Senin, 17 Maret 2014

[Behind The Scene] Film Miniseri 'Sepeda Ontel Kinanti'

jual bantal foto

Siapa sih yang tidak berharap buku atau novelnya diangkat ke layar kaca atau layar lebar? Setiap penulis pasti memiliki harapan untuk itu, termasuk saya. Rasanya pasti luar biasa melihat deretan kalimat yang sebelumnya kita tulis berdarah-darah siang-malam, tiba-tiba mewujud menjadi bentuk visual! Tokoh-tokoh yang selama ini berbicara dalam imajinasi belaka kini bergerak hidup di depan mata! Wuow, merinding.

Begitu pula yang saya rasakan saat Sepeda Ontel Kinanti (Novel Anak, diterbitkan Dar! Mizan tahun 2009) tiba-tiba ada yang melamar untuk dijadikan film miniseri televisi. Tahun 2012, kabar itu saya terima, masih berita simpang siur yang belum bisa dipastikan kebenarannya, tapi sudah membuat jantung saya melompat-lompat tidak keruan. Tapi saya memang harus bersabar karena kepastiannya kemudian mengambang panjang. Awal tahun 2013, Produser Imagine Film menghubungi saya via telepon, dan obrolan terjadi beberapa kali. Intinya, saya memberikan izin untuk proses adaptasi novel SOK diangkat jadi miniseri televisi. *Jingkrak-jingkrak*

Semuanya lantas jadi pasti? Beluuum ... selama saya belum memegang kontrak kerjasama, rasanya terlalu dini saya meluapkan rasa bahagia. Banyak hal yang bisa saja membatalkan proyek ini secara tiba-tiba. Apalagi komunikasi selama itu hanya dilakukan via telepon, sehingga saya belum melihat kesungguhan kerjasama ini. Siapa tahu yang nelepon saya ternyata hanya iseng belaka? Bagaimana saya bisa tahu itu, kan?

Akhir Desember 2013, kepastian itu baru saya peroleh justru beberapa saat sebelum syuting perdana dimulai! Yiaaay ... *jungkir balik*. Mengingat seluruh proses syuting akan dilakukan di Tasikmalaya, akhirnya pertemuan saya dengan Om Jack, produser film ini, pun terlaksana. Saat itu, seluruh kru dan pemain sudah berada di Cipatujah, lokasi syuting film ini dilaksanakan. Di Expresso Coffee Asia Plaza, obrolan panjang pun kembali menguar, membahas setiap detil proses produksi yang akan digarap, termasuk pengembangan cerita yang akan dilakukan untuk versi filmnya.

Ya, miniseri SOK memang film adaptasi dari novel saya, dan akan ditayangkan dalam 13 episode! Kebayang, kan, novel setipis SOK akan menjadi alur cerita sepanjang 13 episode? Kalau menuangkan plek sesuai cerita novelnya, satu episode pun pastinya akan langsung tamat. Karena itu, saya mengizinkan untuk dilakukan pengembangan cerita, menambahkan banyak tokoh, banyak cerita dan konflik baru ke dalamnya, selama benang merah dan pesan yang ingin saya sampaikan dalam novelnya tidak lantas keluar jalur.

Mengapa saya percaya begitu saja? Perbincangan saya dengan Om Jack (via telepon dan bahkan saat bertemu langsung) berlangsung seru. Saya jadi tahu bahwa kita memiliki visi yang sama; memberikan tontonan yang baik untuk anak dan keluarga. Bahkan Om Jack memastikan dan meyakinkan saya kalau; “Ini akan menjadi sebuah film, dan bukan sinetron!” Misi menyajikan tayangan yang menghibur dan mendidik pun membuat saya tenang dan lega. Saya merasa SOK sudah berada di tangan yang tepat.

Tio Pakusadewo & Neia Bianca
Keyakinan itu pun semakin diperkuat setelah mendengarkan asal muasal mengapa novel SOK terpilih untuk diangkat ke layar kaca. Ternyata novel saya ini terpilih setelah tim kreatif Imagine Film mencari dan membaca sekian banyak novel yang mengangkat nuansa lokal Indonesia. Dari sekian banyak, yang terpilih ternyata ada 2, serial ANAK-ANAK MAMAK-nya Terel Liye, dan SEPEDA ONTEL KINANTI. Dari situ saya baru tahu kalau Miniseri ‘Anak-Anak Mamak’ yang pernah ditayangkan di salah satu TV swasta adalah proyek yang sama dari PH ini (dan diproduksi terlebih dahulu sebelum menggarap SOK). Saya pun semakin yakin, Sepeda Ontel Kinanti akan jadi tontonan yang menarik untuk anak-anak. Insya Allah.

