Tampilkan postingan dengan label ARL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 April 2013

[Traveling] Jalan-Jalan Seru di Bangkok - Part 1

jual bantal foto Nggak pernah ngebayangin kalau suatu waktu bisa melawat ke Bangkok. Yang ada dalam setiap keinginan justru Singapura dan Kuala Lumpur terus. Kalau ada promo-promo tiket pesawat murah, yang selalu dicari adalah tujuan kedua kota tersebut. Tidak pernah sekali pun pengin tahu berapa tiket promo ke Bangkok. Tetapi, Allah berencana lain. Setelah sekian lama nguber Singapura dan Kuala Lumpur, Allah malah memberikan kesempatan untuk pergi ke Bangkok. It’s really a WOW! Really surprising.

Suatu ketika, saya mendapat undangan dari Benny Rhamdani, Chief editor lini Anak dan Remaja Penerbit Mizan, untuk mengunjungi Bangkok International Book Fair pada tanggal 4-7 April 2013. Ya jelaslah saya mau, ini kesempatan saya untuk mengenal dunia buku di luar sana. Apalagi kepergian ke Bangkok tidak hanya untuk berkunjung ke Book Fair, tetapi juga melakukan pertemuan dengan Minmie Bag Factory, produsen tas Minmie yang lisensi penerbitan bukunya di Indonesia dipegang oleh Mizan. Fyi, Mizan sudah menerbitkan picture book serial Minmie saat ini.

Selain saya dan Bhai Benny, ada 5 orang lain dalam rombongan; Fitria Chakrawati, Erna Fitrini, Nunik Utami, Dewi Cendika, dan Dodi Rosadi. Selain kang Dodi yang kerja sebagai desainer buku Mizan, yang lainnya adalah para penulis freelance di Mizan. Tahu bahwa kita bakalan berangkat rombongan, saya langsung semangat. Minimal kalau kita nyasar nanti di Bangkok, kita bakalan nyasar rame-rame. Horeeee .... #eh.

Mengingat jadwal keberangkatan pesawat pukul 8 (kemudian delay 25 menit) dan harus sudah check-in pukul 6, saya sudah berangkat dari Bandung (bareng Bhai) pukul 1 pagi naik Primajasa. So, jam 4 subuh kita sudah ada di bandara dong, masih sempet buat jogging dulu keliling Terminal 3 dan ngelapin pesawatnya dulu biar tambah kinclong. Sementara itu para peserta kontingen jam segitu baru pada bangun. Curaaaaang .... *pindahin Soetta ke Tasik*

Pukul 6 pagi, semua rombongan akhirnya berdatangan, dan kita langsung foto bareng. Hiyaaa ... check-in bareng ding! Lalu berduyun-duyunlah kita menuju immigrasi. Meski pernah punya paspor sebelumnya (dan pas kadaluarsa cuma dapet stempel satu doang. Hiks), tetapi mendapat stempel imigrasi pertama di paspor  yang baru berasa jadi pengalaman baru lagi. Yes, ke luar negeri lagiii! Hihihi ... norak ya? *Emang, tapi bodo ah*

#Day 1

Daaan ... pukul 08.25 Wib. Mandala Airways RI-900 pun mengudara menuju Bangkok. Horeeee .... jingkrak-jingkrak di atas pesawat. *digetok pramugari*

stasiun ARL Suvarnabhumi Airport
Nyampe Suvarnabhumi Airport pukul 12 siang disambut tulisan-tulisan keriting di mana-mana. Selamat, anda sudah sampai di Bangkok dan tidak nyasar di Jimbabwe, karena tulisan Jimbabwe kan bukan begitu *mungkin*.

Karena kita butuh eksis selama di Bangkok, maka tujuan pertama kita adalah ... nyari tukang pulsa! Sayang, si Yayan, OB kantor langganan saya beli pulsa, nggak jualan simcard di Thailand, jadinya saya harus ikut ngantri di sebuah stand operator selular di luar pintu kedatangan. Saya harus segera apdet status ‘Horeee ... akhirnya nyampe Bangkok’, jadi Gtab saya perlu segera dibangunkan. Sebenarnya, bisa aja sih saya pake fasilitas internasional roaming dari Telkomsel. Tapi, harus bayar ratusan ribu rupiah untuk apdet-apdet status doang? Oh tidaaaak ... ratusan ribu rupiah bisa jadi sekarung oleh-oleh tuh, sayang amat Cuma buat roaming doang? Jadilah saya membeli simcard ‘Happy Turist’ dari operator DTAC seharga 349 baht untuk unlimited internet selama 7 hari. Dan, meluncurlah apdet status yang pertama. Hihihi.

