Tampilkan postingan dengan label 10DaysforASEAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 10DaysforASEAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2013

#10DaysforAsean - Diversity of Harmony

jual bantal foto

#Day3

Sebuah slogan bagaimanapun dapat memberikan arti tersendiri. Kita bisa melihat tayangan iklan di media cetak dan elektronik yang selalu hadir dengan slogan atau tagline masing-masing. Tagline itu singkat, tapi terlihat unik dan menarik perhatian. Terkadang tagline atau slogan itu terlihat begitu bombastis, tetapi seringkali justru semakin mengundang kepenasaran calon konsumen untuk mencoba produk yang ditawarkan. Untuk itulah tujuan tagline diciptakan, bagaimana sebuah tulisan singkat dapat mempresentasikan sebuah produk sehingga dapat dikenali dengan mudah dan memancing minat konsumen. Sebuah trik marketing yang menjadi ujung tombak penjualan.  

Coca-Cola adalah produk yang memiliki slogan-slogan keren menurut saya. Media promo iklannya selalu berubah di setiap momen tertentu, dan selalu hadir dengan tagline yang pas dan menarik. Singkat, tapi tepat pada sasaran.  

Tak ubahnya dalam memperkenalkan sebuah produk, dunia pariwisata pun mengikuti cara yang sama. Harus diakui kalau Malaysia berhasil menciptakan sebuah tagline yang pada akhirnya melekat dalam benak mereka yang sudah menyaksikan tayangan promo pariwisata mereka. Tagline TRULY ASIA beserta lagu pengiringnya menjadi sesuatu yang sangat mudah diingat dan dikenali saat iklannya muncul di televisi.  

Bagaimana dengan Indonesia? Tagline BEAUTIFUL INDONESIA yang disematkan pada promo dunia pariwisata Indonesia sebenarnya cukup cantik dan menarik. Tetapi entah kenapa gaungnya tidak terdengar membahana. Kurang gencar promosinya? Bisa jadi.   Tapi, kalau saya diminta untuk membuat tagline baru untuk kepariwisataan Indonesia, maka saya akan menyodorkan ; DIVERSITY OF HARMONY.  

Kenapa? Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman; suku bangsa, bahasa, dan adat budaya. Semuanya dipersatukan dalam rangkulan Bhineka Tunggal Ika. Dengan begitu banyak perbedaan, keharmonisan dan tenggang rasa akan perbedaan itu masih tetap terjaga sehingga bangsa Indonesia tetap berada dalam kerukunan dan persatuan.  

Diversity of Harmony adalah simbol keberadaan Indonesia, dan menunjukkan bahwa perbedaan itu justru semakin membuat kita kaya. Sekarang, kekayaan itulah yang ingin kita tunjukkan dan bagikan pada dunia, agar mereka tahu diversity of harmony itu ada di Indonesia.

Selasa, 27 Agustus 2013

#10DaysforAsean - Karena Kita adalah Saudara

jual bantal foto

#Day2

Fakta bahwa penduduk Asean adalah bangsa serumpun sebenarnya sudah mencuat sejak lama. Disadari atau tidak, kesamaan itu banyak terdapat dalam berbagai hal di sekeliling kita; perawakan fisik dan karakter penduduk, bahasa dan juga kultur budaya setiap negara Asean memiliki kemiripan satu sama lain. Wajar saja kalau kita merasa sebagai satu rumpun bangsa yang sama, bahkan memiliki nenek moyang yang sama.  

Sebuah kesamaan tentu tidak berdasarkan kebetulan belaka. Siapa yang akan menyangkal kalau bangsa Indonesia dan Malaysia memiliki aliran darah yang sama? Bahkan selintas pun kesamaan ini sangat jelas terlihat pada suku-suku melayu di daerah Sumatera dan semenangjung malaysia. Dari bahasa, pakaian, makanan, hingga unsur unsur budaya keduanya kental dengan nuansa yang sama. Bahkan agama dan kepercayaan penduduknya pun didominasi oleh agama yang sama. Ada yang tidak setuju?  