Cuplikan Miniseri 'Sepeda Ontel Kinanti'
 
Yang membuat saya semakin bersuka-cita, seluruh proses syuting dilakukan di Tasikmalaya. Itu artinya, seting antara novel dan filmnya bakalan berada di tempat yang sama. Dari dulu saya ingin sekali mengangkat keindahan alam pesisir selatan Tasikmalaya ini. Alhamdulillah ... kru filmnya langsung jatuh cinta dengan alam Cipatujah sejak mereka melakukan survey lokasi ke tempat ini, dan merasa ini memang lokasi yang paling pas untuk film SOK.

Proses syuting untuk 13 episode ini dilaksanakan selama 40 hari. Yang membuat saya bangga, film ini dibintangi oleh aktor sekelas Tio Pakusadewo, yang berperan sebagai Abah. Sementara untuk sosok Kinanti diperankan oleh Neia Bianca, bintang iklan Lifebouy Handwash, Keju Craft, Hokben, Marimas, dll. Saya ikutan main? Hahaha ... nggak. Saya belum cukup pede untuk tampil depan kamera. Kesempatan ini cukup diwakili saja oleh anak saya (Dhabith Aufa) yang muncul dalam beberapa scene di episode 2, buat kenang-kenangan dia main film dalam cerita yang ditulis oleh ayahnya.

Mejeng bareng Tio Pakusadewo di lokasi syuting
Film miniseri ini insya Allah akan tayang di TV Kabel First Media pada bulan Agustus 2014. Mudah-mudahan setelah itu bisa ditayangkan juga di TV nasional, biar anak-anak Indonesia bisa nonton semua. Aamiin. Karena First Media adalah jaringan TV Kabel Asia, semoga SOK akan disiarkan pula ke negara-negara lain dan mendapatkan apresiasi yang positif. Mohon doanya ya.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat Benny Rhamdani, Dadan Ramadhan, dan seluruh kru Mizan yang sudah menerbitkan novel ini. Terima kasih juga buat Chetan Samtani (exc. Producer), Om Jack (produser), mas Reka Wijaya (sutradara), Chelvia dan Tary Lestari (skenario), dan seluruh kru serta cast yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Semoga Sepeda Ontel Kinanti bisa menjadi tayangan yang bermanfaat buat anak-anak dan keluarga Indonesia.

Selamat menonton ^_^

Selasa, 28 Januari 2014

[Review] Alternatif Definisi (anak) Perempuan oleh Kinanti dan Rembulan

jual bantal foto
Senangnya novel saya [Sepeda Onthel Kinanti dan Menggapai Rembulan] mendapatkan tinjauan khusus dari Agnes Bemoe mengenai karakterisasi tokoh-tokohnya, yang kebetulan keduanya adalah tokoh anak perempuan; Kinanti dan Rembulan. Ulasan mba Agnes untuk novel-novel ini membuat saya semakin bersemangat untuk menulis lagi kisah-kisah anak Indonesia, dengan segala konflik dan permasalahan yang dihadapinya, karena saya yakin sosok Kinanti dan Rembulan masih banyak ditemukan di tengah masyarakat Indonesia.

Semoga Kinanti dan Rembulan bisa membangkitkan kembali semangat anak-anak Indonesia untuk maju terus dalam menggapai cita-citanya, dan bersinar dari segala keterpurukan yang pernah dikecapnya. Aamiin.

---------------------

ALTERNATIF DEFINISI (ANAK) PEREMPUAN OLEH KINANTI DAN REMBULAN
Telaah Sederhana terhadap Novel “Sepeda Ontel Kinanti” dan “Menggapai Rembulan” Karya Iwok Abqary.




Ada banyak hal dalam dua buah novel anak karya Iwok Abqary (Ridwan Abqary) ini yang menarik perhatian saya: kemiskinan struktural, karakter tokoh utamanya, serta masalah konversi alam (dalam hal ini penyu laut). Dalam tulisan ini saya ingin membahas tentang karakter tokohnya, dua orang anak perempuan, masing-masing Kinanti dalam “Sepeda Ontel Kinanti” dan Rembulan (Bulan) dalam “Menggapai Rembulan”. Karakter kedua tokoh ini akan saya hubungkan dengan realitas yang ada dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

 DEFINISI (ANAK) PEREMPUAN DI INDONESIA
Menurut Widyastuti Purbani dalam makalahnya yang berjudul “Ideologi Gender dan ‘Imperialisme’ dalam Media Massa Anak” budaya masyarakat Indonesia adalah budaya patriarki. Tata pola kehidupan berjalan atas satu sudut pandang, yakni sudut pandang laki-laki. 
Dari makalah yang sama diperoleh data bahwa sebagian besar cerita anak pada sebuah majalah anak-anak terpopuler di Indonesia menampilkan ideologi gender dengan relatif timpang. Femininitas tradisional dilestarikan melalui penggambaraan karakter yang domestis, kurang berdaya, dan bergantung kepada laki-laki.

