Kamis, 07 November 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day2

jual bantal foto
Laporan Perjalanan #Day1 bisa dibaca di sini.

#Pesta Duren

Malam itu saya tidur dengan saangat nyenyak. Pules banget sampe nggak sempat mimpi jadi Power Rangers (lah?). Mungkin karena kecapean dan kurang tidur hari sebelumnya, atau bisa jadi karena ngidam makan duren di Nias terlaksana? Howaa ... jadi inget malam sebelumnya, pulang dinner di Grand Kartika Restaurant, Rombongan Tango #NiasHandinHand sempat pesta duren di alun-alun. Kita memang datang ke Nias dalam waktu yang sangat tepat. Musim duren telah tiba! Duren bergelimpangan di mana-mana ... well, okay, ini emang lebay. Tapi suwer, itu duren bertumpuk-tumpuk banget di sepanjang jalan. Karena mba Yuna (PR Manager Tango) lagi senang hatinya melihat anak-anak manis seperti kita (hoek!), akhirnya kita digiring untuk nongkrong-nongkrong di sekitar alun-alun. Dibeliin duren! Horeee .... tentu kesempatan ini tidak boleh disia-siakan begitu saja. Seluruh rombongan tanpa malu-malu dan ragu langsung merubung si Abang duren.

5ribu rupiah saja sebiji!
Yang bikin kita syok, ternyata duren di Nias ini kurang ajar banget ... murahnya! Masa satu buah duren yang gedenya segede kepala saya cuma 5ribu perak? Nggak sopan banget, kan? Kenapa di tukang duren dekat rumah saya mahal-mahal? Duren cicitnya aja dihargai 25ribu perak. Harusnya tukang duren di Tasik studi banding semua ke Nias, biar tahu bagaimana membuat para pecinta duren senang dan riang! Oke, stop ngamuk-ngamuknya. Sekarang, mari kita pesta duren!

Aksi pembantaian duren. Hehehe
Satu demi satu duren dibelah, dan langsung ludes dalam sekejap. Gimana nggak cepet ludes kalau pas duren lagi dibelah aja tangan-tangan udah pada siap nyomot? Hihihi.  Seru! Ini benar-benar pesta duren yang menyenangkan. Apalagi Mba Yuna malah ngomporin buat ngebelah lagi dan lagi. Ternyata, beliau inilah yang justru makannya paling banyak. #Ups ... Ampun mbaaak. Hihihi. Dan ternyata sodara-sodara, sampai pesta berakhir, jumlah duren yang dibelah terhitung hanya sepuluh biji saja, padahal perasaan nyomot lagi dan lagi. Etapi, 10 biji itu banyak kan? Daan ... untuk duren sebanyak itu cuma perlu bayar 50ribu doang! Hiyaaaa .... murah amaaat? *ngamuk-ngamuk lagi sama tukang duren di Tasik*

jadi inget omongan mas Liem saat ditanya; “Buah apa yang akan dibawa kalau masuk surga?” Dia langsung jawab dengan semangat tinggi; “DUREN!” xixixi.

Lanjut ke petualangan kita di hari ke 2.

Setengah delapan pagi kita semua sudah terlihat kiyut dan cakep. Apalagi hari ini kita semua mengenakan seragam yang sama; kaos putih dari Tango. Yang spesial, kaos itu ternyata official tshirt-nya Indonesian Idol 2014 (Tango adalah salah satu sponsor utama event ini). Watchout girls, I’m the Next Indonesian Idol! Hiyaaa ... berasa jadi Delon deh make kaos itu. #Plaakk! *Nggak nyadar diri emang*

Tujuan pertama kita adalah Poskesdes Dusun VI, Banoa Gea, kecamatan Tuhemberua Nias Utara. Ini adalah Puskesmas Pembantu yang sudah direnovasi oleh Tango melalui OBI, dan melengkapinya dengan sarana dan prasarana tambahan yang dibutuhkan. Lokasinya cukup jauh dan harus turun-naik gunung selama kurang lebih 2 jam berkendara (dari hotel). Dari awal tim Tango sudah menyampaikan bahwa kemungkinan kita harus berjalan kaki cukup jauh untuk mencapai lokasi ini. Sarana jalan yang belum bagus dan berbatu-batu tidak memungkinkan kendaraan untuk masuk. Ternyata, pada saat kita ke sana, jalanan sudah cukup mulus dan beraspal sehingga memungkinkan kendaraan untuk terus melaju. Kabarnya baru selesai diaspal beberapa bulan terakhir. Jalanan mulus itu ternyata mentok di dekat lokasi Poskesdes dusun VI. Sebenarnya saya sedikit kecewa karena tidak jadi tracking sambil menikmati suasana dusun ini. Tapi, sarana jalan ini tentu sangat dibutuhkan masyarakat setempat, jadi harus disyukuri karena pembangunan sarana transportasi jalan sudah mencapai dusun terpencil ini. Mudah-mudahan akan semakin memudahkan mobilitas warga masyarakat ke depannya. Aamiin.

Tim Tango berada di Poskesdes dusun VI desa Banua Gea

Dulu, bangunan Poskesdes tidak seperti ini. Menurut penuturan mas Joni dari OBI, dulu Poskesdes ini kondisinya mengkhawatirkan. Bangunannya kecil, tidak terawat, dan bahkan hampir ambruk. Karena tidak memiliki pintu, orang bisa keluar masuk setiap saat. Bahkan setiap malam menjadi lokasi berteduh anjing yang berkeliaran. Karena itulah kebersihannya tidak terjaga, padahal semestinya pos kesehatan adalah tempat yang bersih dan sehat. Demikian pula dengan tidak adanya tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin menjadi salah satu kendala bagi kesehatan warga dusun ini. Poskesdes jadi sebuah simbol kesehatan belaka yang justru terabaikan dan tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin bisa dimengerti karena lokasi ini awalnya begitu jauh dan sulit terjangkau sehingga tenaga medis sulit untuk melakukan kunjungan secara rutin.

Tango dan OBI mendobrak paradigma ini (eciee bahasanya). Dengan program Tango Peduli Gizi (TPG) dan Balai Pemulihan Gizi (BPG), Poskesdes ini dikembalikan pada fungsi yang seharusnya. Renovasi dan perbaikan sarana-prasarana yang ada dilakukan sehingga peranan Poskesdes bagi masyarakat benar-benar dapat dijalankan. Bangunan Poskesdes sudah jauh lebih besar dengan beberapa ruangan pemeriksaan, perawatan, toilet, dan gudang. Mengingat tidak adanya sumber air, sebuah bak penampungan air hujan yang cukup besar pun dibangun di belakang Poskesdes. Sebuah pintu teralis besi dipasang sehingga tidak sembarang orang dapat memasuki ruangan pada saat Poskesdes tidak dibuka.