Dulu, saya mengira keramah-tamahan itu hanya milik bangsa Indonesia. Tetapi, saat saya berkesempatan melancong ke Bangkok, ternyata anggapan tersebut harus saya coret  lagi. Keramahan tidak dikuasai bangsa kita, tetapi ditebarkan oleh negara-negara tetangga juga. Kita sudah dibesarkan dan diwarisi oleh tatanan dan pola asuh yang sama, yang menjunjung tinggi sopan-santun dalam berinteraksi dengan orang lain; interaksi saling menghargai, menghormati, dan tak pernah melepaskan senyum di setiap kesempatan.  

Pada saat berada di Bangkok, saya berkunjung ke Kampung Jawa, sebuah daerah yang dihuni oleh ribuan masyarakat bangkok yang merupakan keturunan orang Jawa. Tahukah bagaimana Kampung Jawa ini bermula? Dari kisah yang pernah saya baca, saat zaman penjajahan Jepang, banyak orang Jawa dibawa ke Bangkok untuk bekerja rodi di sana. Mereka bermukim di tempat itu, berkeluarga dengan penduduk setempat, memiliki anak-cucu dan kemudian menjadi sebuah komunitas tersendiri di tengah-tengah penduduk asli Thailand. Anak-cucu mereka mungkin ada yang belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia, tapi mereka memiliki darah keturunan Indonesia yang sangat kental.  

Pernahkah terpikir bahwa kemungkinan yang terjadi pada masyarakat Kampung Jawa di Bangkok ini kemungkinan besar terjadi pula pada ratusan tahun lalu di antara penduduk negara Asean? Sejarah mungkin tidak mencatat secara jelas mengenai kemungkinan ini, tetapi bagaimana kalau kita melihat pada bukti peninggalan-peninggalan yang ada?  

Siapa yang tidak mengenal Candi Borobudur dan Angkor Wat? Yang satu merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO kebanggaan Indonesia, dan yang satu lagi Situs Warisan Dunia UNESCO kebanggaan negara Kamboja. Keduanya memiliki nilai budaya dan keindahan yang sangat tinggi sehingga mampu menarik jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Fakta yang beredar belakangan ini, Borobudur dan Angkor Wat memiliki kesamaan! Meskipun kedua peninggalan bersejarah ini dibangun dalam rentang abad yang berbeda, tetapi banyak model relief yang sama di antara keduanya. Tidakkah terpikir bahwa keduanya dibangun oleh sebuah kelompok masyarakat dan kebudayaan yang SAMA?

Sebuah seminar mengenai penelitian Candi Borobudur dan Angkor Wat pernah dilaksanakan antara Indonesia dan Kamboja di kota Siem Reap pada 5-6 Desember 2009. Salah satunya dibahas mengenai kemungkinan adanya hubungan yang telah terjalin antara kerajaan di Kamboja dengan kerajaan di Indonesia (Jawa) pada masa lampau. Unsur perdagangan dianggap sebagai jembatan penghubung interaksi ini, sehingga masyarakat Kamboja dan Indonesia sudah menjalin komunikasi dan ekonomi sejak zaman dulu.  

Melihat unsur sejarah ini, tidak bisa dipungkiri lagi kalau perpindahan penduduk antara kedua negara sangat mungkin terjadi. Tentu saja perpindahan tersebut akan membawa unsur-unsur budaya, adat-istiadat, kepercayaan, yang melekat pada masyarakat yang berpindah dan menyebar di lokasi yang baru. Pada akhirnya kedua belah pihak berada pada sebuah sosiokultural yang sama, sehingga unsur-unsur kehidupan berada pada lingkaran yang sama pula. Kalau kemudian Candi Borobudur dan Angkor Wat memiliki beberapa kesamaan, hal itu memang bisa saja terjadi karena unsur budaya itu sudah berada di garis yang sama.  