Berikut adalah perincian karakter perempuan/anak perempuan dalam cerita-cerita di majalah tersebut:
•    Mereka hampir tak bersuara.
•    Mereka menempati wilayah yang terlindungi
•    Mereka pasif
•    Mereka bukan bintang bahkan di wilayahnya sendiri
•    Mereka lemah
•    Mereka bergantung
•    Mereka tidak cerdas
•    Mereka statis
•    Mereka tak memiliki kekuatan tawar
•    Mereka kurang berkuasa/atau bila ya kekuasaannya semu dan tidak menantang
•    Mereka banyak terlibat pada kegiatan domestis
•    Citra yang dibangun adalah citra lembut dan rapih

KARAKTER KINANTI DAN BULAN BERHADAPAN DENGAN REALITAS
Sebuah naskah bisa jadi berupa penggambaran realitas yang ada. Naskah adalah representasi pola pikir yang sedang berkembang di masyarakat. Namun di lain pihak, sebuah naskah bisa menjadi arena untuk menawarkan alternatif lain terhadap suatu hal.

Seperti yang disinggung dalam makalah tulisan Widyatuti Purbani di atas, yang berkembang dalam masyarakat kita adalah pemikiran bahwa perempuan tidak lebih hebat dan tidak boleh lebih hebat daripada laki-laki. Ditanamkan bahwa sudah menjadi kodrat perempuan untuk tidak melebihi laki-laki. Selain ancaman atau stigma, kepada perempuan juga diberi manipulasi sistematis agar menerima posisi tersebut sebagai “berkat”.

Di pihak lain anak dianggap tidak lebih hebat dan tidak akan lebih hebat daripada orang dewasa. Seperti perempuan pada laki-laki, anak adalah subordinat orang dewasa.  Orang dewasa bisa berbuat apa saja terhadap anak tanpa ada sanksi (hukum maupun sosial).
Kini, bayangkan  posisi seorang anak  yang kebetulan perempuan. Seandainya ada kasta imajiner, maka anak perempuan mungkin menduduki kasta paria atau sudra. Posisi seperti itulah yang diduduki oleh Kinanti dan Rembulan.

Keduanya hidup di keluarga sangat miskin, di tempat yang minim akses pendidikan, kesehatan, apatah lagi rekreasi. Bisa dibayangkan bagaimana atmosfer yang dicerap oleh keduanya setiap hari dalam hidupnya.

ALTERNATIF KARAKTER YANG DITAWARKAN OLEH KINANTI DAN REMBULAN
Ternyata, baik Kinanti dan Rembulan membawa sudut pandang lain.
Kinanti bersifat ceria, tegar, berani, mau mencoba sesuatu yang baru, dan penuh inisiatif. Bandingkan dengan karakter anak perempuan biasanya dibangun: penurut, manis, pasrah, lemah.
Kinanti berani bercita-cita besar biarpun ia jelas-jelas tumbuh dalam lingkungan yang menomorduakan anak perempuan. Perhatikan kutipan pada halaman 14 berikut ini:
“Kamu, kan, anak perempuan. Buat apa sekolah? Lebih baik, kamu mengurus adik-adikmu selagi ayah melaut. Tenagamu bisa digunakan untuk membantu ayah mengawasi adikmu.” bujuk ayahnya.

Kinanti merengut. Dia tidak ingin tinggal di rumah selamanya. Dia ingin menjadi orang pintar, dan ingin mengetahui semua pengetahuan yang ada di dunia ini. Kinanti ingin menakhlukkan dunia.

Kinanti juga sosok pemberani dan tidak bergantung pada laki-laki. Ini tergambar ketika ia bertiga dengan Omar dan Iin ke pantai untuk melihat penyu bertelur. Dalam suasana yang mencekam karena dugaan pencurian telur penyu, Kinanti tetap dapat mengendalikan diri tanpa harus bergantung pada sosok Omar. Diperkuat lagi di halaman 111 ketika Kinanti berinisiatif mencari tumbuhan kumis kucing di malam hari sebagai obat penurun panas untuk adiknya. Padahal ada ayahnya di situ.
Kinanti digambarkan sebagai anak perempuan yang tidak mudah patah semangat atau persisnya jauh dari cengeng. Pada dasarnya mulai dari awal sudah digambarkan bagaimana Kinanti bertekad kuat untuk sekolah dengan modal sepeda bututnya. Ia menempuh perjalanan jauh di jalan yang tidak rata, diejek oleh beberapa orang kawannya, sementara itu sepedanya juga sering rusak.
Alinea berikut mungkin merangkum besarnya tekad Kinanti.
(Halaman 54)
Itulah yang kuinginkan dengan hidupku, desis Kinanti. Aku akan terus pergi ke sekolah tanpa rasa bosan. Ombak saja menempuh jarak yang jauh dari tengah lautan untuk mencapai pantai. Begitupun dengan sekolahku. Aku tidak boleh malas hanya karena jarak rumah yang jauh dari sekolah. Aku harus tetap sekolah, mengejar cita-citaku!

