Selasa, 05 November 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day1

jual bantal foto
Selasa (29/10) pukul 9 malam, saya bergegas ke terminal bus Tasikmalaya. Pundak saya menggendong ransel, sementara tangan saya menenteng sebuah travel bag besar yang dijejali tidak kurang dari enam puluhan judul buku dan beberapa buah boneka. Tidak biasanya saya pergi ke luar kota dengan tentengan ‘berat’ semacam itu. Kali ini lain, besoknya saya akan terbang ke Nias, bergabung dengan tim Tango #HandinHand untuk berbagi dengan anak-anak Nias. Buku dan boneka-boneka itu adalah ‘kado’ saya dan teman-teman untuk mereka. Karena itu, seberat apapun, saya tetap akan membawanya.


Ya, saya sangat beruntung berhasil menjadi salah seorang pemenang dalam lomba sharing competition yang diselenggarakan oleh WaferTango. Sebagai hadiahnya, saya bersama dua orang pemenang lainnya akan diterbangkan menuju Nias, sebuah pulau nan indah di ujung utara pulau Sumatera. Bukan untuk rekreasi biasa, tapi untuk melaksanakan sebuah misi berbagi untuk kemanusiaan. Dan target kita adalah Anak-anak Nias yang membutuhkan.

Tasikmalaya – Jakarta bukanlah sebuah perjalanan singkat. Meski flight keberangkatan saya pada pukul 8 pagi, tapi 11 jam sebelumnya saya sudah meluncur menuju Jakarta. Saya tidak mau ambil resiko ada kendala yang menghambat perjalanan saya menuju bandara. Agenda #NiasTrip ini benar-benar sudah bergelung di dalam kepala sejak pengumuman pemenang lomba. Rasanya tidak sabar untuk segera terbang menuju Nias, bertemu dengan anak-anak Nias, dan ikut serta dalam program Tango berbagi. Apalagi Nias akan menjadi bagian Indonesia paling jauh yang akan saya kunjungi. Karena itulah antusiasme saya begitu meluap-luap.

Pukul 3.30 dini hari, saya sudah tiba di Terminal Kampung Rambutan. Fyuuuh ... syukurlah. Jalanan malam itu sangat lancar. Tanpa menunda waktu, saya langsung melompat ke dalam bus bandara (DAMRI). Akan lebih nyaman kalau saya menunggu di bandara ketimbang nanti terbirit-birit mengejar waktu. Benar saja, pukul 4.30 saya sudah tiba di Soekarno Hatta. Masih cukup banyak waktu untuk istirahat dan meluruskan punggung setelah beberapa jam sebelumnya harus terpenjara dalam kursi bus. Sambil menunggu meeting time dengan rombongan lain pada pukul 6, saya menyempatkan diri untuk cuci muka, gosok gigi, ganti baju, lalu salat Subuh di mushola luar Terminal 1B. Segaaaar. Eh, nggak mandi? #pssssttt.

Mulai pukul 6, satu per satu rombongan bermunculan. Mba Fani (Brand Manager Tango), Mba Yuna Kristina (PR Manager Tango), Mas Liem (Sosmed Tango), Mas Anto (OBI), Mba @JustSilly, Adisty (@mommiesdaily), Dwiyani Arta dan Ruth Wijaya (dua pemenang lomba). Oya, ada dua lagi peserta rombongan dari media, yaitu mas Iwan (Suara Pembaharuan), dan mas Dede (Okezone). Lengkap. Let’s go!
Terbang bersama Lion Air sampai ke Kualanamu Airport

Lion Air (seperti biasa) delay sekitar 30 menitan. Karena itulah, setibanya di bandara Kualanamu Medan, kita malah ketinggalan connecting flight ke bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias! Hiyaaaa .... seharusnya kita terbang ke Nias pukul 11.30, akhirnya harus nunggu pesawatnya balik lagi dari sana. Tapi gara-gara delay, saya akhirnya bisa menikmati suasana bandara Kualanamu dulu. Kapan lagi kan bisa nginjek kaki di Medan? Berhubung bandara ini baru (sebelumnya di Polonia), tentu saja kondisinya masih serba fresh dan megah. Tapi karena masih baru itu pula, pembangunannya ternyata belum selesai semua. Bagian di depan gate 9-12 masih terlihat berantakan karena sedang dibenahi.

Sekitar pukul 14 lewat sekian, Wings Air yang akan membawa kita ke Nias tiba. Yihaaa ... mari kita kemon! Jujur aja, ini adalah kali pertama saya naik pesawat yang berbaling-baling. Ada perasaan deg-degan juga (sekaligus excited), mengingat pesawat ini jauh lebih kecil dibanding pesawat yang pernah saya naiki sebelumnya. Kapasitas Wings Air ini adalah 72 penumpang. Karena kecil, pramugarinya pun cukup 2 orang saja. Yang unik, tempat bagasi ada di bagian depan (belakang kokpit), dan semua penumpang naik dari pintu ekor. Seru! Ini adalah sebuah pengalaman baru.