Program Imunisasi
Keberadaan Poskesdes dilengkapi dengan penyediaan tenaga medis yang melakukan kunjungan rutin. Melalui pembekalan dan pembinaan, warga dusun tidak ragu lagi untuk mendatangi Poskesdes saat jadwal kunjungan medis dilaksanakan.  Saat kami berkunjung sedang dilaksanakan jadwal imunisasi. Beberapa ibu datang menggendong bayi-bayi mereka. Ruangan Poskesdes terlihat ramai. Ibu-ibu muda menunggu dengan tertib giliran bayi mereka untuk diperiksa dan imunisasi.

Rasa haru langsung terasa, mengingat dulu kesadaran atas kesehatan anak-anak mereka begitu kurang. Kesehatan seolah menjadi prioritas urutan kesekian untuk diperhatikan. Sekarang kami dapat melihat bayi-bayi yang cukup sehat karena edukasi tentang pentingnya ASI pun terus digencarkan oleh tim medis OBI. Meskipun demikian, hari itu kami masih melihat adanya bayi yang masih kekurangan gizi. Seorang bayi berusia 7 bulan hanya memiliki berat 3kg saja. Trenyuh dan bikin dada saya sesak. Untungnya, keadaan seperti itu menjadi perhatian penuh dari tim OBI untuk menjadikannya target pemulihan gizi.

Terima kasih buat Tenaga Medis yang rajin mengawal kesehatan warga
Sekitar satu jam kami berada di Poskesdes ini, ikut menyaksikan antusiasme warga dusun VI Banua Gea memeriksakan kesehatan putra-putrinya. Satu yang membuat saya miris adalah belum adanya kesadaran warga terhadap program Keluarga Berencana. Dengan usia yang masih begitu muda (usia 20-30an), rata-rata seorang ibu memiliki 4 sampai 6 orang anak. Dengan rentang usia anak yang tidak berjauhan. Tidak heran kalau Mba @JustSilly begitu gencarnya menasihati para ibu untuk peduli pada kesehatan mereka.

“Ibu-Ibu itu bukan pabrik anak. Lihat, Ibu-Ibu badannya kurus karena terlalu cape melahirkan anak dan mengurus mereka. Ibu-ibu harus terlihat cantik, sehat, dan kuat agar dapat merawat anaknya dengan baik,” celoteh Mba Silly tanpa henti. Dengan gayanya yang riang, Mba Silly bergerak dari satu ke ibu yang lain, memberikan penekanan bahwa ‘banyak anak banyak rezeki’ itu sudah tidak tepat lagi. Beliau mengingatkan bahwa program Keluarga Berencana atau penundaan kehamilan dan memberikan jarak kehamilan itu adalah sebuah program yang baik dan sudah seharusnya diikuti. Semoga saja nasihat itu melekat erat di benak mereka, termasuk para Bapak yang saat itu ikut berkumpul di depan Poskesdes.

Ayo Bapak-Bapak, jangan mau enaknya sendiri juga ya? Bikin anak itu gampang, tapi ngurusnya itu yang susah! Hehehe.

Rombongan Tango #NiasHandinHand melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kita bergerak ke dusun lain dari desa Banua Gea. Dan ini akan menjadi acara besar karena warga tiga dusun (dusun 1-3) dikumpulkan menjadi satu di rumah Kepala Desa Banua Gea, Bapak Sodania Gea. Tim Tango sudah menyusun acara ‘Kamis Ceria Bersama Tango dan OBI”. Kali ini perbekalan yang dibawa cukup lengkap, yaitu ratusan paket yang berisi mainan, buku bacaan, dan baju bekas layak pakai. Selain itu masih ada ratusan dus  Wafer Tango yang siap dibagikan.  Bakalan seru nih!

Oya, sebelumnya Tango lewat program #HandinHand sudah mengajak seluruh masyarakat di Indonesia untuk berbagi bagi anak-anak Nias lewat program pengumpulan buku bacaan, mainan, dan juga pakaian bekas layak pakai. Ternyata yang terkumpul sangat banyak. Dan salah satu tujuan kita ke Nias itu adalah untuk menyerahkan langsung kiriman buku, mainan, dan pakaian dari para donatur di seluruh tanah air. Terima kasih banyak buat semuanya yang sudah berpartisipasi dan seluruh barang yang terkumpul sudah diserahkan semuanya kepada anak-anak Nias.


Begitu sampai, ternyata sudah banyak anak-anak dan warga yang menanti. Waah ... terharu banget. Mereka pasti sudah menunggu sejak pagi. Tanpa kesulitan mereka diminta masuk dengan tertib, lalu duduk lesehan di lantai tembok. Sebagian ibu yang membawa bayi duduk di kursi-kursi platik sekeliling ruangan. Wajah mereka penuh harap, menunggu apa yang akan kita suguhkan bagi mereka. Saya pun celingukan, kita mau ngapain dulu nih sekarang? Di susunan acara ada acara nyanyi bersama dan juga bermain games, tapi siapa yang akan memandu?

Ternyata Mba Fatsy, istri mas Bigke dari OBI, langsung menghandle acara. Bersama OBI, beliau sudah mengabdi cukup lama bagi masyarakat Nias, sehingga tidak heran sudah cukup mengenal kaum ibu dan kondisi di sana. Daan ... keramaian pun segera dimulai.  Acara bernyanyi, bergoyang, sampai mengajari anak-anak berjoged pun silih berganti. Senang rasanya melihat senyum dan tawa mereka terdengar lepas memenuhi ruangan. Ada yang malu-malu, namun banyak pula yang tampak semangat penuh rona gembira. Justru itu yang kita inginkan, ini saatnya kita bergembira semua. Hilangkan rasa takut dan malu, mari kita bernyanyi dan berjoged bersama.

Siapa yang rajin sekolah? dan tangan-tangan mungil pun teracung.

Saat bernyanyi dan berjoged usai, Tim Tango meminta saya untuk bercerita. Saya langsung mengangguk. Dari awal saya sudah bersedia melakukan apa pun yang sekiranya saya bisa. Mendongeng bukan keahlian terbaik saya, dan saya belum pernah melakukannya di depan umum sebelumnya. Biasanya, saya hanya mendongeng untuk anak-anak saya sebelum tidur. Tetapi, mari kita lakukan sekarang! Selalu ada yang pertama kali, dan saya tidak ingin melepaskan kesempatan berbagi kali ini. Momen seperti ini mungkin akan sulit untuk terulang lagi. Bercerita di depan anak-anak Nias, kapan lagi kesempatan seperti itu akan terulang?