Beres urusan ngeksis, kita serodotan ke lantai bawah, menuju stasiun ARL (Airport Rail Link). Wiiih ... ini bakalan jadi kali pertama saya naik kereta di luar negeri, makanya langsung semangat. Bahkan, begitu kita naik dan duduk, saya langsung nyodorin Gtab saya; “Eh, fotoin dong.”

PRETT!

Dan foto saya di ARL (lengkap dengan koper-koper) menjadi foto pertama saya di Bangkok yang teraplod di facebook. Yes, it’s time buat pameeeer ... hahaha *ditabokin orang-orang yang enek* Maaf ya, harap maklum kenorakan kami, eh .. saya.

Foto pertama yang diaplod di Facebook. wkwkw
Karena hotel kita berada di area Lumpini, kita sengaja turun di stasiun Phaya Thai untuk nyambung dengan BTS Skytrain. Ongkos ARL dari Suvarnabhumi ke Phaya Thai adalah 45 baht. Yang ini bukan buat pamer, tapi siapa tahu ada yang pengen tahu. Dari stasiun ARL kita langsung geret-geret koper menuju stasiun BTS di lantai bawah. Parahnya, di Phaya Thay ini nggak ada eskalator, jadinya kita harus turun-naik tangga sambil nenteng koper segede bagong. Kenapa koper kita gede-gede? Pssstt ... buat persediaan tempat oleh-oleh nanti! *beuuh*

Dari Phaya Thai kita naik Skytrain menuju stasiun Asok. Bayarnya 30 baht. Yaaay ... naik kereta kedua kalinya siang itu. Foto lagi? Nggak ah, soalnya keretanya penuh! Malu sama orang-orang. Hehehe. Tar aja kalo keretanya dapet yang kosong *niat emang*. Turun di Asok, kita meluncur ke stasiun MRT Sukhumvit. Geret koper lagiiii .... beli tiket lagi, lalu ngaclok ke dalam MRT dengan tujuan stasiun Lumpini. Wiiih ... naik kereta yang berbeda ketiga kalinya dalam tempo satu jam saja. Bayarnya kali ini 20 baht saja.

Eh, sebenernya, dari Suvarnabhumi ke Lumpini itu nggak perlu ke Phaya Thai dulu, tapi cukup berhenti di stasiun Makkasan, lalu pindah ke MRT Phetchaburi. Dari Phetchaburi langsung ke Lumpini. Jadi nggak perlu naik Skytrain segala. Tapi berhubung pengetahuan kita terbatas (dan emang pas-pasan, sih), akhirnya kita muter dulu ke Phaya Thai.

Lumpini! Ini destinasi terakhir dari perjalanan kita dari kereta ke kereta. Stasiunnya cukup bagus, jauh di dalam tanah. Ada eskalator yang panjang dan curam banget menanjak ke atas (dan turun deras (eh, kayak hujan aja?) untuk sebaliknya). Lumayan nggak perlu manggul koper lagi buat naik. Tapi, begitu kita sampai di luar, apakah yang terjadi?

Hotel kita ada di mana? Nah loh. Pemandangan asing langsung terasa, dan menyadarkan saya bahwa ini bukan di Tasik! Huhuhu. Kita berada di perempatan jalan yang entah namanya apa. Yang jelas, banyak mobil, bus, dan tuktuk berseliweran di jalan raya (ya iyalaah .... namanya aja jalan).

“Kita ke mana sekarang, Wok?”

Nah, loh, ketiban pulung nih. Dari awal saya memang yang memegang peta dan itinerary, termasuk yang booking hotel ini! Kalau di google maps sih kayaknya udah kebayang lokasi hotel ada di mana, tapi pas lihat aslinya ... hiyaaaa ... kenapa jadi begini? Yang ada di bayangan saya buyar semua! Tidak sesuai yang ada di google! *tabok google map*

“Kalo waktu lihat di google map sih, kayaknya di seberang sana!” saya nunjuk ragu-ragu ke arah rerimbunan pohon, semak, dan reruntuhan bangunan di seberang jalan. Huwaaa ... apa hotel yang saya pesan sudah dirubuhkan? Yang  saya inget, Pinnacle Lumpinee Hotel yang saya booking ada di seberang stasiun Lumpini. Berarti ... semak-semak itu?

“Nggak mungkin!” kata Bhai Benny. Saya ngangguk setuju. Emang nggak mungkin sih, masa iya kita harus tidur di bawah pohon atau semak? Hiiiy .... gimana nih?