Pengalaman pertama naik pesawat berbaling-baling
Perjalanan dari Kualanamu menuju bandara Binaka hanya 50 menit saja. Jelas sangat menghemat waktu cukup banyak, karena ... kalau kita lewat darat dilanjutkan naik kapal laut, jarak tempuh menuju Nias dari Medan bisa memakan waktu 22 jam! *gubrags*

Cuaca cerah. Penerbangan tidak seperti yang saya takutkan sebelumnya. Naik pesawat berbaling-baling ternyata sama saja. Apalagi karena kecapean dan kurang tidur malam sebelumnya di bus, saya bisa pulas sepanjang penerbangan singkat ini. Hehehe. Dan 50 menit kemudian tibalah kita di bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias. Ya’ahowu!
Ya'ahowu! Welcome to Nias

Plong rasanya. Perjalanan panjang saya dari rumah akhirnya tiba dengan selamat sampai di Nias. Kita dijemput oleh tim OBI (Yayasan Obor Berkat Indonesia) yang dipimpin oleh mas Bigke dengan 3 kendaraan. Langsung meluncur menuju Posko OBI di Jl. Dipenogoro Km. 6 Fodo, Gunung Sitoli, Nias. Karena tahu semua rombongan kelaparan, akhirnya kita makan siang bareng dulu. Horeee .... #eh *jitak. Malu-maluin!*. Setelah itu, baru deh Mba Yuna memberikan briefing singkat mengenai program kegiatan #HandinHand ini dan itinerary kita selama 3 hari ke depan.

Wafer Tango dan Yayasan OBI sudah bekerja sama sejak tahun 2010 untuk program sosial di Nias melalui kegiatan Tango Peduli Gizi. Kegiatan pada tahun 2010 terdiri dari dua aktivitas besar yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan gizi seimbang kepada 526 anak umur 6 bulan hingga 12 tahun, serta Balai Pemulihan Gizi (BPG) berupa perawatan intensif terhadap 72 anak dengan gizi buruk.

Briefing singkat ttg Tango Peduli Gizi

Sementara untuk tahun 2011-2012, Tango Peduli Gizi dititikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan masyarakat Nias. Hal ini dilakukan agar keluarga Nias dapat mempertahankan kondisi kesehatan dan status gizi anak yang telah pulih setelah mengikuti program TPG 2010. Salah satu bentuk program pemberdayaan ekonomi ini adalah dengan memberikan bantuan dan bimbingan budi daya lele, ayam, babi serta penanaman sayuran di lahan sekitar rumah. Selain hasilnya dapat diperjualbelikan dan meningkatkan pendapatan keluarga, juga dapat dinikmati untuk perbaikan gizi keluarga.

Mayoritas keluarga peserta PMT ini tidak memiliki pekerjaan yang memadai untuk menyokong perekonomian keluarga. Mereka bekerja sebagai buruh penyadap karet atau dari hasil panen kakao yang tidak banyak (hanya mengandalkan satu-dua buah pohon kakao yang tumbuh begitu saja di lahan mereka). Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti budi daya lele, ayam, babi, dan sayuran ini diharapkan dapat berjalan dengan baik. Mereka tidak bisa menggantungkan hidup dari bantuan sosial terus menerus. Dan itulah yang diharapkan oleh Tango, masyarakat Nias bisa hidup lebih mandiri.

Bantuan-bantuan yang dikelola oleh OBI

Program ini dinilai cukup berhasil karena melalui program ini, setiap keluarga mendapatkan penghasilan tambahan rata-rata 1,2juta rupiah setiap bulannya. Tentu ini menjadi peningkatan penghasilan yang cukup signifikan bagi peserta PMT. Selain itu, dengan bimbingan edukasi rutin dan pengawasan ketat, pola hidup keluarga pun jauh lebih bersih dan sehat. Anak-anak pun mengalami kenaikan berat badan sekitar 3kg setiap bulannya.

Tahun 2013 program Tango bergerak ke arah yang lebih luas, yaitu mengadopsi sebuah desa di Nias, yaitu desa Banua Gea. Desa ini terdiri dari 6 dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.938 jiwa dari 647 kepala keluarga. Pemilihan Banua Gea sebagai desa adopsi tentu bukan karena alasan. Sodania Gea, kepala desa Banua  Gea menyampaikan, "Minimnya penghasilan rata- rata keluarga serta keterbatasan waktu dan pengetahuan ibu, kebutuhan gizi anak tentu tak tercukupi. Belum lagi kondisi sarana kesehatan yang jauh dan minim fasilitas menambah jumlah kasus malnutrisi di desa ini," paparnya.

Budi daya lele dan bertanam sayuran di lahan sekitar rumah

Menurut Yuna Kristina selaku PR Manager Tango, Program Adopsi Desa 2013 ini dirancang untuk menyentuh multidimensi agar hasilnya lebih maksimal. Diharapkan melalui program ini anak- anak desa Banua Gea dapat meningkat status gizinya dan selanjutnya masyarakat di sana memiliki kesadaran tinggi dan mandiri akan kecukupan gizi generasi mendatang.