Saya pun bergegas mengeluarkan buku saya. Picture book serial Sepatu Dahlan saya pikir sangat cocok untuk diceritakan kembali pada anak-anak Nias. Kisah Dahlan Iskan sewaktu kecil adalah kisah yang sangat inspiratif. Kesulitan dan kemiskinan Dahlan Iskan tidak menghentikan mimpinya untuk menjadi orang besar, selama ada niat dan kemauan yang kuat. Berusaha, belajar, dan berdoa, adalah tiga faktor utama untuk menggapai cita-cita. Dan kepada anak-anak Nias saya menyampaikan tentang itu. Lewat buku ‘Sepatu Idaman’, saya menggiring anak-anak (dan seluruh ibu yang datang) untuk tidak selalu putus harapan. Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan, tapi kita bisa mengubah sebuah keadaan.

Saya sedang bercerita
Saya tidak pernah seantusias itu saat berbicara di depan khalayak. Tetapi, melihat puluhan pasang mata menatap gerak dan gaya bercerita saya dengan serius, tekun mengikuti alur cerita yang dibacakan, bereaksi riuh saat saya melemparkan pertanyaan, tertawa lepas saat saya berusaha melepaskan candaan, membuat dada saya meletup-letup senang. Ada dorongan semangat yang membuat saya semakin berkobar. Saat itu saya merasa sangat dibutuhkan. Tidak pernah ada yang membacakan mereka sebuah cerita sebelumnya. Belum pernah ada yang mendongeng untuk mereka sebelumnya. Mereka benar-benar haus akan sebuah hiburan dan kegembiraan. Dan saya saangat bangga bisa berada di sana. Hiks ... asli, mata saya meleleh saat teringat momen-momen membagiakan itu. Mudah-mudahan saya diberikan kesempatan untuk kembali berbagi kebahagiaan di sana.

Ada yang asyik dengerin cerita, ada juga yang asyik makan Tango. hahaha
Yang membuat saya semakin bersemangat bukan karena melihat bagaimana anak-anak merasa terhibur, tetapi juga karena menyaksikan bagaimana Ibu-Ibu mereka tidak kalah semangatnya mengikuti cerita saya. Saat saya melontarkan pertanyaan pada anak-anak, yang paling cepat menjawab adalah ... emaknya! Hehehe

“Agar jadi anak pintar kita harus rajin belaaa ....” teriak saya.
“JAAARRR!” jawab ... EMAK-EMAKnya!

Hihihi. Sampai beberapa kali saya harus bilang; “Ibu-Ibunya diam dulu ya, biar anak-anaknya dulu yang menjawab.” Eh, tapi tetap saja, mereka lagi-lagi paling duluan menjawab. Kenapa begitu? Menurut Kakak-Kakak dari OBI, ketiadaan hiburan bagi mereka, membuat mereka tidak kalah antusiasnya dengan kedatangan kita, meskipun hiburan itu sebenarnya ditujukan untuk anak-anaknya.

Senangnya dapat buku. Dibaca yaaa ...
Melihat antusias para Ibu yang tidak kalah meriahnya dibanding anak-anak, akhirnya saya dan tim Tango menyiasati dengan mengadakan games-games hiburan khusus buat emak-emak. Setiap kali diberikan tantangan untuk menyanyi atau berjoged di depan, selalu saja ada peserta yang berebutan maju. Dan itu luar biasa menyenangkan. Setiap ide yang muncul selalu disambut dengan hingar bingar.

Di dalam ruangan semakin berjubel dengan masyarakat yang terus berdatangan. Di luar pun tidak kalah ramainya. Apalagi saat itu sudah bertepatan dengan bubaran anak-anak sekolah yang berada tidak jauh dari lokasi kegiatan. Tidak heran kalau suasana semakin ‘panas’ karena semuanya bergerak ke lokasi acara.

Di dalam dan di luar sama ramainya
Saya berangkat ke Nias dengan sebuah travel bag berisi puluhan buku dan beberapa boneka. Kesempatan itu saya pergunakan untuk membagi-bagikannya secara langsung, lewat kuis, games, tantangan maju ke depan, dan lain-lain. Tidak hanya itu, Tim Tango ternyata masih membawa buku dan mainan lebih, di luar dari paket-paket yang sudah disiapkan. Pada saat itulah semuanya ikut dibagikan. Ramai luar biasa! Semua rombongan turun tangan, membagikan ke seluruh area agar tidak ada yang tidak kebagian. Syukurlah buku-buku yang kita bawa sangat banyak, sehingga setiap anak (dan ibu) bahkan bisa mendapatkan lebih dari satu buku.

“Jangan lupa dibaca yaaa ....” saya berteriak sesekali. “Minta dibacakan sama Ibu, Bapak, atau sama Kakaknya. Kalian juga bisa saling meminjamkan dengan teman lain kalau sudah selesai membacanya.”

Ya, saling berbagi bacaan tentu akan lebih menyenangkan. Dengan begitu, mereka bisa membaca lebih banyak cerita, menemukan lebih banyak pengetahuan, dan tentu saja lebih banyak kegembiraan.

Siang itu acara ‘Kamis Ceria bersama Tango dan OBI’ ditutup dengan acara makan siang bersama. Oya, selama kita bermain bersama tadi, ada sebagian Ibu-Ibu warga yang sibuk di dapur. Mereka memasak untuk sajian santap siang kita kali ini. Ingin tahu menunya? Mereka menangkap ikan lele dari kolam mereka, memetik sayuran dari kebun mereka, dan memotong ayam peliharan mereka. Setelah dimasak, disajikan untuk dimakan ramai-ramai. Sedaaaap. Apalagi lelenya yang dibumbu acar kuning, duileee ... sedep beneeer. Tim Tango sampai nggak malu-malu buat ngambil lagi dan lagi. Hahaha. Makasih banyak ya Ibu-Ibu atas makan siangnya.

