan seluruh anggota keluarga akan menyulitkan pembaca untuk mengenali anak mana yang diceritakan. Foto harap dilampirkan dalam attachment terpisah dari naskah. Untuk tampilan yang lebih bagus, foto sebaiknya bukan merupakan jepretan kamera ponsel dan berukuran lebih dari 150 KB.
  • Tulisan berkisar antara 2500 hingga 3000 karakter
  • Naskah dan foto dapat dikirimkan melalui email leisure@rol.republika.co.id
  • Mohon mencantumkan nama lengkap, alamat, nomor telepon yang bisa dihubungi, dan nomor rekening.

Semoga tulisan-tulisan yang dimuat dapat menginspirasi ayah dan bunda serta calon orang tua ya...aamiin ya rabbal alamin...Semangat menulis!

Salam,
Redaksi Leisure

Dan ini salah satu contoh tulisan Buah Hati yang sempat saya tulis untuk Leisure Republika.


 

WriteUpComedy!

jual bantal foto