Program adopsi desa ini terdiri dari beberapa sub program, yaitu :
  1. Home Visit, yaitu pemulihan anak gizi buruk dengan metode mendatangi rumah secara berkala untuk pemulihan gizi serta penyembuhan penyakit penyerta;
  2. Renovasi Rumah Sehat Tango, yaitu renovasi rumah dengan titik berat pengadaan sanitasi dan ventilasi untuk kesehatan yang lebih baik;
  3. Pemberian Makanan Tambahan untuk anak berstatus gizi kurang selama 3 bulan;
  4. Pendampingan, penyuluhan gizi serta pola hidup sehat untuk ibu dan anak.
  5. Pemberdayaan Masyarakat yaitu menyediakan lahan serta pendampingan penyuluhan teknologi tepat guna bahan makanan seperti ternak dan sayuran. Hasil pemberdayaan ini digunakan sebagai pendukung pemberian makanan bergizi untuk anak- anak desa Banua Gea;
  6. Renovasi serta pemberian alat kesehatan bagi Pusat Pembantu Kesehatan Masyarakat (Pustu), termasuk dalam program ini adalah pendampingan, penyuluhan serta pemberian motivasi bagi tenaga kesehatan di daerah tersebut.


Lalu, siapakah OBI ini? OBI adalah Yayasan Obor Berkat Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan. Selama ini Tim OBI lah yang melaksanakan langsung program Tango di lapangan, termasuk sebagai partner dalam pengevaluasian program yang berjalan dan penyusunan program selanjutnya. Melihat langsung apa yang sudah dihasilkan, Tango dan OBI adalah partner yang sangat hebat!

Waktu terus berjalan. Karena jadwal yang sudah mulur akibat keterlambatan penerbangan, kita segera bersiap untuk menuju destinasi yang pertama, yaitu kunjungan ke rumah Brian Harefa. Tidak ada waktu untuk leyeh-leyeh dulu karena kita ke Nias bukan untuk berlibur. Jadwal sudah disusun, dan kita ingin semuanya berjalan seperti apa yang direncanakan. Apalagi semangat seluruh rombongan tampak sangat menggebu.

Siapakah Brian Harefa ini? Dia adalah salah seorang anak yang terkena gizi buruk pada tahun 2010. Berkat penanganan intensif dari tim TPG, akhirnya Brian (dan juga puluhan anak bergizi buruk lainnya) dapat terselamatkan.  Perjalanan dari posko OBI menuju rumah Brian Harefa ditempuh selama 45 menit. Saya mengenal Brian dari foto-foto dan videonya yang menggenaskan di youtube. Ada haru yang seketika meleleh saat diberi kesempatan bertemu saat itu. lihatlah anak itu sekarang!



Bertemu Brian Harefa yang sudah sehat!


Rumah Brian Harefa tiba-tiba saja menjadi ramai. Bukan saja oleh rombongan Tango yang baru datang, tapi juga oleh kunjungan anak-anak di daerah tersebut. Mendapat kunjungan tamu dari luar (apalagi berkendaraan lengkap) adalah sesuatu yang langka, sehingga kehadiran kami pun menjadi pusat perhatian tersendiri. Apalagi kemudian Tim Tango membuat ‘keributan’ dadakan. Acara bernyanyi bersama, bagi-bagi hadiah, menyedot kedatangan masyarakat semakin banyak. Untungnya kami membawa cukup banyak mainan, sehingga setiap anak mendapatkan kebahagiaan yang sama. A simple way to make them smile.

Keramaian dadakan di rumah Brian Harefa

Sayangnya waktu harus terus berjalan. Sekitar 30 menit di rumah Brian, kami harus melanjutkan perjalanan menuju kediaman Krisman Waruwu, sekitar 45 menit dari rumah Brian. Krisman Waruwu adalah penderita gizi buruk lainnya, dan sempat terkena penyakit Tuberkulosis sehingga pertumbuhan tubuhnya agak terlambat. Berkat perawatan intensif dari TPG, Krisman sekarang sudah sembuh total dan sudah bersekolah di kelas 2 SD.

Yang membuat saya semakin haru, keluarga Krisman Wawuru sangat terbuka terhadap pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Dulu mereka tinggal di sebuah rumah kayu kecil. Sekarang mereka memiliki warung yang cukup lengkap dan rumah permanen (bertembok) yang lebih luas dan nyaman. Perubahan itu memang terbuka luas bagi mereka yang memiliki niat yang sangat kuat. Mereka salah satu buktinya.

Krisman Wawuru (baju kuning) bersama Bu Fani (Brand Manager Tango)

Saya memang tidak mengikuti kisah Brian, Krisman, dan anak-anak Nias yang tidak beruntung lainnya dari awal. Tetapi, hari itu saya melihat ada warna baru dalam rona wajah mereka, raut kebahagiaan dan optimisme menyongsong hari esok. Dan sudah seharusnyalah seperti itu. Anak-anak tidak semestinya mengisi hari dengan kesedihan dan tangisan, tapi dengan senyum dan keceriaan. Tidak berlebihan kalau saya mengucapkan terima kasih banyak untuk Tango (dan OBI) karena sudah mengembalikan senyum mereka, saudara-saudara kecil kita di Nias.