Penyerahan Produk Tango untuk keluarga PMT
Sebelum melanjutkan ke agenda lain, Tango membagikan produk Tango kepada keluarga PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Sementara untuk parsel/paket buku, mainan, dan pakaian, diserahkan secara simbolis kepada Kepala Desa. Jumlah anak yang datang banyak sekali, sementara paket itu hanya diperuntukan bagi anak-anak keluarga PMT saja. Agar tidak timbul kekecewaan pada anak-anak yang tidak kebagian (kebanyakan karena berasal dari keluarga cukup mampu, atau keluarga yang memang tidak ingin bergabung dengan program Tango meski sudah ditawarkan), paket-paket itu akan didistribusikan belakangan.

Terima kasih Tango! ^_^
Fyuuuh ... kegiatan yang sungguh luar biasa. Berbagi itu memang indah, kebersamaan itu memang menyenangkan. Mari bersama kita membentuk satu senyuman.

Biar postingannya tidak kepanjangan, bersambung lagi ke bagian 3 ^_^

Spesial terima kasih untuk Wylvera Windayana, Dyah Rini, Haya Aliza Zaki, Fitria Chakrawati, Nunik Utami, atas sumbangan buku-buku dan bonekanya. Sudah saya distribusikan langsung pada anak-anak Nias ya.  :)

Selasa, 05 November 2013

Nias Trip, Wafer Tango #HandinHand ~ #Day1

jual bantal foto
Selasa (29/10) pukul 9 malam, saya bergegas ke terminal bus Tasikmalaya. Pundak saya menggendong ransel, sementara tangan saya menenteng sebuah travel bag besar yang dijejali tidak kurang dari enam puluhan judul buku dan beberapa buah boneka. Tidak biasanya saya pergi ke luar kota dengan tentengan ‘berat’ semacam itu. Kali ini lain, besoknya saya akan terbang ke Nias, bergabung dengan tim Tango #HandinHand untuk berbagi dengan anak-anak Nias. Buku dan boneka-boneka itu adalah ‘kado’ saya dan teman-teman untuk mereka. Karena itu, seberat apapun, saya tetap akan membawanya.


Ya, saya sangat beruntung berhasil menjadi salah seorang pemenang dalam lomba sharing competition yang diselenggarakan oleh WaferTango. Sebagai hadiahnya, saya bersama dua orang pemenang lainnya akan diterbangkan menuju Nias, sebuah pulau nan indah di ujung utara pulau Sumatera. Bukan untuk rekreasi biasa, tapi untuk melaksanakan sebuah misi berbagi untuk kemanusiaan. Dan target kita adalah Anak-anak Nias yang membutuhkan.

Tasikmalaya – Jakarta bukanlah sebuah perjalanan singkat. Meski flight keberangkatan saya pada pukul 8 pagi, tapi 11 jam sebelumnya saya sudah meluncur menuju Jakarta. Saya tidak mau ambil resiko ada kendala yang menghambat perjalanan saya menuju bandara. Agenda #NiasTrip ini benar-benar sudah bergelung di dalam kepala sejak pengumuman pemenang lomba. Rasanya tidak sabar untuk segera terbang menuju Nias, bertemu dengan anak-anak Nias, dan ikut serta dalam program Tango berbagi. Apalagi Nias akan menjadi bagian Indonesia paling jauh yang akan saya kunjungi. Karena itulah antusiasme saya begitu meluap-luap.

Pukul 3.30 dini hari, saya sudah tiba di Terminal Kampung Rambutan. Fyuuuh ... syukurlah. Jalanan malam itu sangat lancar. Tanpa menunda waktu, saya langsung melompat ke dalam bus bandara (DAMRI). Akan lebih nyaman kalau saya menunggu di bandara ketimbang nanti terbirit-birit mengejar waktu. Benar saja, pukul 4.30 saya sudah tiba di Soekarno Hatta. Masih cukup banyak waktu untuk istirahat dan meluruskan punggung setelah beberapa jam sebelumnya harus terpenjara dalam kursi bus. Sambil menunggu meeting time dengan rombongan lain pada pukul 6, saya menyempatkan diri untuk cuci muka, gosok gigi, ganti baju, lalu salat Subuh di mushola luar Terminal 1B. Segaaaar. Eh, nggak mandi? #pssssttt.

Mulai pukul 6, satu per satu rombongan bermunculan. Mba Fani (Brand Manager Tango), Mba Yuna Kristina (PR Manager Tango), Mas Liem (Sosmed Tango), Mas Anto (OBI), Mba @JustSilly, Adisty (@mommiesdaily), Dwiyani Arta dan Ruth Wijaya (dua pemenang lomba). Oya, ada dua lagi peserta rombongan dari media, yaitu mas Iwan (Suara Pembaharuan), dan mas Dede (Okezone). Lengkap. Let’s go!
Terbang bersama Lion Air sampai ke Kualanamu Airport

Lion Air (seperti biasa) delay sekitar 30 menitan. Karena itulah, setibanya di bandara Kualanamu Medan, kita malah ketinggalan connecting flight ke bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias! Hiyaaaa .... seharusnya kita terbang ke Nias pukul 11.30, akhirnya harus nunggu pesawatnya balik lagi dari sana. Tapi gara-gara delay, saya akhirnya bisa menikmati suasana bandara Kualanamu dulu. Kapan lagi kan bisa nginjek kaki di Medan? Berhubung bandara ini baru (sebelumnya di Polonia), tentu saja kondisinya masih serba fresh dan megah. Tapi karena masih baru itu pula, pembangunannya ternyata belum selesai semua. Bagian di depan gate 9-12 masih terlihat berantakan karena sedang dibenahi.

Sekitar pukul 14 lewat sekian, Wings Air yang akan membawa kita ke Nias tiba. Yihaaa ... mari kita kemon! Jujur aja, ini adalah kali pertama saya naik pesawat yang berbaling-baling. Ada perasaan deg-degan juga (sekaligus excited), mengingat pesawat ini jauh lebih kecil dibanding pesawat yang pernah saya naiki sebelumnya. Kapasitas Wings Air ini adalah 72 penumpang. Karena kecil, pramugarinya pun cukup 2 orang saja. Yang unik, tempat bagasi ada di bagian depan (belakang kokpit), dan semua penumpang naik dari pintu ekor. Seru! Ini adalah sebuah pengalaman baru.