Tiba-tiba, seorang cewek cantik muncul dari eskalator. Kita pun segera menangkap dan membantingnya!  Halah, mencegat dan menanyainya. Untungnya tuh cewek ternyata fasih bahasa Inggrisnya (fyuuuh), jadinya Mba Erna bisa nanya-nanya sama dia. Hihihi ... kirain saya yang nanya, ya? Dan ternyata tuh cewek sama bingungnya pas ditanya tentang lokasi hotel. Dia menggeleng tak jemu-jemu saat ditanya “dimanakah hotel Pinnacle Lumpinee itu?” Hiyaaa ... orang Bangkok aja nggak tahu, apalagi orang Tasik, kan?

Akhirnya Cewek Itu minta waktu dulu buat pipis ngintip Samsung Note-nya (suwer, ini bukan iklan), lalu tak-tik-tuk sibuk sendiri. Lalu dia ngangguk-ngangguk, terus ngomong; “sigana mah di palih ditu hotelna.” Haiyaaah ... boong ding, dia ngomong pake Inggris kok, bukan bahasa Sunda. Dia nunjuk-nunjuk ke arah kanan stasiun. Dia bilang sih nggak begitu yakin juga. Hanya saja kalau dilihat dari alamat hotelnya sih, ya memang sebelah situ, katanya. Saya sih yakin, tuh cewek pasti belum pernah nginep di hotel itu, mangkanya dia nggak tahu. *lagian ngapain orang Bangkok nginep di Bangkok?* #tabok

Setelah mengucapkan hatur nuhun, kita pun menggeret koper ke sana. Dan tolong di catat, saat itu sudah pukul 3 sore, dan masih panaaaas banget. Kabarnya, suhu udara di Bangkok belakangan itu mencapai 40 derajat celcius. Cegluk. *air mana aiiiiir ...* Terus, pukul 3 sore tuh nggak ada adem-ademnya, matahari masih galak banget.

Ngejogrog pinggir jalan saat nyasar! :p
Dari dalam kendaraan yang berseliweran, para penumpang melihat 7 orang kucel dan keringetan (plus tampang pasrah akibat nyasar)  sedang menggeret-geret koper di trotoar jalan.

Kenapa kita tidak menggunakan taksi saja? Karena eh karena, informasi yang diperoleh dari website hotel, dari stasiun MRT ke hotel itu tidak jauh, cuma 100 meter saja! Dengan catatan ... kalau nggak nyasar!

Hmmm ... sebenarnya, siang itu kita ada janji untuk kunjungan ke Minmie Bag Factory. Dan perwakilan dari Minmie akan datang menjemput di hotel pukul 1! Sementara itu, pada pukul 3 siang itu, kita masih ngegeret-geret koper entah di mana. Sebelumnya sih sudah di SMS juga kalau kita bakal datang telat karena pesawat delay, lalu perjalanan dari bandara ke hotel yang mungkin memakan waktu lama. Dan Ms. Intira dari Minmie ngejawab; “It’s ok. I’ll wait at the hotel.”

Jalan seolah tidak berujung. Hotel Pinnacle Lumpinee tidak kelihatan juga. Yang ada malah Lumpini Tower. Sama-sama Lumpini sih, tapi sudah jelas gedung yang beda. Kebingungan, kita pun ngos-ngosan sambil ngadem di bawah pohon pinggir jalan. Mudah-mudahan nggak ada orang Indonesia yang mengenali dan lalu merasa trenyuh karena saudara sebangsa dan setanah airnya begitu terlihat nelangsa di negeri orang.

“Telepon Miss Intira, dan tanya lokasi hotelnya di mana?” kata Bhai ke ... Mba Erna. Hehehe ... resiko yang bahasa Inggrisnya paling jago ya, Mba? Dan mba Erna pun segera pingsan nelepon. Kesimpulan dari obrolan teleponnya, ternyata : “Katanya nggak jauh dari Lumpini Tower!”

Lah, Kita kan ada depan Lumpini Tower! Dan ternyata saudara-saudara sekalian, dari tempat kita ngegelosor tadi, kurang lebih tinggal 50 meteran lagi. Coba tadi kita tidak pasrah dulu ya, pasti langsung ketemu hotelnya. Yasudlah, yang penting hotelnya sudah ketemu. Horeeee ... ternyata, saat keluar dari stasiun MRT tadi, kita salah ambil pintu EXIT. Harusnya kita ambil EXIT 1, eh malah nyelonong ke EXIT 2. Jelas aja keluarnya beda jalan. Dan yang pasti, selisih jaraknya jauuuuh . Dari pintu EXIT yang bener, jarak ke hotel memang sekitar 100 meteran. Kalo jalan sambil engklek aja paling hanya 5 menitan sampe. Doooh.