Seperti kata Tetsuya Kuronayagi; “Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.”

Matahari di Nias sudah semakin turun. Saatnya kami pulang dan beristirahat di hotel Soliga. Esok hari ada kegiatan lebih besar dan seru yang harus kami laksanakan. Tunggu ceritanya besok!

Bersambung ke hari #2

Minggu, 27 Oktober 2013

Rayya 6th BDay

jual bantal foto

28 Oktober, 6 tahun lalu, kamu hadir di tengah kami, Nak

Menggenapi kebahagiaan yang terasa semakin lengkap


Rayya Izarra ~ kami menamaimu secantik itu
Kamu tahu, kenapa?
Karena Ayah dan Ibu ingin kamu selalu berkerlip laksana bintang (Rayya ~ Kerlip Cahaya, Izarra ~ Bintang)


Dan lihatlah sekarang,
Kerlipmu terlihat semakin terang.
Selamat ulang tahun, Bintangku
Tetap tebarkanlah cahaya kebaikanmu

Kamis, 24 Oktober 2013

Kiamat Internet? Oh, Tidaaak ...

jual bantal foto


Saat dulu baru punya tablet, saya jadi sering banget nongkrong depan rumah. Nggak siang nggak malam, kalau lagi di rumah tempat duduk favorit saya tidak berubah; kursi teras! Anteng sendiri nunduk-nunduk. Maklum, namanya juga mainan baru, segala-galanya dicobain. Semua jenis sosmed diaktifin, segala jenis games dicobain. Pokoknya, kadang baru insyaf kalau perut sudah lapar, atau digetok sama istri ; “Sana mandi!”

Sebenarnya, bukan sekali dua kali sih saya diomeli gara-gara kelakuan tersebut. Dia bilang, malu kalau sampai dilihatin tetangga. Mentang-mentang baru punya tablet terus dipamer-pamer kayak gitu tiap hari. Kayaknya kalau seluruh tetangga satu RT belum pada tahu, dikiranya saya akan nongkrong di teras sepanjang waktu. Padahal, suwer, saya nongkrong di teras mainin tablet bukan bermaksud pamer. Mungkin ada sih perasaan gitu dikit, soalnya tetangga-tetangga saya belum pada punya *halah*. Tetapi karena saya nyari sinyal sodara-sodara! 

Karena tablet baru, sengaja saya beli simcard baru juga, khusus yang menawarkan layanan akses serba cepat, kencang, dan ... murah! Gimana nggak murah kalau bayar sekali, tapi dapat bonus akses unlimited sampai beberapa bulan ke depan. Mantap jaya, kan? Iya, ngarepnya sih begitu. Tapi apa daya saya harus selalu terdampar di teras, karena sinyalnya nggak mau masuk rumah! Huhuhu ... bikin nyesek dan bete. Masa masuk  ke dalam rumah dikit aja sinyal langsung ngilang? Asem! 

Jadi begitulah sodara-sodara, kenapa beberapa waktu lalu saya sering kali ditemukan lagi ngejogrok asyik di depan pintu sambil pegang-pegang tablet. Kadang-kadang juga agak maju ke dekat pagar kalau sinyalnya lagi ngambek. Yang aneh, kadang sinyalnya jadi bagus kalau saya megangin tiang pager! Ckckck .. bingung saya juga. Apa karena rumah saya di depan pekuburan ya? So, jangan bayangkan saya mainin gadget sambil guling-guling di atas kasur, atau facebookan sambil nonton tv, karena saya hanya bisa online sambil megangin pager!

Jadi, jangan pernah nuduh saya doyan pamer lagi, karena saya pamernya cuma sesekali! *haiyaaaa*
Begitulah, karena butuh akses internet, saya harus rela bolak-balik ke teras rumah. Internet buat saya sudah bukan kebutuhan sepele lagi, tapi jadi salah satu kebutuhan utama. Rasanya sudah nggak lengkap lagi kalau ke mana-mana nggak bawa gadget. Profesi saya sebagai penulis mengharuskan saya untuk siap berkomunikasi dengan editor-editor saya setiap saat. Di setiap kesempatan saya harus siap dihubungi apabila ada penerbit yang mengajak kerja sama. Siang atau malam kadang ada teriakan editor kalau naskah saya butuh revisi dan dikirimkan via email secepatnya. Atau permintaan naskah dadakan yang tiga hari ke depan harus sudah diselesaikan! Woaaaa ... *akrobat*. Dan cara mereka menghubungi berbeda-beda. Ada yang suka via email, lewat inbox facebook, lewat Yahoo Messenger, Kakaotalk, Whatsapp, BBM, atau twitter. Yang jelas, sudah jarang banget yang menggunakan SMS atau telepon! Kalau saya nggak punya akses internet, berarti rezeki saya yuk dadah, yuk babay.