Pengalaman pertama naik pesawat berbaling-baling
Perjalanan dari Kualanamu menuju bandara Binaka hanya 50 menit saja. Jelas sangat menghemat waktu cukup banyak, karena ... kalau kita lewat darat dilanjutkan naik kapal laut, jarak tempuh menuju Nias dari Medan bisa memakan waktu 22 jam! *gubrags*

Cuaca cerah. Penerbangan tidak seperti yang saya takutkan sebelumnya. Naik pesawat berbaling-baling ternyata sama saja. Apalagi karena kecapean dan kurang tidur malam sebelumnya di bus, saya bisa pulas sepanjang penerbangan singkat ini. Hehehe. Dan 50 menit kemudian tibalah kita di bandara Binaka, Gunung Sitoli Nias. Ya’ahowu!
Ya'ahowu! Welcome to Nias

Plong rasanya. Perjalanan panjang saya dari rumah akhirnya tiba dengan selamat sampai di Nias. Kita dijemput oleh tim OBI (Yayasan Obor Berkat Indonesia) yang dipimpin oleh mas Bigke dengan 3 kendaraan. Langsung meluncur menuju Posko OBI di Jl. Dipenogoro Km. 6 Fodo, Gunung Sitoli, Nias. Karena tahu semua rombongan kelaparan, akhirnya kita makan siang bareng dulu. Horeee .... #eh *jitak. Malu-maluin!*. Setelah itu, baru deh Mba Yuna memberikan briefing singkat mengenai program kegiatan #HandinHand ini dan itinerary kita selama 3 hari ke depan.

Wafer Tango dan Yayasan OBI sudah bekerja sama sejak tahun 2010 untuk program sosial di Nias melalui kegiatan Tango Peduli Gizi. Kegiatan pada tahun 2010 terdiri dari dua aktivitas besar yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan gizi seimbang kepada 526 anak umur 6 bulan hingga 12 tahun, serta Balai Pemulihan Gizi (BPG) berupa perawatan intensif terhadap 72 anak dengan gizi buruk.

Briefing singkat ttg Tango Peduli Gizi

Sementara untuk tahun 2011-2012, Tango Peduli Gizi dititikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi, perbaikan sanitasi dan pendampingan masyarakat Nias. Hal ini dilakukan agar keluarga Nias dapat mempertahankan kondisi kesehatan dan status gizi anak yang telah pulih setelah mengikuti program TPG 2010. Salah satu bentuk program pemberdayaan ekonomi ini adalah dengan memberikan bantuan dan bimbingan budi daya lele, ayam, babi serta penanaman sayuran di lahan sekitar rumah. Selain hasilnya dapat diperjualbelikan dan meningkatkan pendapatan keluarga, juga dapat dinikmati untuk perbaikan gizi keluarga.

Mayoritas keluarga peserta PMT ini tidak memiliki pekerjaan yang memadai untuk menyokong perekonomian keluarga. Mereka bekerja sebagai buruh penyadap karet atau dari hasil panen kakao yang tidak banyak (hanya mengandalkan satu-dua buah pohon kakao yang tumbuh begitu saja di lahan mereka). Karena itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat seperti budi daya lele, ayam, babi, dan sayuran ini diharapkan dapat berjalan dengan baik. Mereka tidak bisa menggantungkan hidup dari bantuan sosial terus menerus. Dan itulah yang diharapkan oleh Tango, masyarakat Nias bisa hidup lebih mandiri.

Bantuan-bantuan yang dikelola oleh OBI

Program ini dinilai cukup berhasil karena melalui program ini, setiap keluarga mendapatkan penghasilan tambahan rata-rata 1,2juta rupiah setiap bulannya. Tentu ini menjadi peningkatan penghasilan yang cukup signifikan bagi peserta PMT. Selain itu, dengan bimbingan edukasi rutin dan pengawasan ketat, pola hidup keluarga pun jauh lebih bersih dan sehat. Anak-anak pun mengalami kenaikan berat badan sekitar 3kg setiap bulannya.

Tahun 2013 program Tango bergerak ke arah yang lebih luas, yaitu mengadopsi sebuah desa di Nias, yaitu desa Banua Gea. Desa ini terdiri dari 6 dusun dengan jumlah penduduk sekitar 2.938 jiwa dari 647 kepala keluarga. Pemilihan Banua Gea sebagai desa adopsi tentu bukan karena alasan. Sodania Gea, kepala desa Banua  Gea menyampaikan, "Minimnya penghasilan rata- rata keluarga serta keterbatasan waktu dan pengetahuan ibu, kebutuhan gizi anak tentu tak tercukupi. Belum lagi kondisi sarana kesehatan yang jauh dan minim fasilitas menambah jumlah kasus malnutrisi di desa ini," paparnya.

Budi daya lele dan bertanam sayuran di lahan sekitar rumah

Menurut Yuna Kristina selaku PR Manager Tango, Program Adopsi Desa 2013 ini dirancang untuk menyentuh multidimensi agar hasilnya lebih maksimal. Diharapkan melalui program ini anak- anak desa Banua Gea dapat meningkat status gizinya dan selanjutnya masyarakat di sana memiliki kesadaran tinggi dan mandiri akan kecukupan gizi generasi mendatang.

Program adopsi desa ini terdiri dari beberapa sub program, yaitu :
  1. Home Visit, yaitu pemulihan anak gizi buruk dengan metode mendatangi rumah secara berkala untuk pemulihan gizi serta penyembuhan penyakit penyerta;
  2. Renovasi Rumah Sehat Tango, yaitu renovasi rumah dengan titik berat pengadaan sanitasi dan ventilasi untuk kesehatan yang lebih baik;
  3. Pemberian Makanan Tambahan untuk anak berstatus gizi kurang selama 3 bulan;
  4. Pendampingan, penyuluhan gizi serta pola hidup sehat untuk ibu dan anak.
  5. Pemberdayaan Masyarakat yaitu menyediakan lahan serta pendampingan penyuluhan teknologi tepat guna bahan makanan seperti ternak dan sayuran. Hasil pemberdayaan ini digunakan sebagai pendukung pemberian makanan bergizi untuk anak- anak desa Banua Gea;
  6. Renovasi serta pemberian alat kesehatan bagi Pusat Pembantu Kesehatan Masyarakat (Pustu), termasuk dalam program ini adalah pendampingan, penyuluhan serta pemberian motivasi bagi tenaga kesehatan di daerah tersebut.


Lalu, siapakah OBI ini? OBI adalah Yayasan Obor Berkat Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan. Selama ini Tim OBI lah yang melaksanakan langsung program Tango di lapangan, termasuk sebagai partner dalam pengevaluasian program yang berjalan dan penyusunan program selanjutnya. Melihat langsung apa yang sudah dihasilkan, Tango dan OBI adalah partner yang sangat hebat!