Meeting di Lobi Hotel
Nyampe hotel sudah dekil semua. Apalagi saya! Gimana nggak dekil kalau saya pergi dari rumah di Tasik jam 6 sore, dan sekarang sudah hampir 24 jam kemudian! Nggak sempet mandi dan ganti baju pula! Waks! *sniff ... snifff* Semoga orang hotel nggak akan menganggap orang Indonesia dekil begitu selamanya, soalnya kalo sudah mandi saya bakalan kembali ke wujud asalnya; kiyut lagi. Tunggu aja nanti! I’ll be right back! *ngacir ke kamar*

Oya, mungkin karena enek lihat wajah-wajah kita yang lusuh, Miss Intira nyuruh kita mandi dulu aja, dan dia nggak keberatan buat nunggu (lagi) di lobi. Ciyaaaat ... semua pun bubar jalan untuk segera berubah penampilan. Demi citra bangsa dan negara juga. *halah* Setengah jam kemudian (atau lebih. Maklum harus gantian), kita pun sudah ngobrol asyik di lobi, lupa kalau setengah jam yang lalu kita masih terlantar di pinggiran jalan di tengah kota Bangkok. 

Karena sudah kesorean, kunjungan ke Pabrik Minmie pun batal. Kita hanya ngobrol-ngobrol dan ditraktir minum di resto hotel. Huwaaa .... *nangis Bombay* Yaweslah, mau gimana lagi, salah siapa tadi nyasar dulu?

Beres pertemuan dengan Minmie, kita pun mulai melirik itinerary yang sudah disiapkan, yaitu mengunjungi Madame Tussauds di Mal Siam Paragon. Mari kita laksanakan! Karena Ibu-ibu numpang mobilnya Miss Intira, saya dan Bhai serta Kang Odoy kembali menjajal MRT. Lumayan sudah pengalaman, jadi nggak perlu ribet lagi. Dari Stasiun Lumpini kita menuju Stasiun Sukhumvit (bayar 20 baht), lalu pindah ke Stasiun BTS Asok untuk menuju Stasiun Siam. Bayarnya 25 baht. Enaknya, keluar dari stasiun Siam ada pintu Exit yang menghubungkan langsung dengan Siam Paragon. Jadi nggak perlu nyasar dulu. Hehehe.


Sambil nunggu Ibu-Ibu datang, kita sempet mejeng dulu di depan mal. Kabarnya, Siam Paragon ini adalah mal paling kece di Bangkok, jadi sebagai bukti kalau kita sudah pernah ke sana, foto-foto adalah wajib hukumnya. Hihihi. Lama nungguin Ibu-Ibu, akhirnya saya SMS mereka. Ealaaah ... mereka ternyata sudah datang duluan dan lagi nunggu makanan datang di Secret Recipe. Halah, padahal perut saya juga sudah kerucukan gara-gara belum nemu makanan serius sejak kemarin sore. Kasihan, ya? Makanya, saya tidak bisa terima mereka makan duluan. Saya juga lapaaaar.

Saya pesan Noodle Tom Yam dan air mineral seharga 289 baht. Alhamdulillah ... akhirnya bisa ngerasain juga tom yam asli di negeri asalnya. Dan rasanya? Memang bener-bener beda dibanding yang pernah saya cobain di tanah air. Yang ini rasanya lebih maknyus, seger dan pedeees. Trus, porsinya jumbo pula. Udangnya pun segede-gede gajah udang! Haiyaa... Pokoknya tom yam saya ludes sampe tetes terakhir *ini sih akibat kelaparan deng*. Pokoknya recommended lah.

Noodle Tom Yam. Lihat udangnya!
Beres makan energi nambah lagi. Huhuuuy ... punya tambahan tenaga buat nyatronin Madame Tussauds (Museum Patung Lilin). Lokasi wisata ini sudah disepakati untuk didatangi sejak jauh hari. Bahkan, kita sudah pesan tiketnya via online biar dapet potongan diskon 20%. Lumayan kan, dari harga tiket normal 800 baht bisa turun jadi 640 baht per orang. Ngirit 120 baht, cukup buat beli gantungan kunci 8 biji!

Bangkok memang beruntung, karena Madame Tussauds ini hanya berada di beberapa kota saja di seluruh dunia. Di Asia hanya terdapat di Bangkok, Hong Kong, dan Shanghai. Yang lainnya ada di Amsterdam, Berlin, Hollywood, Las Vegas, London, New York, dan Washington DC. Karena itulah saya merasa harus mengunjungi tempat ini, karena belum tentu saya berkesempatan mengunjungi kota-kota lainnya tempat museum ini berada.