Selain bertekad kuat, ia juga penuh inisiatif.  Ketika sendirian bersama dua orang adiknya (halaman 115), Kinanti berinisiatif mengantar adiknya (Kirana) yang sedang demam tinggi ke rumah Mantri Anwar yang jauh letaknya.
Perhatikan juga bahwa Kinanti dengan tegar menerima kenyataan bahwa sepedanya mau tak mau harus dijual.
(Halaman 131)
“Besok saya tetap akan masuk sekolah, Bu, meskipun harus berjalan kaki.”
Mata Bu Arini seketika berkaca-kaca.

Apakah Kinanti begitu sempurna? Kebetulan tulisan ini tidak membahas tentang karakterisasi. Namun, bila pun harus menjawab, Kinanti pun merasakan bingung dan takut ketika ditinggal sendirian dengan adik yang sakit (halaman 113). Ia marah dan menangis ketika Abah menjual sepedanya (halaman 123). Kinanti bahkan cenderung usil. Perhatikan ketika ia mengerjai Iin, sahabatnya, tentang uang dari koran (halaman 42). Kinanti tetap punya kelemahan. Namun, ini menjadikannya manusia.
Lalu, bagaimana dengan Rembulan di “Menggapai Rembulan”? Rembulan yang biasa dipanggil Bulan ini pun punya karakter yang kurang lebih sama dengan Kinanti. Ia tegar dan tabah. Ia percaya diri dan tidak manja. Bandingkan dengan stereotype tertentu yang membolehkan anak perempuan mewek (sementara anak laki tidak).
Perhatikan kutipan dari halaman 107 berikut ini:
“Aku tidak boleh gugup. Aku harus bisa bercerita dengan baik!” tekad Bulan sambil mengepalkan tangannya. “Peserta lain boleh saja bagus-bagus, tapi aku harus lebih bagus.”

Memang kemudian Bulan bersedia berhenti sekolah dan menjadi pembantu rumah tangga. Namun, keputusannya itu lebih karena pemikiran logis-realistisnya bahwa hanya dengan bekerjalah keluarganya akan keluar dari permasalahan. Biasanya, hanya laki-lakilah yang digambarkan mampu berpikir logis. Sementara perempuan adalah sepenuhnya perasaaan. Hal ini tidak terjadi pada Bulan. Ia me-reframe permasalahannya sebagai saat yang tepat untuk “bersinar menerangi keluarga, bagai rembulan di malam hari.”

Inilah beberapa karakter yang ditampilkan oleh Kinanti dan Rembulan. Alternatif ini mengimbangi pesan bahwa anak perempuan harus pasif, penurut, pasrah, lemah, cengeng, dan seterusnya.
Dari sudut pandang peranan sebuah teks dalam hubungannya dengan realitas kelihatannya karakter-karakter  dalam dua buah novel ini tidak ada hubungannya dengan realitas. Namun bila memandang bahwa fungsi naskah adalah juga membentuk realitas maka kedua novel ini telah menjalankan fungsinya dengan sangat baik.

***

Sumber bacaan:
Purbani, Widiyastuti. Ideologi Gender dan ‘Imperialisme’ dalam Media Massa Anak. 2001. Yogyakarta: Training Sensitivitas Gender dalam Pendidikan Anak untuk Pelaku Media, LSPPA.


Pekanbaru, 11 Juli 2013
Agnes Bemoe


Sumber : http://agnesbemoe.blogspot.com/2014/01/books-through-my-eyes-btme-alternatif.html

Jumat, 17 Januari 2014

[Review Buku] Karena Hidup Adakalanya Redup -Linda Satibi

jual bantal foto



Judul                            : Menggapai Rembulan
Penulis                         : Ridwan Abqary
Penerbit                       : ANDI
Terbit                          : Cetakan I, Juli, 2013
Jumlah Halaman          : vi + 130 hlm
ISBN                           : 978-979-29-3960-6

Bulan tercengang saat Abah memintanya berhenti sekolah. Ia diminta bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia bingung dan ingin marah. Tapi Bulan sadar, mereka memang keluarga miskin. Abahnya seorang tukang becak dan penjaga pemakaman. Emaknya bekerja menjadi buruh cuci-setrika pakaian. Abah butuh uang banyak untuk membayar hutang atas biaya pengobatan Emak yang dirawat di rumah sakit. Karena sakit, maka Emak belum bisa bekerja lagi. Sementara selain dirinya, ada Bintang dan Mega, adik-adiknya, yang menjadi tanggungan Abah.

Bulan dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia sangat ingin bersekolah. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Sementara itu, Bulan baru saja terpilih menjadi utusan sekolah untuk mengikuti Story Telling Contest. Ya, Bulan kemudian rela melepaskan kesempatan emas itu. Ia memilih bekerja untuk membantu Abah menambah penghasilan.

Bu Lusi, wali kelas Bulan, berupaya keras mencari Bulan. Ia tahu Bulan pandai berbahasa Inggris dan punya kemampuan mendongeng dengan baik. Ia ingin menyemangati Bulan agar tetap memiliki harapan.