Perniagaan yang dilakukan bangsa Indonesia dulu tentu tidak sebatas negara Kamboja saja. Kerjasama mungkin terjalin pula dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, dan lain-lain,  sehingga pertukaran budaya pun akan terjadi lagi. Bukan tidak mungkin di lain waktu akan ditemukan pula beberapa bukti kesamaan sejarah di antara dua negara lainnya.  

Saya selalu meyakini bahwa penduduk di negara Asean adalah bangsa serumpun. Lambat laun sejarah bisa membuktikan itu bahwa kita berada dalam jalinan persaudaraan yang sangat dekat. Karena itu miris sekali kalau melihat adanya persinggungan, ketegangan, dan perseteruan di antara negara-negara Asean untuk sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan jalan damai. Telinga ini panas seketika taktala perang di sosial media antar warga dua negara yang terjadi karena sebuah topik yang sebenarnya bisa disingkapi dengan lebih bijak dan kepala dingin. Tidak ada yang paling benar apabila perpecahan sudah terjadi.  

Asean Blogger Chapter Indonesia sudah membuka jalan untuk ASEAN lives peace in harmony. Melalui Asean Blogger Conference (ABC) 2011 dan Asean Blogger Festival Indonesia (ABFI) 2013, sudah saatnya blogger Asean bersatu. Kita bisa menjadi contoh nyata bahwa negara hanyalah sebuah identitas, bukan pemisah untuk sebuah persatuan dan persahabatan. Melalui Asean Blogger, blogger diharapkan dapat membawa perubahan dan menebarkan semangat persatuan kepada masyarakat luas. Dan hey, kita memang bersaudara, kan? Terlepas dari silsilah keluarga yang panjang dan berliku, akar kita tetap sama dan berujung pada darah yang sama.  

Mari kita junjung rasa persaudaraan yang lebih erat dalam menyongsong Komunitas Asean 2015. Kesadaran bahwa kita adalah bangsa serumpun tentu akan menunjang keberhasilan target yang dicanangkan para pemimpin negara Asean. Kita bisa bahu membahu menjalani setiap tantangan yang ada, bersaing secara sehat, dan membuang jauh niat untuk saling menjatuhkan. Mari kita ciptakan kawasan Asean yang damai untuk tergapainya kemajuan bersama dalam Komunitas Asean 2015.

Senin, 26 Agustus 2013

#10DaysforASEAN - Nyalon, Yuk?

jual bantal foto
#Day1

Thailand tampaknya sudah mulai mengukuhkan diri menjadi salah satu barometer pusat kecantikan di kawasan Asia. Salon-salon kecantikan dengan ahli-ahli berbekal medis (maupun tidak) seolah menjamur di setiap sudut kota di negara itu. Tak heran kalau pemerintah Thailand seolah menjadikan bidang ini menjadi salah satu daya tarik tambahan untuk menarik semakin banyak pelancong dari luar negeri. Sekarang ini, tidak lagi wisata alam atau kuliner yang dijadikan objek wisata unggulan Thailand, melainkan juga wisata medis (kecantikan)! Hebat kalau saya bilang, karena mereka tahu bagaimana memanfaatkan segala sumber daya yang ada untuk dijadikan peluang devisa.

image dari lovelytoday.com
Kehebatan ahli kecantikan Thailand merebak ke tanah air. Dari beberapa tayangan infotainment di televisi, beberapa selebritis tanah air tidak sungkan untuk mengatakan bahwa mereka sudah melakukan perawatan kecantikan maupun bedah plastik di negara gajah putih tersebut. Saya yakin, kehebatan ahli kecantikan Thailand ini tidak hanya menarik kaum selebritas saja, melainkan juga para sosialita tanah air lainnya.