Diwawancara Oprah untuk Novelku yang baru :p
Mungkin nggak ada atraksi luar biasa di dalam museum ini, kecuali jajaran selebritas yang selama ini hanya saya kenal dari berbagai media. Tapi, melihat dari dekat patung lilin mereka (yang sangat mirip aslinya) bikin merinding juga. Tokoh-tokoh dunia ini tampak begitu nyata di di depan saya. Bener-bener yang bikinnya jago banget. Dari warna kulit, rambut, mata, sampai ke tinggi badannya pun dibikin dalam ukuran sebenarnya. Sayangnya cuma satu, nggak bisa diajak ngobrol aja! *tapi saya bakalan ngibrit kalau ternyata patungnya bisa ngomong. Hiiiy*
Kata Jim Carrey; "Novel ini gokil abiiiis!"

Tom Cruise, pemeran Roslan untuk 'Traveling Gokil' the movie :p
Beres dari Madame Tussauds kita turun dan muter-muterin Mal. Eh, nyasar ke Mal Ma Boon Khrong Center, salah satu mal populer lainnya di Bangkok. Karena udah jam 9 malem, kita cuma jeprat-jepret bentar di luar. Sekadar ninggalin jejak juga, that I’ve been there! Tujuan kita adalah Stasiun BTS National Stadium biar bisa langsung pulang. Untuk sampai ke Lumpini, kita harus turun di stasiun Sala Daeng, lalu ganti kereta ke MRT Silom. Tapi, pas mau pindah ke MRT Silom, kita sempat melihat keramaian di bawah sana (stasiun skytain kan memang di atas). Kayaknya suasana malam di Silom rame juga nih.

“Turun dulu, yuk?”
Siapa sih yang mau rugi jauh-jauh ke Bangkok buat pindah tidur doang?  Ajakan ini langsung disambut dengan gegap gempita, meski sebenarnya betis sudah mulai nyut-nyutan dengan merana. Asli pegel banget. Tapi, semakin banyak tempat yang bisa dijelajah semakin baik, bukan? *Bukaaaan ....*

So, turunlah kita ke jalanan Silom yang rame banget. Sepanjang jalan banyak banget yang jualan makanan. Tapi, meski perut saya mulai kelaparan (lagi), rasanya ngeri juga jajan-jajan di sana. Lihat ayam-ayam bakar yang digantungin aja kok nggak ada bekas sembelihannya, ya? Adanya bekas lubang menganga di bawah kepala. Ayamnya dimatiin dengan cara dicolok? Waks! Belum lagi daging-daging yang selalu ada di setiap jenis makanan yang dijual. Tapi perut saya lapaaar ... semangkuk gede Tom Yam tadi sepertinya tidak cukup menggantikan energi yang terbuang sesiangan ini. Akhirnya mata saya melirik sebuah panci di pinggir jalan. Di sana terhidang jejeran ... Jagung rebus! Ayayay ... I love jagung. Apalagi jagung Bangkok ini bikin ngiler. Bener-bener Bangkok, cuy. Gede banget! Ada kali segede lengan saya. Akhirnya saya, Ichen, dan Fita kompakan beli. Harganya 40 baht. Rasanya? Ajegile, enak bangeeet. Sumprit! Rasanya manis banget, manis yang manis asli dan bukan manis gara-gara pemanis gula. Kalo nggak percaya, sok aja beli ke sono. *saya nitip ya*

Ada tukang martabak telor di Bangkok!
Sementara itu Bhai tergoda membeli buah mangga potong yang menggiurkan. Kebayangnya kan manis ya? Atau manis asem seger gitu lah. Tetapi pas dicobain .... busyet dah, asemnya gila-gilaan. Sampe tuh mangga akhirnya kebawa ke hotel dan masih tetap utuh sampe hari terakhir kita di Bangkok. Hahaha.  #episode salah beli.

Silom oh Silom. Kita tidak pernah menyangka kalau daerah ini ternyata salah satu red distriknya Bangkok. Hanya gara-gara suasananya rame, kita tertarik buat turun dan jalan-jalan. Ternyataaa ... oow, selain yang jualan makanan, sepanjang jalan rame pula penjual DVD dan barang-barang mainan anak gede. Iya, yang itu! Hihihi ... mana saya bawa rombongan Ibu-Ibu pula, dan berjilbab pula! Tobaaaat .... Makanya pas besoknya kita ketemu Miss Intira dan tahu kalau semalamnya kita main ke daerah Silom, dia terbelalak kaget. “You bring all the girls too?” Pas saya jawab “Iya!”, dia Cuma melotot sambil ngebekep mulutnya. Hahaha.

Setelah cukup melihat banyak kekagetan, kita pun mindik-mindik mencari jalan menuju stasiun MRT Silom, soalnya nego sama supir tuktuk tidak tercapai kata sepakat. Masa dia minta 200 baht? Gila aja, mending naik taksi aja sekalian.