Berhasilkah usaha Bu Lusi, yang juga dibantu teman-teman sekelas Bulan? Apakah akhirnya Bulan mengikuti lomba? Ataukah tetap menjadi pembantu rumah tangga? Yuk, baca kisah Bulan yang mengharukan ini. Ada kasih sayang, semangat, harapan, dan persahabatan yang tulus.

Buku ini bernilai positif karena di dalamnya terkandung semangat untuk meraih cita-cita. Bahwa kondisi miskin bukan halangan. Semua bisa memperoleh kesempatan yang sama, asalkan berusaha keras. Bulan, dengan segala keterbatasannya, menunjukkan bagaimana ia belajar bahasa Inggris dengan sungguh-sungguh. Ia benar-benar memperhatikan cara gurunya mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris setiap pelajaran berlangsung. Lalu berlatih mengucapkannya sendiri. Ia juga sering mencoba menyusun kalimat-kalimat baru dari kata-kata itu. (halaman 80)

Yang menarik juga adalah tentang penerimaan. Bagaimana Bulan bisa ikhlas menerima keadaan yang serba kekurangan dan keharusan membantu keluarga, semua dideskripsikan dengan baik. Tidak ada kalimat menggurui. Penulis berhasil menampilkan karakter yang kuat pada tokoh Bulan. Pesan kemandirian dan kedewasaan dapat ditangkap dengan baik.

Buku ini sangat layak direkomendasikan untuk dibaca anak-anak. Meski mengusung unsur edukasi, namun tidak menghadirkan cerita yang monoton. Ada unsur kejutan yang membuat cerita tidak mudah ditebak. Unsur hiburan pun terpenuhi;

Sumber : http://perpustakaan-linda.blogspot.com/2014/01/karena-hidup-adakalanya-redup.html

Selasa, 31 Desember 2013

Jejak Begadang 2013

jual bantal foto

Ternyata 'hanya' 8 judul buku yang berhasil saya terbitkan tahun ini. Alhamdulillah ... bersyukur karena masih diberikan kepercayaan untuk menjalin kerjasama dengan beberapa penerbit sepanjang tahun ini.

~ Serial Sepatu Dahlan Kecil : Kisah bergambar tentang sosok Dahlan Iskan semasa kecil - Penerbit Nourabooks
~ Laguna : Novel roman saya yang pertama, yang alhamdulillah ternyata lolos sebagai finalis Lomba Novel Amore Gramedia Pustaka Utama.
~ Menggapai Rembulan : Novel anak inspiratif tentang perjuangan Rembulan untuk menggapai cita-cita. Kerjasama saya yang pertama dengan Rainbow Children Book / Nyonyo - Buku Anak
~ Kumpulan Cerita Seru Asmaul Husna : Proses panjang sebuah penulisan buku, karena naskah ini pertama kali ditulis tahun 2009! - Penerbit Mizan
~ Komik Seru Crazy Birds - Jagoan Angkasa : adaptasi dari permainan Crazy Birds. - Penerbit Darmizan.
~ Toilet I'm In Love : proyek antologi yang ditulis bareng teman-teman di Kelas Menulis Novel Komedi yang pernah saya gawangi tahun 2011. Diterbitkan Puspa Swara Publisher

Semoga tahun 2014 akan lebih baik dari pencapaian saya di tahun 2013 ini. Aamiin.

Selamat Tahun Baru 2014, Temans!

Senin, 23 Desember 2013

[Kuliner] Pecel Oranye, Pecel Legenda

jual bantal foto
Jl. Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya
Buat orang Tasikmalaya, Pecel Oranye mungkin masih kalah pamor dengan deretan pecel di daerah kalektoran. Sebut saja pecel Bi Iyoy atau Bi Encar. Tapi, kalau menilik jauh ke belakang, Pecel Oranye tetaplah sebuah legenda yang belum tergantikan. Bagaimana tidak, Pecel Oranye sudah berdiri sejak tahun 1925! Sejak zaman Belanda masih berkuasa di bumi Indonesia, bro! Informasi inilah yang membuat saya dan beberapa teman dari Komunitas Wisata Kuliner Tasikmalaya (KWKT) ternganga ganteng. 1925, zaman bapak saya aja belum lahir! Hiyaaa ...

Tidak salah memang kalau jadwal KWKT minggu kemarin adalah menjajal lokasi pecel legendaris ini. Karena ternyata, sebagian besar anggota KWKT belum pernah nyicipin pecel yang satu ini. Termasuk saya!  Sebagai anggota komunitas yang ngakunya pencinta kuliner Tasik, kenyataan bahwa pecel ini sudah unjuk gigi sejak zaman penjajahan jelas sangat-sangat menohok. Hellow, where have we been?  Fyuh, maafkan kami (Eh, saya ding) yang nggak pernah aware tentang sebuah kuliner yang harus tetap dilestarikan.