Mengapa Thailand? Saya bukan ahli kecantikan. Tapi harus saya akui Thailand tidak salah kalau disebut memiliki ahli-ahli kecantikan terbaik. Jangankan bisa membuat perempuan-perempuan menjadi cantik, mereka pun bisa menyulap lelaki berkumis dan berjakun pun menjadi bening dan tampak menawan. WAW! Saya berkesempatan berkunjung ke Bangkok beberapa bulan lalu dan harus mengakui bahwa itu memang benar. Lelaki-lelaki cantik lalu-lalang di mana-mana. Bukan hanya di pertunjukkan-pertunjukkan kabaret (seperti Calypso Ladyboy Cabaret) yang menjadi salah satu atraksi populer di sana, tetapi juga berbaur di masyarakat.

Ya, Thailand memang salah satu negara yang sudah menerima keberadaan ladyboy. Status transgender seseorang tidak lagi dipandang sebelah mata dan menjadi aneh di kalangan masyarakat di sana. Karena itu jumlah ladyboy di Thailand terbilang cukup banyak karena keberadaanya sudah diakui dengan status sosial yang tidak berbeda dengan warga negara lainnya. 

Nah, kalau lelaki saja bisa dibuat cantik bukan kepalang, apalagi perempuan yang sudah kodratnya memiliki garis-garis kecantikan dari lahirnya? Dari sini saja bisa kita lihat bahwa salon-salon dan ahli kecantikan di Thailand memang sudah memiliki jam terbang cukup tinggi untuk memoles dan menyulap penampilan fisik seseorang. Tidak tanggung-tanggung, keahlian mereka bahkan sudah dilengkapi sertifikat internasional! Ini menjadikan keahlian mereka bukan sekadar tenaga ahli abal-abal belaka.

Menjelang Komunitas Asean 2015 di mana pasar bebas akan masuk ke setiap negara Asean, tidak bisa dipungkiri kalau kehadiran salon dan ahli-ahli kecantikan Thailand bisa saja tiba-tiba hadir di sekeliling kita; di depan rumah, di ujung jalan, atau di pusat-pusat keramaian. Indonesia adalah salah satu pasar yang sangat potensial. Dengan jumlah penduduk (perempuan) yang sedemikian besar, siapa yang tidak tergiur untuk membuka peluang usaha itu di sini? Apalagi dengan reputasi ahli kecantikan Thailand yang sudah mendunia. Pun, masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif dan menganggap sesuatu yang berbau luar negeri itu pasti lebih hebat, menjadi sasaran empuk bagi investor luar negeri.

Tentu saja ini akan menjadi ancaman besar bagi salon dan ahli kecantikan dalam negeri. Bisakah mereka bersaing? Ini bukan masalah ringan karena kalau tidak disingkapi dengan baik, pengusaha salon-salon lokal bisa tergusur dan kalah bersaing. Tentu bukan itu yang kita inginkan. Kita tidak bisa menyalahkan konsumen apabila mereka berbondong-bondong beralih ke salon-salon Thailand yang nanti berdiri. Konsumen adalah raja. Mereka memiliki dana yang berhak dibelanjakan sesuka hati.

Berbenah, itu yang harus dilakukan sedini mungkin. Klise memang, tapi itu adalah langkah paling tepat yang harus dipersiapkan. 2015 tidak lama lagi, tapi bukan berarti kita harus duduk diam dalam ketakutan lalu pasrah. Semangat Komunitas Asean 2015 tidak seperti itu. Komunitas Asean 2015 justru mengobarkan semangat kompetisi tinggi. Bukan waktunya lagi seorang pengusaha (apa pun) untuk mempertahankan idealisme pribadi saat zaman tengah mengalami perubahan, dan berkutat dengan cara yang tak lagi sesuai. Yang sebaiknya dilakukan adalah bagaimana idealisme itu bisa bergerak dan menyesuaikan dengan arus yang ada.

