Tampilkan postingan dengan label Sepeda Ontel Kinanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepeda Ontel Kinanti. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2014

Sepeda Ontel Kinanti: Dari Novel ke Mini Seri

jual bantal foto

Ketika menjamurnya novel yang diterjemahkan ke dalam bentuk film, saat itu juga imajinasi di atas kertas bertransformasi ke dalam bentuk yang berbeda. Akan selalu ada ide untuk mengubah novel menjadi sebuah tontonan visual. Novel, yang berdasarkan sebuah kumpulan kalimat yang dibangun dengan fiksi naratif, tidak jarang mengundang para sineas untuk meminangnya dan mengisahkan novel tersebut ke dalam sebuah film. Tidak bisa disangkal, daya tarik dan popularitas novel yang telah dikenal luas bisa menjadikan novel tersebut menjadi faktor utama untuk diangkat ke layar kaca dan dinikmati dalam bentuk visual.

Sepeda Ontel Kinanti adalah salah satu novel yang kini mendapat giliran merasakan perubahan tersebut. Novel ini bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Kinanti, yang tinggal di sebuah pesisir pantai di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kinanti, adalah anak yang memiliki tekad kuat untuk terus menuntut ilmu. Baginya, jarak jauh yang memisahkan sekolah dan rumahnya, bukanlah masalah. Dengan sepeda ontelnya, Kinanti rela melewati berbagai rintangan seperti melewati rawa, hutan, jembatan gantung yang rapuh dan hambatan lainnya. Suatu ketika, Kinanti harus merelakan sepeda kesayangannya dijual. Adiknya jatuh sakit dan butuh biaya untuk berobat. Walau tanpa sepeda kesayangannya, Kinanti masih tetap bersemangat untuk pegi ke sekolah dan tidak pernah putus asa untuk menjemput masa depan.

Novel yang ditulis oleh Iwok Aqbary yang diterbitkan tahun 2009 ini boleh bangga karena ditaksir oleh sebuah production house untuk diterjemahkan ke dalam visual berupa mini seri. Novel setebal 144 halaman ini telah dibuat menjadi 13 episode. Proses shooting-nya sendiri dilaksanakan di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, tempat kisah dalam novel ini terjadi. Proses shooting berlangsungselama 40 hari, antara Januari sampai Februari 2014 lalu.

Saat diterjemahkan ke bentuk visual, sebuah novel biasanya mengalami banyak perubahan dan pengembangan di sana-sini di sisi cerita, berikut penambahan konflik dan tokoh guna memperkaya kedalaman cerita. Iwok mengaku setuju novelnya lebih dieksplorasi selama benang merah dan pesan yang ingin disampaikan di dalam novelnya tetap berada di dalam jalur.

Proses adaptasi novel Sepeda Ontel Kinanti ini ternyata sudah melewati kisah nan panjang dan berliku. Novel ini terpilih setelah sebuah tim kreatif membaca sekian banyak novel yang isi ceritanya mengangkat nuansa lokal Indonesia. Dari novel-novel yang telah diseleksi itu, Sepeda Ontel Kinanti terpilih menjadi novel yang layak untuk diadaptasi. Keputusan ini dibuat karena Sepeda Ontel Kinanti bisa menjadi sebuah tontonan mini seri bagi keluarga dan anak-anak Indonesia.

Tio dan Neia


Rencananya mini seri ini akan ditayangkan di salah satu jaringan televisi berbayar pada bulan Agustus 2014 nanti. Film ini dibintangi oleh salah satu aktor senior Indonesia, Tio Pakusodewo yang memerankan tokoh Abah dan tokoh Kinanti diperankan oleh Neia Bianca, gadis cantik yang telah banyak bermain di berbagai iklan komersil. Iwok berharap, mini seri Sepeda Ontel Kinanti bisa dinikmati oleh semua keluarga di Asia. Semoga.

(Anggi Septianto/Redaksi AlineaTV)
Sumber : http://www.alineatv.com/2014/06/sepeda-ontel-kinanti-dari-novel-ke-mini-seri-2/

Senin, 17 Maret 2014

[Behind The Scene] Film Miniseri 'Sepeda Ontel Kinanti'

jual bantal foto

Siapa sih yang tidak berharap buku atau novelnya diangkat ke layar kaca atau layar lebar? Setiap penulis pasti memiliki harapan untuk itu, termasuk saya. Rasanya pasti luar biasa melihat deretan kalimat yang sebelumnya kita tulis berdarah-darah siang-malam, tiba-tiba mewujud menjadi bentuk visual! Tokoh-tokoh yang selama ini berbicara dalam imajinasi belaka kini bergerak hidup di depan mata! Wuow, merinding.

Begitu pula yang saya rasakan saat Sepeda Ontel Kinanti (Novel Anak, diterbitkan Dar! Mizan tahun 2009) tiba-tiba ada yang melamar untuk dijadikan film miniseri televisi. Tahun 2012, kabar itu saya terima, masih berita simpang siur yang belum bisa dipastikan kebenarannya, tapi sudah membuat jantung saya melompat-lompat tidak keruan. Tapi saya memang harus bersabar karena kepastiannya kemudian mengambang panjang. Awal tahun 2013, Produser Imagine Film menghubungi saya via telepon, dan obrolan terjadi beberapa kali. Intinya, saya memberikan izin untuk proses adaptasi novel SOK diangkat jadi miniseri televisi. *Jingkrak-jingkrak*

Semuanya lantas jadi pasti? Beluuum ... selama saya belum memegang kontrak kerjasama, rasanya terlalu dini saya meluapkan rasa bahagia. Banyak hal yang bisa saja membatalkan proyek ini secara tiba-tiba. Apalagi komunikasi selama itu hanya dilakukan via telepon, sehingga saya belum melihat kesungguhan kerjasama ini. Siapa tahu yang nelepon saya ternyata hanya iseng belaka? Bagaimana saya bisa tahu itu, kan?