Buat saya yang doyan sama pecel, karedok, lotek, dan semua jenis kuliner sejenis, pecel yang satu ini memang tidak boleh dilewatkan. Really worth trying, lah. Apalagi karena cita rasanya yang cukup menggoyang lidah dan unik. Berbeda dengan pecel khas Sunda biasanya yang semua bumbu kacangnya diulek, lalu bumbu dan sayurannya diaduk-aduk hingga jungkir balik, Pecel Oranye cukup berbeda. Semua sayuran rebus (kol, kacang panjang, toge, dll) ditata di atas piring. Setelah sayuran tersaji dengan cantik dan mempesona (halah), siram deh dengan bumbu kacangnya. Sajikan dengan kerupuk aci, maka pecel oranye pun siap untuk dihajar! Jebreeeet.

Gado-gado Pecel Oranye
Eh, sebenernya, saya kemarin pesan Gado-Gado sih, bukan pecelnya. Halah, ini kenapa ya kok saya plin-plan begini? Tenang, di Pecel Oranye ini, pecel dan gado-gado tidak jauh berbeda dalam rasa dan bentuknya. Beda isiannya doang. Jadi, review saya nggak bakalan jauh meleset (mungkin). Kalau pecel seperti yang saya jelaskan di atas, nah kalau gado-gado ada sedikit beda. Selain sayuran yang sama, untuk gado-gado ditambahkan potongan kentang, tahu, dan juga telur rebus. Biar rame dan meriah (halah lagi), setelah disiram bumbu saus kacang, dihias dengan kerupuk aci dan emping. Itulah bedanya. Jadi, kalau doyan emping, pesennya harus gago-gado, karena paket pecel nggak pake emping. Tapi kalau keukeuh pengen pecel plus emping, coba aja minta sama si Ibu. Mudah-mudahan aja dikasih empingnya. Hehehe.

Yang membedakan pecel/gado-gado di sini, selain bumbu kacangnya yang sudah dibikin terpisah (kayaknya sih diblender, soalnya haluuus banget bumbunya), juga adanya perasan jeruk sambal. Biasanya di tempat lain, jeruk sambel diberikan opsional dan disajikan terpisah. Nah, di Pecel Oranye ini, jeruknya sudah diperesin sama si Ibu. Jadi, rasa pecel dan gado-gadonya sudah ada aroma jeruk dan rasa asem-asem seger gitu. Kalau misalnya anda nggak suka jeruk makan jeruk, eh ... nggak suka ditambahin jeruk maksudnya, jangan lupa wanti-wanti ke si ibu sebelumnya ya.

Pecel Oranye berada di Jalan Empang (Pasar Mambo) Tasikmalaya. Posisinya pas di belokan ke arah kiri dari Jalan Pemuda, tepat di seberang Hotel Selamat. Menurut cerita Bu Edi, Pecel Oranye ini sudah ada dan dikelola turun temurun selama 3 generasi. Siapakah Bu Edi ini? Perkenalkan, dialah penjual pecelnya saat ini! Jadi, yang pertama berjualan Pecel Oranye ini adalah Neneknya, lalu dilanjutkan sama Ibunya. Saat Ibunya Bu Edi ini wafat tahun 1990, Bu Edi-lah yang akhirnya meneruskan usahanya.  Sampai sekarang.

Meskipun tidak seterkenal Pecel Kalektoran saat ini, Pecel Oranye masih memiliki penggemar tersendiri. Terbukti dari banyaknya pelanggan yang berdatangan. Apalagi ternyata Pecel Oranye ini juga menerima penjualan bumbu pecel keringnya. jadi, kalau mau bikin pecel sendiri di rumah, tinggal seduh bumbunya, jadi deh Pecel Oranye buatan sendiri.

Doyan pecel (atau gado-gado)? Yang satu ini harus anda coba. Dengan  harga Rp. 15.000,- per porsi, anda bisa menikmati sepiring pecel legenda di Tasikmalaya.

Senin, 09 Desember 2013

Melarung Rindu di Laguna ~ review Linda Satibi

jual bantal foto

Blurb:
Keindahan Blue Lagoon Resort berhasil menyembuhkan luka hati Arneta  setelah putus dari Galang. Setidaknya itulah yang dirasakannya sampai kemunculan Mark, sang general manager baru. Ketenangan Arneta terusik karena sikap dingin cowok blasteran itu. Untuk pertama kalinya ada orang yang berani menegur keterlambatan Arneta, meremehkan kinerjanya, dan mempermalukannya di depan para staf.

Kekesalan Arneta semakin menjadi karena statusnya sebagai anak pemilik Blue Lagoon Resort tidak bisa memuluskan rencananya untuk mendepak Mark. Perang dingin di antara mereka berujung pada sebuah pertaruhan terbesar dan ternekat yang pernah diajukan Arneta. Pertaruhan yang perlahan-lahan membuka sisi asli pribadi Mark. Pertaruhan yang membawa Arneta kembali bertemu Galang.