Kalau urusan sosial media, itu beda cerita. Sosmed bagi saya tidak lagi sekadar media curhat atau rumpi masa lalu dengan teman-teman sekolah dulu. Sosmed sudah menjadi media promosi utama bagi buku-buku saya. Setiap saat saya bisa mempromosikan buku-buku dan tulisan saya,  karena siapa tahu kontak-kontak saya jadi iba karena saya promo terus tiap hari, lalu rame-rame membeli buku saya. *Horeeee* Sosmed pun jadi jembatan saya berkomunikasi langsung dengan pembaca buku-buku saya, sehingga saya bisa memaksa mereka beli buku-buku saya yang lainnya. #PLAAKK. 

Tidak usahlah diceritakan lagi bagaimana internet sudah menjadi bagian hidup seluruh lapisan masyarakat. Semua orang pasti sudah merasakan manfaatnya sesuai kebutuhan masing-masing. Bahkan anak saya yang masih kelas 5 SD aja, kalau nanya tentang PR dan saya nggak bisa jawab, dia bakalan ngomong; “Ayah, cari di google aja!” #Hadeuuuh. Terus, istri saya pernah saya tanya, “Bu, bikin cumi asam manis, dong. Bisa masaknya nggak?” Saya tanya begitu karena dia belum pernah bikin. Eh, istri saya langsung jawab, “BISA!” dengan pedenya. Setelah itu dia langsung sibuk nyari resepnya di mbah google. Kesimpulannya cuma satu; ibu dan anak sama saja. Hehehe

Jadi, begitulah, saya masih suka heran kalau ada orang yang belum mau memanfaatkan internet. Karena, jujur saja kalau saya sih sudah tidak bisa lepas lagi dari itu. Apapun yang saya lakukan akan selalu berkaitan dengan internet. Internet sudah memberikan banyak kemudahan, terlepas dari sinyal di rumah saya yang doyan ngilang-ngilang. *eh, sekarang udah ganti operator ding, dan lumayan ... ngilang sinyalnya nggak separah dulu. Hiks ... apa harus pindah rumah ya?*. Makanya, sekalinya akses internet lagi gangguan, sudah dipastikan saya akan langsung mati gaya, bingung harus ngapain.

Fyuuuh ... Gimana kalau kiamat internet, imbas dari kasus yang rame kemarin, beneran kejadian ya? Woaaaa ... rimba persilatan pasti kacau-balau. Sudah dipastikan akan banyak orang yang tiba-tiba setres bergelimpangan. Nggak kebayang. 

Kasus penyalahgunaan jaringan frekuensi yang dilakukan oleh PT Indosat Mega Media (IM2) atas kerjasamanya dengan Indosat selaku perusahaan induk memang sempat bikin ketar-ketir seluruh pengguna internet di tanah air. Kasus ini sudah menjatuhkan vonis pengadilan berupa 4 tahun penjara plus denda 200 juta bagi Dirut IM2. Selain itu, IM2 harus membayar kerugian negara sebesar 1,3 triliun. Hiyaaa ... ada apa ini?

Buat yang belum tahu masalahnya, bisa baca-baca dulu di sini :
·      Dan lain-lain. Coba aja googling.

Sebagai internet user yang awam terhadap bidang pertelekomunikasian dan juga hukum, saya tidak bisa berkomentar apakah vonis dalam kasus ini sudah tepat atau melenceng jauh. Itu sih sudah dibahas para pakarnya. Yang ada mah saya deg-degan, apa iya gara-gara kasus ini dunia internet di Indonesia terancam kiamat seperti ramai diberitakan? Apa iya efek dari kasus IM2-Indosat ini pun akan merembet ke kasus serupa di operator lain seperti Telkomsel, XL, Axis, dan para penyedia jasa internet (Internet Service Provider) yang bekerja sama dengan mereka? Kalau kasus ini menimpa mereka satu per satu, maka .... BUM! Kiamat internet pun terjadi. Woalaah ...  Celaka!

Saya tentu menginginkan semuanya baik-baik saja. Apa jadinya kalau setiap ISP akan dipersalahkan karena dianggap melakukan pelanggaran, lalu dijatuhi sanksi, lalu tidak boleh menjual jasa layanan lagi, lalu internet pun beneran ilang dari tanah air. Wew! Percuma dong semua-muanya harus serba online sekarang ini kalau dukungan untuk kelangsungan internetnya sendiri malah kelelep?
 
Saya cuma ngerasa ngeri aja kalau internet bener-bener jadi barang langka di negeri ini, atau bahkan beneran raib. Sudah seharusnya pemerintah dan seluruh departemen terkait segera mengatur ulang seluruh kebijakan yang ada dan menyelaraskannya dalam satu pemahaman yang sama. Jangan sampai satu sama lain malah beda pendapat dong, ah, dan jadi pertarungan yang membingungkan di pengadilan. Malu sama negara lain. Emangnya enak diketawain karena aturan main di negara kita malah masih jadi perdebatan padahal sudah berjalan begitu lama? Lalu, kenapa tahun-tahun sebelumnya masalah seperti ini tidak muncul dan terlihat adem-adem aja? Auk ah, gelap!