Waktu terus berjalan. Karena jadwal yang sudah mulur akibat keterlambatan penerbangan, kita segera bersiap untuk menuju destinasi yang pertama, yaitu kunjungan ke rumah Brian Harefa. Tidak ada waktu untuk leyeh-leyeh dulu karena kita ke Nias bukan untuk berlibur. Jadwal sudah disusun, dan kita ingin semuanya berjalan seperti apa yang direncanakan. Apalagi semangat seluruh rombongan tampak sangat menggebu.

Siapakah Brian Harefa ini? Dia adalah salah seorang anak yang terkena gizi buruk pada tahun 2010. Berkat penanganan intensif dari tim TPG, akhirnya Brian (dan juga puluhan anak bergizi buruk lainnya) dapat terselamatkan.  Perjalanan dari posko OBI menuju rumah Brian Harefa ditempuh selama 45 menit. Saya mengenal Brian dari foto-foto dan videonya yang menggenaskan di youtube. Ada haru yang seketika meleleh saat diberi kesempatan bertemu saat itu. lihatlah anak itu sekarang!



Bertemu Brian Harefa yang sudah sehat!


Rumah Brian Harefa tiba-tiba saja menjadi ramai. Bukan saja oleh rombongan Tango yang baru datang, tapi juga oleh kunjungan anak-anak di daerah tersebut. Mendapat kunjungan tamu dari luar (apalagi berkendaraan lengkap) adalah sesuatu yang langka, sehingga kehadiran kami pun menjadi pusat perhatian tersendiri. Apalagi kemudian Tim Tango membuat ‘keributan’ dadakan. Acara bernyanyi bersama, bagi-bagi hadiah, menyedot kedatangan masyarakat semakin banyak. Untungnya kami membawa cukup banyak mainan, sehingga setiap anak mendapatkan kebahagiaan yang sama. A simple way to make them smile.

Keramaian dadakan di rumah Brian Harefa

Sayangnya waktu harus terus berjalan. Sekitar 30 menit di rumah Brian, kami harus melanjutkan perjalanan menuju kediaman Krisman Waruwu, sekitar 45 menit dari rumah Brian. Krisman Waruwu adalah penderita gizi buruk lainnya, dan sempat terkena penyakit Tuberkulosis sehingga pertumbuhan tubuhnya agak terlambat. Berkat perawatan intensif dari TPG, Krisman sekarang sudah sembuh total dan sudah bersekolah di kelas 2 SD.

Yang membuat saya semakin haru, keluarga Krisman Wawuru sangat terbuka terhadap pembinaan dan pemberdayaan masyarakat. Dulu mereka tinggal di sebuah rumah kayu kecil. Sekarang mereka memiliki warung yang cukup lengkap dan rumah permanen (bertembok) yang lebih luas dan nyaman. Perubahan itu memang terbuka luas bagi mereka yang memiliki niat yang sangat kuat. Mereka salah satu buktinya.

Krisman Wawuru (baju kuning) bersama Bu Fani (Brand Manager Tango)

Saya memang tidak mengikuti kisah Brian, Krisman, dan anak-anak Nias yang tidak beruntung lainnya dari awal. Tetapi, hari itu saya melihat ada warna baru dalam rona wajah mereka, raut kebahagiaan dan optimisme menyongsong hari esok. Dan sudah seharusnyalah seperti itu. Anak-anak tidak semestinya mengisi hari dengan kesedihan dan tangisan, tapi dengan senyum dan keceriaan. Tidak berlebihan kalau saya mengucapkan terima kasih banyak untuk Tango (dan OBI) karena sudah mengembalikan senyum mereka, saudara-saudara kecil kita di Nias.

Seperti kata Tetsuya Kuronayagi; “Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi.”

Matahari di Nias sudah semakin turun. Saatnya kami pulang dan beristirahat di hotel Soliga. Esok hari ada kegiatan lebih besar dan seru yang harus kami laksanakan. Tunggu ceritanya besok!

Bersambung ke hari #2

Minggu, 27 Oktober 2013

Rayya 6th BDay

jual bantal foto

28 Oktober, 6 tahun lalu, kamu hadir di tengah kami, Nak

Menggenapi kebahagiaan yang terasa semakin lengkap


Rayya Izarra ~ kami menamaimu secantik itu
Kamu tahu, kenapa?
Karena Ayah dan Ibu ingin kamu selalu berkerlip laksana bintang (Rayya ~ Kerlip Cahaya, Izarra ~ Bintang)


Dan lihatlah sekarang,
Kerlipmu terlihat semakin terang.
Selamat ulang tahun, Bintangku
Tetap tebarkanlah cahaya kebaikanmu

Kamis, 24 Oktober 2013

Kiamat Internet? Oh, Tidaaak ...

jual bantal foto


Saat dulu baru punya tablet, saya jadi sering banget nongkrong depan rumah. Nggak siang nggak malam, kalau lagi di rumah tempat duduk favorit saya tidak berubah; kursi teras! Anteng sendiri nunduk-nunduk. Maklum, namanya juga mainan baru, segala-galanya dicobain. Semua jenis sosmed diaktifin, segala jenis games dicobain. Pokoknya, kadang baru insyaf kalau perut sudah lapar, atau digetok sama istri ; “Sana mandi!”

Sebenarnya, bukan sekali dua kali sih saya diomeli gara-gara kelakuan tersebut. Dia bilang, malu kalau sampai dilihatin tetangga. Mentang-mentang baru punya tablet terus dipamer-pamer kayak gitu tiap hari. Kayaknya kalau seluruh tetangga satu RT belum pada tahu, dikiranya saya akan nongkrong di teras sepanjang waktu. Padahal, suwer, saya nongkrong di teras mainin tablet bukan bermaksud pamer. Mungkin ada sih perasaan gitu dikit, soalnya tetangga-tetangga saya belum pada punya *halah*. Tetapi karena saya nyari sinyal sodara-sodara! 

Karena tablet baru, sengaja saya beli simcard baru juga, khusus yang menawarkan layanan akses serba cepat, kencang, dan ... murah! Gimana nggak murah kalau bayar sekali, tapi dapat bonus akses unlimited sampai beberapa bulan ke depan. Mantap jaya, kan? Iya, ngarepnya sih begitu. Tapi apa daya saya harus selalu terdampar di teras, karena sinyalnya nggak mau masuk rumah! Huhuhu ... bikin nyesek dan bete. Masa masuk  ke dalam rumah dikit aja sinyal langsung ngilang? Asem! 