Laguna biru kesayangannya tak lagi tenang. Luka hati Arneta yang lama terkubur kini terusik lagi dengan kehadiran Galang. Namun, ketika mantan kekasih yang sangat dicintainya itu melamarnya di tepi laguna, kenapa Arneta justru memikirkan sosok lain?

Review:
Saat membaca daftar finalis Lomba Novel Amore, mata saya tertegun sejenak di satu nama. Iwok Abqary. Nggak salah nih? Penulis yang lebih sering ngocol dalam tulisan-tulisannya, terjaring di lomba bergengsi novel romance? Satu lagi, penulis ini juga idola anak saya (10 tahun). Yup! namanya memang cukup dikenal sebagai penulis buku anak-anak. So, nggak pake mikir lama, judul novel ini langsung masuk ke dalam wishlist. Penasaran banget saya…

Dan.. ketika lembar demi lembar novelnya saya nikmati… hmm… novel ini asyik juga. Bahasanya segar seperti segarnya segelas lime squash yang ada di covernya. Dialognya nggak berlebihan, enak dikunyah. Nggak cuma dialog verbal, tapi juga suara-suara bisikan hati, menyempurnakan keasyikan yang dibangun oleh cerita ini.

Settingnya menarik, membidik panorama eksotis negeri sendiri. Pulau Bintan, sebuah destinasi wisata yang cantik dan belum se-menor Bali. Deskripsi keindahannya cukup tersampaikan. Saya bisa membayangkan tenang dan nyamannya laguna tempat Arneta melarungkan serpih demi serpih rindunya. Tempat yang senyap dengan segala pesona ajaibnya yang melenakan: debur ombak, desir angin, pekik camar, riak gelombang, gemerisik dedaunan nyiur, palem, dan ketapang, lengkap dengan payung langit biru yang membentang sempurna. Pas banget untuk meluruhkan segenap kenangan pahit yang mengendap dari masa lalu.

Riset untuk novel ini, terlihat cukup mendalam. Penulis fasih membeberkan seluk beluk bisnis resor, terutama yang berkaitan dengan divisi marketing. Di divisi itulah Arneta nge-pos, dan segala gerak tindaknya berkutat di situ. Saya jadi tahu, bagaimana strategi pemasaran sebuah usaha resor dalam menggaet klien, model promo yang dilakukan, termasuk istilah dalam kegiatan promo, semacam sales call.
Selain bagian-bagian serius, mungkin karena pada dasarnya ini penulis emang suka ngocol, novel ini pun diwarnai unsur kocak. Bukan ngocol yang konyol, tapi semacam bumbu penyedap yang bikin novel ini jadi mak nyuss. Saya benar-benar terhibur, karena bagian-bagian yang lucu ini nggak dibuat-buat, tapi memang hadir alami, dan sukses bikin saya ketawa, dari mulai ketawa skala ringan yang cuma senyam-senyum sampai terkakak-kikik.. J Misalnya dari dialog-dialog chatting Arneta dengan Ayu, sahabatnya yang tinggal di Bandung, juga saat adegan Arneta yang ketahuan memotret Mark dengan sembunyi-sembunyi, dan.. selebihnya, temukan sendiri ya, lumayan cukup banyak kok.

Menarik juga bagaimana penulis menggerakkan tokoh-tokohnya. Nggak ada yang saling mendominasi. Galang, yang sesungguhnya merupakan ‘biang kerok’ penyebab terdamparnya Arneta di Bintan, hadir di bagian nyaris penghujung cerita. Penulis memilih untuk nggak cerewet menceritakannya di awal, dan ketika dia muncul, nggak terkesan ujug-ujug dateng juga. Sudah disiratkan sebelumnya tentang kebiasaan Neta yang suka menyendiri di laguna, dan… penyebabnya nggak akan jauh-jauh dari urusan cinta, kan?

Karakter Arneta dan Mark merupakan kombinasi yang pas. Masing-masing memiliki kekuatan karakter yang khas dan tegas. Mereka berinteraksi dalam alur yang terjaga. Ketika terasa ada semacam plothole, ternyata di bagian selanjutnya ada penjelasan yang menutupi lubang tersebut. Semisal tentang Galang yang dikatakan percaya diri, tapi kok berkelit dari sebuah komitmen? Bukankah itu menunjukkan ketidakpercayadiriannya? Ow rupanya kemudian disebutkan bahwa Galang berasal dari keluarga sederhana dan ia ingin berupaya menapaki jalan sukses agar tampil sebagai pemenang di hadapan keluarga Arneta yang kaya raya.

Nggak melulu mengedepankan perkara cinta, Laguna juga meniupkan semangat pantang menyerah. Betapa sebuah target yang dicanangkan, harus diperjuangkan dengan program yang matang dan terencana baik. Sebuah tantangan harus dijawab dengan kerja keras dan prestasi. Karena dunia kerja membutuhkan orang-orang yang berdedikasi tinggi. Bila itu dipenuhi, maka keberhasilan yang gemilang akan dicapai.