Kebayang ya kalau kita dipaksa harus melupakan internet dan kembali ke zaman manual seperti dulu?
-          Kirim surat harus ke kantor pos lagi, dan nunggu berhari-hari untuk nyampe ke si penerima karena nggak bisa kirim email lagi? Waks!
-          Ngambil duit lima puluh ribu harus ngantri di teller lagi karena ATM-nya ngambek? Waduh!
-          Transfer belanja online seratus ribu ngantri di teller juga karena internet bankingnya lumpuh? Hadeuuh.
-          Mau ngobrol harus ngabisin pulsa lagi di telepon atau SMS-an lagi gara-gara semua platform messengernya nggak ada yang jalan? Doooh.
-          Harus bongkar-bongkar tumpukan majalah dan koran kalau butuh informasi tertentu karena om Gugelnya sudah tewas? Hiks.
-          Smartphone mahal cuma buat nelepon dan SMS doang? Yeey.
-          Nggak bisa curhat lagi di blog dan nggak bisa nyetatus dan narsis lagi di sosmed? Woaaah.
-          Silakan tambahin sendiri.

Hellooow ... ini tahun berapa, ya? Tapi .... kalau memang maunya begitu, kenapa nggak sekalian aja kita kembali ke zaman Flinstone? Yabadabadooo ...

Senin, 21 Oktober 2013

Pengumuman Lomba Blog Resep Sehat

jual bantal foto
Yiaaay ... setelah sebelumnya menang lomba blog #HandinHand Sharing Competition yang diselenggarakan Wafer Tango, kali ini menang lagi Lomba Blog #ResepSehat yang diselenggarakan oleh Minyak Goreng Sunco. Hadiahnya wisata kuliner ke Makassar! Woaaa ... akhirnya bakalan berkesempatan nyicip coto makasar dan Konro di tempat aslinya nih. *jungkir balik*


Dan ini pengumumannya yang saya ambil dari sini.

Dua bulan telah berlalu, dalam rangka memperingati launching website komunitas Resep Sehat, SunCo Indonesia mengadakan Lomba Penulisan Blog yang bertemakan “Tradisi Baik untuk Keluarga Sehat”.
Lomba penulisan blog ini menarik antusias peserta dan berhasil menjaring ratusan pendaftar. Terima kasih atas partisipasinya ya, Sahabat! :)

Setelah melalui proses penjurian yang dilakukan oleh senior blogger Wicaksono @ndorokakung dan Driana Rini Handayani @venustweets serta pihak dari SunCo Indonesia yang meliputi:

- Syarat dan ketentuan berlaku
- Kesesuaian tema
- Kesesuaian konten (isi) blog
- Menarik, bermanfaat dan informatif
tim juri menetapkan 6 peserta dengan tulisan terbaik pada Lomba Penulisan Blog Resep Sehat yaitu:

1. Marisa Agustina dengan tulisannya "Mari Mulai Gaya Hidup Yang Baik"
http://risablogedia.blogspot.com/2013/09/mari-mulai-gaya-hidup-yang-baik.html
http://resepsehat.com/2013/09/28/mari-mulai-gaya-hidup-yang-baik/

2. Nathalia Diana Pitaloka dengan tulisannya "Resep Sehat untuk Si Gila Kerja dan Si Aktif"
http://sweetdonath.blogspot.com/2013/09/resep-sehat-untuk-si-gila-kerja-dan-si.html
http://resepsehat.com/2013/09/30/resep-sehat-untuk-si-gila-kerja-dan-si-aktif/

3. Ridwan dengan tulisannya "Sehat itu Berawal dari Rumah"
http:// iwok.blogspot.com/2013/09/sehat-itu-berawal-dari-rumah.html
http://resepsehat.com/2013/09/18/sehat-itu-berawal-dari-rumah/

4. Firma Sutan dengan tulisannya "Merah Putih Kuning Tradisi Sehat Keluargaku"
http://firmasutan.blogspot.com/2013/09/merah-putih-kuning-tradisi-sehat.html
http://resepsehat.com/2013/09/29/merah-putih-kuning-tradisi-sehat-keluargaku/

5. Ika Safitri dengan tulisannya "Menanamkan Kebiasan Sehat Sejak Dini"
http://ikakoentjoro.com/menanamkan-kebiasaan-sehat-sejak-dini/
http://resepsehat.com/2013/09/23/menanamkan-kebiasaan-sehat-sejak-dini/

6. MizTia dengan tulisannya "Aksi Kami Untuk Keluarga Sehat"
http://miztia.blogdetik.com/2013/09/29/aksi-kami-untuk-keluarga-sehat/
http://resepsehat.com/2013/09/30/aksi-kami-untuk-keluarga-sehat/

Ke-6 pemenang di atas berhak atas hadiah trip wisata kuliner selama 3hari/2malam ke Makassar.
Para pemenang akan dihubungi oleh panitia Lomba Penulisan Blog Resep Sehat dalam waktu dekat ini.
Selamat kepada para pemenang!