Jadi begitulah sodara-sodara, kenapa beberapa waktu lalu saya sering kali ditemukan lagi ngejogrok asyik di depan pintu sambil pegang-pegang tablet. Kadang-kadang juga agak maju ke dekat pagar kalau sinyalnya lagi ngambek. Yang aneh, kadang sinyalnya jadi bagus kalau saya megangin tiang pager! Ckckck .. bingung saya juga. Apa karena rumah saya di depan pekuburan ya? So, jangan bayangkan saya mainin gadget sambil guling-guling di atas kasur, atau facebookan sambil nonton tv, karena saya hanya bisa online sambil megangin pager!

Jadi, jangan pernah nuduh saya doyan pamer lagi, karena saya pamernya cuma sesekali! *haiyaaaa*
Begitulah, karena butuh akses internet, saya harus rela bolak-balik ke teras rumah. Internet buat saya sudah bukan kebutuhan sepele lagi, tapi jadi salah satu kebutuhan utama. Rasanya sudah nggak lengkap lagi kalau ke mana-mana nggak bawa gadget. Profesi saya sebagai penulis mengharuskan saya untuk siap berkomunikasi dengan editor-editor saya setiap saat. Di setiap kesempatan saya harus siap dihubungi apabila ada penerbit yang mengajak kerja sama. Siang atau malam kadang ada teriakan editor kalau naskah saya butuh revisi dan dikirimkan via email secepatnya. Atau permintaan naskah dadakan yang tiga hari ke depan harus sudah diselesaikan! Woaaaa ... *akrobat*. Dan cara mereka menghubungi berbeda-beda. Ada yang suka via email, lewat inbox facebook, lewat Yahoo Messenger, Kakaotalk, Whatsapp, BBM, atau twitter. Yang jelas, sudah jarang banget yang menggunakan SMS atau telepon! Kalau saya nggak punya akses internet, berarti rezeki saya yuk dadah, yuk babay.

Kalau urusan sosial media, itu beda cerita. Sosmed bagi saya tidak lagi sekadar media curhat atau rumpi masa lalu dengan teman-teman sekolah dulu. Sosmed sudah menjadi media promosi utama bagi buku-buku saya. Setiap saat saya bisa mempromosikan buku-buku dan tulisan saya,  karena siapa tahu kontak-kontak saya jadi iba karena saya promo terus tiap hari, lalu rame-rame membeli buku saya. *Horeeee* Sosmed pun jadi jembatan saya berkomunikasi langsung dengan pembaca buku-buku saya, sehingga saya bisa memaksa mereka beli buku-buku saya yang lainnya. #PLAAKK. 

Tidak usahlah diceritakan lagi bagaimana internet sudah menjadi bagian hidup seluruh lapisan masyarakat. Semua orang pasti sudah merasakan manfaatnya sesuai kebutuhan masing-masing. Bahkan anak saya yang masih kelas 5 SD aja, kalau nanya tentang PR dan saya nggak bisa jawab, dia bakalan ngomong; “Ayah, cari di google aja!” #Hadeuuuh. Terus, istri saya pernah saya tanya, “Bu, bikin cumi asam manis, dong. Bisa masaknya nggak?” Saya tanya begitu karena dia belum pernah bikin. Eh, istri saya langsung jawab, “BISA!” dengan pedenya. Setelah itu dia langsung sibuk nyari resepnya di mbah google. Kesimpulannya cuma satu; ibu dan anak sama saja. Hehehe

Jadi, begitulah, saya masih suka heran kalau ada orang yang belum mau memanfaatkan internet. Karena, jujur saja kalau saya sih sudah tidak bisa lepas lagi dari itu. Apapun yang saya lakukan akan selalu berkaitan dengan internet. Internet sudah memberikan banyak kemudahan, terlepas dari sinyal di rumah saya yang doyan ngilang-ngilang. *eh, sekarang udah ganti operator ding, dan lumayan ... ngilang sinyalnya nggak separah dulu. Hiks ... apa harus pindah rumah ya?*. Makanya, sekalinya akses internet lagi gangguan, sudah dipastikan saya akan langsung mati gaya, bingung harus ngapain.

Fyuuuh ... Gimana kalau kiamat internet, imbas dari kasus yang rame kemarin, beneran kejadian ya? Woaaaa ... rimba persilatan pasti kacau-balau. Sudah dipastikan akan banyak orang yang tiba-tiba setres bergelimpangan. Nggak kebayang. 

Kasus penyalahgunaan jaringan frekuensi yang dilakukan oleh PT Indosat Mega Media (IM2) atas kerjasamanya dengan Indosat selaku perusahaan induk memang sempat bikin ketar-ketir seluruh pengguna internet di tanah air. Kasus ini sudah menjatuhkan vonis pengadilan berupa 4 tahun penjara plus denda 200 juta bagi Dirut IM2. Selain itu, IM2 harus membayar kerugian negara sebesar 1,3 triliun. Hiyaaa ... ada apa ini?

Buat yang belum tahu masalahnya, bisa baca-baca dulu di sini :
·      Dan lain-lain. Coba aja googling.

Sebagai internet user yang awam terhadap bidang pertelekomunikasian dan juga hukum, saya tidak bisa berkomentar apakah vonis dalam kasus ini sudah tepat atau melenceng jauh. Itu sih sudah dibahas para pakarnya. Yang ada mah saya deg-degan, apa iya gara-gara kasus ini dunia internet di Indonesia terancam kiamat seperti ramai diberitakan? Apa iya efek dari kasus IM2-Indosat ini pun akan merembet ke kasus serupa di operator lain seperti Telkomsel, XL, Axis, dan para penyedia jasa internet (Internet Service Provider) yang bekerja sama dengan mereka? Kalau kasus ini menimpa mereka satu per satu, maka .... BUM! Kiamat internet pun terjadi. Woalaah ...  Celaka!

Saya tentu menginginkan semuanya baik-baik saja. Apa jadinya kalau setiap ISP akan dipersalahkan karena dianggap melakukan pelanggaran, lalu dijatuhi sanksi, lalu tidak boleh menjual jasa layanan lagi, lalu internet pun beneran ilang dari tanah air. Wew! Percuma dong semua-muanya harus serba online sekarang ini kalau dukungan untuk kelangsungan internetnya sendiri malah kelelep?
 
Saya cuma ngerasa ngeri aja kalau internet bener-bener jadi barang langka di negeri ini, atau bahkan beneran raib. Sudah seharusnya pemerintah dan seluruh departemen terkait segera mengatur ulang seluruh kebijakan yang ada dan menyelaraskannya dalam satu pemahaman yang sama. Jangan sampai satu sama lain malah beda pendapat dong, ah, dan jadi pertarungan yang membingungkan di pengadilan. Malu sama negara lain. Emangnya enak diketawain karena aturan main di negara kita malah masih jadi perdebatan padahal sudah berjalan begitu lama? Lalu, kenapa tahun-tahun sebelumnya masalah seperti ini tidak muncul dan terlihat adem-adem aja? Auk ah, gelap!