Kaki sudah pegel (asli dan bukan rekayasa) dan sudah pukul sebelas malam. Saatnya kita kembali ke kandang. Dari Silom ke Lumpini deket banget, Cuma satu stasiun saja! Belum sempet duduk enak, eh udah nyampe lagi. Bayarnya pun cuma 15 baht saja. Nyampe hotel nggak sempet mandi lagi, udah keburu lemes dan tepar duluan.

Zzzzzzz ... zzzz .....

Bersambung ke #Day2

Jumat, 12 April 2013

[Traveling] Menjelajah Bangkok dengan ARL, BTS, dan MRT - Part 2

jual bantal foto Bagian pertama bisa dibaca di sini

BTS Skytrain - Bangkok Mass Transit System

BTS ini adalah kereta yang guling-guling berjalan di atas tanah (skytrain) dengan jalur yang hampir menjangkau seluruh pusat kota dan tempat-tempat penting di Bangkok.Apalagi BTS ini memiliki dua jalur utama, yaitu Silom Line (warna hijau gelap) dan Sukhumvit Line (hijau muda) yang semakin bisa menjangkau ke banyak tempat. Tentunya ini semakin memudahkan turis apabila ingin koprol loncat dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Ini temen-temen saya yang lagi mejeng di BTS :p
Silom Line melayani rute untuk 8 stasiun saja dari National Stadium, Siam, Ratchadamri, Sala Daeng, Chong Nonsi, Surasak, Saphan Taksin, Krung Thon Buri, Wongwian Yai. Sementara Sukhumvit Line lebih jauh dan panjang. Tidak kurang dari 21 Stasiun yang dilayani, mulai dari Mo Chit, Saphan Khwai, Ari, Sanam Pao, Victory Monument, Phaya Thai, Ratchathewi, Siam, Chit Lom, Phloen Chit, Nana, Asok, Phrom Phong, Thong Lo, Ekkamai, Phra Khanong,On Nut, Bang Chak, Punnawithi, Udom Suk,Bang Na, Bearing.

Silom line dan Sukhumvit Line bertemu di Stasiun Siam, sebagai stasiun interchange untuk BTS. Jadi nggak perlu khawatir kalau mau pindah jalur. Nah, kalau kamu mau loncat ke MRT, interchangenya ada di stasiun Sala Daeng dan stasiun Asok. Bingung? Hehehe ... kalau sudah terbiasa dengan busway di Jakarta sih pastinya sudah paham banget ya (apalagi yang sudah sering mejelajah MRT di Singapura dan negara lainnya). Tapi kalau anak desa seperti saya, pastinya bakalan cengo duluan sebelum konek.

Dengan niat berbagi pengalaman untuk yang baru mau jalan-jalan ke Bangkok, mari kita lihat peta di bawah ini :

www.bangkok-maps.com/bts.htm
Jadi ibaratnya kita baru turun dari ARL di stasiun Phaya Thai, dan hotel kita berada di daerah Lumpini, maka naiklah BTS sampai Stasiun Asok. Turun di Asok, carilah EXIT yang mengarah ke MRT Sukhumvit. Dari sana naik MRT ke arah Hua Lampong, lalu turun di Stasiun Lumpini. Nyampe deh. Hehehe.

Seperti halnya ARL, beli tiket untuk BTS juga nggak susah. Hanya saja, untuk tiket BTS kita harus beli melalui mesin tiket yang banyak tersedia di sana, dan belinya harus pake uang logam! Nah loh, gimana kalau duit kita kertas semua? Tenang, ada loket kok yang menyediakan penukaran uang. Kasihin aja duit kertasnya ke petugas loket, lalu bilang tujuannya. Dia akan memberikan sejumlah koin untuk dimasukkan ke dalam mesin, sementara kembaliannya diberikan dalam uang kertas (dan logam kalau sisa kembalian tidak tersedia dalam nominal kertas).

Fare Information

Di setiap mesin tiket selalu terdapat Fare Information, atau tabel tarif. Cek tarif yang dibutuhkan untuk menuju stasiun tujuan. Misalnya, kamu berada di stasiun Phaya Thai dan akan menuju stasiun Asok, maka akan terlihat tarifnya sebesar 30baht. Siapkan uang pecahan 10 baht atau 5 baht, karena mesin di bawah ini hanya menerima pecahan itu saja.

Mesin Tiket BTS

Beli tiketnya seperti ini : Tekan angka 30 (sesuai tarif untuk tujuan Phaya Thai - Asok). Lalu, masukkan koin sejumlah 30baht. Setelah itu, tiket akan keluar. Tarrraaaaa ....

Tampak depan. Desain tiketnya macam-macam dan lucu-lucu

Tampak belakang. ada rute keretanya juga, lho!
Setelah pegang tiket, segeralah joget-joget menuju pintu mesin untuk masuk. Berbeda dengan token ARL (dan MRT) yang cukup di tempelkan saja ke area sensor (lalu palang terbuka), tiket ini harus dimasukkan ke slot yang tersedia (di bagian depan), lalu tiket akan keluar lagi dari bagian atas, berbarengan dengan palang yang terbukaAmbil dan simpan tiket baik-baik karena akan digunakan lagi di pintu keluar nanti.