Apakah novel ini semua bagiannya asyik? Nggak juga lah. Tak ada gading yang tak retak, tetap berlaku. Seperti novel Amore yang saya baca sebelum ini, di Laguna pun tercium aroma sinetronistik. Perseteruan seru antara dua orang berbeda jenis kelamin dengan paras menawan… hmm.. kayaknya langsung ketebak kalau itu bakal jadi semacam kamuflase. Dan, Arneta terlihat naïf, dengan segala serangan yang dilancarkan Mark. Tapi, bagusnya, penulis menunjukkan betapa alam bawah sadar Neta tak berkutik juga berhadapan dengan cowok bule yang guantheng ini..

Satu lagi, unsur kebetulan. Pada moment yang urgent, ketika Neta butuh klien besar yang mampu mendongkrak profit demi keberhasilan tim marketingnya, muncullah sosok itu. Sosok yang melangutkan jiwa dalam bingkai kenangan getir masa lalu. Kebetulan yang klise. Sangat disukai untuk menjadi pilihan penulis agar memudahkan jalan cerita. Kok Galang sih yang jadi wakil direktur marketing di perusahaan besar yang dibidik Blue Lagoon Resort? Kebetulan banget! Sementara saya, nggak pernah tuh kebetulan ketemu sama mantan pacar dari masa lalu… haha…

Adanya dialog chatting antara Neta dan Ayu, adalah bagian yang saya suka. Percakapan yang lincah, segar, dan mengandung unsur kocak juga. Betul-betul pembicaraan dua orang sahabat yang terkesan natural. Tapii… kenapa untuk membedakan dialog chat itu dengan narasi atau dialog lain, adalah dengan menggunakan cetak tebal pada huruf-hurufnya? Kenapa nggak menggunakan font yang beda? Kan banyak pilihan font yang bisa dipakai yang akan membuatnya lebih artisitik, daripada sekadar hurufnya di-bold.

Deskripsi fisik para tokoh cukup detil dan menarik. Pembaca bisa membayangkan seperti apa sosok Arneta, Mark, dan Galang. Meski penulis tampaknya terpeleset juga, kurang teliti saat menggambarkan mata Mark yang memesona. Pada halaman 110, matanya sewarna hazelnut yang coklat terang, namun pada halaman 227, matanya sewarna almond. But, it’s no big deal, toh tidak memengaruhi jalan cerita. Masih bisa dimaafkan untuk penulis yang baru pertama kali menulis novel romance…

Anyway, meski tidak bertabur diksi yang memukau, saya acung jempol buat Iwok Abqary yang berhasil yang membangkitkan sisi romantisme yang terkubur di dirinya dalam proses kreatifnya, sehingga menghasilkan novel romance yang manis, segar, dan menyenangkan. Dengan menambahkan ketegangan-ketegangan saat Neta harus menentukan pilihan, menjadi kejutan tersendiri buat saya, tercecap rasa kecut-manis yang enak. Maka menikmati novel ini seperti sedang disuguhkan segelas lime squash.

Akhirnya rasa penasaran saya lunas ketika tiba di penghujung halaman novel ini. Dan, saya nggak nyesel beli karena novel ini cukup memuaskan. So, saya rekomendasikan novel ini buat kamu koleksi. Jangan sampai melewatkan kesegaran segelas lime squash yang menguar darinya… slrruup! ^_^

Judul Buku                :  Laguna
Penulis                        :  Iwok Abqary
Penerbit                      :  Gramedia Pustaka Utama
Terbit                         :  Cetakan I, 2013
Tebal Buku                :  232 halaman
ISBN                           :  978-602-03-0053-5
Harga                         :  Rp. 48.000

Sumber dari sini : http://kalam-cinta-linda.blogspot.com/2013/12/melarung-rindu-di-laguna.html

Senin, 02 Desember 2013

[Info] Project Buku Traveling - BFirst

jual bantal foto
Buat yang hobi jalan-jalan dan nulis nih, ada info project penulisan buku traveling dari Penerbit B-First . Ayo pada ikutan!



Kamu punya hobi traveling ? Suka menulis dan punya banyak ide kreatif? 
Ayo bergabung dalam Proyek Buku Traveling B First kali ini ….
Kalau kamu memenuhi syarat-syarat berikut:

- Hobi traveling (dalam maupun luar negeri)
- Suka menulis
- Suka tantangan
- Penuh ide kreatif

Maka kamu memenuhi kriteria yang kami cari dalam tim!
Lampirkan contoh tulisan traveling (dan alamat blog jika ada), beserta lamaran + CV ke project.bfirst@gmail.com, dengan subjek “Project Traveling”
sebelum tanggal 7 Desember 2013
PS: untuk informasi lebih lanjut, kamu bisa langsung menghubungi email yang tertera di atas.

Salam Traveling!

Sumber : http://bentangpustaka.com/project-buku-traveling-b-first/