Kebayang ya kalau kita dipaksa harus melupakan internet dan kembali ke zaman manual seperti dulu?
-          Kirim surat harus ke kantor pos lagi, dan nunggu berhari-hari untuk nyampe ke si penerima karena nggak bisa kirim email lagi? Waks!
-          Ngambil duit lima puluh ribu harus ngantri di teller lagi karena ATM-nya ngambek? Waduh!
-          Transfer belanja online seratus ribu ngantri di teller juga karena internet bankingnya lumpuh? Hadeuuh.
-          Mau ngobrol harus ngabisin pulsa lagi di telepon atau SMS-an lagi gara-gara semua platform messengernya nggak ada yang jalan? Doooh.
-          Harus bongkar-bongkar tumpukan majalah dan koran kalau butuh informasi tertentu karena om Gugelnya sudah tewas? Hiks.
-          Smartphone mahal cuma buat nelepon dan SMS doang? Yeey.
-          Nggak bisa curhat lagi di blog dan nggak bisa nyetatus dan narsis lagi di sosmed? Woaaah.
-          Silakan tambahin sendiri.

Hellooow ... ini tahun berapa, ya? Tapi .... kalau memang maunya begitu, kenapa nggak sekalian aja kita kembali ke zaman Flinstone? Yabadabadooo ...

Senin, 21 Oktober 2013

Pengumuman Lomba Blog Resep Sehat

jual bantal foto
Yiaaay ... setelah sebelumnya menang lomba blog #HandinHand Sharing Competition yang diselenggarakan Wafer Tango, kali ini menang lagi Lomba Blog #ResepSehat yang diselenggarakan oleh Minyak Goreng Sunco. Hadiahnya wisata kuliner ke Makassar! Woaaa ... akhirnya bakalan berkesempatan nyicip coto makasar dan Konro di tempat aslinya nih. *jungkir balik*


Dan ini pengumumannya yang saya ambil dari sini.

Dua bulan telah berlalu, dalam rangka memperingati launching website komunitas Resep Sehat, SunCo Indonesia mengadakan Lomba Penulisan Blog yang bertemakan “Tradisi Baik untuk Keluarga Sehat”.
Lomba penulisan blog ini menarik antusias peserta dan berhasil menjaring ratusan pendaftar. Terima kasih atas partisipasinya ya, Sahabat! :)

Setelah melalui proses penjurian yang dilakukan oleh senior blogger Wicaksono @ndorokakung dan Driana Rini Handayani @venustweets serta pihak dari SunCo Indonesia yang meliputi:

- Syarat dan ketentuan berlaku
- Kesesuaian tema
- Kesesuaian konten (isi) blog
- Menarik, bermanfaat dan informatif
tim juri menetapkan 6 peserta dengan tulisan terbaik pada Lomba Penulisan Blog Resep Sehat yaitu:

1. Marisa Agustina dengan tulisannya "Mari Mulai Gaya Hidup Yang Baik"
http://risablogedia.blogspot.com/2013/09/mari-mulai-gaya-hidup-yang-baik.html
http://resepsehat.com/2013/09/28/mari-mulai-gaya-hidup-yang-baik/

2. Nathalia Diana Pitaloka dengan tulisannya "Resep Sehat untuk Si Gila Kerja dan Si Aktif"
http://sweetdonath.blogspot.com/2013/09/resep-sehat-untuk-si-gila-kerja-dan-si.html
http://resepsehat.com/2013/09/30/resep-sehat-untuk-si-gila-kerja-dan-si-aktif/

3. Ridwan dengan tulisannya "Sehat itu Berawal dari Rumah"
http:// iwok.blogspot.com/2013/09/sehat-itu-berawal-dari-rumah.html
http://resepsehat.com/2013/09/18/sehat-itu-berawal-dari-rumah/

4. Firma Sutan dengan tulisannya "Merah Putih Kuning Tradisi Sehat Keluargaku"
http://firmasutan.blogspot.com/2013/09/merah-putih-kuning-tradisi-sehat.html
http://resepsehat.com/2013/09/29/merah-putih-kuning-tradisi-sehat-keluargaku/

5. Ika Safitri dengan tulisannya "Menanamkan Kebiasan Sehat Sejak Dini"
http://ikakoentjoro.com/menanamkan-kebiasaan-sehat-sejak-dini/
http://resepsehat.com/2013/09/23/menanamkan-kebiasaan-sehat-sejak-dini/

6. MizTia dengan tulisannya "Aksi Kami Untuk Keluarga Sehat"
http://miztia.blogdetik.com/2013/09/29/aksi-kami-untuk-keluarga-sehat/
http://resepsehat.com/2013/09/30/aksi-kami-untuk-keluarga-sehat/

Ke-6 pemenang di atas berhak atas hadiah trip wisata kuliner selama 3hari/2malam ke Makassar.
Para pemenang akan dihubungi oleh panitia Lomba Penulisan Blog Resep Sehat dalam waktu dekat ini.
Selamat kepada para pemenang!

*Catatan : Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.

Minggu, 20 Oktober 2013

Pemenang Tango Hand in Hand

jual bantal foto

Yiaaay ... postingan saya yang diikutsertakan dalam Tango #HandinHand Sharing Competition ternyata menaaaang.  Finally saya bisa berangkat ke Pulau Nias untuk melakukan kunjungan sosial bersama tim Tango Peduli Gizi pada tanggal 30 Oktober - 1 November 2013.

Rencananya kami akan menyerahkan secara langsung buku-buku dan mainan bagi anak-anak Nias, yang sudah dikumpulkan melalui program #HandinHand ini dari seluruh Indonesia. Nah, bagi teman-teman yang belum sempat berbagi untuk anak-anak Nias, dan berniat untuk menyumbangkan buku-buku cerita anak (larena keterbasan bagasi, tidak terima titipan mainan), boleh nitip ke saya. Insya Allah nanti saya bawa sekalian dengan buku-buku yang sudah saya siapkan juga. Karena saya harus segera meluncur ke Jakarta pada tanggal 29 Oktober, sebisa mungkin buku-bukunya dikirimkan sebelum tanggal itu ya, biar bisa saya packing sekalian. Terima kasih.

Together, make them smile in a simple way.