Karena mikir cara penggunaannya sama dengan token ARL dan MRT, pertama kalinya saya menempelkan tiket ini di bagian sensor di atas (untuk kartu berlangganan cukup ditap saja di area sensor itu). Eh, pintunya nggak kebuka-buka. kartunya udah dibolak-balik tetep aja pintunya nggak kebuka. Huwaaa ... gimana inih? Panik dong, mana yang antri udah panjang. Apa tiket saya error ya?
Penumpang di belakang saya lalu teriak-teriak: "Slot! slot! slot!" Slot? Saya pun melirik ke gerbang sebelah. Ealaaah ternyata kartu itu dimasukin ke lobangnya di bagian depan, lalu nongol di bagian atas. Duileee ... maaf ya Mas, Mbak, saya baru sekali naik BTS. hehehe.

Masukkan kartunya di sini!
Ada kalanya jalur keberangkatan dan kedatangan berbeda lantai. Setiap stasiun berbeda-berbeda, karena itu perhatikan kita akan menuju arah mana. Dari Phaya Thai menuju Asok, berarti arah kita menuju ke Bearing (tujuan akhir). Ikuti petunjuk yang menunjukkan keberangkatan menuju Bearing, dan jangan yang sebaliknya (Mo Chit). Papan petunjuk ini cukup jelas sebenarnya, tapi kadang kita kurang memperhatikan. Alhasil, saya pernah naik kereta ke arah yang salah! Hiyaaaa .... ribet sih ngapalin nama-namanya.

Papan petunjuknya seperti ini.

Naik BTS (maupun ARL dan MRT) sebenarnya tidak perlu takut kelewatan, karena setiap akan memasuki stasiun akan ada pemberitahuan sebelumnya dalam bahasa Sunda Thailand dan Jawa Inggris tentu saja. Cukup dengarkan baik-baik dan jangan ketiduran, soalnya jarak stasiun-stasiun BTS ini sangat pendek. Nggak bakalan cukup buat merem, suer dah.

Gampang, kan? Untuk keluar stasiun, cukup masukan kartu ke slot yang tersedia, dan nggak usah ditungguin, soalnya nggak bakalan nongol lagi tuh kartu. hehehe. Sudah beres naik BTS-nya, tinggal sekarang kamu mau ke mana? Kalau turun di interchange dan mau nyambung ke MRT, berarti kamu tinggal mengikuti petunjuk yang mengarahkan ke EXIT MRT. Kalau mau keluar stasiun, ya tinggal ikuti saja petunjuk EXITnya. Beres! ^^

Bersambung lagi ke Part 3

Kamis, 11 April 2013

[Traveling] Menjelajah Bangkok dengan ARL, BTS, dan MRT - Part 1

jual bantal foto
Airway Rail Link yang keren!
Yang namanya baru pertama kali menginjakkan kaki di daerah baru, apalagi di luar negeri, pasti ada kekhawatiran tersendiri; di sana naik apa kalau mau pergi-pergi? Bagaimana kalau nyasar? Bagaimana kalau salah naik? Apalagi kendala bahasa selalu menjadi kekhawatiran besar. Kalau bahasa Inggris kita fasih dan negara yang dituju memang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, tentu tidak akan menjadi masalah. Tetapi, bagaimana kalau sebaliknya? Nah loh.

Itu yang saya rasakan saat hendak pergi ke Bangkok awal April 2013 lalu untuk menghadiri Bangkok International Book Fair. Bahasa Inggris saya mpot-mpotan, terus kabarnya mayoritas orang Bangkok lebih mengenal tulisan mereka sendiri yang keriting-keriting itu ketimbang tulisan latin. Hiyaaaa ... yang ada saya jumpalitan jauh sebelum berangkat ke sana.

Hmm ... oke, saya memang bakalan berangkat dengan 6 orang lainnya. Tapi, tapi toh saya tidak bisa ongkang kaki begitu saja. Ibaratnya, masa kita mau ngikut aja kalau ada yang mau ngajak nyasar gara-gara salah jalan?

Sebenarnya, solusi dari semua masalah itu gampang saja. Naiklah gajah taksi ke mana-mana! Case closed. Tapi, yakin mau bertaksi-ria ke mana-mana? Dan browsinglah saya sana-sini sebelum berangkat. Banyak blog yang berisi kisah-kisah perjalanan ke Bangkok yang saya baca. Setidaknya biar saya nggak terlalu buta tentang suasana Bangkok.