image dari www.puspitaherbal.com
Kalau melihat modal-modal yang sudah ada, sebenarnya kita tidak perlu takut. Produk kosmetika dan kecantikan lokal cukup teruji dan berkualitas. Siapa tidak mengenal produk Mustika Ratu dan Sari Ayu? Dengan berbahan dasar ramuan tradisional, terbukti produk ini bisa menembus pasar dunia. Begitu pula dengan kekayaan herbal tradisional lainnya yang sudah terbukti dapat merawat kecantikan perempuan Indonesia. Ini tentu menjadi modal besar meningkatkan kepercayaan diri pengusaha salon kecantikan tanah air yang selama ini telah menggunakan kosmetika lokal. Produk kita bisa diadu, kok. Tapi tentunya itu tidak bisa dijadikan pegangan begitu saja, karena banyak faktor lain yang harus diperhatikan.

Setiap negara pasti memiliki keunggulan masing-masing. Yang perlu diperhatikan adalah, apa sih kelemahan kita? Kalau Thailand dikenal dengan ahli kecantikan yang sudah bersertifikat internasional, berarti itu yang harus kita kejar. Sertifikat memang hanya sebuah kertas, tapi itu adalah sebuah kepercayaan tinggi bagi konsumen. Sertifikat berarti ilmu pendidikan yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara nyata ketimbang ilmu pengalaman. Apakah pengusaha salon kecantikan kita sudah memiliki itu? Kalau ingin bersaing secara internasional, tentu bukan pengalaman lagi yang bisa diandalkan, tetapi dibarengi  dengan sertifikat keahlian.

Apalagi yang kurang? Apakah pengelolaan salonnya sudah baik? Apakah sisi pelayanannya sudah maksimal? Bagaimana dengan tarif pelayanan? Semua menjadi titik pemikiran yang tidak boleh diabaikan.

Dibutuhkan peran serta pemerintah yang cukup intensif untuk mengurai pekerjaan rumah ini satu per satu. Kalau Indonesia memang menginginkan seluruh lini masyarakat berada pada posisi siap berkompetisi, tentu tidak bisa melepas begitu saja. Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Kementerian Perdagangan, dan seluruh departemen terkait harus bergandengan tangan memberdayakan setiap potensi yang ada. Adanya pelatihan-pelatihan profesi dan keahlian sangat diperlukan, sehingga setiap tenaga kerja yang berada dibalik pengelolaan sebuah salon kecantikan memiliki keahlian yang tepat bersertifikat. Begitu pula dengan kebutuhan adanya pelatihan manajemen dan pengelolaan usaha. Kalau perlu, studi banding ke negara-negara lain pun bisa dilaksanakan, sehingga setiap pengelola salon tanah air dapat memiliki wawasan lebih terhadap era persaingan yang harus mereka hadapi nanti. Dibutuhkan dana yang tidak sedikit memang, tapi bukankah kita bisa memetik hasilnya kemudian?

Pemerintah harus bisa menetapkan titik tembak juga bagi setiap pembekalan dan pelatihan ini. Pengusaha kecil dan menengah harus menjadi titik sasaran. Merekalah yang akan sangat merasakan imbas dari pertarungan tingkat global. Pengusaha besar pasti sudah melakukan antisipasi lebih awal menjelang Komunitas Asean 2015 ini, sehingga dampak bagi kalangan ini tidak sebesar bagi pengusaha di bawahnya.

Kalau semuanya bisa dilaksanakan, tentu persiapan para pengusaha salon kecantikan di tanah air akan lebih baik dalam menyambut Komunitas Asean 2015. Mereka sudah siap bersaing bahkan apabila salon dan ahli kecantikan dari Thailand datang menyerbu. Kalau kualitas dan segala hal lainnya sudah setara (atau bahkan lebih), rasanya tidak ada yang perlu ditakutkan lagi. Paling hanya konsumen yang akan dipusingkan harus ke salon mana mereka memilih? :D