Akhir Desember 2013, kepastian itu baru saya peroleh justru beberapa saat sebelum syuting perdana dimulai! Yiaaay ... *jungkir balik*. Mengingat seluruh proses syuting akan dilakukan di Tasikmalaya, akhirnya pertemuan saya dengan Om Jack, produser film ini, pun terlaksana. Saat itu, seluruh kru dan pemain sudah berada di Cipatujah, lokasi syuting film ini dilaksanakan. Di Expresso Coffee Asia Plaza, obrolan panjang pun kembali menguar, membahas setiap detil proses produksi yang akan digarap, termasuk pengembangan cerita yang akan dilakukan untuk versi filmnya.

Ya, miniseri SOK memang film adaptasi dari novel saya, dan akan ditayangkan dalam 13 episode! Kebayang, kan, novel setipis SOK akan menjadi alur cerita sepanjang 13 episode? Kalau menuangkan plek sesuai cerita novelnya, satu episode pun pastinya akan langsung tamat. Karena itu, saya mengizinkan untuk dilakukan pengembangan cerita, menambahkan banyak tokoh, banyak cerita dan konflik baru ke dalamnya, selama benang merah dan pesan yang ingin saya sampaikan dalam novelnya tidak lantas keluar jalur.

Mengapa saya percaya begitu saja? Perbincangan saya dengan Om Jack (via telepon dan bahkan saat bertemu langsung) berlangsung seru. Saya jadi tahu bahwa kita memiliki visi yang sama; memberikan tontonan yang baik untuk anak dan keluarga. Bahkan Om Jack memastikan dan meyakinkan saya kalau; “Ini akan menjadi sebuah film, dan bukan sinetron!” Misi menyajikan tayangan yang menghibur dan mendidik pun membuat saya tenang dan lega. Saya merasa SOK sudah berada di tangan yang tepat.

Tio Pakusadewo & Neia Bianca
Keyakinan itu pun semakin diperkuat setelah mendengarkan asal muasal mengapa novel SOK terpilih untuk diangkat ke layar kaca. Ternyata novel saya ini terpilih setelah tim kreatif Imagine Film mencari dan membaca sekian banyak novel yang mengangkat nuansa lokal Indonesia. Dari sekian banyak, yang terpilih ternyata ada 2, serial ANAK-ANAK MAMAK-nya Terel Liye, dan SEPEDA ONTEL KINANTI. Dari situ saya baru tahu kalau Miniseri ‘Anak-Anak Mamak’ yang pernah ditayangkan di salah satu TV swasta adalah proyek yang sama dari PH ini (dan diproduksi terlebih dahulu sebelum menggarap SOK). Saya pun semakin yakin, Sepeda Ontel Kinanti akan jadi tontonan yang menarik untuk anak-anak. Insya Allah.

Cuplikan Miniseri 'Sepeda Ontel Kinanti'
 
Yang membuat saya semakin bersuka-cita, seluruh proses syuting dilakukan di Tasikmalaya. Itu artinya, seting antara novel dan filmnya bakalan berada di tempat yang sama. Dari dulu saya ingin sekali mengangkat keindahan alam pesisir selatan Tasikmalaya ini. Alhamdulillah ... kru filmnya langsung jatuh cinta dengan alam Cipatujah sejak mereka melakukan survey lokasi ke tempat ini, dan merasa ini memang lokasi yang paling pas untuk film SOK.

Proses syuting untuk 13 episode ini dilaksanakan selama 40 hari. Yang membuat saya bangga, film ini dibintangi oleh aktor sekelas Tio Pakusadewo, yang berperan sebagai Abah. Sementara untuk sosok Kinanti diperankan oleh Neia Bianca, bintang iklan Lifebouy Handwash, Keju Craft, Hokben, Marimas, dll. Saya ikutan main? Hahaha ... nggak. Saya belum cukup pede untuk tampil depan kamera. Kesempatan ini cukup diwakili saja oleh anak saya (Dhabith Aufa) yang muncul dalam beberapa scene di episode 2, buat kenang-kenangan dia main film dalam cerita yang ditulis oleh ayahnya.

Mejeng bareng Tio Pakusadewo di lokasi syuting
Film miniseri ini insya Allah akan tayang di TV Kabel First Media pada bulan Agustus 2014. Mudah-mudahan setelah itu bisa ditayangkan juga di TV nasional, biar anak-anak Indonesia bisa nonton semua. Aamiin. Karena First Media adalah jaringan TV Kabel Asia, semoga SOK akan disiarkan pula ke negara-negara lain dan mendapatkan apresiasi yang positif. Mohon doanya ya.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak buat Benny Rhamdani, Dadan Ramadhan, dan seluruh kru Mizan yang sudah menerbitkan novel ini. Terima kasih juga buat Chetan Samtani (exc. Producer), Om Jack (produser), mas Reka Wijaya (sutradara), Chelvia dan Tary Lestari (skenario), dan seluruh kru serta cast yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Semoga Sepeda Ontel Kinanti bisa menjadi tayangan yang bermanfaat buat anak-anak dan keluarga Indonesia.

Selamat menonton ^_^