Suasana di dalam ARL yang bersih dan nyaman
Dan tentang alat transportasi, mereka bilang di blognya, kalau transportasi di Bangkok cukup mudah karena sudah adanya MRT dan BTS. Tinggal loncat dan gelantungan sana-sini. Tapiii .. yang namanya belum nyobain, tetep aja saya deg-degan. Mudah buat mereka belum tentu mudah buat saya yang dari desa. Hiks.

Postingan ini saya tulis untuk mereka yang hendak jalan-jalan ke Bangkok pertama kali, dan merasakan deg-degan yang sama seperti yang pernah saya alami. Minimal agar terbayang bahwa menggunakan alat transportasi kereta di Bangkok itu ternyata memang gampang! Suwer dah.

Ternyata di Bangkok itu ada 3 jenis railway yang bakalan ngiterin kota; ARL, BTS, dan MRT. Selain taksi, mungkin angkutan kereta inilah yang paling nyaman untuk ke mana-mana; bersih, cepat, dan nyaman. Ayo, kita lihat satu per satu.


ARL (Airport Rail Link)

Saya di stasiun ARL Suvarnabhumi
Ini adalah kereta yang menghubungkan airport Suvarnabhumi dengan pusat kota Bangkok. Dari airport tinggal turun ke lantai bawah di mana stasiun kereta ini berada. Kalau bingung turunnya di mana, di pintu kedatangan ada papan-papan petunjuk yang mengarahkan ke arah stasiun ini. Kalau tidak salah tulisannya; TO TRAIN.

ARL ini menghubungkan Airport dengan beberapa stasiun; Lat Krabang, Ban Thap Chang, Hua Mak, Ramkhambaeng, Makkasan, Ratchaprarop, dan terakhir di Phaya Thai. Tarif terdekat (Lat Krabang) adalah 15baht, dan terjauh (Phaya Thai) sebesar 45baht. Tinggal cek di mana kamu akan turun, lalu pergilah ke loket dengan menyebutkan tujuan kamu. Petugas akan memberikan sebuah token (koin) plastik berwarna hitam. Kalau bingung berapa tarif yang harus dibayar, di samping loket ada papan tarifnya. Tinggal siapkan uang kamu. Tidak perlu uang pas kalau ternyata kamu tidak punya, karena mereka mempunyai uang kembalian seberapa besar uang yang anda sodorkan. Saya menyodorkan uang 1000baht untuk tiket seharga 45baht. Saat itu juga saya langsung punya pecahan kecil uang baht untuk keperluan selama di Bangkok. Nggak usah repot nuker-nuker lagi. Hehehe.

Token untuk masuk gerbang. Awas ilang!
Untuk menentukan kamu harus turun di mana, coba cek lokasi hotel kamu (biasanya tujuan pertama kita adalah hotel). Kalau ternyata harus nyambung dengan angkutan lain (BTS atau MRT), pastikan kamu turun di stasiun yang tepat. Untuk nyambung dengan MRT, kamu harus turun di Makkasan. Makkasan adalah Interchange stasiun antara ARL dengan jaringan MRT. Tapi kalau kamu harus melanjutkan transportasi dengan BTS, berarti harus turun di Phaya Thai untuk lanjut dengan jaringan BTS.

Untuk memasuki gerbang mesin stasiun, cukup tempelkan token pada tempat yang tersedia dan penghalang akan terbuka. Kalau masih ragu-ragu, lihat orang-orang melakukan sebelumnya. Setelah itu, pergilah menuju lokasi kedatangan kereta.

Jarak antar stasiun cukup dekat, jadi jangan sampai ketiduran ya. Tidurnya entar di hotel aja. Daripada kelewatan? Hehehe. Dari Suvarnabhumi menuju stasiun Paya Thai saja tidak sampai setengah jam, kok.

Begitu sampai, koprollah keluarlah dari kereta, lalu ikuti petunjuk EXIT. Untuk yang akan melanjutkan ke kereta lain (BTS atau MRT), pastikan mengikuti petunjuk ke arah EXIT yang benar, jangan sampai anda mengikuti arah ke pintu keluar ke jalan raya. Capek bow kalau harus masuk lagi. Soalnya, terkadang kamu harus menaiki atau menuruni anak tangga yang banyak (sebagian stasiun tidak memiliki eskalator). Kebayang harus turun naik ngangkat-ngangkat koper segede gambreng.

Oya, sebelum benar-benar keluar dari gerbang EXIT, kamu harus memasuki token ke lubang mesin yang tersedia agar pintunya terbuka. Jadi token itu bukan untuk dikoleksi dan dibawa pulang ya. Hehehe.


Penjelasan tentang ARL bisa juga dicek di sini.

Bersambung ke part 2.