*Catatan : Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Minggu, 20 Oktober 2013

Pemenang Tango Hand in Hand

jual bantal foto

Yiaaay ... postingan saya yang diikutsertakan dalam Tango #HandinHand Sharing Competition ternyata menaaaang.  Finally saya bisa berangkat ke Pulau Nias untuk melakukan kunjungan sosial bersama tim Tango Peduli Gizi pada tanggal 30 Oktober - 1 November 2013.

Rencananya kami akan menyerahkan secara langsung buku-buku dan mainan bagi anak-anak Nias, yang sudah dikumpulkan melalui program #HandinHand ini dari seluruh Indonesia. Nah, bagi teman-teman yang belum sempat berbagi untuk anak-anak Nias, dan berniat untuk menyumbangkan buku-buku cerita anak (larena keterbasan bagasi, tidak terima titipan mainan), boleh nitip ke saya. Insya Allah nanti saya bawa sekalian dengan buku-buku yang sudah saya siapkan juga. Karena saya harus segera meluncur ke Jakarta pada tanggal 29 Oktober, sebisa mungkin buku-bukunya dikirimkan sebelum tanggal itu ya, biar bisa saya packing sekalian. Terima kasih.

Together, make them smile in a simple way.

Senin, 30 September 2013

[Lomba] Novel Home Sweet Home berhadiah Umroh!

jual bantal foto
Ada lomba novel lagi nih. Kali ini gelaran dari Penerbit DivaPress. Yang mau ikutan, silakan baca ketentuannya di bawah ini :

Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, terkadang kita dihadapkan pada pilihan untuk melangkah dan meninggalkan apa yang selama ini kita miliki. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi nanti, tapi jika tetap bertahan, maka hidup akan selalu sama entah sampai kapan.
Merantau dan traveling adalah pilihan yang sudah sangat lazim untuk menemukan sesuatu yang berbeda. Kita tidak pernah tahu seberapa lama kita akan merantau atau sejauh apa kita akan menghabiskan waktu untuk traveling.

Setelah pergi begitu lama dan begitu jauh, akan ada saat kita merindukan rumah. And it’s time to come back home. Bertemu kembali dengan orang-orang yang kita rindukan, melihat rumah tempat kita dibesarkan, menghirup udara yang tidak lagi sama seperti sekian waktu lalu.

Nah, tema “kembali” inilah yang akan diangkat dalam lomba novel Home Sweet Home. Silakan menonjolkan 2 poin di sini, yaitu kehidupan saat berada di tempat yang baru selama sekian waktu hingga proses hingga mengambil keputusan untuk menengok atau bahkan kembali ke kampung halaman. Apa hal-hal yang menarik yang dicari di kampung halaman dan tidak ditemui di tempat yang baru. Silakan ditampilkan dalam konflik yang kuat. Penceritaannya boleh menggunakan metode flash back. Kisah ini boleh berdasarkan kisah nyata atau sepenuhnya fiktif.

Lomba akan dibuka mulai 1 Oktober 2013 dan ditutup 31 Maret 2014, pukul 14.00 WIB.

Ketentuan peserta:
Peserta berusia minimal 18 tahun dan sudah mendapatkan izin orang tua untuk melaksanakan ibadah umrah, berangkat dari Yogyakarta. (info tanggal dan bulan pemberangkatan menyusul).

Ketentuan naskah:
  • Ketebalan naskah 200-250 hlm MS Word, font Times New Roman, size 12,  spasi 2, justified/rata kiri dan kanan, margin 4cm (atas/kiri) 3cm (kanan/bawah), ukuran kertas A4
  • Segmen remaja dan dewasa
  • Naskah adalah karya perseorangan
  • Gunakan gaya bahasa yang ringan
  • Menonjolkan detail karakter/penokohan dengan spesifik, misalnya karakter seseorang dari daerah tertentu, atau ciri yang dikreasikan sendiri hingga pembaca bisa membayangkan tokohnya seperti apa.
  • Setting cerita bebas dan tidak lepas dari detail yang unik
  • Memberikan pesan moral (boleh tersirat/tersurat)
  • Silakan mengirimkan naskah via email: hshdivapress@gmail.com dengan format judul/subject: Nama penulis (judul naskah)
  • Format nama file: Nama penulis (judul naskah)
  • Bodi email dibiarkan kosong saja.
  • Lengkapi dengan biodata narasi, no. HP, twitter, facebook, blog, dan sinopsis lengkap keseluruhan cerita (terpisah dari naskah novel)
  • Setiap peserta silakan LIKE fanpage: Penerbit DIVA Press & de TEENS atau follow @divapress01 & @de_teens
Hadiah
Juara 1:
  • 1 paket umrah (Hadiah ini bisa diwakilkan kepada kerabat dekat dan tidak bisa diuangkan. Paspor dan uang saku ditanggung penerbit)
  • 2 kontrak penerbitan (1 karya yang diikutkan lomba ini dan 1 karya layak terbit lainnya)
  • Sertifikat keikutsertaan
  • Sampel buku
5 nominator masing-masing akan mendapatkan:
  • 2 kontrak penerbitan (1 karya yang diikutkan lomba ini dan 1 karya layak terbit lainnya)
  • Sertifikat keikutsertaan
  • Sampel buku
Lomba ini dipersembahkan oleh DIVA Press Group

Kamis, 26 September 2013

[Lomba] Novel 'Passion Show' Bentang Belia diperpanjang!

jual bantal foto
Buat yang kemarin agak-agak nyesek karena nggak bisa ngejar lomba novel dari Penerbit Bentang Belia, saatnya kamu bisa narik napas lega nih, soalnya deadlinenya diperpanjang! Uhuy, kan? Nih, baca infonya yang saya kutip dari note FB-nya Bentang.

Halo semuanya, bagi yang merasa sudah dikejar deadline sehingga belum mengirimkan naskah PASSION SHOW nya, jangan khawatir karena kamu masih ada waktu untuk menyelesaikan naskahmu. Yap, batas akhir pengiriman naskah PASSION SHOW diperpanjang hingga 31 Oktober 2013. 


  Lomba Novel Remaja Bentang Belia 2013
  “PASSION SHOW”
===============================================================

Baca ketentuannya di bawah ini, ya!
  1. Naskah ditulis perorangan atau maksimal dua orang.
  2. peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
  3. Cerita harus inspiratif, memberi nilai positif bagi remaja Indonesia, tidak menggurui, unik, dan menggambarkan dunia remaja usia 13 sampai 25 tahun.
  4. Naskah tidak memicu konflik SARA. Tidak memuat unsur ponografi, kata-kata kasar, dan kekerasan berlebihan.
  5. Naskah belum pernah di publikasikan di media cetak maupun elektronik sebelumnya.
  6. Jumlah halaman minimal 150 halaman, maksimal 200 halaman. Naskah diketik di kertas a4, margin 4-4-3-3, font Times New Roman ukuran 12, spasi ganda.
  7. Tiap naskah yang dikirim WAJIB menyertakan bentuk visual (bisa dalam bentuk foto, gambar, hasta karya) dari tema passion yang dipilih. Visualisasi tersebut diunggah ke Facebook Bentang Belia dan Twitter Bentang Pustaka sebelum 31 OKTOBER 2013. Redaksi akan memilih 5 visualisasi terbaik dan menentukan visualisasi favorit dengan sistem voting.
  8. Kirimkan:– Biodata (nama, alamat, no HP, alamat surel) dan profil singkat penulis.– Sertakan pengalaman menulis jika ada.– Naskah.– Sinopsis berupa ringkasan cerita dari awal hingga akhir cerita sepanjang 1 halaman.– Alasan kamu pantas jadi juara dalam 1 paragraf.Kelima poin tersebut disusun dalam 1 FILE Ms.Word dan dikirim ke:bentang.belia@mizan.com, dengan subjek: “PASSION SHOW” sebelum 31 OKTOBER 2013
  9. Pemenang akan diumumkan pada 30 NOVEMBER 2013 di www.bentangpustaka.com 

===============================================================

HADIAH
Juara 1
Kontrak Penerbitan + Rp.5.000.000 + tablet + Paket Buku Bentang Belia
Juara 2
Kontrak Penerbitan + Rp.3.000.000 + tablet + Paket Buku Bentang Belia
Juara 3
Kontrak Penerbitan + Rp.2.000.000 + tablet + Paket Buku Bentang Belia
15 Naskah Pilihan
Kontrak Penerbitan + Paket Buku Bentang Belia
1 Visualisasi Favorit
Paket Buku Bentang Belia

================================================================
Tunggu apa lagi?
Selamat BERKREASI dan MENGINSPIRASI seluruh remaja Indonesia! ^^
================================================================

Frequently Asked Question (FAQ)
+ Maksud poin no.7 itu gimana sih? Visualisasi apanya?
- Buatlah visualisasi dari karakter tokoh utamamu dan passion-nya. Misal, tokoh utamamu adalah perempuan bernama X yang memiliki passion di bidang modelling. Visualisasikan karakter tokoh utamamu dalam bentuk foto, gambar, atau hasta karya (crafting) yang menggambarkan tokoh utamamu dan passion-nya itu. Perjelas dulu siapa dan bagaimana karakter tokohmu: nama X, rambut panjang sebahu, ikal, kulit sawo matang, passion modeling, jalan di catwalk. Lalu, makeover dirimu sendiri sesuai dengan deskripsi tokoh utama yang kamu buat, semirip mungkin. Lalu berfotolah di sebuah karpet merah dengan gaya andalanmu layaknya kamu adalah X yang sedang berjalan di catwalk. Fotomu boleh di edit, atau ditambahkan efek secukupnya. Harus foto, min?Tentu tidak, kan sudah dijelaskan di atas kalau bentuk visualisasinya bisa berupa foto, ilustrasi, maupun hasta karya (crafting)

Info dikutip dari sini